Aku girang bukan kepalang bercampur kesal dibalut geram ketika kesabaranku diuji hingga pamggilan keduaku mendapat jawaban. Dengan cepat ku tanyakan langsung keberadaan dua bocil alias bocah tengil yang masih kelayapan di luar sana disaat semua orang merasa sangat khawatir.
Jika saja keduanya berada di depanku saat ini mungkin aku akan menarik telinga mereka berdua sambil mengaraknya keliling rumah, supaya mereka jera dan tidak membuat orangtua yang menunggu mereka di rumah jadi khawatir.
Terserah deh mereka mau melakukan apa saja di luar sana. Tetapi, setidaknya mereka harus ingat waktu, apapun alasannya setidaknya mereka bisa memberi kabar.
Apa gunanya ponsel dibeli dengan harga mahal lalu diisi pulsa plus paket internet unlimited kalau masih tidak bisa digunakan buat hal urgent kayak gini? Mending ponsel mereka diawetkan aja di dalam lemari, biar bisa jadi benda pajangan termahal dan ternarsis, siapa tahu suatu hari bisa viral, iya kan?
Setelah aku menyahut, tak lama setelahnya aku mendengar jawanan polos dari gadis pemilik ponsel tersebut. Dara, menyahut santai pertanyaanku tanpa rasa bersalah. Gadis tengil itu memberi tahu aku bahwa mereka sedang dalam perjalanan pulang menuju komplek perumahan dimana keluargaku tinggal.
Setelah itu, percakapan kami berakhir ketika Dara menutup panggilan dariku. Akhirnya, aku memilih untuk memutar mobilku dan kembali ke rumah.
Dari sela besi pada pintu gerbang, aku melihat sosok Mbak Asih yang berlari tergopoh-gopoh keluar dari rumah setelah aku membunyikan klekson beberapa kali.
"Loh, Mas Kaito kok cepat banget baliknya? Mbak Kinara dimana, Mas? Kok gak ada?" cecar Mbak Asih ketika tidak menemukan siapapun saat mengintip ke dalam mobilku.
"Iya, Mbak, soalnya Dara dan Kinara itu lagi di jalan mau balik ke sini juga. Daripada saya capek mutar-mutar ngabisin bensin, mending saya tidur," kataku santai lalu membuka pintu mobil lalu keluar dari sana.
"Ooh...." Kepala Mbak Asih bergerak naik-turun yanda mengerti, lalu membuntut di belakangku ketika aku hendak masuk ke dalam rumah.
"Mbak Asih mau ke mana?" tanyaku saat berbalik dengan tiba-tiba sambil membuka mataku lebar padanya, meski tetap saja tidak kelihatan seperti orang yang sedang melotot.
"Eh, Mbak mau masuk ke dalam, Mas," kata perempuan itu dengan ekspresi terkejut seraya menunjuk ke dalam rumah.
"Gak usah! Mbak Asih duduk di sini aja, tungguin sampai mereka tiba. Ngerti?"
"I-iya, Mas." Kepalanya bergeraik naik turun. Kemudian berbalik badan dan kembali ke teras depan.
Baru saja aku masuk beberapa langkah ke dalam rumah, mobil yang dikendarai dua gadis tengil itu tiba di balik gerbang. Suara nyaring klakson mobil membuat Mbak Asih kembali berlari untuk membukakan pintu pagar.
Sementara itu, aku lanjut berjalan masuk menuju dapur. Tenggorokanku rasanya begitu kering bagai gurun sahara. Aku butuh penyegaran. Mungkin seteguk soda dingin dari dalam lemari es cukup untuk membasahi kerongkonganku ini, pikirku.
Tapi langkahku kembali harus tertahan, padahal jarak antara diriku dan oasis impianku sudah sangat dekat. Panggilan nyaring dari arah pintu samping menjadi hambatanku. Aku membuang napas kuat sambil menggeram kesal.
"Kaito..." panggil Mami kuat.
Aku terpaksa berbalik dan melihat Mami yang hanya berjarak beberapa langkah saja dariku. "Ya, Mi."
"Mana Kinara? Kenapa balik sendirian?" tanya Mami dengan muka memerah.
"Mami tenang aja, Kinara ada kok."
"Ada? Di mana?"
Aku menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya pelan-pelan, berusaha membuat diriku agar tidak ikut-ikutan darah tinggi.
"Ada, tuh di depan." Aku menunjuk ke arah depan dengan ujung telunjukku. Setelah itu masuk ke dapur untuk melaksanakan niatku.
Aku mengambil sekaleng soda dingin dari lemari es lalu menempelkannya di kedua pipiku sebelum akhirnya meneguknya sampai habis. Rasanya plong. Seger. Rasa kesalku ikut sirna, tertelan masuk ke dalam perut bersama rasa gerah dan kering di tenggorokanku.
Aku mengambil langkah pertamaku untuk meninggalkan dapur. Dan aku pura-pura tidak melihat apalagi mendengar ketika melewati pintu samping, meski suara-suara berisik terdengar jelas. Dan itu adalah suara Mami yang tengah mengomel pada putri kesayangannya yang baru kembali dari bersenang-senang bersama sahabatnya itu.
Aku tidak mengacuhkan mereka dan terus berjalan tanpa suara menuju tangga. Lalu berlari secepat kilat menjejak anak tangga menuju kamarku demi menyelamatkan diri.
Dan Aku tersenyum lebar penuh kemenangan ketika kakiku berhasil tiba di lantai teratas dengan selamat. Ku tutup pintu kamar dengan perlahan kemudian menguncinya dari dalam.
"Yeyy..." teriakku kegirangan. Akhirnya, aku berhasil selamat dari omelan Mami.
Ku jatuhkan tubuh lelahku di atas ranjang empuk yang sangat aku rindukan sejak aku tiba di rumah ini beberapa saat yang lalu. Ku rentangkan kedua tanganku lebar sambil memejamkan mataku kuat, dan melupakan sejenak rasa letih di tubuhku. Tidak perduli meski kini matahari telah beranjak turun di peraduan meninggalkan cahaya jingga kemerahan di langit biru yang perlahan berubah kelam. Dan tanpa sadar, aku telah jauh masuk ke dunia mimpi.
Hari telah berganti malam. Langit berubah kelam dihiasi oleh rembulan serta ribuan bintang yang bersinar keemasan. Jam dinding terus berputar meninggalkan derit dalam gerakan detik.
Sebuah ketukan panjang terdengar begitu keras di pintu kamarku. Entah sudah berspa lama hingga akhirnya aku tersadar dan membuka mataku lebar. Suara ketukan itu masih terdengar saling bersahutan dengan suara-suara lain yang menggemakan namaku.
"Kaito... ayo bangun. Kaito!"
Aku beberapa kali menguap lebar, mengambil napas dalam-dalam, sedalam usahaku untuk mencapai kesadaran.
"Kaito... bangun! Ayo, turun." Lagi-lagi suara yang sama terus terdengar memanggil hingga kesadaranku pulih sepenuhnya.
"Kaito..." panggilnya lagi bersama suara ketukan di pintu.
"Iyaa, tunggu sebentar, Mi."
Ku gerakkan tubuhku untuk bergeser ke tepi ranjang. Lalu bangkit dan bergerak turun dari tempat tidur. Kemudian berjalan malas menuju pintu. Dalam satu tarikan, pintu berhasil aku buka.
"Ya ampun... Abang belum mandi, ya? Kenapa tadi gak mandi dulu sebelum tidur? Mandi dulu, sana! Mami tunggu di bawah." Mami mendorongku masuk ke dalam kamar mandi, tapi ku tahan sambil berpegangan pada ambang pintu.
"Males ah, Mi. Abang masih ngantuk," jawabku setengah hati. "Memangnya mau pergi ke mana lagi, sih, malam-malam gini?"
Mami mencebikkan mulutnya. "Iih... kamu itu, ya? Buruan mandi! Mami tunggu di bawah untuk makan malam. Mami udah lapar gara-gara nungguin kamu yang gak bangun-bangun."
"Aduh, Mi... sakit." Aku meringis kesakitan ketika Mami menarik telingaku kuat agar mau masuk ke kamar mandi.
"Sakit, kan? Makanya nurut. Perut Mami jauh lebih sakit karena nahan lapar gara-gara kamu," tuding Mami ke arahku.
"Iya, maaf..." kataku dengan wajah memelas. Ku usap telingaku yang kini memerah bekas cubitan Mami.
"Ya, sudah. Mami turun ke bawah dulu."
Setelah berbicara, Mami langsung meninggalkanku sendirian dan menutup pintu kamarku kembali. Suara langkahnya terdengar samar menjauh dari kamarku hingga kemudian menghilang.
Aku lanjut membuka pakaian yang melekat di tubuhku satu persatu dan mulai mengguyur tubuhku dengan air dingin. Aroma wangi dan segar menguar ke udara saat aku mulai membersihkan seluruh tubuhku dengan sabun. Setelah itu aku mulai menyiraminya hingga seluruh buih di tubuhku tersapu oleh air.
Segera ku balut bagian bawah tubuhku dengan handuk setelah selesai menyikat barisan pagar putih yang berjejer rapi di mulutku hingga bersih dan meninggalkan aroma mint yang menyegarkan saat aku selesai berkumur.
Aku langsung mengeringkan tubuhku dengan handuk dan langsung berpakaian. Sebuah kaos tanpa lengan serta celana pendek dengan warna senada membungkus tubuhku yang telah segar.
Begitu selesai, aku langsung turun ke lantai bawah tanpa menunda lagi. Karena sekarang aku mulai merasakan seluruh cacing di perutku mulai berdemo karena kelaparan hingga membuat suara-suara aneh keluar dari dalam sana.
Aku berjalan setengah berlari menuju ruang makan sambil tersenyum senang karena perut ini akan segera dipenuhi makanan enak buatan Mbak Asih. Membayangkannya saja sudah membuat air liurku hampir menetes keluar. Untuk urusan masak memasak, Mbak Asih yang paling the best pokoknya.
Yah, walaupun tidak bisa dibandingkan dengan masakan yang dijual di restoran mahal. Sebab ada rupa ada harga. Makanan mahal juga disiapkan dengan bahan mahal dan juga juru masak terbaik yang dibayar dengan mahal.
Tapi, pandanganku tiba-tiba tercemari dengan dua sosok asing yang duduk di ruang makan untuk pertama kalinya. Nafsu makanku yang sejak tadi sudah melambung tinggi langsung merosot turun seketika hingga ke titik terendah. Seluruh sendi di tubuhku tiba-tiba seperti kehilangan kekuatannya hingga membuatku sulit untuk melanjutkan langkahku dan duduk bersama mereka semua.
"Bang, ayo duduk sini. Ngapain berdiri aja di sana? Buruan, kita semua udah lapar!" Teriakan Mami kembali menyadarkanku. Kupaksa kakiku untyk bergerak maju walau enggan.