bc

ONLY YOU

book_age18+
1.0K
FOLLOW
6.3K
READ
billionaire
badgirl
CEO
drama
bxg
office/work place
first love
like
intro-logo
Blurb

“Jadi kamu belum pernah mengutarakan perasaanmu pada Galih?” tanya Reyn memastikan.

“Tidak, aku tidak berani. Pasti dia menolakku!” ungkap Clara.

“Kamu belum pernah mencoba tapi kamu sudah pesimis. Memangnya Galih sudah punya kekasih?” selidik pria itu. Perasaannya pada Clara sekarang bukanlah yang utama, ia hanya ingin membuat gadis itu tersenyum.

“Aku tidak tahu!” Clara menggeleng pelan.

Hening. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.

“Saranku kamu harus mulai menunjukkan perasaan cintamu pada Galih, lalu kamu memastikan perasaanmu padanya!” saran Reyn. Kali ini, ia lebih membuka hati, memberi kesempatan pada Clara untuk menunjukkan perasaannya pada Galih.

“Aku pesimis! Aku tidak percaya diri!” Clara menutup wajah dengan kedua tangan.

“Seharusnya kamu optimis dan percaya diri, karena kamu belum pernah mencoba, sedangkan aku sekarang aku sudah tahu kalau gadis yang aku cintai menyukai pria lain, tapi sampai detik ini aku yakin suatu hari nanti dia akan menjadi milikku. Semoga saja!” ucap Reyn datar, tetapi sangat dalam dan membuat dadanya sesak.

“Ah masa, Tuan Reyn sampai seperti itu!” Clara melirik Reyn dengan tatapan kesal.

“Memangnya kenapa kalau aku seperti itu?” Reyn mengangkat kedua alisnya.

“Aku yakin tidak ada gadis yang akan menolak Tuan Reyn. Tuan itu sempurna, tampan, kaya raya, lulusan S2, calon penerus Hartanto Group dan Tuan Reyn cukup baik. Emm ... maaf aku jadi ingat dulu aku sempat membenci Anda!” ungkap Clara mengutarakan pendapatnya.

Reyn hanya tertawa menanggapi pujian dari Clara.

“Clara!” seru Reyn.

“Ya Tuan!” sahutnya.

“Bagaimana kalau kita berteman mulai sekarang?” tawar Reyn.

Judul : ONLY YOU

By : dreams_ dejavu.

Tap Love Anda Follow me! ❤❤

chap-preview
Free preview
** * . Prolog.
Masa sekolah. Ujian sekolah sudah berakhir, hasil ujian sudah diumumkan. Reyn dan teman sekelasnya sedang menghadiri acara perpisahan di aula. Pagi yang indah, matahari bersinar cerah. Di aula sekolah berkumpul siswa-siswi kelas XII, sebenarnya ini bukan acara resmi sekolah. Reyn yang merencanakan semua, kali ini dia ingin mengutarakan perasaan yang sudah dua tahun di pendamnya. Selama dua tahun ini, Reyn mengagumi Clara, teman sekelasnya. Bukan hanya cantik, ia cerdas dan pandai berbicara menaklukkan lawan bicaranya. Itu yang membuat Reyn semakin tergila-gila dengan gadis itu. Semua anak kelas XII IPA 7 sudah berada di ruang aula. Teman-teman sekelas selalu mendukung dan sudah memastikan kalau Clara akan menerima ungkapan cinta dari Reyn. Ruangan yang biasanya kosong dan tampak horor, hari ini di sulap, dihias dengan bunga, balon dan ornamen lainnya sehingga berkesan manis dan romantis. “Bersiaplah, sebentar lagi, Clara akan tiba,” bisik Kevin lirih. Ia menyemangati, seperti sekretaris pribadi Kevin selalu menyiapkan semuanya, termasuk memastikan Clara akan menerima cinta dari sahabatnya itu. Clara sampai di pintu depan aula, ia berjalan dengan pandangan mata lurus ke depan penuh percaya diri. Ia berdiri tepat di hadapan Reyn, sebenarnya ia tampan. Namun, fisik gendutnya menutupi ketampanan dan semua aura pesona yang dimilikinya. “Ra, akhirnya, kamu sampai juga di sini,” ucap Reyn basa-basi. Bukan hanya nada suara, tubuhnya juga gemetar ketika berhadapan dan sedekat ini dengan Clara. “Iya,” jawab cewek itu singkat. Menatap dengan sebelah mata cowok yang di hadapannya, tak bisa merasakan rasa kagum yang dipancarkan lewat pandangan mata Reyn. Tidak bisa membaca, betapa tulus rasa cinta yang selama dua tahun ini di simpannya. “Dengar teman-teman di kesempatan ini, aku Reyn Hartanto, ingin menyampaikan sesuatu, bersediakah kalian menjadi saksi?” ucap Reyn. Ia mengalahkan rasa grogi, berucap keras menguasai keadaan. Seketika, seluruh teman sekelasnya bersorak gembira, tidak sabar. Jika Clara bersedia menjadi pacar Reyn, mereka semua akan di ajak Reyn liburan gratis di Singapura, dan bakal di ajak menaiki YATCH, milik keluarga Hartanto. Itu adalah iming-iming yang membuat teman sekelas menjadi antusias, tak tanggung-tanggung setengah di antaranya berani memaksa Clara agar mau menjadi pacar Reyn. “Ra,” panggilnya. Dengan gesit Reyn berlutut, menggenggam erat tangan Clara. Kepalanya mendongak dan kedua manik mata menatap lurus ke wajah Clara. Clara, mengangguk. Menelan ludah, kali ini rasa percaya dirinya berubah menjadi takut. Melihat beberapa pasang mata yang menatapnya tajam, memaksa Clara untuk mengikuti jalan pikiran mereka. “Sudah dua tahun aku menyimpan rasa, untukmu, kali ini di depan teman-teman aku beranikan diri mengungkapkan semuanya, Clara Anindya, maukah kamu menjadi pacarku?” tanya Reyn. Hening! Hening! Suasana yang awalnya riuh banyak suara, berubah menjadi hening. Semua anak menatap Clara, menunggu jawaban, beberapa di antaranya ikut menahan nafas. Ada dua pilihan untuk Clara, jika dia menjawab Ya! Itu adalah kebohongan terbesar yang pernah ia katakan, dengan begitu ia akan bersandiwara dan tidak bahagia karena membohongi perasaan sendiri. Jika ia menjawab Tidak itu adalah kejujuran, iya sama sekali tak menyukai Reyn, teman sekelasnya itu menganggap sekolah hanya sekedar main-main berantem dan membuat onar itulah yang ia lakukan setiap harinya di sekolah. Maklum dia termasuk anak miliarder 50 besar orang terkaya di Indonesia. Namun, bagi Clara, kekayaan bukan hal yang penting jika tidak memiliki otak yang cerdas. Clara masih berpikir. “Maaf, Reyn, Aku tidak suka cowok yang gendut apalagi hanya mengandalkan kekayaan orang tua, maaf sekali aku tidak mau menjadi pacarmu,” jawab Clara. Dengan suara yang lantang di dengar semua teman-teman yang berada di ruangan itu. Jawaban dari Clara, bukan hanya membuat Reyn sedih karena di tolak, ia juga merasa sakit hati, kecewa, dan malu yang berpadu. Ia marah, dengan Kevin dan semua teman sekelasnya. Namun kebencian dan dendamnya hanya pada Clara. Seketika Reyn bangkit, diam, tatap matanya berubah dingin, sedingin salju di kutub utara. Setangkai bunga mawar merah yang ada di tangannya ia buang begitu saja, kemudian ia berlalu meninggalkan Clara dan teman sekelasnya. Sedangkan Clara, gadis itu menutup mulut. Baru menyadari apa yang telah diucapkannya terlalu kasar, mungkin melukai harga diri Reyn. Ia mengatupkan bibir, menutup mulutnya dengan kedua tangan. Terkesiap tak berani melangkah. Tatapan kebencian dari teman-temannya, menusuk tajam hingga ke relung hatinya, mencabik-cabik rasa percaya diirinya hingga, ia tak mampu bersuara atau pun sekedar menggerakkan bibir. Kejujuran atas perasaannya terhadap Reyn, seolah membunuh hubungan baik dengan teman-temannya selama ini. Satu persatu, sahabat dan teman sekelas Clara mengejeknya, ada yang mengumpat bahkan mendorong kepalanya. Mereka semua, yang selama ini ramah dan memohon padanya untuk menerima cinta dari Reyn, berubah marah dan membencinya. Termasuk Desi, sahabat terdekatnya. Clara, kembali pulang ke rumah dengan perasaan sedih yang tak bisa diungkapkan. Membuatnya merasa sangat bersalah. Malam harinya ia menelefon, dan mengirim pesan ke nomor Reyn. Ya! Nomor yang setiap malam selalu mengucapkan selamat malam, atau mengirim puisi bahkan hanya sekedar menyapa, untuk pertama kali sejak nomor itu disimpan di buku telefon miliknya, tidak aktif. Ya! Nomor itu sudah tidak aktif lagi. Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, tetapi nomor ponsel Reyn tidak pernah Aktif juga. ** Reyn memutuskan, sekolah di Inggris. Menyelesaikan sekolah S1 manajemen bisnisnya di sana selama 4 tahun, dan S2 selama 3 tahun. Kini Reyn kembali ke Indonesia, sudah 10 tahun sejak kejadian yang tak terlupakan itu. Ia rindu orang tua, kedua adik perempuan, dan juga teman sekelasnya, XII IPA 7. Meski penolakan Clara, terjadi di masa remajanya, itu sangat membekas di hati dan benak Reyn, harga dirinya terinjak membuatnya tak akan pernah melupakan hal itu, kecuali dengan satu hal, membalas perlakuan Clara padanya. Tiba di bandara, ia tidak segera pulang ke rumah. Dengan diantar sopir pribadi keluarganya, Reyn pergi ke sebuah Cafe kopi tempat di mana gadis yang di bencinya itu bekerja. Satu map berwarna biru di pangkuannya, ia baca dengan saksama. Berisi mengenai informasi data pribadi wanita yang di lihatnya dari kejauhan, di balik kaca mobil Ferrari hitam miliknya. “Kita pulang sekarang!” titahnya pada si sopir. Suaranya berat, di sertai seringaian seram, penuh rencana jahat untuk membalas apa yang terjadi di masa remajanya, nasib cinta pertama yang melukai harga dirinya. “Baik Tuan,” sahut pria berbaju hitam yang duduk di belakang kemudi. Ia menancap gas, mobil melaju dengan kecepatan penuh menuju kediaman Wisnu Hartanto. Bersambung. Hai readers... Jika berkenan... Cek cerita yang masih free coin. 1. Aroma Luka. 2. Sandera Sang Mafia. 3. Emergency Husband

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Chain Of The Past ( Indonesia )

read
4.1M
bc

DOKTER VS LAWYER

read
1.1M
bc

Loving The Pain

read
3.0M
bc

Long Road

read
148.4K
bc

Oh, My Boss

read
387.0K
bc

Hubungan Terlarang

read
513.2K
bc

Mrs. Fashionable vs Mr. Farmer

read
440.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook