Sekian Waktu Berlalu

1501 Words
Dentuman suara ledakan membuat beberapa prajurit pasukan khusus bersembunyi guna menyelamatkan diri mereka. Langkah-langkah orang terlatih dan dibekali dengan tingkat kecerdasan di atas orang biasa itu setidaknya mampu membuat mereka memperhitungkan dan memperkirakan setiap gerakan lawan. Meski peluh berhamburan juga tenaga yang sudah banyak habis terkuras, tak membuat mereka gentar untuk menuntaskan misi penyelamatan. Ada dua sandera yang sedang mereka berusaha selamatkan di area perbatasan ini. Dua reporter yang memang bertugas di area ini pula. "Tembak!" Runtutan suara tembakan membahana di sepanjang area luas dengan tingginya semak belukar. Mereka bergerak cepat dengan waspada tingkat tinggi agar tak bisa dibaca oleh lawan. Suasana mencekam, begitu terasa apalagi waktu sudah menuju gelap, senja hampir menghilang, mereka harus bisa menuntaskan misi kemanusiaan segera. "Van!" Sabetan dari pisau belati membuat Devan tersentak tapi tak pula membuatnya gentar lantas mundur. Lelaki itu cukup merasa kesal sebab tak sadar jika salah satu musuh telah berhasil menyelinap dan mungkin berniat menjadikannya sandera pula. Dengan gerakan cepat, Devan mengayunkan tangannya tepat saat lelaki berperawakan sangar itu hendak mencabut pistol yang terselip di pinggangnya. Beberapa gerakan mengunci dan pukulan berhasil merobohkan lawannya. Beberapa rekan lain bergegas menyelamatkan sandera yang telah ditinggalkan begitu saja dengan luka-luka menganga di tubuh. Mereka selamat meski cidera tak bisa dihindari. "Van, tahan!" Salah satu rekan menyiramkan alhokol ke luka Devan yang terbuka karena sabetan belati. "Arrggggh!" Devan menjerit tertahan. Dia lebih suka sebenarnya membiarkan luka itu menganga tetapi jelas itu berbahaya, infeksi dari luka yang didapatkan oleh prajurit tangguh seperti mereka seringkali mengakibatkan kematian jika tak segera ditangani. "Bawa segera ke helikopter!" Aba-aba terdengar, perintah membawa para sandera tadi ke tempat yang jelas aman dan hendak langsung diterbangkan. Devan sendiri berusaha beranjak meski darah masih sering mengalir dari sela perutnya. "Aku bantu, Van." "Aku bisa sendiri. Luka ini tidak seberapa." Temannya hanya bisa menggeleng. Devan dikenal dingin tapi tak pernah takut pada musuh. Lelaki itu mulai menegakkan badan, berjalan dengan gagah meninggalkan lokasi yang telah hampir satu minggu ini mereka pantau dan intai. Dengan helikopter yang telah menunggu mereka kemudian terbang, pergi meninggalkan area berbahaya itu ke tempat yang lebih aman. *** Beberapa hari sudah berlalu semenjak misi pembebasan bagi dua reporter yang disandera saat itu. Sekarang, beberapa prajurit pasukan khusus yang kemarin bertugas sedang dalam perawatan. Sebuah rumah sakit khusus yang diperuntukkan bagi mereka, orang-orang dengan nyali seluas lautan. "Lukamu begitu dalam, Van." Devan hanya tersenyum kecil mendengar penuturan Zevanya, salah satu perawat cantik yang memang ditugaskan di rumah sakit khusus itu. "Lukanya tidak seberapa, Zeva. Jangan khawatir, Devan sangat tangguh. Hanya kepada perempuan bernama Kia dia akan merasa lemah tak berdaya." Hening. Baik Zeva maupun Devan terdiam. Cerita itu sudah cukup lama terdengar. Sempat menjadi guyonan di kalangan prajurit lain saat mereka menyaksikan sendiri, Devan mengigau dengan menyebut nama Kia berulangkali beberapa bulan yang lalu. "Jangan menyebutnya lagi, Ael. Aku tak segan mematahkan lehermu kalau kau masih menyebut namanya lagi setelah ini." Rafael segera mengangkat kedua tangannya sebagai tanda dia menyerah. Dia mengerling ke arah Zeva yang sekarang masih diam. Nampaknya gadis itu cemburu. Siapapun tahu jika selama ini, Zeva menaruh hati yang begitu besar untuk Devan. Dia kerap merasa cemburu jika Devan diisukan sedang dekat dengan perempuan lain. Apalagi ketika Zeva mendengar Devan sempat mengigau dan menyebut nama Kia berulang kali. Kia? Siapa perempuan itu? "Kia itu sebenarnya siapamu, Van?" tanya Zeva sembari masih membalut luka Devan. "Aku sudah bilang agar jangan menyebut namanya lagi." Zeva diam lagi mendapat jawaban dingin dari lelaki yang dipujanya itu. "Tapi, kenapa kau harus menyebut berulang namanya dalam tidurmu saat itu?" Devan menaikkan satu alisnya, kemudian lelaki itu melengos. Dia tak suka pembicaraan ini. "Sudahlah, lagipula tidak ada hubungannya juga denganmu." "Oh ... Aku pikir ada, Van." Zeva terkekeh pelan, menatap sang pujaan yang semakin tampan kian hari. Devan memang memiliki pesona luar biasa sebagai seorang prajurit tangguh dan juga sebagai lelaki yang sudah cukup matang. "Sudah selesai bukan? Aku ingin segera pulang dan beristirahat." "Ehmmmmm, aku pikir, aku bisa membuatkanmu makanan lezat setelah ini, Van." "Tak usah, Zeva, aku hanya ingin beristirahat." Zeva tak lagi bisa membantah. Gadis cantik itu akhirnya mengangguk dan membiarkan Devan beranjak lalu pergi keluar kamar perawatan. Devan rasa sudah cukup dia berada di rumah sakit, dia hanya ingin segera pulang dan mengistirahatkan tubuhnya. Sementara Devan sudah tak lagi terlihat, Zeva kembali termenung. Dia ingat satu tahun yang lalu mempertemukannya dengan Devan. Pada pandangan pertama, gadis itu sudah jatuh cinta. Sayang, Devan terlalu dingin bagai tak terjamah. Tadinya dia pikir kepada perempuan mana saja, Devan akan berlaku sama, ternyata dia salah setelah dia mendengar rekan-rekan Devan membicarakan satu nama : Kia. "Siapa sebenarnya Kia?" tanya Zeva pada dirinya sendiri dengan hati yang mulai terusik. Di rumahnya sendiri saat ini, Devan sedang membuka sekaleng minuman dingin. Udara cukup membuat bulu tubuh meremang. Devan membuka kian lebar jendela. Sepi begitu terasa. Sudah bertahun-tahun, Devan betah dengan kesendiriannya. Tak ada hal yang membuatnya perlu bercinta-cintaan. "Hebatnya selama ini kau bersembunyi, bahkan aku yang begitu terlatih saja tidak bisa menemukan keberadaanmu. Aku yakin, saat nanti pasti aku bisa menemukanmu, dan saat itu tiba, aku berjanji akan mematahkan kebahagiaan keluarga kalian. Kau harus tahu dan paham bagaimana rasanya kehilangan, Kia!" Rupanya, kebencian dan dendam masih saja menyelimuti Devan begitu dahsyat. Dulu, kepada satu nama itu, Devan begitu memuja, pernah merasakan jatuh cinta hanya kepada Kia saja, tetapi sekarang rasa itu baginya sudah sirna, berganti dengan rasa benci dan dendam yang membara. Kehidupan Devan begitu keras setelah kedua orangtuanya tiada. Dia harus menanggung beban nelangsa sebagai anak yatim lagi piatu. Kematian kedua orangtuanya bagi Devan adalah sebuah kesengajaan yang telah dirancang oleh keluarga Kia. Andai saja waktu itu keluarga Kia tidak merebut pendonor bagi mamanya, pasti mereka masih bisa berkumpul hingga kini, ayahnya juga tidak akan terpuruk dan akhirnya menyusul ibunya pula. Sejak saat itu, bagi Devan, Kia dan keluarganya adalah musuh. Dia benci mereka apalagi setelah dia tahu bahwa Kia telah pergi. "Pengecut!" dengus Devan sambil membanting minuman kaleng itu keluar dengan sedikit ayunan tangannya. Amarah Devan memang kerap kali tersulut setiap kali dia ingat hal itu. Sesuatu yang menyakitkan dan membuatnya mendendan begitu lama. *** "Aku sudah bisa kembali ke Indonesia, Paman?" tanya Kia dari sambungan telepon yang tengah berlangsung saat ini. "Ya, Paman rasa kau sudah cukup muak berada di Amerika hampir sepuluh tahun ini, Kia. Pulanglah. Kau sudah cukup mendapatkan ilmu dari perkuliahanmu dan juga belajar mengelola perusahaan di Amerika." "Benarkah, Paman, aku sudah boleh pulang?" Kia terdengar memekik senang. Sebenarnya sudah dari semenjak ia lulus kuliah, Kia ingin pulang ke Indonesia. Namun, pamannya belum memperbolehkan. Dia ingin Kia belajar di perusahaan rekannya di Amerika sana, belajar mengelola perusahaan sebelum akhirnya akan memimpin perusahaannya sendiri kelak. Jadilah setelah hampir enam tahun berkutat dengan perusahaan asing, Kia tentu saja sudah menjadi sangat lihai kini. "Ann, aku akan segera pulang ke Indonesia!" seru Kia kepada sahabatnya yang juga bekerja pada perusahaan yang sama dengannya selepas mereka lulus kuliah kemarin. "Kia, apa yang terjadi? Kau begitu mendadak dan tampaknya memang ingin meninggalkanku." Kia terkekeh mendengar nada kesal dari sahabatnya itu. "Maafkan aku, Ann. Tapi percayalah, aku sangat rindu dengan Indonesia, aku ingin pulang, Ann. Ini kesempatanku, sebelum paman berubah pikiran. Ayolah, kau tahu betul kalau aku sudah sangat lama menginginkan hal ini." Terdengar Anne menghela nafasnya sekilas sebelum dia menanggapi Kia. "Ya, aku juga tahu kau sudah tak sabar ingin segera bertemu dengannya juga bukan?" Senyum Kia hilang perlahan. Dia yang dimaksud oleh Anne tentu saja adalah Devan. Lelaki yang sedari dulu hingga saat ini masih menghantui malam-malamnya. "Entah dimana aku bisa menemukannya, Ann." Akhirnya, Kia menjawab dengan serak. "Kalian pasti akan segera bertemu, Kia. Jangan bersedih, Kia. Kau harus segera menuntaskan masalah kalian berdua." "Ya, kau benar tapi bagaimana kalau dia malah tidak menginginkan aku kembali bertemu dengannya." "Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali." Kia terdiam dan mencoba mencerna nasihat dari sahabatnya barusan. Akhirnya ia menarik nafas panjang lalu mengiyakan. "Kapan kau akan pulang?" tanya Anne setelah mereka berdua cukup lama terdiam. "Setelah urusan pengunduran diriku selesai, Ann. Mungkin tak akan lama, mungkin dalam minggu ini juga." "Kia, aku pasti akan sangat kehilanganmu." Kia tersenyum kecil. "Kita tentu masih bisa saling mengabari. Kau bisa berkunjung ke rumah keluargaku di Indonesia." "Ah, aku jadi sedih sekali, Kia. Tapi, aku selalu mendoakanmu, juga berharap, kau segera bertemu dengannya." Kia memejamkan mata sesaat, itu adalah harapan yang sama seperti yang ia angankan selama ini. Kia kemudian memutuskan sambungan telepon dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasurnya yang empuk. Apa yang tidak didapatkannya selama dia di Amerika? Pamannya memberikan semua fasilitas dan kemewahan. Namun, rasa bersalah terhadap Devan kian menggunung. Kia tak bisa serta merta melupakan lelaki itu begitu saja padahal bisa saja dia melakukan itu dengan menganggapnya sebagai takdir yang memang harus mereka lewati. Takdir yang tak bisa dicegah. "Aku ingin sekali mengulang waktu, Van, andaikan saja aku masih bisa memperbaiki segala hal tentang kita," Kia mendesah pelan di dalam hatinya. Ia menatap sebuah lukisan yang sudah diselesaikannya dalam kertas yang berukuran tak terlalu besar, benda itu tergantung, tergambar raut wajah yang telah Kia pindahkan dari alam memorinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD