Belum lega debaran di jantungku karena pujian yang kudapatkan dari dokter Kirana. Dan kini, sebuah pujian berbeda kembali aku terima dari orang tua pasien yang aku tangani, sehingga membuat wajahku merona merah karena malu.
Dan aku rasa, perubahan itu pasti terlihat jelas di kulitku yang putih. Itu sebabnya dokter Kirana menahan senyumnya saat melihatku.
Sepertinya aku tidak perlu mengatakannya lagi, karena tanpa aku katakan pun semua orang sudah mengakuinya. Bahwa aku ini tampan, imut-imut, menggemaskan, baik hati dan tidak sombong, pokoknya kerenlah.
"Kamu kenapa? Udah, jangan terlalu over confidence." Kalimat itu terlontar dari mulut dokter Kirana.
Aku langsung tertunduk malu, menyembunyikan senyuman manisku sambil mengusap tengkukku. Tega sekali dokter cantik itu menjatuhkan mentalku yang saat ini sedang melambung tinggi, tepat di depan orang yang baru saja memujiku.
"Gak apa-apa, Dok. Masnya memang ganteng, loh... berbeda dengan dokter yang lain." Ibu itu langsung memberikan pembelaannya untukku sambil tersenyum lebar untuk mencairkan suasana yang sempat tegang.
"Terima kasih, Ibu." Aku langsung menjawab sebelum dokter Kirana kembali menyela dan membuat aku malu.
"Mas namanya siapa, ya?" tanya si ibu lagi.
Kali ini sebelum menjawab, aku melirik pada dokter Kirana lebih dulu. Setelah itu aku melihat si ibu yang masih menunggu jawaban dari ku.
"Nama saya Kaito, Bu," jawabku, masih berusaha untuk tetap tenang.
Karena aku yakin bahwa pembicaraan kami tidak akan berakhir dengan cepat sebab orang tua si anak tampak tertarik padaku.
"Wah, Dokter ini orang Jepang, ya? Orang Jepang yang tinggal lama di Indonesia, ya?" tanya si ibu lagi semakin antusias. Sekaligus membuat air muka dokter Kirana berubah karena merasa kesal padaku.
"Saya blasteran, Bu. Tapi saya asli lahir di kota ini," jawabku.
Ku lirik kembali dokter Kirana saat wanita itu mulai mendengus kesal karena aku membuang banyak waktu yang seharusnya dipakai untuk memeriksa pasien yang lain.
"Maaf, ya, Bu... nanti saja ngobrolnya di luar. Saya masih harus memeriksa pasien lain." Dokter Kinara berkata tegas tanpa ekspresi saat mempersilahkan keluarga pasien untuk segera keluar dari ruangannya.
"Oh iya... maaf ya, Dok." Si ibu langsung menggandeng tangan putrinya saat keluar dari ruangan poli anak. Aku berjalan mendahuluinya untuk membantu membukakan pintu sekaligus memanggil nama pasien berikutnya.
Hingga pasien terakhir di hari ini, dokter Kirana harus menahan dirinya untuk bersabar menghadapi keluarga pasien yang selalu penasaran ingin mengetahui jati diriku. Dan aku juga berusaha agar tidak melambung semakin tinggi karena dipuji terus-terusan seperti itu oleh mereka. Seiring dengan perubahan di raut wajah dokter Kirana yang semakin sebal kepadaku.
"Kamu selesaikan laporanmu lalu berikan pada saya. Saya mau visite ke ruangan anak dulu. Kamu paham, kan?" ucap dokter Kirana kesal. Lalu bangkit berdiri, menyambar tasnya dari atas meja kemudian pergi meninggalkanku sendirian di dalam ruangan.
Dan perawat yang datang bersama dokter Kirana tadi pagi, ikut pergi membuntut di belakangnya. Aku terkejut saat perawat tadi masuk kembali setelah pergi selama 15 menit.
"Gimana, Dok? Laporannya sudah selasai apa belum? Apa ada yang perlu saya bantu?" tanya perawat itu padaku. Sikapnya sangat ramah, berbeda ketika dokter Kirana masih ada di ruangan ini.
Aku menggeleng pelan. "Ini masih aman kok, Bu. Saya masih bisa mengerjakannya," jawabku lalu kembali fokus mengerjakan laporanku tadi.
Sementara perawat tadi duduk di depanku, memperhatikan gerak-gerikku. Dan itu membuatku sedikit risih.
Aku mengangkat kepala untuk melihatnya lalu kembali tunduk sambil bertanya, "Ibu tidak ikut menemani Dokter Kinara?"
Lalu jawabnya, "Enggak, Dok. Saya diminta untuk menemani di sini siapa tahu Dokter membutuhkan bantuan saya."
Mendengar jawabannya aku langsung manggut-manggut. Lumayan, aku jadi ada teman cerita, pikirku.
"Kalau boleh tahu, Dokter Kaito memang asli keturunan Jepang, ya?" tanya perawat itu selang beberapa saat kemudian.
Aku menggangguk tanpa melihat ekspresi di wajahnya dan terus menulis. "Iya, Bu. Tapi Mami saya asli orang Sumatra," jawabku santai.
"Ooh... kalau gitu, Dokter pintar bahasa Jepang, ya?"
Aku mengangguk lagi. "Bisa, tapi tidak begitu lancar. Karena bahasa Jepang itu sulit. Apalagi saya besarnya di kota ini," kataku saat menjelaskan padanya.
Saat aku melihatnya, perawat itu langsung tersenyum padaku.
"Oya, Bu... apa Dokter Kirana memang seperti itu, ya, dengan semua Dokter magang?" tanyaku. Jujur saja, aku sangat penasaran.
Dahi perawat itu berkerut. "Maksudnya?"
"Iya, seperti tadi. Agak jutek gitu bawaannya. Apa dia memang selalu seperti itu?"
"Enggak juga. Dokter Kirana itu biasanya ramah kok. Mungkin dia lagi sensitif aja, lagi ada yang dipikirin. Taulah perempuan kalau lagi ada masalah pasti terbawa kemana-mana."
"Ooh... gitu, ya? Emangnya Dokter Kirana sudah menikah, ya?" cecarku lagi.
"Belum, ah. Memangnya siapa yang bilang begitu?" sanggah wanita itu cepat.
"Gak ada, saya cuma nebak aja, sih. Soalnya dia pandai banget mengambil hati anak-anak." Aku langsung membuat alasan yang cukup masuk akal. Takut dibilang tukang fitnah.
"Dia memang begitu sejak pertama bertugas di sini. Dokter sebelumnya sudah agak berumur dan agak kesulitan membujuk anak kecil, jadi mengundurkan diri dari sini dan buka praktek di rumahnya. Saya dengar, sih, begitu."
"Memangnya Dokter Kirana sudah berapa lama tugas di sini?" tanyaku lagi.
Aku semakin antusias ingin mengetahui segalanya hingga lupa pada tumpukan kertas di depanku.
"Sepertinya baru sekitar 2 tahun, kalau tidak salah," jawabnya.
Keningnya ikut berkerut saat matanya berputar menatap langit-langit ruangan, berusaha untuk mengingat sesuatu.
"Masih baru? Emangnya umur Dokter Kirana berapa, Bu?"
Perawat itu menghela napasnya pelan. "Yang jelas masih muda lah, soalnya belum lama tamat kuliah Dokter Kirana langsung lanjut ambil spesialisasinya. Mungkin sekarang umur 30 tahunan gitu lah."
"Wah, keren banget, ya. Apalagi ini rumah sakit yang terkenal bagus," kataku menimpali.
"Saya sepertinya harus banyak belajar biar bisa jadi dokter sungguhan seperti dia. Soalnya sekarang banyak sekali yang memiliki predikat dokter tapi akhirnya hanya sebatas titel karena uang orang tuanya banyak," kataku sok bijak.
"Itu sudah biasa, Dok. Tiap tahun banyak dokter-dokter muda yang lulus tapi akhirnya gak dapat pekerjaan. Soalnya mereka gak sungguh-sunguh belajar, hanya karena ikut-ikutan teman atau dipaksa sama orang tua."
Aku langsung mengangguk setuju karena semua yang dikatakannya adalah benar.
"Ya sudah, Dok... laporannya dilanjut dulu, nanti saya datang lagi ke sini."
Perawat itu langsung bangkit berdiri dan pergi meninggalkanku sendirian. Saat itulah aku baru sadar kalau laporanku masih banyak yang belum ditulis.
Aku buru-buru melanjutkan tugasku mengisi laporan yang sejak tadi ku kerjakan sambil sesekali melirik jam tangan yang terus berputar. Aku bahkan melewatkan jam makan siangku demi tumpukkan kertas di mejaku. Bahkan aku terpaksa menolak saat Gita memanggilku untuk mengajakku makan siang dengannya.
"Udah, berhenti dulu. Nanti 'kan bisa dilanjutkan lagi setelah makan siang," kata Gita saat membujukku untuk ikut dengannya.
"Nanti aja makannya, laporanku harus selesai sekarang soalnya udah ditunggu sama Dokter Kirana," jawabku saat itu.
Setelah berjuang sendirian selama lebih dari satu jam, akhirnya tumpukkan kertas itu telah selesai aku kerjakan. Aku menunggu perawat tadi datang untuk mengambil laporanku hari ini.
Setelah itu aku langsung pergi keluar, mencari tempat makan di sekitaran rumah sakit untuk mengisi perutku yang mulai keroncongan. Mataku mulai menyisir tempat yang tidak terlalu ramai satu per satu. Dan akhirnya memutuskan untuk mendatangi tempat makan yang hanya diisi oleh 3 atau 4 orang saja. Itu akan memudahkanku saat memesan makanan dan tidak harus menunggu lama seperti sebelumnya.
Setelah memesan, aku langsung memilih duduk di bangku dekat pojok belakang agar mataku bisa bebas memandang keluar tanpa penghalang. Dari tempatku, aku bisa langsung melihat ke arah pintu masuk rumah sakit. Memandangi orang-orang yang keluar masuk di gedung itu dengan sangat jelas.
Sepuluh menit kemudian, si ibu langsung menyambangi mejaku sambil membawa nampan berisi es jeruk dan mi bakso pesananku.
"Silahkan dimakan, Mas," katanya padaku lalu pergi lagi.