Aku Akan Menyusulmu

1503 Words
"Aku dengar kau akan segera pulang ke Indonesia?" Kia menatap Alex dalam. Dia menunduk sesaat. Hampir sepuluh tahun mereka berkenalan. Lelaki yang sudah naksir dia sejak lama itu menatap Kia dengan pandangan terluka. Dia jatuh cinta dengan Kia sejak lama tetapi perempuan itu tidak pernah menggubris perasaannya. "Ya, Alex, aku rindu keluargaku." "Tanpa memberi kesempatan untukku, Kia?" Kia terdiam lagi. Sudah sejak lama Kia meminta Alex melupakannya. Pria tampan dari negeri itu seperti tak mau menyerah. "Aku dengar dari Anne jika kau ternyata sudah lebih dulu jatuh cinta kepada pria lain dari negara yang sama denganmu dulu." Kia mengangkat wajahnya, dia memejamkan matanya sesaat, sempat merasa kesal sebab Anne ternyata menceritakan sesuatu yang tak seharusnya dia ceritakan kepada oranglain. "Sorry, aku yang memaksa Anne untuk bercerita. Sebab aneh bagiku, kau sedikitpun tidak pernah tersentuh dengan semua ungkapan cinta yang aku berikan untukmu. Maksudku, Kia, apa yang kurang dariku? Aku bisa mempelajari budaya negaramu. Aku bisa menjadi yang kau mau." "Alex, bukan seperti itu. Maaf, jika kau tersinggung dengan semua penolakan yang aku beri untukmu selama ini. Maaf sekali. Juga bukan karena kau pria dari negara lain yang membuat aku tak bisa menerimamu, bukan. Namun, aku memang masih ingin sendiri. Aku lebih nyaman seperti ini dahulu. Aku belum terpikir untuk menjalin asmara dengan saiapapun." "Lalu lelaki yang diceritakan Anne itu?" Kia memandang Alex sejenak. Mungkinkah dia harus menceritakan secara utuh tentang kisah lampau di antara dia dan Devan di masa lalu? "Lupakan saja, Lex. Aku sangat tersanjung, tapi memang lebih baik bukan jika aku tak memberi harapan apapun kepadamu? Aku tak ingin nanti kau malah sakit hati. Aku hanya tidak ingin merusak hubungan kita yang sudah berjalan baik selama ini." "Tapi apa salahnya mencoba, Kia?" Kia tersenyum kecil, lelaki tampan berbadan tegap itu nampak kecewa dan sedikit nelangsa. Kia meraih jemari Alex perlahan kemudian menggenggamnya lembut. "Aku harus pulang, Lex. Aku berharap suatu saat kau bisa menemukan perempuan yang tentu lebih baik dariku." Alex mengalihkan pandangannya ke samping, rasanya memang tak mudah meluluhkan hati Kia. Meski selama ini, hubungan mereka telah terjalin begitu baik, tapi Kia memang tak pernah mau membuka hatinya lebih dari sekedar berteman dengan lelaki itu. "Baiklah, aku tak bisa memaksamu. Aku berharap kau tidak akan pernah melupakan aku, Kia." "Tentu. Kau salah satu orang yang paling aku senangi di sini. Aku berharap semua yang terbaik bagimu juga, Lex." Alex tersenyum kecil kemudian mengangguk. Hari ini, dia cukup beruntung, sebab Kia bersedia menemaninya seharian sebelum perempuan itu kembali ke negara asalnya. Kia juga tidak keberatan untuk menemani Alex, ia tak ingin lelaki itu terlalu kecewa. Jadi mereka sudah pergi ke bioskop untuk menonton film, pergi ke tempat-tempat menyenangkan yang ada di Amerika. Tak lama lagi, hari perpisahan mereka akan segera tiba dan Alex harus merelakan Kia pergi tanpa sempat mengukir kisah lebih dalam bersamanya. Tiba saat di bandara, sebelum Kia masuk ke dalam pesawat, Alex sempat menariknya ke dalam pelukan. "Sungguh, Kia, aku masih berharap akan ada kesempatan bagiku untuk meraihmu." Kia tak menjawab, hanya tersenyum kecil lalu balas memeluk Alex untuk terakhir kalinya. Sungguh, Kia sendiri begitu bingung. Mengapa dia sama sekali tak bisa membuka hati bagi lelaki itu. Setiap kali dia mencoba untuk menerima Alex dalam hidupnya, justru bayangan orang lain hadir dan menghalangi, seolah melarang Kia untuk menjalin hubungan serius dengan lelaki lain. Kia melepaskan pelukannya dari Alex dengan perlahan kemudian perlahan mundur dan berbalik. Lelaki itu melihat Kia dari balik kacamata hitamnya. Dia masih menggebu, ingin memiliki Kia utuh. "Kau akan aku temukan lagi kelak, Kia. Aku akan menyusulmu." Lelaki itu berbisik kepada dirinya sendiri, sesuatu yang sama sekali tak pernah Kia sangka suatu saat nanti. *** Hampir dua puluh jam perjalanan Kia tempuh dengan pesawat terbang yang membawanya dari Los Angeles ke Indonesia. Kia turun dengan suasana bandara yang masih berhiaskan lampu-lampu jalanan. Ia datang kurang lebih pukul empat subuh. Perjalanan yang cukup melelahkan dan lama. Kia menyeret kopernya, semua barangnya akan diurus oleh bawahan pamannya yang telah menunggu sedari tadi. "Langsung kembali ke rumah, Nona Kia?" tanya lelaki itu memastikan. "Ya, aku ingin segera beristirahat." Lelaki itu mengangguk. Kia sengaja membuka sedikit jendela mobil, menghirup udara kota yang masih terasa berdebu meski waktu masih gelap seperti ini. "Akhirnya aku pulang," bisik Kia dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Saat menjejakkan kaki di kota ini, semua kenangan seolah sedang berbaur dengan mesra. Kia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil yang empuk. Dia sungguh tidak sabar untuk segera bertemu dengan paman, tante juga neneknya. Perempuan itu sudah tampak lebih tua dari terakhir kali Kia melihatnya. Nenek sekarang hidup dalam pengawasan seorang perawat karena dia harus mengontrol makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Paman sungguh seorang putera yang sangat berbakti akan hal itu, dia selalu mengusahakan semua yang terbaik baik seluruh keluarganya. Perjalanan yang panjang dari Amerika akhirnya benar-benar berakhir ketika Kia melihat gerbang tinggi dengan rumah yang berdiri megah di dalamnya. Kia sungguh rindu. "Kia, kami senang kau sudah kembali." Kia segera menghambur ke pelukan tante dan pamannya. Neneknya tampak tak terlihat, pasti masih tidur karena memang waktu masih belum pagi. "Paman, Tante. Kenapa harus repot-repot bangun?" Sambil merangkul Kia, paman tersenyum, jelas terlihat raut bahagia melihat Kia yang sudah seperti anaknya sendiri sekarang telah kembali ke tempat asalnya. "Kami sengaja menunggumu, Kia. Kami tahu perjalanan dari Amerika ke Indonesia tidak sebentar. Kau tenang saja, kami sudah sempat tidur." Tante yang menjawabnya dengan tenang. Kia ikut tersenyum senang. Mereka berhenti di ruang tengah, beberapa pelayan sibuk menghidangkan minuman hangat juga cemilan. "Bagaimana Amerika?" tanya pamannya. "Menyenangkan, Paman." "Lalu bagaimana dengan Alex?" Kia diam. Darimana pamannya tahu tentang Alex? "Jangan bingung, semua hal yang terjadi denganmu di Amerika selalu menjadi perhatian paman bahkan ketika ada seorang lelaki tampan berkebangsaan Amerika yang mendekatimu sejak dulu, paman juga tahu." "Alex, ehmmmmm, dia teman yang baik, Paman." "Paman suka dengannya, Kia. Beberapa kali dia menghubungi Paman. Dia lelaki yang baik. Kau tak tertarik?" Kia seperti sedang terjebak dengan pertanyaan semacam itu dari pamannya. Dia sama sekali tidak berharap pamannya mempunyai pikiran aneh-aneh antara dirinya dan Alex. "Tidak, Paman. Aku cukup nyaman dengan kesendirianku selama ini. Alex adalah temanku dan aku tidak pernah memaknainya lebih dari itu." Paman hanya tertawa kecil, tapi dari tatapannya entah mengapa Kia merasa ada hal yang tengah direncanakan oleh lelaki itu. "Paman, sudahlah, aku dan Alex tak ada apapun." "Ya, Suamiku, biarkan Kia beristirahat. Perjalanannya pasti cukup melelahkan." Kia memandang tantenya dengan tatapan terima kasih apalagi setelah itu, paman membiarkan Kia masuk ke dalam kamarnya. Sampai di kamarnya, Kia masih sempat memikirkan tentang Alex yang rupanya selama ini diam-diam sering menghubungi pamannya. Kia mendesah pelan lalu mencoba untuk bersikap masa bodoh dan tidak memikirkannya lagi. Kia membuka bajunya, menggantinya dengan gaun tidur. Baru saja hendak memejamkan mata, dia mendengar suara ponselnya berbunyi. Alex. "Ya, aku sudah sampai, Lex." Suara Kia terdengar cukup kesal dan hal itu tentu saja disadari dengan cepat oleh lawna bicaranya saat ini. "Kenapa kau terdengar begitu kesal, Kia?" Kia menarik panjang nafasnya sebelum dia menjawab. "Lex, kenapa kau menghubungi pamanku selama ini secara diam-diam?" Alex juga tak langsung menjawab, dia terdengar terkekeh mendengar protes kesal dari Kia barusan. "Maaf, aku hanya ingin lebih kenal dekat dengan keluargamu. Lagipula, kita sama-sama dari keluarga yang memiliki bisnis, jadi tak ada salahnya aku banyak berbincang dengan pamanmu. Dia sangat berpengalaman akan hal itu." "Tapi kau tak menceritakan apapun kepadaku tentang hal yang berkaitan dengan pamanku itu." "Ya, Kia, maafkan aku. Aku berjanji tidak akan membuatmu kesal lagi." Kia menarik nafas berat, kemudian akhirnya mematikan sambungan telepon. Jujur saja, dia masih sangat kesal dengan apa yang baru saja didengarnya baik dari pamannya ataupun Alex sendiri. Entah mengapa, dia tidak menyukai kedekatan antara Alex dan juga pamannya, apalagi paman mengatakan bahwa dia menyukai Alex. Sementara itu, Alexander di Amerika hanya tersenyum kecil, membayangkan bagaimana terkejutnya Kia mendengar cerita dari pamannya bahwa mereka memang sudah dekat dan dia tahu banyak tentang Kia dari lelaki itu. "Aku sudah bilang bahwa aku tidak akan begitu mudahnya melepaskanmu, Kia, sekalipun aku tidak pernah berhasil mendapatkan hatimu, maka aku akan menggunakan segala cara untuk bisa mendapatkanmu, walaupun aku harus sedikit lebih bersabar. Mungkin kau juga akan terkejut karena aku akan datang ke negaramu. Aku tidak ingin berjauhan lagi darimu, Kia dan aku yakin pamanmu akan merestui hubungan kita kelak." Alex bergumam di dalam hatinya sendiri. Dia tampak tersenyum puas, membayangkan apa yang nanti akan didapatkannya. Selama ini, dia sudah berusaha untuk mendekati Kia dengan cara yang baik, dalam arti dia mendekati Kia secara alami, tanpa campur tangan siapapun. Tetapi, setelah mengalami penolakan berkali-kali lalu merasa harga dirinya sedikit terinjak karena Kia yang selalu saja menolaknya, maka dia akan menggunakan pamannya untuk menjerat perempuan itu ke dalam pelukannya. "Aku tidak akan menyerah, Kia, kau pikir aku bisa dengan mudah melepaskanmu? Aku harus mendapatkanmu! Aku akan segera menyusulmu," gumam lelaki itu dengan segelas wine dalam genggaman tangannya. Kia sendiri berusaha untuk melupakan kekesalannya saat ini, dia mencoba untuk memejamkan mata. Besok, dia akan menjalani kehidupannya lagi di kota ini lagi. Kia berharap masih ada harapan, bertemu dia yang selama ini masih tegak berdiri menghuni dasar hatinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD