CHAPTER 7

2483 Words
Ralina pov. Seperti biasanya aku terbangunkan oleh adzan subuh, ya karena rumahku cukup dekat dengan masjid. Akupun bangun dan menunaikan shalat subuhku, tak seperi biasa aku shalat sendiri di kamar, biasanya bunda selalu membangunkanku dan menyuruhku ambil wudhu dan shalat subuh bersama,huft aku rindu suasana hangat dengan bunda Setelah shalat aku bersiap diri untuk berangkat sekolah, aku melihat bunda sedang berada di dapur lalu aku melakukan tugasku seperti pagi hari biasanya, membantu memasukan gorengan ke dalam wadah yang akan ku bawa ke warung bi Idah, tapi kali ini berbeda, bunda sama sekali tidak menyapaku,sampai akhirnya aku pamit pergi sekolah “Bunda, Lina pergi ya” ucapku menunduk sambil mengambil tangan bunda untuk di salam Bunda melepaskan tanganku dan meletakan bekalku di atas meja yang berada di hadapanku lalu pergi ke dalam kamar, rasanya ga kuat di diemin bunda kayak gini, mataku terasa panas dan mulai meneteskan cairan bening. Aku mengambil bekalku itu, memasukanya ke dalam tas dan pergi keluar rumah. “Asalamualaikum” ucapku setelah keluar rumah. Akupun meninggalkan rumah dan berjalan menuju sekolah, sebelum aku benar benar pergi ke sekolah aku mampir dulu ke tempat bu Idah untuk meletakan gorengan seperti biasanya. Di sana aku melihat temen temenya the twins, seperti biasanya ku lihat mereka merokok Setelah urusan d warung bu Idah selesai barulah aku memasuki area sekolah dan langsung memasuki kelasku Pelajaran hari ini berjalan lancar seperti biasa, tidak yang istimewa atau apapun itu yang berbeda dari hari biasanya, kecuali dengan Alfina yang kayaknya berbunga bunga. “Cieee yang pdkt-anya berhasil” ucapku di saat kami sedang merapihkan buku dan memasukanya ke dalam tas. Ku lihat dia mengulum senyum “Yahhhh gitu deh” ucapnya malu malu “Lu pulang sama siapa?” Tanyanya “Emmm kayak biasalah, emang mau sama siapa lagi?” Ucapku “Ya udah yok ke depan” ajaknya saat kami selesai memasukan barang barang dan buku buku kami. Kami berduapun menunggu supir Alfina di halte dekat sekolah, tak berapa lama,Alfina pun sudah di jemput oleh supirnya dan akupun melanjutkan perjalanan pulang sekolah ku. Tapi aku merasakan sesuatu yang janggal, tapi apa ya? Kayak ada yang kurang, apa ada yang ketinggalan? “Oh iya ya, gua kan pulang sama kak Vano” kok gua bisa lupa sih? Kataku sambil nepuk jidat. Aku pun langsung membuka hp ku,dan langsung membelalakan mata saat ada 37 panggilan tak terjawab, 15 new message, dan masih banyak lagi notif notif d hp aku Aku langsung membuka dan membacanya (Ini sms yang ke sekiannya) -Ralin, kita ketemuanya di tempat bu Idah aja cepetan Tak berapa lama aku pun mendapatkan sms baru lagi dari nya - lu dmana sih? Gua tuggu 5 menit lagi ga dateng, lu naek angkot ke rumah gua “Tunggu bentar ya kak” balasku Aku bernapas lega, semoga saja kak Vano bener bener nunggu aku sampe aku datang. Akupun langsung mengirim sms sama kak Vano buat nungguin aku sebentar lagi,karena aku udah separo jalan buat kerumah. Tak lupa aku minta alamat rumah kak Vano buat di kirim ke bunda, karena seperti yang udah di rencanain kak Vano kalau aku bakal nyuruh bunda ke rumah kak Vano duluan. Setelah aku mengirim sms itu pada bunda, tak berapa lama aku sampai di tempat bu Idah, ku lihat warung bu Idah udah tutup dan dia cuman sendiri nungguin aku Melihatku diapun langsung beranjak dari duduknya dan dan menariku memasuki mobilnya Lalu kak Vano menjalankan mesin mobil dan melaju menuju rumahnya, terlihat dari raut wajahnya dia sedang menahan, tapi menahan apa? Kesel? sedih ?marah?Tapi kayaknya dia kesel gara gara nungguin aku “Maaf ya kak, udah ngebuat kaka nunggu” ucapku memecah suasana awkward di tengah perjalanan “Hmm” gumamnya menjawabku. Kesel sih tapi mau gimana lagi? Aku yang salah.huft Tak berapa lama, mobil yang kami kendarai terkena musibah. Jangan neting dulu, cuman kena macet kok,tapi tetap aja itu musibah bagiku karena aku bakal lama banget sama  kak Vano. “Kak” panggilku “Hmm” jawabnya “Lu marah ya gara gara nunggu?” Tanyaku “Ga marah,cuman kesel dikit” jawabnya. “Maaf ya kak” pintaku kali ini dengan menatapnya. “Iya” singkat padat dan bermakna ya kak jawaban lu. Kamipun melanjutkan perjalanan,sebenarnya sih kalau ga macet sampe di rumah kak Vano cuman 15 menitan, gara gara macet jadi hampir setengah jam. “Ntar kalau bonyok gua ngomong lu diam aja, kecuali kalau lu di tanya, lu jawab apa adanya jangan di tambah tambah atau di kurang kurangin,intinya jujur aja” ucapnya datar. “Iya” cicitku Pikiran ku jauh melayang kemana mana, aku takut di amuk oleh bonyoknya kak Vano, kak Vano aja kayak gini dinginya apa lagi orang tuanya. Eh, kok aku jadi suudzonan gini sih? Ah udahlah sekarang saatnya untuk nyiapin mental. Tak berapa lama kami sampai di rumahnya eh ralat ini mah bukan rumah tapi istana nya kak Vano. Dia berhenti di depan rumahnya menyuruh ku untuk turun dan masuk rumah terlebih dahulu tapi aku bilang kalau masuknya barengan aja, belum siap mental aku. Setelah di garasi, tempat memarkirkan mobilnya kami pun turun, mengucapkan salam dan memasuki rumah. Aku lihat bunda duduk sambil memangku Revan, di depan bunda ada seorang ibu dan bapak paruh baya yang aku yakini adalah orang tua the twins, di sampingnya ku lihat kak Vino dan adik perempuanya Mereka melihat kami dengan tatapan kecewa, marah, ntahlah aku ga pernah ngeliat bunda dengan tatapan kayak gitu. Aku masih diam karena jujur aku belum siap mental buat gini Argghhh Tapi kak Vano menggenggam tanganku menuju tempat para orang tua berkumpul, aku hanya menatapnya bingung. “Maaf kami telat” ucap kak Vano, aku menyalami tangan bonyok kak Vano dan terakhir bunda, lagi lagi air mataku menetes tapi aku segera menghapusnya, aku duduk di samping bunda, kak Vano di sebelah kak Vino, yang berada di sebelah ku tapi beda sofa. “Karena semuanya sudah berkumpul, tadi kami para orang tua sudah berembuk dan mendapatkan hasil kesepakatan bersama” ucap ayah kak Vano dingin dan tegas “KaLian akan kami nikahkan” lanjutnya yang spontan membuat aku membelalakan mataku, ku lihat kak Vano mengeraskan rahangnya Apa yang dia lakukan, kenapa ga ngebantah? “Maaf sebelumnya pak tapi saya masih sekolah kak Vano juga,lagi pula semua itu ga benar pak, semua rekayasa kecuali foto. tapi kami ga ngapa ngapain pak” jelasku dan aku sudah berlinang air mata. “Ralina, kamu itu anak perempuan,anak gadis bunda satu satunya, sekarang kamu rusak dan dia harus bertanggung jawab” ucap bunda sambil menunjuk kak Vano saat berkata dia. “Benar Ralina,masalah biaya ga usah khawatir, kami akan membiayakan pernikahan kaLian” ucap ayah kak Vano, “Tapi saya tetap ga setuju mas” kali ini mama kak Vano yang ngomong dengan suara bergetar. “Saya ga setuju punya menantu kaya dia, saya ga sudi” lanjutnya “Apa maksud nyonya?apa karena kita miskin?” Tanya bunda, ku lihat mata bunda terpancar aura kemarahan. “Karena kami orang miskin jadi nyonya takut kalau pernikahan ini hanya untuk mengambil kekayaan anda? “ ujar bunda dengan sedikit berteriak. Mamanya kak Vano hanya diam,tapi melihat sinis ke pada bunda dan aku, Kak Vano lakuin sesuatu “Sudah cukup! saya kepala keluarga di sini dan keputusan saya sudah bulat kaLian akan di nikah kan” ayah kak Vano menengahi “Secepatnya” lanjutnya, Aku menatap ayah kak Vano tak percaya dan kak Vano? Kenapa ga ada bantahan sama sekali? ARRGGHHH “Tapi mas, saya -” ucapan mama kak Vano terhenti saat kak Vano berdiri dari duduknya. “Aku bakal nikahin Ralin”, Aku dan orang yang ada di ruang itu membelalakan mata ga percaya. “Tapi kak” protesku APA? Bukanya nolak malah nyetujuin? Sableng nih orang “Tapi” dia menjeda perkataanya dan menatap kami satu persatu dan berhenti padaku, setelah itu dia melanjutkan perkataanya. “Berikan kami waktu satu bulan, untuk membuktikan kalau kami ga salah” “Kalau seandainya kami mendapatkan bukti dan orang yang telah menjebak kami, dalam waktu sebulan itu maka kami berdua berhak untuk tidak menikah” dia berbicara dengan tegas. “Dan seandainya kami berdua tidak mendapatkan bukti apa lagi orang yang menjebak kami, maka kami bersedia menikah seminggu setelahnya” lanjutnya, setelah itu dia menarikku pergi meninggalkan rumah, sebelum meninggalkan rumah dia tiba tiba saja berhenti, tanpa membalikan badanya dia berkata “Sekarang tanggal 23 november, kita berkumpul di sini lagi tanggal 23 desember, dan kalau kami tidak berhasil maka kami akan menikah tanggal 30 Desember” Kali ini kami benar benar pergi dan dia  membawaku ntah kemana Dia membukakan pintu mobil dan menyuruhku masuk, akupun menurutinya dalam perjalanan aku hanya menyenderkan kepalaku ke jendela, pikiran ku melayang. Aku merasakan getaran dari kantong bajuku, ternyata hp ku,ku lihat ada sms baru ternyata dari bunda Mainya jangan jauh jauh dan jangan sampe malam - bunda Iya bun, maaf ya bun kalau Lina buat bunda susah, belum bisa buat bunda bahagia – Ralina Air mataku kembali menetes untuk kesekian kaLinya hari ini, setelah tak ada balasan dari bunda ku masukan kembali hp ke kantung, lalu ku palingkan  pandanganku ke jendela. aku menangis, menangisi nasibku, menangisi kebodohanku. “Maaf” aku menghapus air mataku dan melihatnya yang masih fokus pada jalanan. “Maafin gua, karena gua semuanya jadi kayak gini” aku mendengarnya menghembuskan napas kasar. “Gara gara gua ga bisa nemuin orang itu seminggu lalu kita jadi dalam masalah yang semakin rumit kayak gini” “Jangan ngerasa semuanya salah kaka, gua jadi ga enak” ucapku sambil mengusap air mataku, “Kita ada waktu 1 bulan, kita gunain waktu itu seefektif mungkin buat nyari tu orang,” jelasnya yang ngebuat aku tersenyum senang, karena aku tak  berjuang sendiri melainkan bersama denganya untuk membatalkan ide menikah itu. Akhirnya kami sampai di tempat tujuannya kak Vano, aku ga tau ini di daerah mana, tapi yang jelas ini adalah sebuah retoran,kami masuk dan memesan makanan. Setelah makan dia mengantar ku pulang karena sekarang sudah menunjukan pukul 20.00  dan dia pun pulang ke rumahnya Setelah itu akupun membuka pintu dan memasuki rumah “Assalamulaikum” salamku lalu ku tutup pintu “Waalaikum salam” jawab bunda datar lalu ku ambil tangan bunda dan menyalaminya Akupun langsung memasuki kamarku, membersihkan tubuhku lalu ku ambil wudhu dan shalat isya, setelah shalat aku pun langsung mengistirahatkan tubuhku **** -kantin sekolah- “Lu bawa bekal Lin?” Tanya Fina sambil menunggu makananya dateng, “Iya nih, tadi bunda buatin nasi goreng” “Udah baikan sama bunda?” “Belum sih,tapi semenjak gua bawa bunda ke rumah kak Vano, yah hubungan gua sama bunda lumayan membaiklah” jelasku “APA?lu bawa bunda ke rumah kak Vano?” Deg, Mati gua,kenapa bisa keceplosan sih? “Ah anu itu,maksud gua itu” aduh,yaAllah selamatkanlah hambamu ini. “Ga usah bohong, jelasin ke gua sejelas jelasnya” desak Fina “Hmmmm....ya udah deh,tapi lu harus janji ga boleh bilang sama hantu belau mana punok?” “Ok” Aku pun menceritakan kejadian kemarin lusa sampai tuntas, dan lagi aku udah ngehianatin kak Vano. “Jadi lu mau di nikahin, seandainya kaLian ga bisa ngebuktiin kalau kaLian itu di jebak?” Aku hanya mengganguk frustasi “Eh,tapi bener loh jangan pernah bocorin sama siapa pun” peringatku “Iya, selow” Makanan Fina pun datang, dan kami makan sambil sesekali di seLingi dengan obrolan ringan. “Hai Al, hai Lina” kamipun mendongakan kepala kami yang sedang konsen memakan makanan kami, aku dapatkan seseorang yang aku lumayan aku kenal. “Hai kak Vano” Fina membalas sapaan twins, “Hai kak” sapaku,masih ragu apa dia Vino atau Vano “Gua gabung ya” ijinya yang kami balas dengan anggukan. “Btw gua Vino bukan Vano” jelasnya pda Fina sambil nyengir “Ohh iya sorry, identik banget soalnya hehe” balas Fina sedikit malu “Iya ga papa, udah resiko orang kembar” ucapnya lalu dia meminta ijin untuk memesan makanan sebentar,setelah itu dia kembali duduk dengan membawa nampan makananya. Kamipun mengobrol tanpa menyinggung sedikit pun masalah aku dengan kak Vano “Btw nih kak ya gua mau nanya deh,gimana cara ngebedain lu sama kak Vano?” Tanya Fina penasaran, “Secara kan kaLian itu kembar identik” lanjutnya “Hmmmm” dia nampak berpikir sesaat lalu “kalau kaLian liat gua itu lebih tinggi dari Vano, meskipun dia kaka gua,terus gua kurusan daripada dia,emmh?? Apa lagi ya? Oh iya, gigi gua sedikit ga rapih nah kalau dia tuh rapih, dan terakhir gua lebih ganteng dari dia” ucapnya dengan pd “Yeeeeeee” ucapku berbarengan dengan Fina karena mendengar kalimat terakhirnya. “Kalau dari sifat?” Kepo banget sih Fina “Sifat mah paling gampang” ujarnya “KaLian tinggal mengenal salah satu dari kami,maka kaLian akan tau sifat kami berdua” jelasnya. “Ooo, jadi sifat kaLian sama? Mulai dari makanan,film,musik kesukaan, sama gitu?” Tanya Fina antusias, sedangkan yang di tanya malah menggelang cepat. “Terus?” Kini akulah yang bertanya “Sifat kami itu sangat berbanding terbalik, sangat sangat terbalik” “Kok gua jadi lemot ya?” Tanya Fina “Emang lu lemot” jawabku yang membuat Fina memanyunkan bibirnya “Jadi sifat kami itu berbanding terbalik, apapun itu, makanya kan gua bilang kalau kaLian kenal salah satu dari kami maka kaLian udah bisa ngenaLin kami berdua” jelasnya “Ooooo gitu” jawabku serempak dengan Fina “Kalau kaLian berbanding terbalik, apa kaLian ga ada ke samaan satu pun?” Asli yah, si Fina kepo nya kebangetan “Ada” Kami berdua pun langsung melihat ke arah kak Vino bermaksud bertanya, tapi pastinya Alfina lah yang paLing antusias “Kami berdua ganteng” ucapnya yang mendapatkan tatapan jengekel dari Fina, sedangkan aku sedikit terkekeh ngeliat ekspresi Fina. Setelah puas terkekeh akibat tatapan Alfina, bel tanda masuk jam pelajaran pun menginterupsi obrolan kami Kring Kring “Udah bel,kita duluan ya kak” ijinku pada kak Vino. “Oh iya, gua mau ke kelas juga kok” ucapnya Akupun bangkit dari dudukku dan mulai berjalan menjauh dari kantin menuju kelas, tapi baru beberapa langkah ada seseorang yang menahan tanganku, akupun berhenti begitu juga dengan Fina. “Kenapa ya kak?” Tanyaku “Pulang sama gua mau ga?” Tanya kak Vino padaku “Engh, duh maaf ya kak bukannya ga mau tapi gua ada urusan sama kak Vano” kak Vino manggut manggut tanda dia paham “Oo ya udah gapapa kok, lain kali aja” “Iya lain kali aja” “Hmmm,lain kali aja” “Sampe kapan kaLian bakal ngomong lain kali aja?? Yuk ah Lin jam bu wiwid nih ntar kena lagi kita” kesal Alfina “luan ya kak” lalu dia menarikku menjauh dari kantin. Kami memasuki kelas dan melakkukan kegiatan belajar mengajar sampai pada bel pulang setelah itu akupun pergi ke warung bu Idah seperti janji ku pada kak Vano, dan terhitung hari ini adalah hari pertama kami melakukan investigasi masalah kami        
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD