Di depan mereka, berdiri Angel dan Ugi. “Angel!” sorak Ronald, yang dengan spontan memeluk adiknya itu. Ia membelai rambut panjang adiknya dengan penuh kasih, lalu melepaskan pelukan itu pula dengan tiba- tiba. “Ih, apa sih Bang?” seru Angel kesal. Ronald memegang wajah dan lengan adiknya, memperhatikan apakah semuanya baik- baik saja. “Lo nggak apa- apa, Ngel?” “Gue baik, kok,” kata Angel. “Gue nggak kemana- mana, Bang. Tadi cuman ke taman aja.” “Ke taman kok nggak pamit dulu?” tanya Ronald dengan mata melotot. “Nanti kalau Emak Babe pulang, gue yang kena marah, tahu!” “Iya, iya, sori deh.” “Emang lu ngapain sih, ke sana?” Angel bingung bagaimana harus menjawabnya. Ia mengerling penuh sekilas pada Vito dengan rasa bersalah, yang juga menatapnya balik lurus- lurus. Ada setitik rasa

