Kilas- kilas pembicaraan gerombolan bobroknya di warung Bi Suminah hari Minggu itu sebenarnya masih membekas di hati Ronald, bahkan hingga sekarang ketika dua hari sudah berlalu. Ia memang bersikap acuh tak acuh kala itu, tapi bukan berarti ia tidak menyimak sama sekali. Ia memang berpikir apa yang telah ia lakukan bertahun- tahun ini sama sekali tidak benar. Tak ada satu pun di antara mereka –tidak Inneke, Dahlia, ataupun ketiga mantannya yang ia juga lupa namanya –yang benar- benar mampu mengisi rongga hatinya. Tidak seperti orang yang benar- benar pernah ia cintai dulu. Masih dengan rasa sakit yang tak bisa ia jelaskan, Ronald terus berjalan menuju deretan ruang- ruang dosen yang sudah sering menjadi saksi bekas tapak sepatunya beberapa bulan terakhir. Dia berniat untuk bertemu dengan

