Seraut Wajah Cinta

1431 Words
Riuh rendah suara tepuk tangan terdengar di seantero sebuah aula ruangan perusahaan ternama di kota itu. Semua orang berdecak kagum pada sosok anggun dengan setelan blezzer juga rok yang sepadan dengan warna baju dalam yang dikenakannya. Rambutnya yang hitam bergelombang tergerai indah, berkilau, begitu terawat. Kia mengangkat satu tangannya, menebar senyum ke segala penjuru. Hari ini dia menjejakkan kaki di perusahaan besar milik keluarganya. Pamannya mendampingi dengan gagah berwibawa. "Mulai sekarang, Kia Kirani, keponakan saya tercinta, akan mulai mengemban tugas sebagai pemimpin bagi kalian semua. Tentu saja, saya akan selalu mendampinginya." Suara tepuk tangan kembali bergemuruh. Mereka baru sekali ini berjumpa dengan penerus dari Beni Prahmana Wijaya. Lelaki keturunan kaya raya itu tak memiliki anak, tetapi yang merek dengar, mereka telah menjadikan Kia sebagai putri bagi mereka sendiri. Kia merasa cukup tersanjung. Selama ini, selama di Amerika, di perusahaan milik kenalan pamannya, dia telah belajar banyak hal. Hampir semua pekerjaan dia pelajari, dan sekarang ketika ditempatkan sebagai seorang pemimpin, Kia yakin dia sudah begitu matang dan mantap untuk mengibarkan sayapnya di dunia bisnis. "Bagaimana perasaanmu sekarang, Kia?" tanya pamannya setibanya mereka di dalam ruangan. "Sedikit gugup, Paman, tentu saja." "Rileks, Kia. Paman yakin pada kemampuanmu." Kia tersenyum kecil. Sesaat, bibirnya sempat terbuka, seperti hendak mengatakan sesuatu. Namun, dia segera mengatupkannya kembali, urung. "Apa yang sedang kau pendam dalam hatimu itu, Kia? Sepertinya, ada sesuatu yang kau sembunyikan. Bicara saja." Seolah tahu apa yang tengah Kia rasakan, pamannya menatap dengan pandangan menyelidik. Kia mengatupkan lagi bibirnya sesaat, bingung harus mulai dari mana. "Ehmmmmm, aku sudah lama ingin membicarakan ini, Paman." "Ya, katakanlah." Lama Kia terdiam, seolah tengah menyiapkan kata-kata yang tepat dan pas untuk memulai sesuatu yang cukup sensitif ini. "Paman, kalau aku meminta sesuatu, apa boleh?" "Apa yang tidak kau punya, Kia? Kau punya segalanya." "Tidak, ini bukan tentang harta, Paman. Ada hal lain," jawab Kia cepat. "Baik, katakanlah." Kia diam lagi sebentar, menyiapkan lagi kata-kata yang sempat tertelan karena ragu. "Paman, aku ingin sekali bertemu Devan." Mendengar itu, tatapan paman tiba-tiba saja menjadi tajam. Kia memberanikan diri untuk terus menatap pamannya. "Untuk apa lagi kau harus mencarinya, Kia? Dia sudah lama pindah dari kota ini. Paman tidak tahu tentangnya lagi. Sudahlah, dia lelaki yang berbahaya bagimu, Kia. Paman tidak akan membiarkan kau untuk bertemu dengannya lagi." Paman berdiri, hendak pergi meninggalkan tempat itu, tapi Kia segera mencegahnya dengan ikut berdiri juga. "Paman, kenapa Devan akan menjadi ancaman bagiku? Paman bahkan tidak pernah bilang jika ayahnya sudah meninggal!" seru Kia dengan suara bergetar. Paman menghentikan langkah, ia berbalik lalu berjalan pelan menuju Kia. "Sebab bagi lelaki itu, kita bukan orang baik. Sebab baginya, kematian kedua orangtuanya karena kita." "Kita?" Kia berusaha mencerna sesaat jawaban dari paman. "Paman, aku sama sekali tidak tahu, tapi aku tahu sekarang Devan sudah membenciku." "Sudahlah, Kia, banyak lagi lelaki di bumi ini. Paman tidak suka kau menyebut namanya lagi. Paman hanya berusaha melindungimu, Kia! Kau tahu bagaimana dendam bisa membuat orang menjadi tega menghabisi nyawa orang lain?!" Kata-kata dari paman begitu menusuk hingga sampai ke dasar hati Kia sendiri saat ini. "Ingat, Kia, setiap orang bisa berubah kapan saja, apalagi jika dia menganggap bahwa kita adalah musuhnya!" Paman benar-benar berbalik kali ini lantas dengan langkah mantap meninggalkan Kia sendiri di ruangan luas itu. Kia menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesaran dengan tubuh terasa lunglai. Dia tidak tahu lagi harus mencari lelaki itu kemana. Kia masih merasa, dia berhutang penjelasan kepada Devan. Dan lagi, rasanya kepada Devan sama sekali tidak berkurang dan berubah. Masih sama, bahkan kian besar meski telah lama mereka tidak bertemu. "Dimana aku harus menemukanmu, Devan?" Kia mendesah pelan, jemarinya mengusap wajahnya yang seketika terasa lelah. *** Kia melewati beberapa pepohonan di pinggiran danau. Sore ini, dia baru saja selesai berolahraga. Tubuhnya terbungkus setelan olahraga, sedikit ketat hingga menunjukkan lekukan tubuhnya yang sintal berbentuk indah. Beberapa orang menyapanya hangat, mereka semua mengenal Kia Kirani, tentu saja karena pamor keluarganya yang luar biasa. Saat baru saja hendak masuk ke dalam mobilnya, tak sengaja sebuah mobil dengan laju sdikit oleng, membuatnya terserempet hingga membuat Kia terkulai lemas jatuh menghantam aspal. Beberapa orang yang tengah berada di sekitar area danau segera pergi ke jalan utama, mereka menolong Kia segera dengan perempuan itu yang setengah sadar. "Ada darah di bagian pelipis juga kakinya." Samar-samar terdengar orang-orang berbicara dengan nada panik. Kia sendiri tak tahu lagi karena setelah itu, dia jatuh pingsan, tak tahu lagi apa-apa. Ketika berhasil membuka mata, yang Kia lihat adalah sebuah cahaya lampu, terasa menyilaukan pandangan. Kia bergerak perlahan, mengangkat tubuhnya yang terasa remuk. "Jangan bergerak dulu, Nona." Kia semakin berusaha untuk membuka matanya. Lalu yang dia lihat setelah cahaya lampu adalah seorang perempuan berbaju putih dengan rambut yang digelung rapi. Kia tahu bahwa perempuan itu seorang perawat. "Dimana ini?" tanya Kia sambil berusaha bangkit. "Tenanglah, Nona, Nona aman. Nona berada di rumah sakit khusus prajurit. Beberapa warga terpaksa mengantarkan Nona ke sini karena rumah sakit biasa letaknya cukup jauh dari area tempat Nona ditemukan tadi." Kia berusaha untuk mencerna kata-kata perawat itu. Lalu dia mulai terkenang dengan kejadian saat sebuah mobil melaju cukup kencang lalu menyerempet tubuhnya hingga dia sempat terseret dan kemudian berakhir terhempas ke atas badan aspal. Pantas tubuhnya terasa begitu ngilu saat ini. "Aku mau pulang saja. Dimana tempat administrasi?" "Tapi Nona belum pulih betul. Nona bisa menginap di sini dulu atau kami bisa merujuk ke rumah sakit biasa." "Tidak, aku sudah lebih baik. Biarkan aku pergi, aku harus segera pulang." "Tapi, Nona ..." "Sungguh, aku baik-baik saja sekarang, Suster." Kia memaksa untuk beranjak, susah payah dia melangkah, kepalanya memang masih sedikit pening. "Nona, maaf, tapi aku harus tetap mendatamu karena kau sudah sempat diantarkan ke sini." Kia berbalik lalu mengangguk perlahan. "Aku tidak membawa kartu identitasku, tapi kau bisa mencatat namaku." "Ya, Nona, sebutkan saja." "Kia Kirani, usia ..." Perawat tadi tiba-tiba tidak mendengar lagi kata-kata Kia setelah dia menyebut namanya. Kia? "Kia?" "Ya, sudah selesai bukan? Aku boleh pulang kan? Aku sungguh sudah lebih baik." Perawat tadi tidak menjawab, dia hanya termenung menatap tulisannya sendiri. "Suster?" Kia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah perempuan tenaga medis itu. "Ah, maaf. Ya, Nona boleh pulang. Aku akan memberikan resep obat yang sempat dokter katakan tadi sebelum Nona sadar." Tergopoh-gopoh, perawat itu segera memberikan catatan obat apa saja yang harus Kia tebus. Setelah itu, Kia bergegas meninggalkan tempat itu. Perawat itu tanpa sadar meremas catatan pasien yang telah terisi identitas Kia barusan, ia meremasnya, membuatnya jadi bulatan tak beraturan lalu membuangnya ke tong sampah. Kia sendiri saat ini sedang menapaki koridor rumah sakit yang tak terlalu besar itu karena memang dikhususkan bagi para prajurit pasukan khusus milik negara. Saat ia hendak masuk ke dalam sebuah taksi, tak sengaja matanya menangkap seseorang yang seperti tak asing, seorang lelaki dengan rahang tegas yang sudah lama hilang dalam pandangan nyata Kia. Namun, apa itu benar Devan? Sebab potongan rambutnya berbeda dengan dahulu saat terakhir mereka bertemu. Tubuh lelaki itu juga lebih tegap dan bidang dibanding Devan yang dulu. Kia salah lihat? Saat Kia berusaha mencari sosok itu lagi, ia telah hilang, seraut wajah itu sudah tak lagi tampak dalam bias cahaya senja yang memayungi rumah sakit khusus itu. "Nona, jadi masuk tidak?" Kia segera tersentak, dia mengangguk cepat dan gegas masuk ke dalam taksi yang akan mengantarnya menuju mobilnya ditinggalkan beberapa jam yang lalu. Dalam kebingungannya, Kia masih terkenang wajah dari kejauhan itu. Begitu mirip meski terdapat perbedaan dalam perawakan. "Tidak mungkin, sepertinya memang aku yang salah melihat." Kia berbisik di dalam hatinya saat ini, dia jadi ragu dengan penglihatannya sendiri sekarang. Setelah sampai, Kia segera masuk ke dalam mobilnya sendiri. Untungnya daerah ini cukup aman, karena mobilnya juga tidak hilang meski cukup lama ditinggalkan. Namun, Kia masih saja teringat seraut wajah beberapa saat yang lalu. Apa mungkin dia hanya salah lihat karena memang selama ini selalu tersiksa dengan bayangan Devan yang selalu menghantui siang dan malam? Di rumah sakit khusus itu sendiri, Devan baru saja mengambil beberapa obat yang tertinggal kemarin. Ia melihat Zeva tengah termenung sendiri. "Apa yang tengah kau pikirkan, Zeva?" Zeva tersentak, melihat Devan yang sekarang berdiri di belakangnya. Lelaki itu baru saja membuka sebotol air mineral dan segera menenggak habis isinya. Saat hendak membuang botol kosong itulah, mata lelaki itu menangkap sebuah kertas yang sudah diremas tak beraturan. "Apa ini?" Baru saja ia hendak mengambilnya, Zeva segera mendekati lelaki itu. "Jangan, Van. Itu kotor. Baru saja terkena bekas luka dari pasien lain." Devan mengangguk kecil, kemudian membuang botol kosong miliknya itu tanpa curiga sedikitpun. "Van, bisa antarkan aku pulang? Aku ingin istirahat saja, aku sedang tidak enak badan." Devan mengangguk kecil lagi, lalu pergi keluar, menunggu Zeva yang sedang mengemasi peralatannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD