Eh, Anak Siapa tuh?

1004 Words
Dua minggu kerja, Nesta masih tabah. Cuma, fisik tidak bisa bohong. Bawaan stress bikin dia sariawan. Bukan cuma sariawan malah, ada bonus sakit gigi. Komplet! Rencananya, hari ini mau izin tidak masuk kerja. Habisnya, kalau kerja lelet pasti Viano marah. Heran Nesta, itu orang hobinya kok marah-marah Hubungi Ivan, minta izin tidak masuk. "Kamu udah periksa ke dokter?" tanya Ivan dari ujung sana. "Belum sih, Pak, ini baru mau periksa." "Hari ini Pak Viano lagi ada meeting di luar, saya bisa kasih izin kamu nggak masuk. Cuma kalau besok masih sakit, kamu harus siapin surat dokter." "Iya, Pak. Pokoknya kalau sakit gigi saya sembuh bakal langsung masuk kerja." "Emang parah sakit giginya?" Sebelum jawab, Nesta yang ada di kamar kos buru-buru ambil cermin. Pipi sampai mengot, gara-gara bengkak sakit gigi, kurang parah apa coba? "Lumayan, Pak. Sampai bengkak." Nesta kembali rebahan, setelah menaruh cermin di lantai. Ivan mendesah. "Ya udah, cepat sembuh, ya." Nesta berterima kasih karena Ivan cukup baik. Coba kalau Ivan tipekal orang yang tidak bisa diajak kerja sama, sudah pasti repot harus lapor ke Viano dulu. Dengar 'ceramah' dari Pak Bos sampai panas kuping. Nesta juga sudah lapor pada para OB dan OG yang lain. Biar mereka bisa bantu untuk handle pekerjaan Nesta dan tidak merasa kehilangan satu orang paling cantik. Untung saja, hari ini Viano rapat di luar. Nesta benar-benar selamat. Ini yang diebut; 'Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan." Ingat! Bisa istirahat satu hari, dari ocehan Viano adalah salah satu kenikamatan terbesar dari hidup Nesta. •°• Mia--Suster yang duduk di samping Raja--bolak-balik menoleh ke bocah kecil yang terus cemberut. Hari ini, papanya batal mendampingi Raja ke sekolah untuk acara pertemuan orang tua. Raja mau papanya datang ke sekolah karena sudah janji. Nyatanya, dia malah sibuk kerja. "Den Raja, nanti Suster yang nemenin, yah." Mia berusaha membujuk. "Suster rekam videonya untuk papa." Raja masih kecil, tetapi dia ingat kalau papanya selalu mengajarkan untuk selalu sopan dengan yang lebih tua. Meski dalam hati mau meledak-ledak, dia masih coba tahan. "Nggak usah, Sus. Paling juga, papa nggak sempet nonton videonya. Kerjaan papa banyak." "Nanti, papanya Den Raja bisa nonton malam." Gagal dibujuk. Raja tetap kelihatan kecewa. Sebagai seorang anak, Raja sudah coba lakukan segala cara agar Viano mau menemaninya. Dia berusaha berprestasi di sekolah, agar Viano mau cuti meski hanya untuk mengambil raport. Tetap saja, papanya sibuk. Merajuk agar Viano lebih mengerti kemauannya, tidak juga ada hasil. Viano selalu bekerja. Jadi bos, membuat Viano tidak punya waktu untuk keluarga. Asal tahu saja, gara-gara si papa terlalu sibuk, Raja enggan menjadi boss kalau dewasa nanti. "Sus, Raja mau pipis." "Pipis?" Perempuan muda yang mengasuh Raja malah bingung. Bukan apa-apa, sekarang mereka lagi di perjalanan mau ke sekolah. Pipis di mana, coba? "Bisa tahan dulu sampai sekolah, Den?" Raja menggeleng. "Udah kebelet banget." Mia, berpikir sebentar. Kebetulan di seberang ada mini market , siapa tahu di sana ada toilet untuk Raja buang air kecil. Mia meminta sopir untuk berhenti di dekat mini market. Setelah berhenti, Mia buka pintu mobil lalu menuntun Raja untuk menumpang ke toilet. Supya tidak terlalu sungkan, sengaja mereka membeli beberapa camilan di sana. Saat membayar, Mia tanyakan pada kasir apakah mereka boleh memakai toilet. Untung saja masih diizinkan. "Suster anterin, ya." "Nggak usah, Raja bisa sendiri. Suster tunggu sini aja." Mia gelisah, ragu mau melepas Raja sendiri walau cuma ke toilet. "Nanti buka celananya bisa?" Raja mendelik. "Tinggal turunin resleting, susahnya apa?" "Anu-" "Sus, nanti Raja ngompol. Udah kebelet banget." Ragu sebetulnya mau membiarkan Raja ke toilet, meski dia sudah cukup mampu untuk mengurusnya sendiri. Namun, Mia merasa ada hal yang Raja rencanakan. Lima memit berlalu, Raja keluar dari toilet. "Sus," pangil Raja saat sudah di dekat pengasuhnya. "Ambilin snack yang ada di sana, tolong." "Yang mana?" Mia berkerut alisnya, memperhatikan tunjukkan Raja. "Yang di rak ketiga dari sini. Pilih yang rasa jagung ya, Sus." Mia mendesah, sudah hampir jam tujuh Raja bisa terlambat ke sekolah. Ya sudahlah, daripada dia banyak tanya, lebih baik langsung kerjakan. Saat Mia pergi untuk mengambil barang yang diinginkannya, cepat-cepat Raja buka pintu mini market. Dia sudah bilang, tidak mau sekolah kalau hari ini Viano tidak datang. Salah siapa yang terus buat janji palsu. Raja kabur. Dia mau tahu, apakah Viano akan mencarinya atau tidak. "Maafin Raja, Sus." Secepat mungkin dia lari. Bocah kelas dua SD tersebut sadar, pengasuhnya pasti nanti kena marah. Raja terpaksa, karena dia sedang marah pada Viano. Terus berlari tanpa menoleh ke belakang, Raja sempat dengar Mia teriak. Belum tahu akan ke mana, Raja terus berlari. Dia bukan anak bodoh, nanti kalau Viano sudah bingung mencari, dia akan pulang naik ojek. •°• Sakit gigi makin menjadi-jadi, Nesta perlu obat. Pakai baju yang layak, jalan kaki cari apotek terdekat. Terpaksa ini harys urus semuanya sendiri, namanya juga sebatang kere. Di jalan, Nesta sesekali mengelus pipinya. Lirik lagu dangdut lebih baik sakit gigi daripada sakit hati, buat Nesta itu bohong! Dia masih bisa makan, rebahan dengan tenang, marathon drakor, baca w*****d, saat sakit hati. Lain kalau sakit gigi. Mau makan sakit, tidur tidak bisa, boro-boro mau halu oppa tampan. Sakit gigi itu menyiksa, Nesta tidak kuat. Coba Viano saja. Sesekali dia, dapat siksaan, gitu. Biar sombongnya berkurang. Memikirkan siksaan buat Viano, Nesta justru menemukan seorang anak kecil tengah duduk di trotoar jalan. Sendiri, berkeringat, pakai seragam sekolah. Dalam hati, Nesta membatin soal bocah SD yang berani cabut dari sekolah. Mau jadi apa bangsa ini kelak? "Kamu nggak sekolah?" Nesta menegurnya. Dia terperanjat saat melihat ada orang yang berdiri di dekatnya. Nesta berjongkok di sampingnya. "Ini masih pakai seragam, kok nggak masuk sekolah?" Ditanya berkali-kali, masih diam saja. "Orang tua kamu, mana?" tanya Nesta lagi. Anak sekecil ini, kalau lepas dari pengawasan orang tua, bisa bahaya. Jadi khawatir, jangan-jangan dia tidak tahu jalan. "Kakak anterin ke orang tua kamu, ya?" "Nggak usah, Kak." Akhirnya dia bersuara. "Aku ditelantarin sama papa, dia nggak akan peduli." "Hah!" Nesta tersentak. Orang tua mana yang tega menelantarkan anak semanis dan seimut ini. Kalau benar itu pasti bapak laknat. Jangan-jangan, dia satu spesies sama Viano.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD