Albert tentu memenuhi acara pertemuan yang sudah diminta kepada saudarinya kemarin. Ia datang tepat waktu. Bahkan, satu menit lebih awal dari yang disepakati. Ia akan menunjukkan sikap disiplin untuk hal yang memang diinginkannya. Kontras dengan sang kembaran yang belum juga menunjukkan tanda-tanda akan datang. Telepon darinya hanya angkat sekali saja. Amanda mengiyakan ajakannya. Ia pun yakin saudari perempuan dimilikinya itu tak akan pernah mengingkari apa yang sudah disepakati. Terutamanya, soal perjumpaan di bar malam ini. "Albert. Aku bisa menebak bagaimana perasaanmu. Kau mau tahu?" "Perasaanku? Wow, kau bisa peka juga?" Albert berupaya berguyon. Walau, tidak yakin jika balasannya akan menciptakan kesan gurauan pada sang sahabat. "Aku tahu kau sudah tidak tenang sejak kita sampai

