Gairah Manusia : Terjebak Di Pulau 1
"Ahh.. Rifki.." Yuni menatap liarnya Rifki, mana di bawah tubuhnya Fitra ikut menggerakan pinggulnya di lubang lain.
Enak sekali, atas bawahnya kompak bergerak. Mana Rifki hisap terus bobanya yang tak bisa diam bergelantungan.
"Kita beneran kayak hidup di zaman dulu." ucap Fitra yang istirahat, membiarkan dua orang itu membuat Yuni berisik.
Yuni menatap langit yang terang oleh bulan. Sebelumnya tak begini. Kenapa malah jadi seliar ini.
Beberapa hari yang lalu..
Langit sore mulai berubah jingga ketika kapal kayu kecil merapat di sebuah pulau yang belum banyak dikenal wisatawan. Pulau itu tenang, dipenuhi pasir putih, batu karang, dan pepohonan rindang yang bergoyang diterpa angin laut.
Fitra turun lebih dulu sambil membawa ransel besarnya. Ia datang untuk mencari ketenangan sekaligus memotret keindahan alam. Tak lama kemudian, Anton ikut melompat dari kapal. Pria itu adalah seorang teknisi yang sedang mengambil cuti panjang setelah berbulan-bulan bekerja tanpa henti.
Di sisi lain dermaga, Rifki datang bersama rombongan kecil pemancing. Namun karena terlalu asyik menjelajahi pantai, dia terpisah dari kelompoknya. Saat itulah dia bertemu dengan seorang perempuan yang sedang duduk di atas batu karang.
"Apa kamu juga sendirian?" tanya Rifki.
Perempuan itu tersenyum ramah. "Namaku Yuni. Iya, aku datang untuk mencari inspirasi."
Tak lama kemudian Fitra dan Anton menghampiri mereka. Keempat orang yang sebelumnya tidak saling mengenal akhirnya berbincang sambil menikmati suara ombak.
Menjelang petang, mereka kembali ke dermaga. Namun wajah mereka langsung berubah panik.
"Kapalnya mana?" gumam Anton.
Dermaga itu kosong.
"Cuaca di laut berubah sangat buruk. Semua kapal sudah kembali ke daratan sebelum ombak semakin tinggi."
"Lalu kami pulang bagaimana?" tanya Yuni cemas.
"Tidak ada kapal yang menyeberang malam ini. Besok pun belum tentu. Kita harus bertahan di pulau sampai cuaca benar-benar membaik."
Keempatnya saling berpandangan. Mereka baru saling mengenal beberapa jam, tetapi kini harus bekerja sama untuk bertahan hidup di sebuah pulau yang terisolasi. Di balik keindahan pantainya, pulau itu menyimpan hutan lebat, gua-gua tua, dan rahasia yang belum pernah mereka bayangkan.
Malam pertama pun tiba, membawa suara ombak yang semakin keras dan pertanda bahwa perjalanan mereka baru saja dimulai.
***
Matahari baru saja terbit ketika Fitra membuka mata. Semalaman mereka hanya beristirahat di bawah sebuah gazebo kayu yang berada tidak jauh dari pantai. Suara ombak yang menghantam karang terus terdengar, membuat tidur mereka tidak benar-benar nyenyak.
Anton bangun lebih dulu. Ia berdiri sambil memperhatikan laut yang masih bergelombang.
"Sepertinya ombaknya masih tinggi," gumamnya.
Rifki ikut menghampiri. Wajahnya tampak murung.
"Kalau begini, kapal pasti belum bisa datang."
Yuni menarik napas panjang. Meski cemas, ia mencoba tetap tenang.
"Kalau kita panik, keadaan tidak akan berubah. Lebih baik kita pikirkan cara bertahan sampai ada yang menjemput."
Keempatnya sepakat membagi tugas. Anton dan Rifki akan mencari bahan untuk membuat tempat berlindung yang lebih aman. Fitra bertugas mencari makanan. Sementara Yuni mengumpulkan kayu kering dan daun-daun besar untuk alas tidur.
Mereka berjalan memasuki hutan kecil di tengah pulau. Pepohonan yang rapat membuat udara terasa lebih sejuk. Burung-burung berkicau dari atas dahan, sementara sinar matahari hanya menembus sedikit di sela dedaunan.
Anton mencuci wajahnya.
"Setidaknya kita tidak akan kehabisan makanan."
Sepanjang perjalanan, Rifki menemukan beberapa pohon kelapa yang sudah menjatuhkan buahnya.
"Ini bisa jadi makanan."
Dengan bantuan batu besar, mereka berhasil membelah kelapa. Airnya terasa segar, sedangkan daging buahnya cukup mengenyangkan.
Menjelang siang, Anton mulai membuat tempat berlindung sederhana. Ia memanfaatkan batang bambu yang tumbang, ranting, dan daun kelapa.
"Aku pernah belajar teknik ini waktu ikut pelatihan alam," katanya sambil mengikat batang menggunakan akar pohon yang lentur.
Fitra membantu mengangkat kayu, sedangkan Rifki memotong ranting dengan pisau lipat yang selalu dibawanya.
Yuni menyusun daun-daun kering agar lantai gubuk tidak langsung menyentuh pasir.
Menjelang sore, sebuah gubuk sederhana akhirnya berdiri. Tidak besar, tetapi cukup untuk melindungi mereka dari hujan dan angin malam.
"Setidaknya kita punya rumah sementara," ujar Fitra sambil tersenyum.
Anton berhasil menyalakan api menggunakan korek yang masih tersisa di tasnya. Mereka segera mengumpulkan kayu bakar agar api tetap menyala.
Api unggun menjadi sumber kehangatan sekaligus penerangan.
Di sekeliling api, mereka mulai saling mengenal lebih dalam.
Fitra bercerita bahwa ia menyukai fotografi alam sejak kecil. Anton mengaku pekerjaannya sering membuatnya jauh dari keluarga. Rifki bercerita tentang hobinya memancing, sedangkan Yuni mengungkapkan bahwa ia sedang mencari inspirasi untuk menulis novel petualangan.
"Aku ga nyangka justru akan mengalami petualangan sungguhan," katanya sambil tertawa kecil.
Tawa itu membuat suasana menjadi lebih ringan.
Keesokan harinya mereka mulai mencari makanan lagi.
Rifki membuat tombak sederhana dari bambu yang diruncingkan. Ia mencoba menangkap ikan di perairan dangkal ketika air laut sedang surut.
Beberapa kali gagal, akhirnya seekor ikan berhasil ditangkap.
"Akhirnya dapat juga!" serunya gembira.
Anton mengumpulkan kerang yang menempel di batu karang, sedangkan Fitra menemukan beberapa buah liar yang dikenali aman untuk dimakan setelah mencocokkannya dengan pengetahuan yang pernah dipelajarinya saat mengikuti kegiatan alam bebas.
Yuni bertugas menjaga api agar tidak padam.
Mereka bisa menikmati ikan bakar sederhana.
Meski tanpa bumbu, rasanya jauh lebih nikmat daripada yang mereka bayangkan.
Hari demi hari berlalu.
Mereka mulai terbiasa dengan rutinitas.
Pagi mencari kayu.
Siang mencari makanan.
Sore memperkuat tempat berlindung.
Malam bergantian berjaga.
Suatu sore, langit tiba-tiba berubah gelap.
Angin bertiup sangat kencang.
"Hujan besar akan datang!" teriak Anton.
Mereka segera mengikat kembali atap gubuk yang mulai bergoyang. Fitra dan Rifki menahan tiang bambu agar tidak roboh, sementara Yuni mengamankan persediaan makanan ke bagian yang lebih tinggi.
Tak lama kemudian hujan turun dengan deras. Angin membawa butiran air hingga masuk ke dalam gubuk.
Meski pakaian mereka basah kuyup, tidak seorang pun menyerah.
"Pegang yang kuat!" seru Anton.
Hampir satu jam mereka bertahan menghadapi badai kecil itu.
Saat hujan berhenti, mereka melihat sebagian pantai berubah. Banyak ranting besar dan batang kayu hanyut ke daratan.
"Besok kita bisa memanfaatkan kayu-kayu itu," kata Fitra.
Keesokan paginya, semangat mereka kembali tumbuh.
Bersama-sama mereka memperbesar gubuk, membuat tempat penyimpanan air hujan, dan menyusun batu di pantai menjadi tulisan besar bertuliskan SOS agar mudah terlihat dari udara maupun laut.
Walaupun belum tahu kapan pertolongan akan datang, mereka mulai menyadari bahwa harapan akan tetap hidup selama mereka saling membantu. Pulau yang awalnya terasa menakutkan perlahan berubah menjadi tempat yang mengajarkan arti kerja sama, keberanian, dan persahabatan yang lahir dari perjuangan untuk bertahan hidup.
Hingga kedekatan itu berubah jadi ketertarikan yang salah. Saat badai datang lagi, Yuni tak bisa menutupi tubuh basahnya.
Membuat para pria tak bisa mengalihkan pandangan. Setelah jejak hujan meninggalkan dingin, mereka gila bersama.
Awalanya Anton yang mencium Yuni, tak ada penolakan baru Fitra ikutan dan di susul Rifki yang tak mau kalah meraba apapun.
Pada akhirnya mereka mendesah, saling menukar hangat tubuh. Saling lebih dekat, membuat Yuni terus mendesah semalaman.