Berita Duka Yang Terlewatkan

1560 Words
Langkah Kia dan juga Anne begitu riang memasuki area apartemen selepas mereka berkuliah hari ini. Mereka juga sudah membeli beberapa bahan makanan dan nanti akan mengolahnya setibanya di apartemen. Setelah masuk ke dalam apartemen Kia, Anne segera menghempaskan tubuhnya di atas sofa yang empuk, dia memandang lukisan-lukisan Kia yang begitu indah dan tergantung di dinding, kemudian tersenyum kepada sahabatnya itu. "Kau sangat pandai melukis, kenapa tidak kuliah di jurusan seni saja?" Kia memandang sejenak lukisan-lukisannya, setiap kali ada yang menanyakan hal itu dia hanya bisa tersenyum kecil. Sebetulnya di Indonesia kemarin dia juga berkuliah di jurusan seni, tapi pamannya lebih menginginkan dia untuk berkuliah di jurusan bisnis karena memang keluarganya kaya raya dan memiliki perusahaan yang nantinya konon akan dipimpin oleh Kia. Dia memang tidak pernah menceritakan kepada Anne bahwa keluarga mereka cukup tersohor di Indonesia. Dia hanya mengatakan bahwa dia memang memiliki paman yang berkecukupan dan selama ini pamannya lah yang memberikan dia fasilitas dan menggantikan peran kedua orang tuanya. "Aku mencoba untuk menjadi apa yang pamanku inginkan. Paman adalah pengganti papaku jadi aku tidak akan pernah menolak setiap kali dia menginginkan aku menjadi sesuatu,semua hal yang diinginkannya tentangku adalah hal yang baik dan aku selalu berusaha mewujudkan setiap keinginannya itu." "Kau beruntung sekali, Kia, memiliki keluarga yang sangat baik walaupun kau sudah tidak memiliki kedua orang tua, tapi pamanmu menjadi pengganti yang sempurna." Kia diam sesaat, kemudian tersenyum sebelum akhirnya dia membalas. "Ya dan karena terlalu sempurna itulah aku tidak pernah bisa menolak keinginannya bahkan untuk tetap bertahan di Indonesia dan kembali melanjutkan pendidikanku di sini, aku tidak pernah bisa.Tapi aku selalu mencoba untuk melakukan yang terbaik demi keluargaku, Ann." Kia mengatakan itu dengan tatapannya kembali menerawang jauh. Ya, Kia menyadari bahwa semua hal yang diinginkan oleh pamannya berusaha untuk dia laksanakan dengan baik, tetapi hanya satu yang membuat dia menyesal, satu saja. Sebetulnya ia tidak menyetujui tindakan pamannya itu yaitu mengambil pendonor bagi ibunya Devan darinya dan akhirnya membuat lelaki itu membencinya setengah mati hingga sampai saat ini. "Jangan lagi bertanya macam-macam, Ann, kau mau istirahat istirahat saja di kamarku, aku akan memasak untuk kita," ujar Kia sambil tertawa kecil. "Biarkan aku membantumu." Kia tersenyum kemudian mengangguk. Mereka mulai terlihat asik di dapur dan mini bar milik Kia, hingga saatnya sebuah panggilan telepon masuk dan hal itu membuat Kia harus menghentikan kegiatannya sebentar. "Aku angkat telepon dulu ya, Ann, kau lanjutkan saja." Anne mengangguk, membiarkan Kia untuk sedikit menjauh darinya dan menerima panggilan. Dia tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan Kia saat ini dengan seseorang di telepon itu karena Kia berbicara dalam bahasa dari negaranya. "Tante, aku ingin bertanya sesuatu kepada Tante, tapi aku mohon kepada Tante untuk tidak mengatakannya kepada paman." "Apa yang ingin kau tanyakan, Kia?" Kia diam sejenak, sebenarnya dia ragu untuk memberi pertanyaan ini kepada tantenya, tetapi sudah lama sekali dia memendam hal ini dan rasa penasaran juga ingin tahunya juga semakin menggunung. "Tante, apa Tante pernah melihat Devan lagi?" Tante tak langsung menjawab, sama seperti Kia, dia terdiam cukup lama setelah mendengar satu nama itu. Mungkin dia juga merasa bersalah atas apa yang dilakukan oleh suaminya di masa lalu, tetapi dia tidak bisa untuk mencegah hal itu, sama seperti Kia. Paman adalah orang yang memegang kendali penuh atas kehidupan mereka, kasarnya begitu. "Kenapa tiba-tiba membicarakannya, Kia? Tante kira kamu sudah melupakannya?" "Sangat tidak mudah untuk melupakannya, Tante, selama ini aku memang menahan diri untuk bertanya, tetapi rasa bersalahku kepada devan kian rasanya semakin menggunung dan aku hanya ingin tahu kabarnya saja sebab aku tidak lagi memiliki akses untuk menghubunginya dan sepertinya dia juga masih marah kepadaku juga masih menganggap bahwa akulah yang menyebabkan kematian bagi ibunya." "Sebetulnya, Tante juga merasa hal yang sama seperti apa yang kau rasakan, tapi kita memang tidak bisa mengulangi waktu. Kia, maaf kalau Tante selama ini tidak mengatakan kepadamu satu hal tentang cerita keluarga Devan saat kau telah pergi waktu itu." "Apa itu, Tante? Devan baik-baik saja kan?" "Tante tidak pernah tahu lagi kabar Devan, terakhir yang diketahui dia sudah pindah dan tidak lagi tinggal di kota yang sama dengan kita. Dan ..." Tante diam sejenak, hal itu membuat dia jadi tak sabaran, perasaannya juga jadi tidak enak sekarang. "Dan apa, Tante? Apa yang terjadi kepada Devan?" Suara Kia yang serak terdengar sedikit memaksa diiringi suara hembusan nafas berat terdengar dari ujung telepon, sepertinya tante juga berat sekali mengatakan hal yang Kia tidak tahu itu. "Tidak lama setelah kamu pergi, ayahnya Devan, tuan Roland, meninggal dunia, Kia." "Aapa??!" Rasanya tubuhnya lemas begitu saja mendengar hal itu, ia sama sekali tidak tahu bahwa Devan benar-benar sudah kehilangan kedua orang tuanya. Tanpa dia sadari, air matanya mengalir begitu saja. Devan pasti telah menjalani tahun-tahun penuh penderitaan dan airmata, Devan pasti sangat bersedih setelah kehilangan orang yang sangat dia cintai. Parahnya, sama sekali tidak tahu hal itu. Kenapa tantenya baru mengatakan hal itu sekarang? "Kenapa Tante baru mengatakan hal ini sekarang, paman juga tidak memberitahuku?" "Maafkan Tante, Kia, tapi kamu tahu sendiri, bahwa Tante tidak pernah bisa menentang apa yang sudah menjadi larangan dari pamanmu. Sebenarnya saat itu, ingin sekali Tante mengabarimu, tapi Tante tidak mau membuatmu kepikiran." Kia terhempas begitu saja ke atas sofa saat ini, dia menoleh kepada Anne yang masih sibuk dengan bahan makanan di dapur, jadi sahabatnya itu tidak memperhatikan bahwa saat ini dia sedang bersedih. "Aku bingung sekali, Tante, ingin rasanya menjelaskan kepada Devan tentang apa yang sudah terjadi waktu itu, tapi aku tidak pernah bisa lagi menghubunginya." "Lupakan saja, Kia, tidak ada yang bisa kamu lakukan selain menuruti semua yang sudah diperintahkan oleh pamanmu. Paman hanya ingin yang terbaik bagimu, Kia. Kamu tentu tidak ingin nanti kamu malah menjadi sasaran amukan oleh pamanmu. Selama ini pamanmu hanya ingin yang terbaik bagi dirimu dan juga keluarga kita, jadi Tante harap, kamu mengerti dan ini juga sudah dua tahun berlalu, Kia, harusnya kau bisa melupakan semua itu." Percayalah, bukannya bisa melupakan dengan begitu mudah, malah sekarang pikiran Kia semakin bertambah dengan beban yang kemarin memang sudah ada. Berita yang baru saja disampaikan oleh tantenya membuat hati Kia terasa amblas begitu saja, entah bagaimana Devan menganggapnya sekarang. Sungguh kalau memang diberi umur panjang dan juga masih diberi kesempatan, dia ingin bertemu dengan Devan dan menjelaskan semuanya kepada lelaki itu, karena sampai hari ini dia masih memiliki perasaan yang sama, dia tetap cinta kepada Devan, perpisahan sama sekali tidak bisa mengurangi perasaannya meski sudah tahun-tahun berlalu. "Jalani saja perkuliahanmu dengan baik, Kia." Kia tidak menjawab, namun suara isaknya yang tertahan seperti terdengar oleh tante. Oleh karena itu, sambungan telepon akhirnya juga dimatikan. Mungkin tante juga tidak tega, tetapi apa yang bisa mereka lakukan? Semua kuasa ada di tangan pamannya dan dia juga tidak ingin mengecewakan siapa-siapa saat ini. Setelah selesai dengan sambungan telepon bersama tantenya barusan, Kia tidak langsung ke dapur, dia duduk di atas sofa dan termenung, sementara itu Anne sudah datang dan membawakan sepiring makaroni untuk mereka berdua, gadis itu meletakkannya di depan Kia di atas meja, namun dia tersentak kaget ketika melihat air mata mengalir begitu saja di pipi gadis itu hingga membuatnya khawatir. "Apa yang salah? Kenapa kau tiba-tiba saja menangis seperti ini? Siapa yang menelpon barusan? Apakah Alex sudah membuatmu terluka? Mungkin dia mencaci makimu?" tanya Anne dengan pandangan khawatir dan mendekat kepada gadis itu, ia menatap sahabatnya itu kemudian menggeleng. "Kau bisa menceritakan apapun kepadaku, Kia. Aku tahu sebetulnya kau menyimpan sebuah kedukaan di dalam hatimu, kenapa tidak membaginya kepadaku? Apa kau tidak percaya bahwa aku sungguhan bisa menjadi sahabatmu?" Anne bertanya dengan begitu lembut kepada Kia. "Aku kehilangan banyak hal selama ini, aku kehilangan sesuatu yang sebetulnya sangat berharga di dalam hidupku. Kalau kehilangan saja mungkin aku bisa berusaha melupakannya secara perlahan, tetapi aku kehilangan disertai dengan amarah dan juga kebencian yang masih bersemayam di dalam hati lelaki itu." "Yang kau ceritakan selama ini?" tanya Anne memastikan. Kia mengangguk perlahan, air mata masih saja setia mengalir dari pipinya, buat Anne begitu iba menatap sahabatnya itu. "Aku tidak tahu apa masalahmu dengannya, Kia, tapi semoga kau bisa bertemu dengannya lagi nanti." "Mungkin, kalau bertemu pun dia tidak akan sudi untuk melihatku atau yang ada di dalam pikirannya, hanyalah membunuhku." "Kenapa kau berkata seperti itu, Kia?" "Sulit sekali untuk dijelaskan, Ann." Kia memilih untuk tidak lagi menjawabnya, dia merebahkan kepalanya di bahu sahabatnya itu. Anne mengusap lembut punggung Kia, dia juga tampaknya bisa merasakan kesedihan yang saat ini dirasakan oleh sahabatnya itu. "Kia, kalau memang hal itu menyakitimu, kenapa tidak coba untuk melupakannya saja? toh kalian juga sudah berjauhan. Aku sedih melihatmu begini, kau berhak untuk hidup bahagia, Kia. Anggap saja semua hal yang sudah terjadi di antara kalian adalah bagian dari takdir yang harus kalian jalani sekarang." "Aku pernah mencobanya, tapi sangat sulit, sepertinya aku memang harus mencari cara untuk bisa bertemu dengannya lagi dan menjelaskan semua duduk perkara juga mengungkapkan kedukaanku atas meninggal kedua orang tuanya waktu itu." "Kau pasti bisa melakukan itu, aku selalu mendukungmu." Kia tersenyum kecil kemudian mengangguk. Ia berusaha menghapus air matanya. Tak berapa lama kemudian, suara ponsel Anne terdengar, dia mengangkatnya lalu menatap Kia sesaat. "Alex mengajak kita untuk bertemu di klub malam ini, katanya ada acara party. Tapi kalau kau tidak bisa, tidak apa-apa, aku bisa pergi sendiri." "Aku bisa, kita akan pergi nanti malam." Awalnya Anne terkejut karena selama ini Kia tidak pernah mau pergi ke klub malam tapi sekarang dia tersenyum kecil. Mungkin Kia juga butuh hiburan untuk menghibur dirinya sendiri saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD