"Selamat pagi, Dokter."
"Pagi, Dok. Baru sampai?"
Aku langsung menoleh ketika saapan ramah dilontarkan oleh dua orang staf yang bertugas pagi ini di meja pendaftaran. Tanpa ragu aku berhenti untuk sekedar berbincang dengan mereka menunggu temanku yang lain tiba.
"Selanat pagi juga, Bu. Iya, nih." Aku menjawab seadanya.
"Dokter, saya boleh tanya, gak?"
Dengan cepat aku mengangguk. "Iya, boleh aja. Mau tanya apa?" kataku ingin tahu.
"Mm... Dokter ini ganteng banget, udah punya pacar belum?"
Ya ampun, apa-apan ini? Masih pagi tapi aku sudah mendapatkan pujian sekaligus rayuan gombal dari staf rumah sakit ini.
Rasanya ingin tertawa, tapi kutahan. Akhirnya aku cuma bisa senyum-senyum sendiri.
"Ibu ini ada-ada aja. Masa begini aja dibilang ganteng, entar telinga saya bisa naiknya, loh." Aku menyahut enteng.
"Iya, benaran loh, Dok. Umur Dokter berapa, sih?"
"Dokter Kaito blasteran, ya? Kok namanya seperti orang Jepang sih, Dok?"
Kedua staf itu sahut-menyahut saling menimpali. Entah pertanyaan yang mana dulu yang harus aku jawab.
"Saya emang blasteran, ayah saya Jepang dan ibu saya asli orang Sumatera," kataku saat menjelaskan pada mereka.
Aku berharap setelah mereka tahu, mereka bisa membantuku jika ada orang lain yang bertanya hal yang sama.
"Oo... pantesan wajahnya beda sama orang kita. Dari namanya juga ketahuan kalau orang Jepang, tapi saya gak yakin karena Dokter Kaito lancar banget bahasa kita," timpal mereka lagi.
"Iya, benar. Dokter udah lama tinggal di sini?" tanya mereka lagi.
Aku langsung mengangguk, membenarkan semua ucapan mereka sambil tersenyum lebar karena dipuji oleh keduanya.
Jujur aja, rasanya senang banget jadi pusat perhatian. Bangganya aku karena seakan jadi turis di negara sendiri.
Entah sudah berapa lama aku berbincang di tempat itu ketika sebuah tangan mendarat di pundakku dan menarikku pergi dari meja mendaftaran.
"Hei, Kaito... ayo!"
Aku mengerutkan kening karena bingung. "Mau kemana?"
"Ckck... lihat udah jam berapa itu? Apa kamu mau terlambat lagi?" jawab temanku itu tanpa melepaskan tarikan tangannya di bahuku.
"Permisi dulu ya, Bu." Aku langsung melambaikan tangan pada kedua wanita tadi saat kami menjauh dari meja pendaftaran.
Untung saja kami belum terlambat saat tiba di sana. Akan tetapi, teman-teman yang lain sudah berada di sana seperti hari-hari sebelumnya.
Aku memutar leherku, melayangkan pandanganku disetiap sudut ruangan untuk mencari keberadaan Gita. Gadis itu masih belum kelihatan hingga sekarang, padahal aku lama menunggunya di pintu masuk, bahkan sempat bersenda gurau dengan staf rumah sakit. Akan tetapi, Gita masih belum terlihat.
Seisi ruangan itu terdengar bising karena semua orang sedang bercakap-cakap dengan teman-teman mereka yang lain. Aku memilih untuk sedikit menjauh, mencari privasi untuk menghubungi Gita.
Aku langsung mengambil ponsel dari saku celana dan mencari nama Gita di sana. Dan aku langsung menempelkan ponsel di telinga saat panggilanku terhubung.
Lama aku menunggu, tapi pamggilanku masih tidak diangkat oleh Gita. Aku sengaja menunggunya di samping pintu masuk ruang pertemuan, sambil mengirimkan pesan singkat padanya melalui aplikasi hijau. Aku berharap gadis itu segera membacanya.
Aku khawatir Gita marah padaku karena tidak mau menjemputnya tadi. Itu karena aku tidak ingin kami terlambat saat sampai di rumah sakit. Waktu yang habis kupakai untuk menjemputnya bisa Gita pakai untuk datang le rumah sakit dengan naik taksi online. Dengan begitu, kami tidak akan terlambat.
Namun, sampai sekarang batang hidung Gita masih belum kelihatan, hingga membuat aku sedikit khawatir. Bahkan Gita tidak mau mengangkat panggilan telpon dariku. Pesanku yang kukirimkan sejak 5 menit yang lalu juga masih centang putih.
Mungkin saja Gita memang marah. Karena selama ini dialah yang selalu membantuku.
"Kenapa masih di sini? Ayo, masuk."
Aku langsung terkejut ketika dokter Kirana tiba-tiba muncul di dekatku.
Dokter muda itu terlihat cantik hari ini. Wajahnya bersemu merah dengan lipstrik berwarna dark pink. Suara ketukan high heels yang dipakainya menggema saat memasuki ruangan pertemuan. Aku membuntutinya dari belakang.
Aku langsung memisahkan diri dari dokter Kirana dan kembali masuk dalam barisanku sendiri. Dan mataku masih tidak berhenti mencari Gita di antara teman-teman yang lain.
Tetapi, beberapa saat menjelang acara dimulai, suara langkah kaki seseorang berhenti tepat di belakangku. Aku langsung berbalik. Ku lihat Gita menarik napasnya dalam-dalam, keringat mengucur di dahinya hingga membuat poni serta anak rambut yang menggantung di sisi wajahnya basah.
"Udah mulai belum? Aku gak terlambat, kan?" kata Gita. Da-danya terlihat naik-turun tidak beraturan.
"Kamu kenapa, Git? Kayak habis dikejar anjing gitu," celetukku asal.
"Udah, gak usah tanya-tanyain aku dulu. Aku capek," jawab Gita. Kemudian mengambil tisu dari dalam tasnya untuk menyeka keringat di dahinya.
"Ya, sudah. Kamu sandaran di dinding sana aja dulu," kataku. "Kalau capek mendingan jongkok dulu, gak ada yang lihat kok."
Gita mengangguk pelan kemudian bergeser ke belakang dan bersandar di dinding seperti kataku. Sampai pertemuan berakhir, Gita masih bertahan di posisinya.
"Ayo, Git." Aku mengajaknya untuk keluar bersama menuju tempat kami bertugas hari ini.
Kami kembali berpisah saat aku masuk lebih dulu ke dalam ruanganku, sementara Gita masih harus berjalan menuju ruangannya yg berjarak lima meter dari tempatku.
Tak berselang lama, dokter Kirana masuk ke dalam ruangan bersama seorang perawat yang usianya jauh di atasku ataupun dokter Kirana.
"Selamat pagi, Dok." Aku menyapanya sambil tersenyum manis.
"Selamat pagi juga," jawabnya lembut. Dan untuk pertama kalinya dokter Kirana tersenyum balik padaku.
"Gimana pasien pagi ini, ramai?" tanya dokter Kirana pada perawat yang membawa berkas rekam medis pasien.
"Gak banyak, Dok. Hanya beberapa orang saja. Keluhannya sama, demam, batuk, pilek." Perawat itu menjelaskan secara rinci.
Aku terus memperhatikan interaksi di antara keduanya saat mereka berbicara. Mendalami karakter dokter Kirana serta caranya menangani pasien anak yang sering rewel saat diperiksa.
"Apa anaknya sudah bisa dipanggil?" tanya perawat itu lagi.
"Boleh. Apa berkasnya udah siap? Lebih baik disiapkan aja dulu, nanti sisanya biar dokter Kaito aja yang selesaikan."
Perawat itu langsung mengangguk dan mulai menyiapkan berkasnya satu persatu. Setelah itu menyerahkannya padaku untuk aku isi.
Perlahan, aku mulai dipercayakan untuk mengisi laporan medis pasien setelah beberapa hari sebelumnya aku hanya melihat bagaimana cara penanganan pasien anak.
"Anaknya udah bisa dipanggil masuk sekarang," perintah dokter Kirana.
Aku langsung berdiri dan berjalan keluar lalu membacakan nama pasien pertama. Lalu mulai mencatat laporan harianku seperti biasanya hingga seluruh pasienku selesai diperiksa.
Namun, hari ini ada yang berbeda karena dokter Kirana memintaku untuk mendiagnosa pasien dengan caraku sendiri.
Sementara dokter Kirana duduk di kursinya sambil mendengarkanku.
"Bagaimana? Menurut kamu anak ini sakit apa?" tanya dokter Kirana.
Aku tersenyum, takut salah menjawab. Aku tarik napas dalam-dalam lalu berkata dengan tegas, "Gastroenteritis, Dok."
"Kenapa?"
"Karena gejala demam tinggi, diare, muntah. Terus perut anaknya juga kembung," jawabku.
Setelah aku selesai memeriksa, dokter cantik itu berdiri untuk kembali memeriksa sang anak. Beberapa saat kemudian dia tersenyum.
"Oke, diagnosa kamu benar. Gimana dengan pengobatannya? Apa kamu mengerti jenis obat apa yang harus diberikan?" tanya dokter Kirana setelah lebih dulu memujiku.
Aku berpikir sejenak. Untuk beberapa jenis obat-obatan dasar, sedikit banyak aku sudah tahu. Tetapi, jika aku sampai salah menyebutkan maka aku sendiri yang akan malu.
"Sirup penurun panas, antibiotik, antijamur, serta obat pengganti cairan oralit. Anak juga harus konsumsi banyak cairan, makan makanan lunak dan buah-buahan lembut seperti pisang, serta banyak istirahat."
Aku tersenyum kaku diakhir kalimatku, menunggu reaksi dari si dokter cantik.
"Kamu benar."
Aku langsung bernapas lega sambil mengusap da-daku. Jantungku berdebar kencang kerena untuk pertama kalinya diminta menangani pasien.