Kenapa Belum Pulang?

1217 Words
Aku melirik jam tangan berbahan stainless stell pemberian Gita saat ulang tahunku setahun yang lalu, yang saat ini melingkar di tangan kiriku. Jarum jam yang terus berputar kini menunjukkan waktu sudah lewat pukul 3 sore. Aku langsung mempercepat makanku hingga mangkuk di depanku kosong dan hanya menyisahkan kuah bakso yang tinggal sedikit. Satu persatu bakso daging sapi di mangkukku ludes masuk ke dalam mulut bersama dengan mi putih dan beberapa potong sayur sawi hijau. Kemudian menyeruput habis es jeruk yang tinggal setengah gelas. Aku mengusap perutku kemudian bersendawa cukup keras hingga membuat beberapa pelanggan menoleh ke arahku sambil tersenyum. Dan itu ku artikan sebagai sebuah ejekan karena sebenarnya bagi sebagian orang hal itu sangat memalukan. Padahal, di dalam dunia medis sendawa setelah perut kenyang adalah hal normal. "Makasih ya, Bu... perut saya sudah kenyang," kataku sambil tersenyum tipis ketika aku pergi meninggalkan warung bakso. Si ibu langsung membalas senyumanku, mungkin di dalam hatinya dia bersyukur karena ada satu orang lagi pembeli yang merasa puas dengan dagangannya. Hari ini rumah sakit terlihat ramai seperti biasanya. Para perawat berjalan mondar-mandir untuk melakukan tugasnya, serta beberapa keluarga pasien yang sedang rawat inap juga tampak hilir mudil di koridor rumah sakit entah untuk melakukan apa. Bahkan saat hari menjelang sore seperti ini pun masih saja ada pasien yang berdatangan. Ku langkahkan kakiku melewati parkiran depan menuju pintu masuk rumah sakit. Aku buru-buru karena khawatir bila teman-temanku meninggalkanku sendirian di sini. Namun, sekelebat bayangan seorang wanita yang baru saja keluar menuju parkiran mobil berhasil mencuri perhatianku. Langkah kakiku seketika berhenti hanya untuk memastikan bahwa penglihatanku tidak salah. Hingga sebuah tangan mendarat di punggungku hingga membuat aku nyaris melompat karena terkejut. Ku usap da-daku kuat-kuat untuk menetralkan detak jantungku. Aku bahkan tidak berani membayangkan seperti apa ekspresi wajahku tadi. Pasti sangat memalukan. "Kenapa, Mas? Lagi melihat apaan, sih?" tanya Pak satpam bingung. Sepasang mata hitamnya ikut menoleh ke arah sosok yang menjadi pusat perhatianku. "Gak ada, Pak. Saya gak melihat siapa-siapa, kok," jawabku berkilah sambil garuk-garuk kepala. "Ooh. Masnya kok masih belum pulang? Apa masih ada pasien, ya?" tanya Pak satpam lagi. "Gak ada lagi, sih. Emangnya kenapa, Pak? Gak boleh ya?" tanyaku balik. "Bukan gitu, Mas. Cuma tadi saya lihat kalau teman-temannya udah pada pulang," jawab si bapak. "Hah? Yang benar, Pak? Semuanya?" cecarku. Si bapak langsung menganggukan kepalanya. "Teman saya yang perempuan, yang tadi pagi datang terlambat, apakah sudah pulang juga, Pak?" tanyaku lagi untuk memastikan kembali. Siapa tahu pak satpam sudah salah lihat. Sekali lagi Pak satpam mengangguk dengan yakin. "Iya, Mas. Mbaknya juga baru aja pulang sama temannya yang lain. Mereka tadi naik taksi dari depan sana," jawab Pak satpam sambil menunjuk ke arah pinggir jalan di dekat pintu gerbang rumah sakit. Aku langsung membuang napasku yang terasa begitu berat. Baru kali ini Gita pulang sendirian tanpa diriku semenjak kami magang sebagai co-ass di rumah sakit ini. Apa dia masih marah karena masalah tadi pagi? Padahal aku sudah minta maaf padanya. Atau, karena aku telah menolak ajakannya untuk makan siang bersama dengannya tadi? Aah... entahlah. Terlalu banyak pertanyaan yang bersliweran di otakku sekarang ini. *** Sementara itu, di rumah Mami bersama Mbak Asih terlihat sibuk di dapur mempersiapkan hidangan berupa minuman dingin serta beberapa camilan untuk tamunya. Hari ini teman arisan Mami, Tante Merry, datang berkunjung ke rumah bersama seorang teman mereka yang lain. Mami terlihat begitu senang saat teman-teman arisannya mau datang berkunjung ke rumah kami. Dan seperti biasa, ketiga ibu itu selalu saja membahas hal yang sama berulang kali. Dan mereka saling membanggakan anak-anak mereka, khususnya Mami yang selalu saja membanggakan putranya karena tidak lama lagi akan menjadi seorang dokter seperti harapannya. Begitu pula dengan Tante Merry yang tidak mau kalah dan selalu membanggakan putri tunggalnya, Dara. Sahabat Kinara sejak mereka duduk di bangku sekolah menengah pertama. Tante Merry selalu berkata bahwa Dara adalah gadis yang cantik dan juga pintar. Padahal, jika dibandingkan dengan Dara, Kinara itu jauh lebih cantik. Apalagi Kinara juga memiliki gen Saitoru Matsusawa yang membuatnya memiliki kulit putih bersih, rambut hitam panjang, hidung bangir, serta sepasang mata sipit dengan bulu mata yang lentik. Karena itulah Mami Diana memutuskan untuk memasukkan putri satu-satunya dalam kelas karate demi melindungi dirinya. Di saat kedua ibu itu saling membanggakan anak-anak mereka, selalu saja ada yang menjadi pendengar setia. Tante Lani duduk sambil tersenyum lebar, melihat kedua temannya bergantian. Wanita muda itu belum dapat bersaing dengan dua temannya itu karena anaknya masih kecil. "Sudah, sudah, Jeng. Kok malah jadi bersaing begini, sih? Kita di sini itu untuk senang-senang, ngobrol bareng, karena udah lama gak ketemu jadinya kangen," ujar Tante Lani menengahi. "Aduh, maaf ya, Jeng. Saya jadi terbawa suasana," ucap Tante Merry seraya tersenyum malu. "Maklumlah, namanya juga ibu-ibu rempong yang anaknya udah pada gede." "Iya, Jeng... maklumin aja, ya." Mami Diana menyahut malu, lalu mempersilahkan tamunya untuk minum. "Saya maklum, kok, Jeng. Tapi saya jadi iri pengen ikutan banggain anak saya, tapi belum bisa soalnya anak saya masih kecil," timpal Tante Lani, anggota termuda dalam grup arisan mereka. Ketiganya lantas tertawa bersama sambil menikmati hangatnya mentari sore di teras samping. "Ngomong-ngomong, gimana tawaran saya kemarin? Apa sudah dibicarakan dengan anak-anak?" tanya Tante Merry. Wanita paruh baya itu langsung mengatakan tujuan awal kedatangannya ke rumah keluarga Diana Matsusawa. Mami Diana mengangguk pelan. "Sudah, kok. Tapi... ya itu, sepertinya hanya saya dan Kinara yang pergi," sahut Mami sedikit ragu. "Loh, kenapa Kaito gak ikut sekalian?" Raut wajah kecewa terlihat jelas di wajah Tante Merry. Mami Diana menarik napasnya dalam-dalam. Sebenarnya ia juga ingin agar Kaito bisa ikut bersama dengan mereka. Tetapi, situasinya saat ini tidak memungkinkan bagi Kaito untuk ikut karena anak lelakinya itu harus menyelesaikan masa pelatihan profesinya demi mendapatkan gelar dokter yang diharapkannya. "Maaf, ya, Jeng." Mami Diana tersenyum kecut. "Kaito itu harus menyelesaikan program profesinya di rumah sakit, jadi saya tidak bisa memaksanya untuk ikut," jelas Mami Diana. "Begitu, ya? Ya sudah, gak apa-apa. Lagian saya juga gak mungkin memaksa anak Jeng Diana, iya kan?" Tante Merry memaksa senyumnya. Sementara Tante Lani menatap bingung kedua temannya itu bergantian. Keningnya sampai berkerut ketika berusaha memahami arah pembicaraan mereka. Ia masih belum mengerti apa yang sedang dibicarakan oleh Mami Diana dan Tante Merry. "Lagi ngomongin tentang apa, sih? Kok saya gak ikut ditanya juga?" lontar Tante Lani. "Emang kalian mau pergi kemana, sih? Saya boleh ikutan juga gak?" sambungnya. Mami Diana yang merasa tidak enak hati pada temannya itu akhirnya buka suara. "Ini loh, Jeng, saya dan Jeng Merry ini janjian mau liburang bareng tapi belum ditentukan tempat tujuannya. Tapi sepertinya mau saya batalkan saja karena Kaito tidak bisa ikut," jelas Mami sambil sesekali melirik Tante Merry. "Ooh, saya kira ada apaan. Saya sempat berpikir kenapa saya tidak diajak juga." Tante Lani menimpali. "Oiya, anak Jeng Diana ada dimana? Kok sepi, sih?" Mendengar perkataan temannya, Mami Diana baru sadar jika Kinara masih belum kembali ke rumah. Padahal gadis itu hanya pergi untuk latihan karate setiap sepulang sekolah. Raut wajah Mami berubah cemas. "Benar juga, udah sore begini kenapa anak-anak belum pulang juga, ya? Padahal saya sudah katakan pada Dara agar menjemput saya di rumah Jeng Diana." "Benarkah? Lalu dimana mereka sekarang? Coba deh Jeng Merry hubungi Dara dulu, biar saya hubungi Kaito." Mami Diana terlihat panik. Wanita paruh baya itu segera melangkah masuk ke dalam rumah untuk mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas meja di ruang tv.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD