1. Awal Kehidupan Baru

1883 Words
Sekitar jam sebelas malam Ratih dan Damian baru saja tiba di rumah mereka, kediaman pribadi Damian yang sudah dia beli sekitar dua tahun yang lalu. Rumahnya tidak jauh dari kediaman Kenan Almeer--Tuannya, hingga memudahkan Damian untuk pulang dan pergi tanpa harus melewati jarak yang panjang. Damian Faresta, seorang bodyguard berusia tiga puluh delapan tahun. Dia begitu tampan dan memesona dengan ciri khas dirinya, pria keturunan Inggris dari sang Ayah--sementara ibunya asli Indonesia. Bekerja menjadi seorang bodyguard bukanlah pekerjaan yang mudah. Bahkan bisa dibilang teramat sulit, berbahaya, dan harus siap kehilangan nyawa ketika bertarung. Tapi Damian menyukai dan menikmati pekerjaannya. Sudah lama sekali dia bekerja menjadi tangan kanan Kenan Almeer, sudah tak terhitung berapa banyak masalah yang berhasil dipecahkan dengan sangat baik. Seperti sekarang contohnya, karena Damian adalah tangan kanan Kenan, yang selalu bisa diandalkan. Damian rela meninggalkan sisa pernikahannya untuk ke rumah sakit, menjaga keamanan di sana. Natasya--istri dari Tuannya melahirkan anak kedua yang puji Tuhan ternyata laki-laki. Sesuai keinginan orang tuanya, penerus Almeer yang begitu ditunggu-tunggu oleh semua keluarga. Bergeser dari kebahagiaan keluarga Almeer, hari ini juga menjadi hari paling indah untuk Ratih. Tepat di tanggal yang manis ini dia melakukan pemberkatan pernikahan bersama Damian, pria yang dia kagumi sejak lama akhirnya bersaksi di hadapan Tuhan untuk saling sehidup dan semati bersamanya. Semua mendapat kebahagiaan serta diberkahi oleh Tuhan. Di sebuah kamar utama ... Ratih nampak begitu canggung, Damian masih saja tidak banyak bicara. Hanya mengeluarkan sepatah dua patah kata, dan hal itu pun mampu membuat Ratih bingung harus memulai obrolan dari mana lagi. "Mas, kamu mau mandi sekarang? Setelah itu kita makan malam, aku masakin." Ratih memberanikan diri bertanya setelah beberapa saat berpikir untuk menyusun kalimatnya. Dia duduk dengan posisi tegap di pinggiran kasur, kedua jari jempolnya saling mengusap satu sama lain. Banyak pertanyaan yang mulai bermunculan dibenak Ratih. Apakah pertanyaannya sudah benar? Apa Damian mendengar ucapannya yang terdengar sangat pelan itu? Bagaimana harusnya bersikap agar Damian tidak merasa risih padanya? Dan ... banyak pertanyaan lain. Damian yang sedang duduk di sofa, melepaskan sepatu dan kemejanya. Ratih yang tadinya menatap setiap pergerakannya terlonjak kaget, langsung menoleh ke arah lain. Meski sudah cukup cepat melakukan gerakan, Ratih sempat melihat bagaimana tubuh bagian atas pria itu. Namanya saja bodyguard, tentu saja setiap pahatan tubuh Damian penuh dengan otot yang terbentuk apik. Ya Tuhan, seindah itukah penampakan tubuh suaminya? "Ya, saya akan segera mandi." Kalimat terpanjang yang Damian ucapkan pada Ratih hari ini. Ratih mengulas senyum, dia senang. Hal kecil seperti ini mampu membuatnya bahagia. "Mas mau makan menu apa malam ini?" Ratih sudah berdiri dari duduknya, memberanikan diri menatap ke arah Damian yang kini sibuk dengan tabletnya. Pria itu bersandar santai pada sofa, wajah fokus dengan kernyitan tipis itu menambah kadar ketampanannya. "Terserah." "Oh, baiklah. Nanti aku siapkan beberapa menu." Setelah itu Ratih beranjak menuju kamar mandi, dia mengecek apakah di dalam sana sudah tersedia handuk untuk Damian mandi nanti. Ternyata semua sudah lengkap. Kamar Damian sama sekali tidak dihias layaknya kamar pengantin baru--dominan warna hitam, memberitahukan jika bukan hanya sang empunya saja penuh dengan kegelapan, ruang dan tempat kediamannya pun demikian. Semua biasa saja, seperti kamar pada umumnya. Ratih memaklumi, mungkin dia pikir Damian memang tak menyukai hal-hal seperti itu. Tidak masalah. Masih banyak cara lain untuk membangun keromantisan di malam pertama mereka. "Mas mandi aja dulu, biar aku ke dapur." Damian hanya mengangkat kepalanya sebentar, menatap pada Ratih yang terlihat malu-malu mendapat tatapannya. Tidak ada kelembutan sedikit pun padahal, yang ada hanyalah datar dan penuh ketajaman. "Saya cek ini sebentar." Kembali fokus pada layar tabletnya. Ratih mengangguk, segera dia berlalu meninggalkan kamar menuju dapur. Hal itu tak terlepas dari sorot dingin Damian. Ketika pintu kembali tertutup, Damian segera memijat pelipisnya--nampak pusing. Dia tidak tahu apakah ini sudah benar atau bagaimana. Karena sudah cukup pusing seharian ini dan lelah sekali, Damian beranjak ingin membersihkan dirinya. Dia akan mandi air dingin agar kepalanya yang panas segera mencair. Entah hal apa yang akan dia lakukan setelah ini untuk menghindari Ratih. Damian mengunci pintu kamar mandi, melepaskan celananya lalu memasukkan ke dalam keranjang pakaian kotor. Harusnya dia senang, mulai dari hari ini ada yang mengurus semua keperluannya. Tapi masih ada satu hal yang membuat Damian ragu, sangat besar keraguannya. *** Usai membersihkan diri, Damian segera menuju ruang pakaian. Bersiap kembali dengan pakaian serba hitam miliknya, layak seorang bodyguard. Loh? Bukannya sudah malam, waktunya tidurkan? Damian merapikan rambut hitam tebal miliknya, menelisik seperkian detik setiap guratan wajah tampannya melalui cermin rias yang sengaja dia beli beberapa waktu lalu untuk Ratih memoles wajahnya nanti. Rahang yang kokoh ditumbuhi cambang tipis itu sangat menggoda iman. Bentuk bibir yang indah, serta memiliki iris dark cokelat mampu memanah setiap wanita--Ratih salah satunya. Damian memang sangat memesona, daya tarik yang dia miliki luar biasa. Ada banyak wanita yang jatuh hati, nyatanya tak seorang pun mampu mencairkan kebekuan yang sudah terlanjur mengeras. Ketika si datar Kenan masih dapat bersikap manis pada pasangannya hingga menjadi bucin Natasya, maka tidak dengan Damian. Dia benar-benar menjadi seseorang yang sangat sulit untuk menuju arah itu. Beres dengan penampilannya yang sudah rapi, Damian melingkarkan sebuah gelang modelan tali hitam terdapat nama lengkapnya di sana--Damian Faresta. Gelang yang sudah sangat lama sekali Damian miliki, hadiah dari seseorang yang begitu dia cinta. Tidak pernah Damian lupa mengenakannya, seperti menjadi kebiasaan wajib. Ke mana saja Damian pergi--kecuali saat mandi, dia pakai gelang tali itu. Seolah seseorang yang sudah lama pergi dari sisinya masih menemani setiap perjalanan hidup sampai ke titik ini. Tidak menyangka jika Damian masih bertahan sementara waktu itu dia benar-benar rapuh dan terpukul. Perasaan bersalah masih menghantui, hanya saja mencoba untuk selalu berdamai untuk ketenangan dirinya. Mungkin sebab itu dia menjadi pribadi yang keras dan tak tersentuh oleh siapa pun, benar-benar berubah bahkan lebih dari seratus delapan puluh derajat. Kembali bangun dan melangkah dengan sosok yang sangat berbeda. "Mas Damian ...." Ucapan Ratih mengambang di udara ketika melihat Damian sedang sibuk mengenakan sepatunya. "Loh, Mas mau ke mana? I-ini sudah malam." Dalam hati, Ratih melanjutkan kalimatnya yang menyesakkan d**a, "Ini malam pertama kita. Bukankah seharusnya bersama berbagi kasih dan cinta?" Hanya dalam benak, tak berani mengucapkannya secara langsung. Takut jika Damian merasa tidak nyaman, apalagi sampai marah dan tersinggung. Damian tidak menoleh bahkan menatap Ratih. "Saya akan ke rumah sakit dan melakukan penjagaan untuk di kediaman Tuan Kenan juga." Tanpa basa-basi, Damian tidak sedikit pun memikirkan perasaan Ratih. Sorot tatap yang tadinya begitu ceria dan penuh semangat, berubah sendu dalam seketika. Senyum yang tadinya terulas lebar hilang dalam setiap detik jam yang terlewati. Ratih memilin ujung baju, hatinya sungguh bergerimis sekarang. "Hem ... tapi Mas mau makan malam bersama dulu? A-aku sudah selesai memasak." Damian berdiri dari sofa, mengangguk mengiyakan ucapan Ratih. "Saya akan makan bersama kamu." Setidaknya Damian tak menolak makan malam bersamanya, Ratih sudah bela-belain memasak tadi padahal kondisi tubuhnya benar-benar lelah. Seharian dia tak memiliki jeda untuk beristirahat, beberapa bagian tubuhnya begitu pegal. Dengan sedikit mengalah dan menurunkan ego, Damian merangkul pinggang Ratih. Melangkah bersama menuju ruang makan. Ratih sangat senang, sedihnya sudah sedikit menyurut. Dia mencoba mengerti keadaan dan pekerjaan suaminya. Natasya baru saja melahirkan, mungkin memang sangat diperlukan sosok Damian di sana untuk keselamat bersama. Di sela-sela makan malam mereka, Ratih membuka suaranya. "Mas pulang jam berapa malam ini? Biar aku tunggu." "Tidak perlu, kamu tidur saja. Saya akan pulang besok pagi." Ratih terdiam, matanya mengerjap berkali-kali untuk menetralkan rasa yang seketika memuncak ingin menangis. Ratih sangat sedih, dia pikir Damian hanya pergi sebentar, mungkin dini hari nanti akan pulang dan menghabiskan sisa waktu bersamanya. Tidak tahu lagi harus membalas apa selain anggukan mengerti. Ratih tidak ingin banyak menuntut, dia tak mau membuat Damian kesal padanya. Selesai makan dengan segala pemikiran masing-masing, Ratih mengantar Damian hingga teras. "Saya pergi!" Dengan canggung dan berat sekali rasanya, Damian memaksakan diri untuk mengecup kening Ratih. Ratih mengangkat wajahnya kepada Damian, dia pikir pria itu juga akan mengecup bibirnya mungkin? Ya, seperti di acara pernikahan mereka tadi. Nyatanya tidak, Damian langsung beranjak setelah mengecup singkat keningnya. Seketika Ratih mengantup bibirnya rapat, menunduk malu dengan perasaan yang sudah tidak menentu. "Hati-hati di jalan ya, Mas." Damian mungkin saja tidak mendengar, Ratih mengucapkannya begitu pelan. Mobil hitam milik Damian melaju cepat membelah jalanan ibu kota, seorang satpam kembali menutup pagar besar dan kokoh itu. "Selamat malam dan selamat beristirahat, Nyonya." Pria itu sangat ramah, Ratih sempat berkenalan tadi. Namanya Pak Pidy, usianya sudah hampir setengah abad. Ratih mengangguk, tak lupa menyunggingkan senyuman. "Selamat beristirahat juga, Pak. Saya masuk dulu." Lalu melenggang pergi ke dalam. Mengunci pintu dan kembali ke kamar seorang diri. Ratih kembali sendirian, merasa begitu sepi. Tidak langsung tidur, Ratih memilih duduk di sebuah sofa yang berada di depan jendela. Menenggelamkan kepalanya pada lipatan tangan, merasakan dinginnya angin malam mulai menerpa setiap helai surai miliknya. Teringat kembali banyaknya aturan dan tuntutan yang dia terima dari kedua orang tua yang sedari dulu tak pernah membuat Ratih betah hidup bersama dalam satu rumah, sebab itu Ratih memilih tinggal di apartemen. Dulu dia selalu dituntut menjadi pribadi yang seperti ini dan itu. Bahkan sampai pada cita-cita, Ratih dipaksa menjadi seorang dokter. Tidak lain alasannya agar seperti sepupu-sepupunya yang sukses di bidang tersebut. Padahal Ratih tahu siapa dirinya dan sebesar apa kemampuannya. Ratih tak memiliki bakat serta kemauan di bidang itu, dia lebih senang berbisnis seperti yang tengah dijalani sekarang. Ada banyak perdebatan dan pertengkaran yang terjadi, membuat Ratih sedikit tertekan akhirnya. Menikah pun maunya dijodohkan, orang tua yang memilihkan mempelai laki-lakinya sesuai dengan kriteria mereka--kolot sekali memang. Syukurlah ketika Ratih membawa Damian, orang tuanya menerima. Tentu saja tidak menolak, Damian punya segalanya, tidak sembarang orang. Ratih sedih sebenarnya, kedua orang tuanya selalu menjadikan dia boneka yang bisa diatur sesuka hati. Padahal Ratih punya perasaan, kemauaan, dan kehebatan dalam bidang dia sendiri. Nyatanya semua itu selalu bertentangan dengan kemauan orang tua. Mami dan Papi Ratih selalu berpikir jika apa yang mereka atur sudah sesuai, seolah itulah satu-satunya pilihan terbaik. Nyatanya ... tidak sama sekali. Ingat pesan terakhir sang Papi, "Harus menjadi istri yang baik untuk suamimu. Berikan dia keturunan hingga menjadi penerus. Jangan sampai bercerai, bagaimana pun keadaannya." Jika semua itu tidak Ratih lakukan, kedua orang tua mengancam tak memberi sikap yang baik lagi kepadanya. Orang tua Ratih sudah memiliki banyak harta, hanya saja dibutakan dengan itu semua. Mereka berpikir jika memiliki menantu yang setara, maka kedudukan dan kehormatan akan selalu berada di atas. Bukankah semua hanya berlandas keegoisan? Ratih lelah sekali dengan hidupnya, untung saja Natasya selalu bersamanya. Ngomong-ngomong, Ratih dan Natasya bertemu ketika orang tuanya memaksa Ratih memasuki sekolah swasta yang di dalamnya terdapat anak-anak orang berada semuanya. Awalnya Ratih sangat menginginkan sekolah negeri, nyatanya lagi-lagi bertentangan. Namun, tidak masalah. Dari itu semua dia jadi bertemu dengan Natasya, sahabat terbaiknya. Perlu kalian tahu, pertemanan Ratih bahkan diseleksi oleh kedua orang tuanya. Kata mereka hanya boleh berteman dengan orang berada, yang sesuai derajatnya dengan keluarga Ratih--dalam tanda kutip anak orang kaya. Pernah suatu hari, Ratih berteman dengan beberapa orang pengamen jalanan, mendapat kesenangan yang sederhana dari sana. Nyatanya ... Papi Ratih kembali berulah. Dia melakukan ancaman kepada pengamen itu untuk menjauhi Ratih, kalau tidak akan mendapat kesengsaraan. Sejak hari itu, Ratih kehilangan semuanya. Hanya bisa menangis, tapi mau bagaimana lagi? Bukankah Ratih boneka dari kedua orang tuanya? Senang atau tidak, nyaman atau tidak ... semuanya harus disetujui. Begitulah kiranya sebagian singkat cerita mengenai kehidupan Ratih. Begitu miris dan memprihatinkan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD