Mami Diana tidak membuang banyak waktu dan langsung menekan tombol angka yang tertera di layar ponsel pintar miliknya. Beberapa saat kemudian benda pipih itu berpindah tempat, menempel persis di telinga kanannya, dan duduk di sebuah sofa tunggal tak jauh dari tempatnya berdiri.
Nama sambung panggilannya bergema di telinga untuk beberapa saat. Namun, setelah menunggu cukup lama, sambungan telpon itu selalu berakhir sama tanpa diangkat oleh putra kebanggaannya, sehingga membuat wanita paruh baya itu menggeram kesal.
Perasaannya saat ini campur aduk. Mami Diana begitu khawatir dan sangat takut jika sampai terjadi sesuatu pada putri satu-satunya. Sebab mantan suaminya, Saitoru Matsusawa, pasti akan menyalahkan dirinya dan berusaha untuk mengambil alih hak asuh yang selama ini dimiliki oleh Mami Diana setelah perpisahan mereka beberapa tahun yang lalu.
Mami Diana meremas ponselnya menahan amarah sebab Kaito tak juga menerima panggilan telpon darinya. Ia akhirnya memutuskan untuk kembali ke teras samping untuk menemui Tante Merry dan juga Tante Lani.
"Gimana, Jeng? Apa Jeng Merry sudah berhasil untuk menghubungi Dara? Apa katanya? Apakah Kinara sedang bersama Dara sekarang?" Mami Diana langsung mencecarnya dengan pertanyaan tanpa jeda karena panik.
"Tenang dulu, Jeng Diana. Duduk dulu, sini... jangan panik begitu," ujar Tante Lani berusaha menenangkan ibu dari Kaito dan Kinara tersebut.
"Iya, Jeng. Udah, tenang aja. Tadi saya udah berhasil bicara dengan Dara, dan mereka dalam perjalanan pulang menuju ke rumah ini. Nanti Jeng Diana bisa bertanya pada Kinara secara baik-baik, gak usah pakai emosi." Tante Merry berbicara dengan lembut, seperti dibuat-buat. Meskipun begitu, tidak mengurangi rasa simpati Mami Diana terhadap teman arisannya itu.
"Iya, saya tahu. Terima kasih, ya, Jeng Merry ini memang paling the bestlah." Mami Diana akhirnya bisa menghela napasnya dengan lega.
"Nah, tuh ada suara mobil. Barangkali itu mobilnya Dara." Tante Merry langsung terlonjak dari kursinya, senyumnya mengembang sempurna.
"Iya, iya. Sebentar, ya..."
Mami langsung berdiri seraya mengeluarkan suara tujuh oktaf miliknya yang menggelegar demi memanggil Mbak Asih yang entah sedang berada dimana saat ini.
"Asih," teriak Mami Diana dari depan pintu teras samping.
"Asih... kamu lagi dimana, sih? Sana bukain pintu gerbang! Anak-anak udah pada pulang," teriak Mami Diana sekali lagi dengan suaranya yang melengking hingga ke rumah tetangga.
Mbak Asih yang sedang asik di dapur untuk menyiapkan makan malam langsung berlari dengan tergesa-gesa menuju pintu depan. Dengan cekatan tangannya membuka pintu gerbang dan menariknya hingga terbuka. Perlahan mobil yang sejak tadi sudah menunggu kedatangan Mbak Asih di luar gerbang langsung bergerak maju dan berhenti tidak jauh dari pintu garasi.
"Siapa yang datang, Sih?" Suara teriakan Mami kembali terdengar hingga ke pintu depan.
Mbak Asih masuk kembali ke dalam rumah untuk memberikan laporan pada majikannya.
"Siapa yang datang tadi, Sih?" tanya Mami ketika melihat sosok Mbak Asih yang datang dari ruang tamu.
"Mas Kaito, Bu." Asih menyahut sambil menundukkan kepalanya.
"Kaito? Apa Kaito pulang sendirian?"
Mbak Asih langsung mengangguk. "Iya, Bu."
Setelah Mbak Asih kembali ke dapur, Mami Diana langsung memandang sahabatnya dengan perasaan kecewa. Berbeda halnya dengan kedua temannya itu yang malah mengurai senyuman tipis dalam diam karena mengetahui kedatangan Kaito, lelaki tampan yang merupakan putra tertua dari Mami Diana.
***
Aku langsung keluar dari mobil setelah memarkirkan mobilku di depan garasi. Ku lihat Mbak Asih kembali masuk ke dalam rumah dengan terburu-buru. Aku yakin jika perempuan itu sedang memasak di dapur untuk menyiapkan makan malam. Semoga saja makanan yang sedang dimasak olehnya itu tidak gosong karena harus membantuku untuk membukakan pintu gerbang.
Aku segera melangkah masuk ke dalam rumah. Awalnya aku berniat untuk langsung naik ke kamarku dan beristirahat. Namun, suara-suara yang terdengar dari arah teras samping memancing rasa penasaranku.
Ku langkahkan kaki ku perlahan melewati ruang tengah karena tidak ingin mencuri perhatian dari sosok yang masih tidak aku ketahui itu. Aku terkejut saat disambut oleh tiga pasang mata serta wajah yang dibingkai oleh senyuman ketika langkahku berakhir di pintu samping, akses keluar masuk menuju teras samping dan taman belakang rumah.
"Mami? Tante?" kataku saat mata kami saling bersitatap.
"Hai, Kaito..." Tante Merry dan Tante Lani langsung menyahut secara bersamaan.
"Hai, Tante. Sudah lama datangnya?" Aku menyapa kedua sahabat Mami dari ambang pintu.
"Gak juga, mungkin baru satu jam gitulah," sahut Tante Merry antusias.
"Gimana kerja magangnya? Semuanya lancar, kan? Kapan-kapan Tante mau dong diperiksa sama kamu," ujar Tante Lani menimpali.
Aku langsung menggantung senyuman lebar di wajahku melihat tingkah genit para ibu yang selalu sama ketika berhadapan denganku.
"Hush! Kaito itu dokter anak, bukannya dokter emak," tegur Mami pada sahabatnya itu. Tangannya langsung mengayun di udara, memukul angin.
"Haha... iya loh, Jeng. Saya 'kan memang datang ke sana membawa anak saya untuk diperiksa sama Kaito," jawab Tante Lani sambil tertawa.
"Iya, Tante, boleh. Kalau anaknya ada keluhan langsung aja datang ke sana, nanti Abang periksa," kataku tak ingin berpikiran negatif pada mereka.
"Mi, Kinara mana? Tumben gak kelihatan?" tanyaku kemudian saat aku baru menyadari jika gadis tengil itu tidak terlihat dimanapun.
Ku dengar Mami menghela napasnya gusar seperti ada beban besar yang sedang dipikul olehnya.
"Kenapa, Mi?" tanyaku perlahan saat melihat perubahan di raut wajah Mami.
"Kinara masih belum pulang, Bang. Kata Tante Merry, Kinara pergi bersama Dara dan katanya mereka dalam perjalanan pulang. Tapi sampai sekarang masih belum sampai juga," kata Mami ketika berusaha menjelaskan situasinya padaku.
"Emangnya tadi pagi Kinara gak ngomong sama Mami bakalan pulang lama?" tanyaku ingin tahu lebih banyak. Ku usap punggung Mami dengan lembut untuk membuatnya merasa nyaman dan melupakan kegelisahan di hatinya untuk sementara waktu.
Mami menggeleng pelan. "Kinara gak ada bilang apa-apa tadi pagi. Makanya Mami khawatir banget. Tadi Mami hubungi ponselmu tapi gak diangkat juga. Emangnya kamu lagi ngapain, sih, kok susah banget cuma buat terima panggilan dari Mami?" ujar Mami kesal. Kemarahannya kini dipusatkan padaku sebagai pelampiasan.
"Mami jangan marah-marah dulu. Abang 'kan tadi lagi nyetir, mana boleh angkat telpon sembarangan seperti itu, bisa bahaya." Aku langsung beralasan untuk membela diri.
"Mami gak mau tau, pokoknya Abang harus cari Kinara sampai ketemu!" protes Mami tanpa ingin dibantah.
Aku melihat Tante Merry yang menganggukkan kepalanya padaku, begitu pula dengan Tante Lani.
"Sudah, sana. Cari adikmu sampai ketemu!" kata Mami tegas lalu mendorong tubuhku masuk ke dalam rumah.
"Iya, iya." Aku menarik napasku dalam-dalam sebelum akhirnya membuangnya kuat ke udara.
"Mbak Asih, tolong bukain pintu pagar, dong. Aku mau keluar sekarang," kataku sambil berteriak memanggil asisten rumah tangga kami.
Lima menit kemudian Mbak Asih berlari keluar dari arah dapur, mengejarku yang kini sudah berdiri di teras depan.
"Kompornya sudah dibereskan dulu, belum? Makanannya jangan sampai gosong, ya." Aku mewanti-wanti perempuan itu.
"Tenang aja, Mas. Semuanya aman terkendali," sahut Mbak Asih enteng sambil mengurai senyuman tulus yang dimilikinya.
"Mas Kaito mau pergi kemana lagi, toh? Baru juga sampai di rumah, udah mau pergi lagi."
"Bawel! Aku mau nyari Kinara, Mami yang suruh," kataku dari dalam mobil saat keluar melewat pintu gerbang.
Masih dapat ku tangkap sayup-sayup suara Mbak Asih sebelum pintu gerbang kembali ditutup. Namun, aku acuhkan. Perhatianku kini terfokus pada adikku, Kinara.
Aku menarik keluar ponselku dari saku celana sebelum aku membawa pergi mobilku terlalu jauh dari rumah. Hanya untuk berjaga-jaga agar aku tidak tertipu lagi oleh dua gadis ingusan itu seperti beberapa hari yang lalu.
Aku memarkirkan kuda besiku di pinggir jalan. Lalu beeusaha mencari nama Dara di layar benda pipih milikku.
Bingo! Aku langsung menekan tombol panggilan berwarna hijau. Beberapa detik setelahnya terdengar nada sambung yang berbunyi cukup nyaring di telinga.
Setelah dengan sabar menunggu hingga panggilan kedua, akhirnya gadis ingusan itu menerima panggilanku.
"Halo? Dimana kalian?" tanyaku ketus.