Dua Sendok Garam yang Mematikan!

1960 Words
Nesta kesal setengah mati. Bayangkan saja, kalau setiap kali dia buat masalah dipotong 20%--lima kali salah sudah habis gajinya Makin parah dengan kontrak kerja yang menyatakan kalau dia tidak boleh mengundurkan diri sebelum masa kerjanya habis. Kalau tidak, denda tiga kali lipat gaji. Kok, bisa sih, dia kemarin setuju soal ini? Maju mundur, sama saja apesnya. Belum lagi soal Yato yang dari kemarin sudah sibuk saja menagih sepatu baru. Hih! Dia belum tahu kalau kakaknya ini menderita tekanan batin kerja sama orang sesadis Vaino. Dia lebih mirip penjajah ketimbang bos. Ingin rasanya Nesta keluar dari kantor yang tidak manusiawi begini. Cari kerja baru, jadi model baju daster pikachu juga jadi. Lumayan juga honornya. Diingat-ingat nanti jam 10.00 ada rapat pimpinan. Itu berarti Nesta ada kesempatan untuk membalas Viano. Lihat saja, bosnya yang sombong minta ampun itu nanti akan merasakan akibatnya! Masa bodoh kalau dipecat itu lebih baik, daripada menjadi b***k di sini. Lumayan, 'kan, dapat uang ganti besar. Baru susun rencana, Nesta tanpa sadar menyeringai sendiri. Makin dibayangkan, makin seru. Viano bakal 'tewas' kali ini. Lusi yang baru sampai kantor, terheran-heran melihat tingkahnya. Office Girl baru tersebut, tidak sadar kalau sedang cengar-cengir sendirian. Lusi pikir, Nesta kurang waras. "Ngapain kamu ketawa sendiri?" tegur Lusi. Nesta terlonjak kaget. "Ibu kebiasaan, deh, suka nongol tiba-tiba. Bikin saya kaget." Curiga, nih, Nesta. Jangan-jangan, Lusi punya ilmu meringankan tubuh. Pasalnya, tiap kali dia datang, Nesta tidak sadar. Tahu-tahu sudah ada di depan muka. "Saya juga males negur kamu kalau bukan gara-gara kamu yang aneh itu." Nesta mengerutkan alis. Perasaan dia bersikap biasa saja. Natural sewajarnya ABG menjelang uzur. Apa coba yang salah dari kelakuannya? "Perasaan saya biasa aja, Bu." Lusi geleng-geleng. "Kamu udah pernah lihat kelakuan kamu di kaca atau dengar komentar keluarga soal kelakuan kamu?" Cih! Jangankan keluarga. Pak RT saja sering lihat kelakuan Nesta. "Biasa saja, Bu. Nggak ada yang komen negatif." Lusi melenggokkan pundak. "Kalau begitu, mereka sama aja kayak kamu." Nesta memberengut. Memang, serendah apa dia di mata Lusi? "Yah terus, kenapa Ibu negur saya?" "Karena saya liat kamu, cengar-cengir sendirian!" "Yah, nggak apa dong, Bu. Saya koprol-koprol juga, itu hak saya." Kalau urusan begini, Nesta wajib menjawab. Memang sadis orang-orang di kantor, semuanya pada menindas Nesta. Kecuali Ivan. Meski kesal setengah mati, semua yang dikatakan Nesta benar. Detik selanjutnya, Lusi mengibas tangan di depan wajah Nesta memamerkan kukunya yang baru di cat warna merah terang. Kontras sekali dengannya, yang tampak kucal dengan kain pengelap kaca. "Kayaknya kamu harus periksa ke psikiater, deh! Masalahnya udah beberapa kali kamu sering maracau sendirian." Lusi melenggang pergi setelahnya. Waktu Lusi punggungi Nesta dan semakin menjauh, dia tirukan gaya sekertaris sok cantik itu. Lagipula, Nesta bingung, kenapa Lusi kelihatan benci dengannya? Salah apa Nesta dengannya, sampai-sampai Lusi harus terus mengganggu. *** Jam 10.00 rapat dimulai. Nesta membuat kopi untuk rapat dibantu karyawan yang lain. Setelah kopi dan snack siap, mereka antar ke ruang rapat. Sampai di sana. Nesta perhatikan, Viano duduk di posisi utama. Dia sibuk dengan pekerjaan. Matanya hanya fokus pada laptop sampai tidak sadar kalau ada orang yang paling dibencinya--Nesta. Masuk pelan-pelan, Nesta kemudian meletakkan kopi di depan Viano. Ada Lusi dan pimpinan lain. Saat Nesta, menaruh kopi milik Lusi, Viano mendongak. CEO Taruna tersebut mengamati sekitar, para pimpinan lain sudah meminum kopi mereka. "Lusi, kopi kamu sudah diminum belum?" tanyanya. "Belum, Pak." Viano merasa lega. "Kalau gitu, tukar kopi kamu dengan punya saya!" Lusi tercengang. "Apa? Ditukar, Pak?" "Kenapa? Kamu nggak mau tukeran dengan saya?" "Bukan begitu, Pak." Lusi mengggeleng. "Tapi, kenapa Bapak minta tukar?" "Karena saya mau minum yang itu." Karyawan lain memperhatikan mereka saat bicara. Lusi mengalah, dia tukar kopi yang baru ditaruh Nesta ke kopi milik Viano. Mata Nesta membulat sempurna saat tahu Lusi mau tukaran kopi. Bisa gawat! Dia menggigit bibir. Kalau sampai Lusi minum kopi Viano, bahaya. Mending Viano, Nesta bisa dipecat. Lain dengan Lusi, dia bisa kena omel sepanjang tahun. Terus, Viano bakal potong lagi gajinya. Apes bertubi-tubi, jadinya. "Anu, Bu Lusi kopinya biar saya buatin yang baru. Nggak enak tadi kayaknya udah dipegang-pegang sama Pak Viano." Lusi menolak. "Nggak apa-apa, biar saya minum kopi yang ini." Dia menunjuk cangkir kopi Viano. Nesta hampir kehabisan cara. Sementara, Lusi merasa ini kesempatan bagus. Sekarang Viano mau tukaran kopi dengannya, siapa tahu setelah ini mereka bisa lebih menjalin hubungan yang lebih dekat. Sadar Nesta berusaha mengambil cangkir kopi dari hadapan Lusi, Viano semakin curiga. "Kamu kenapa sibuk, kalau saya mau tukar kopinya?" Nesta menoleh. "Bukan begitu, Pak. Cangkir yang tadi, 'kan, sudah Bapak pegang-pegang. Kalau tangan Bapak berkuman nanti Bu Lusi bisa sakit perut. Terus, Pak, sekarang itu juga lagi bahaya virus CORONA. Siapa tahu, tangan Bapak ada virusnya." Karyawan lain tertawa. "Diam!" bentak Fiano. Sekarang dia menatap lurus pada si OG paling kurang ajar sekantor. "Kamu jawab aja yang jujur. Pasti minumannya udah kamu racun, 'kan?" Nesta pura-pura terkejut. Acting layaknya korban penzaliman ala sinetron. Coba kalau pakai soundtrack, makin apik. "Jangan pura-pura!" Viano bisa menebak, membuat Nesta makin kesal. "Kalau itu nggak diracun, kamu ngapain menghalangi saya tukar dengan Lusi?" Selama Nesta belum mampu membuktikan, bosnya itu pasti akan tetap menuduh. "Bapak jangan tuduh sembarangan. Ingat, Pak, fitnah itu lebih kejam daripada pembunuhan." Viano tersenyum sinis. "Saya nggak fitnah! Tapi, saya tanya," tegas Viano. Kalau bukan bos, sudah Nesta cemplungin Viano ke got! Viano bicara lagi. "Kalau memang minuman itu nggak kamu racun, coba kamu buktiin!" Sompret! Sial pangkat dua. Nesta menghela napas sejenak. "Bapak mau saya buktiin kayak mana?" tantangnya. "Minum kopi itu!" Alamat tidak bisa menolak. Dasar apes tujuh turunan, niatnya mau ngerjain Vano malah jadi dia yang kena. "Kenapa diam? Kamu nggak bisa buktiin?" "Memangnya kenapa saya harus takut?" Viano masih menatap tajam, seolah menyuruh Nesta minum. Nesta mengangkat cangkir kopi. "Bapak mau saya minum seberapa banyak?" Lusi tercengang, Nesta seberani itu pada Viano. "Minum kopinya sampai habis!" Dipandang dulu cangkir kopi yang tadinya untuk Lusi. Demi Tuhan, Viano itu sangat menyebalkan! Nesta kemudian meneguk kopi itu sampai habis. "Nih!" Dia menunjukkan gelas kopi yang sudah kosong. "Saya minum sampai habis, 'kan, Pak. Bapak lihat saya masih hidup, nggak keracunan. Bapak berarti udah fitnah saya." Dasar Bos laknat! Sekarang iris mata Nesta beradu dengan milik Lusi. "Bu Lusi harus hati-hati, masa Pak Viano mau tukar kopi beracun dengan Ibu." "Diam kamu!" Walau senjata makan tuan, paling tidak masih dapat bonus bikin Lusi marah. Benar juga, kata Nesta. Kalau kopi itu beracun, berarti Lusi yang akan minum. Tadinya, Lusi kira Viano mau lebih dekat dengannya. Ternyata malah mau menjadikan Lusi 'tumbal' Tampan, tetapi tidak punya perasaan. Viano berdeham. "Saya mau kopi lagi, tapi nggak mau kamu yang buat!" Memangnya saya mau buatin situ kopi? Nesta cuma bisa tersenyum kecut. Segera membereskan pekerjaan, Nesta kemudian keluar dari ruang rapat tersebut. Setelah pintu ditutup .... Kyaaaaa! Dia lari terbirit-b***t menuju kamar mandi. "Asin ... asin ... asin!" Nesta melepeh kopi yang tadi dia minum, setelah sampai di kamar mandi. Untung saja, tadi dia masih bisa menahan rasa asin di mulutnya supaya Viano tidak curiga. Viano sialan! Gara-gara dia, Nesta harus minum secangkir kopi asin. Catat, tadi dia memasukkan dua sendok garam ke dalam kopi. Terbayang, 'kan, bagaimana asinnya? Sementara itu, Viano yang masih memimpin rapat dalam hati tetap yakin kalau Nesta mau mengerjainya. Kalau benar, dia tengah bersorak dalam hati. Sukurin kamu! * Viano kurang kerjaan banget. Di saat Nesta sedang asyik-asyiknya menikmati es teh penetral rasa asin dari garam yang dia telan tadi, malah dibuat kaget. Sampai kesembur teh dalam mulut. Melihat semburan es teh yang bertabur ke mana-mana, Viano bergidik jijik. "Kamu jorok banget!" Dia kesal sendiri. "Jangan lupa, bekas kelakuan kamu ini nanti dipel!" "Bapak apa-apaan, sih!" Sembari mengelap mulutnya Nesta protes. Kurang sajen atau bagaiamana Viano ini? Sudah Nesta yang diganggu sekarang malah dia yang marah. 'Kan, kurang kerjaan, namanya! "Kamu jujur sama saya, tadi itu kamu pasti mau iseng dengan saya, 'kan?" Nesta yang kebetulan lagi di pantry cuma geleng-geleng. Sebentar dia taruh minumannya biar sopan ngobrol sama bos. "Bapak gabut amat datengi saya ke belakang cuma untuk tanya ini." Kurang ajar, Nesta malah berani bicara tidak sopan padanya. Tapi, tunggu dulu. Barusan, Nesta bilang, apa? Viano belum pernah dengar kata-kata yang seperti itu. "Gabut?" Alisnya berkerut. "Apa itu gabut." Nesta sampai nyaris melompat dari meja. "Bapak nggak tahu gabut?" Viano diam. Itu bahasa apa? Apa mungkin dia yang sudah lama tidak buka kamus, makanya belum tahu kalau ada bahasa seperti itu. Yang bikin dia semakin sebal adalah Nesta cekikikan. "Bapak lahiran tahun berapa, sih. Masa gabut aja nggak tahu." "Bukan urusan kamu!" Iya sih, memang bukan urusan Nesta. Tapi kok Nesta jadi geregetan sendiri ya melihat kelakuan Viano. Malah semakin niat untuk menggoda bosnya. Biar deh dia mau marah-marah kayak apa juga, malah seru jadinya. "Bapak enggak usah malu untuk mengakuinya sama saya lahiran tahun berapa. Lagian juga nggak usah pakai kata-kata dilihat dari kelakuan Bapak yang selalu tampak serius, pasti umur Bapak banyak." Viano mau meledak dengar Nesta bilang begitu. "Malah, Bapak kalau mau belajar bahasa gaul dengan saya bisa kok. Nanti saya kasih tutorialnya." Percaya diri luar biasa Nesta bilang seperti itu. Jelas saja laki-laki yang ada di depannya memijat pangkal hidung. Kenapa bisa ada karyawan model begini di kantor dia. Padahal sebelum-sebelumnya orang-orang yang punya etika dan juga IQ cukup tinggi tidak bisa bertahan lama. Ini kalau dia betah lama-lama Viano yang bisa keluar dari kantor. "Heh, kamu bisa nggak sih lakukan sesuatu yang yang berguna? Kalaupun bukan berguna untuk kantor minimal berguna untuk hidup kamu sendiri. Seperti jangan kebanyakan buang-buang waktu atau bercanda karena itu sia-sia," ujar Viano panjang lebar, Nesta yang dengar masuk kuping kanan keluar kuping kiri. Dia mendesis saat respon Nesta tidak menyenangkan. "Pantesan hidup kamu nggak maju-maju." Tahu dari mana Viano Nesta hidupnya tidak maju-maju? Sembarangan kalau menebak. Coba kalau dia selevel dengan Nesta, pasti perempuan itu sudah balas hidup Viano juga. Soal dia yang seharusnya jangan kaku-kaku amat biar jangan kelihatan tua dari umur asli. Padahal kalau mau santai sedikit mungkin dia bisa jadi idola. Sedang asik-asiknya melamun, Nesta malah disentak Viano. "Kamu, kalau saya kasih tahu atau ajak ngomong reaksinya selalu begitu. Apa kamu nggak bisa menghargai saya sebagai seorang atasan di sini?" Nesta sempat berkerut alisnya. Jadi dia yang disalahkan soal responnya ketika diajak bicara Viano. Dia memang tidak mau bersikap serius supaya pikiran jangan stres. Lagi pula salah sendiri sendiri kenapa sibuk mengganggunya? Harusnya, Viano tahu cara paling mudah dalam hidup manusia ketika tidak menyukai orang adalah jangan dekat-dekat dengan orang itu. Sayangnya, kembali Nesta diingatkan soal status di sini kalau dia cuma pesuruh alias kacung yang tidak bisa melawan kata-kata Bos. Nesta memanyunkan bibir. "Iya, deh, Pak. Iya." Biar tidak marah, mengalah saja Nesta. "Saya kasih tahu Bapak, deh, biar nggak penasaran." "Siapa yang penasaran!" Viano meleos pergi. Nesta mengikik saja. Dasar Bos besar gengsi padahal kalau dikasih tahu, dia bisa tambah kosa kata baru. Satu lagi masalah lain muncul. Lusi sudah memelototi Nesta. Duh, dia ini sebenarnya punya urusan atau hubungan apa dengan Bos? Kenapa setiap kali Nesta baru selesai ngobrol sama Viano dia selalu muncul dengan tampang seram begitu? Sebelum drama dengan Lusi mulai, lebih baik pura-pura sibuk dengan pekerjaan lain. Nyanyi dangdut sekalian biar dia pekak kupingnya . Kasih goyangan maut biar Lusi makin jijik lihatnya. Menunggu beberapa detik, akhirnya pergi juga dia. Nesta yang berbalik langsung menjulurkan lidah. Viano memang kembali ke ruanganya. Ah, salah dia juga kenapa harus sibuk menegur Nesta selesai rapat. Sudah tahu itu anak rada stres, masih saja dia ladeni. Tapi, bahasa dia yang selalu aneh-aneh itu bikin Viano barusan. Baru duduk di kursinya, Viano memegang kening apasih artinya gabut. Untung zaman sudah canggih. Tinggal buka perintah suara, mesin pencarian akan menemukannya. "Apa artinya gabut?" Mesin pencarian berkata, "Gabut adalah singkatan dari gaji buta. Alias orang yang tidak punya kerjaaan dapat gaji." "NESTAAAAAA!" geram Viano begitu tahu artinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD