Aku Melihatnya!

1523 Words
Dengan mengendarai mobilnya, Devan mengantar Zeva ke sebuah rumah berbentuk minimalis yang Devan ketahui adalah milik gadis itu. Wajah Zeva terlihat begitu senang setiap kali bisa bersama Devan. Hari ini, tumben pula lelaki tampan nan gagah itu bisa mengantarnya. "Berhenti dulu, Van." "Ya," sahut Devan singkat. Senyum Zeva kian merekah. Lelaki itu turun lalu mengikuti Zeva dan masuk ke dalam. "Biarkan saja pintunya terbuka," ujar Devan saat melihat Zeva ingin menutup kembali pintu. "Ah, iya. Aku pikir kau akan lebih nyaman jika pintunya ditutup." Devan menggeleng kecil, dia selama ini tahu jika Zeva menyimpan perasaan terhadapnya. Tapi itu tidak akan membuat Devan memanfaatkan keadaan dan mengambil kesempatan, lagipula, dia memang tak punya niat lain selain menghargai Zeva yang sudah menawarkan dirinya untuk singgah. Itu juga tak akan lama. Dia akan segera pulang sebentar lagi. "Aku buatkan kau minum, aku juga punya kue yang semalam aku buat." Devan membiarkan Zeva pergi ke dapur, mengambil beberapa kue yang sudah dia letakkan dan tata rapi di atas piring datar juga kemudian kembali ke ruang tamu dengan membawa dua gelas minuman dingin. "Minumlah, Van," ujar Zeva dengan senyum di bibirnya. Devan mengangguk kemudian mulai menenggaknya perlahan. Saat sedang menyesap minumannya itu, Devan sadar jika Zeva sedari tadi menatapnya dengan begitu lekat dan intens. "Apa yang sedang kau lihat, Zevanya?" tanya Devan tanpa mengalihkan sedikitpun pandangannya dari gelas yang saat ini sedang ia pegang. "Ehmmmmm, siapa lagi, Van. Tentu hanya kau yang sedang aku lihat saat ini." "Kau sudah sering melihatku," sahut Devan dengan sedikit tawa kecilnya. "Ya, tapi aku memang suka melihatmu. Apa kau merasa terganggu?" tanya Zeva dengan sedikit menggeser tubuhnya hingga sekarang sudah berada cukup dekat dengan Devan. Devan lantas menoleh, melihat jarak mereka yang sudah cukup dekat, Devan menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya. "Lalu apa yang kau harapkan?" "Aku pikir kau lebih paham. Kau seorang lelaki, Van. Aku yakin, otakmu akan lebih cepat bekerja dengan hal semacam ini." Tanpa Devan duga, Zeva meraih salah satu telapak tangan lelaki itu kemudian meletakkannya di atas salah satu dadanya yang masih berbungkus seragam perawat. Devan tertawa kecil, melihat tangannya bertengger manis di sana. Zeva sesungguhnya cukup mempesona, dia cantik dan juga disukai oleh banyak prajurit lain. Sayangnya, Devan tidak punya rasa semacam itu untuk gadis itu. "Lalu apa yang kau harapkan setelah tanganku berada di atas dadamu seperti ini?" tanya Devan dengan satu alir terangkat. "Kau bisa melakukan apapun, Van." Devan tertawa lagi, kemudian menggeleng dan menarik tangannya dari sana. Zeva menatapnya dengan pandangan tak mengerti. "Aku pulang, Zeva. Ada banyak hal yang harus aku lakukan. Aku juga harus berlatih kebugaran." Devan beranjak dan melihat hal itu, Zeva lekas menyusul. "Van! Apa yang kurang dariku? Banyak dari teman-temanmu yang menyukaiku bahkan sering mengajakku berkencan. Tapi kenapa kau selalu mengacuhkanku? Bahkan aku rela menyerahkan semuanya padamu!" Devan menghentikan langkahnya, lalu kembali berbalik dan mendekat lagi kepada Zeva. Ditatapnya perempuan itu dengan perasaan biasa saja. Sungguh, tak ada getaran apapun layaknya seorang lelaki yang tertarik dengan perempuan. "Kau harus tahu satu hal, Zeva. Saat ini aku sedang tak ada waktu untuk memikirkan perempuan. Juga tak seharusnya kau melakukan hal semacam tadi, itu hanya akan menjatuhkan martabatmu sebagai seorang perempuan. Dan satu lagi, kau terlalu agresif." Devan kemudian berbalik lagi dan mantap meninggalkan Zeva yang hanya bisa termenung saat ditinggalkan oleh lelaki itu. Tangannya tampak terkepal. Dia kecewa tidak bisa mendapatkan Devan hari ini, tetapi dia berjanji, suatu saat dia pasti bisa menaklukkan pria itu. Devan sendiri sudah bersikap biasa saat dirinya masuk ke dalam mobil. Bahkan ia masih sempat berpamitan dengan gadis itu dengan seulas senyum kecil seolah menganggap hal tadi tidak pernah terjadi. Tinggallah Zeva yang merasa kesal di dalam rumahnya saat ini. *** Devan tak langsung pulang ke rumahnya sendiri saat ini. Dia berhenti di depan sebuah gerbang tinggi, tepatnya di seberang, memandang samar bayang atap rumah itu yang begitu tinggi dan mewah. Tangannya terkepal setiap kali dia melewati rumah di balik gerbang tinggi itu. Kediaman Beni Prahmana Wijaya yang juga dulunya menjadi rumah paling nyaman untuk Kia Kirani. Selama bertahun-tahun, Devan menyimpan dendam dan kebencian ini. Dia sedang menunggu waktu yang tepat. Dia tidak tahu apa kabar Kia, tetapi dia yakin, suatu saat, mereka akan berjumpa lagi. Dia sengaja dahulu memutuskan pindah dari kota itu dan menyibukkan diri dengan kesatuannya. Namun, tak ada satupun di antara keluarga itu yang menyangka jika dia sudah kembali sejak lama, mengintai hampir setiap hari. Sengaja pula Devan membeli rumah baru yang cukup untuk dia diami sendiri, tentu saja jauh dari kediamannya dulu agar tidak ada yang menyadari dia telah kembali. Devan kembali bukan tanpa alasan, selain karena dia memang dipindah tugaskan juga karena dia membawa dendam yang masih tersemat hingga sekarang. Baru saja Devan hendak melajukan kembali mobilnya, gerbang itu terbuka. Dua orang staff keamanan tampak sedang mendorong gerbang yang nampak berat. Devan melajukan mobilnya dengan perlahan saat sebuah mobil mewah keluar dari gerbang itu dengan kaca yang sedikit terbuka. Mereka jadi berlawanan arah, Devan tetap menutup kaca jendela mobilnya tapi dia bisa melihat dengan jelas wajah yang di balik kemudi mobil tadi. Jantung Devan rasanya berdebar keras, dia yakin tak salah melihat. Wajah cantik dan tampak memikat itu tak lain adalah orang yang selama ini dia cari. "Kia?!" desis Devan sambil terus memperhatikan dari spionnya. Hingga ketika mobil itu telah menghilang di ujung jalan, barulah Devan putar balik, bermaksud hendak mengikuti tapi dia sudah kehilangan jejak. Namun, dia masih bisa mengingat dengan jelas plat nomor polisi yang tertera di mobil itu. "Aku yakin itu kau, Kia. Kau sudah kembali ternyata," desis Devan dengan senyum licik mengembang dari bibirnya. Lelaki itu kembali meneruskan langkah, tidak sia-sia selama ini dia melakukan pengintian. Seperti keahliannya selama ini, mengintai lalu mengunci target, lalu akan dia hancurkan dengan segenap kekuatan yang ia punya. "Permainan dimulai. Selamat datang dalam dunia Devan, Kia." Dia tersenyum kecil, begitu berbahaya bagi siapa saja yang melihatnya. *** Kia baru saja menjejakkan kaki di salah satu pusat perbelanjaan yang ada di kota besar dan ternama itu. Ada beberapa setelan kerja yang harus dia beli. Langkahnya yang anggun dilengkapi penampilan santai, membuatnya tampak segar dipandang mata siapa saja. Kia tersenyum, membalas sapaan para staff keamanan yang menyapanya hangat. Ia mulai menuju ke sebuah toko dengan brand ternama lalu mulai dilayani untuk membeli beberapa potong blezzer juga dalaman dan rok. Setelah ini, dia juga akan mengunjungi toko yang menjual dress pesta. Ada undangan dari rekan bisnis pamannya dan acara itu diadakan di sebuah club malam. "Kia saja yang pergi, sebentar saja hanya untuk menghormati rekan bisnis kita." Begitu kata pamannya ketika dia diminta datang malam nanti. Jadi mau tak mau, suka tak suka, Kia harus datang juga malam ini. Padahal, Kia tak begitu menyukai pergi ke tempat semacam itu, meski di Amerika kemarin, dia beberapa kali mengunjungi club malam bersama Anne dan Alex. Meski yang akan dia datangi nanti bukan club malam biasa, tempat itu memang sudah menjadi langganan bagi orang kaya dan orang penting yang hendak melepas penat dan mendapat sedikit hiburan, tetap saja dia akan merasa tidak nyaman. Namun, demi menghormati pamannya dan menghargai rekan bisnis mereka, akhirnya Kia memutuskan datang. "Masih ada tambahan, Nona?" tanya seorang pegawai yang sedang menghitung transaksi yang harus Kia lalukan. "Tidak, tapi apa kau tahu dimana toko yang khusus menjuak dress untuk ke pesta?" tanya Kia pada pegawai toko baju kerja itu. "Oh, tentu ada, Nona. Nona tinggal lurus saja setelah dari toko kami. Nanti belok sedikit ke kanan, tokonya yang paling besar dengan ukiran mewah di setiap dinding kacanya." Petugas itu menjelaskan dengan detail seraya menerima kartu khusus yang dipakai Kia untuk melakukan transaksi berbelanja. "Ah, baiklah, terimakasih." Setelah itu Kia kembali melanjutkan langkahnya, dia telah sampai di sebuah toko yang tadi diarahkan oleh petugas toko sebelumnya. "Ini dress terbaru dari kami, Nona. Sedikit terbuka di bagian d**a dan bahu, tapi Nona pasti akan sangat cantik saat memakainya juga ini sesuai dengan apa yang Nona inginkan. Dress ini sangat elegan jika sudah Nona kenakan." Kia tersenyum lalu mengangguk dan menerima benda itu untuk kemudian segera mencobanya di dalam ruangan khusus. Dia tersenyum puas dan memutuskan akan membelinya. Setelah selesai dengan semua yang dibutuhkannya, Kia kembali pulang. Saat dia dalam perjalanan, dia sengaja berbelok ke sebuah jalan yang akan mengantarnya ke sebuah rumah. Dari kejauhan, rumah itu sudah terlihat. Nampak begitu asri dengan pohon-pohon tinggi menjulang tapi tak lagi berpenghuni. Halamannya penuh dengan daun gugur kecoklatan. "Dimana kamu sekarang, Van?" tanya Kia sambil mendesah pelan sambil terus memperhatikan rumah yang cukup luas walau hanya satu lantai itu. Kia melajukan kembali mobilnya, dia tidak tahu, kapan waktu akan kembali mempertemukannya dengan Devan lagi. Sampai hari ini, dia masih membawa rasa sesal juga cinta yang begitu besar untuk lelaki itu. Setelah sepuluh tahun berlalu, apa Devan sudah memiliki istri? Mungkin Devan sudah bahagia dengan keluarga kecilnya dan mungkin sudah punya banyak anak yang lucu. Hati Kia yang terluka serasa tersiram air garam kala membayangkan semua itu. "Kamu adalah cinta pertamaku, Van. Mungkin, jika kembali bertemu denganmu kelak, aku akan menjadi orang yang paling merindu. Aku ingin bertemu denganmu lagi, Devan. Aku sangat rindu padamu." Sepanjang jalan menuju rumah pamannya, Kia mendesah pelan, membawa sejuta kenangan yang berbaur mesra tentang lelaki yang masih menghuni hatinya hingga sekarang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD