Bertemu Dengan Levine

1369 Words
Kedua tangan Sam mengepal, melihat wajah Levine membuatnya teringat peristiwa tujuh belas tahun silam. Ingin sekali ia menghabisi pria yang membuatnya menjadi yatim piatu itu. Namun, saat ini ia tidak memiliki satupun senjata dan tidak tahu berapa banyak musuh yang harus dihadapi. "Apa yang kamu pikirkan?" Pertanyaan Levine membuat Sam tersadar dari lamunan. "Aku ... aku kepikiran dengan keluarga di kampung, sejak tiba di Jakarta aku belum menghubungi mereka karena ponsel diambil paksa oleh orang-orang jahat itu," jawab Sam panjang lebar. "Kamu bisa pinjam ponsel aku, Nina," celetuk Adara. "Tidak usah, Nona Adara." Sam berbasa-basi. "Lebih baik memang tidak usah karena pekerja seperti kamu tidak diijinkan memakai ponsel," kata Levine dengan ketus. "Tapi kasian, Pah. Ibunya Nina pasti khawatir," bujuk Adara. "Itu bukan urusan kita, Sayang," sahut Levine sembari mengusap rambut putrinya. Adara kecewa, sebab Papanya sangat susah untuk diajak berbuat kebaikan. "Ada peraturan yang wajib kamu patuhi, nanti akan dibicarakan oleh Paman Lou," kara Levine kemudian. "Iya, Tuan," jawab Sam. Ia sungguh muak harus bersikap tunduk dan patuh pada orang yang sudah membantai seluruh keluarganya. Ia ingin segera menyelesaikan tugas, yaitu mengumpulkan informasi dan bukti-bukti kejahatannya, lalu membunuhnya. Sam bahkan sudah memiliki rencana akan membunuh Levine secara perlahan-lahan dengan cara yang paling menyakitkan, Sam ingin Levine merasakan kesakitan seperti yang dirasakan keluarganya. Levine berpamitan pada putrinya, tak lupa mengecup keningnya. 'Dia sayang pada putrinya, tapi tega menjadikan anak lain yatim piatu, dasar tidak punya hati!' gerutu Sam dalam hati. "Sayang, nanti ajak pengasuh baru kamu ini bertemu dengan Paman Lou," pesan Levine sebelum keluar dari rumah. Adara hanya mengacungkan dua ibu jarinya. Sam memperhatikan gerak-gerik Levine dan Ben. Ben pun membawa senjata yang berada dibalik jasnya, sejak keluar dari lift ia juga membawa-bawa koper berukuran sedang berwarna silver. Untuk ke kantor saja ia membawa banyak pengawal. "Nina!" panggil Adara Sam berbalik badan. "Ada apa?" "Ayo temui Paman Lou," ajak Adara sembari menggandeng tangan Sam. "Paman Lou itu sebenarnya siapa? Keliatannya sangat berpengaruh disini, ya?" Sebelum melaksanakan misi, Sam mendapatkan beberapa informasi terlebih dahulu mengenai profil target dan orang-orang terdekatnya, juga situasi dan kondisi lokasi. Akan tetapi, Sam tidak mendapatkan informasi apapun tentang pria bernama Paman Lou. "Paman Lou yang memastikan semua pengawal dan pekerja disini menjalankan tugasnya dengan baik, mengatur pengeluaran di rumah ini, termasuk menentukan kami harus makan apa," jawab Adara. Paman Lou berada di dapur yang terletak paling belakang, sambil jalan Sam bertanya beberapa hal tentang banyaknya pengawal, ruangan-ruangan yang berada di rumah mewah bagai istana ini. Dengan senang hati bocah berambut panjang dan hitam itu menjawabnya, Sam bersyukur karena Adara merupakan anak yang ceria, ceriwis, dan terbuka Sam mendapatkan banyak informasi darinya. "Nah ini dapurnya, Nina," kata Adara. Ada lima pria berbaju serba putih sedang sibuk memasak makanan dalam porsi besar. Wajar saja karena penghuni rumah ini sudah seperti satu RT. Namun, salah satu dari lima orang itu adalah sosok yang Dan kenal, meskipun wajah dan penampilannya banyak berubah. Pria itulah yang mengenalkannya pada SIA. Ada peraturan tidak tertulis yang harus dipatuhi para agen lapangan, yaitu bila bertemu dengan sesama agen, tidak boleh melakukan kontak fisik, harus bersikap seperti tidak saling mengenal. "Paman Lou!" Adara melambaikan tangannya pada seorang pria dengan setelan jas cokelat itu. Paman Lou mendekat. "Ini pengasuh kamu ya?" Adara mengangguk. Paman Lou menatap Sam dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Pakaian kamu kotor dan lusuh, apa kamu enggak punya baju?" cibirnya. "Saya enggak ada pakaian lagi karena tas dan koper tertinggal di tempat hiburan malam itu, Paman," jawab Sam. "Kamu akan menempati kamarnya Bik Hana, kamu bisa pakai pakaiannya, sepertinya pas," kata Paman Lou. Seorang pengawal Levine datang dan memberitahu bahwa guru private-nya sudah datang. Semenjak kecelakaan yang merenggut kakinya dan mimpinya, Adara sekolah dengan cara private. "Aku pergi dulu, selamat bersenang-senang dengan Paman Lou." Adara mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum penuh arti. Paman Lou meminta Sam untuk duduk dan mendengarkan penjelasannya. Sam merasa sangat bosan serta mengantuk karena penjelasan Paman Lou terlalu berbelit-belit. Saat Sam memejamkan matanya, Paman Lou menggebrak meja membuat Sam tersentak. "Kenapa malah tidur, hah?!" Paman Lou melotot dan berkacak pinggang." "Saya ngantuk banget, lagian saya inget semuanya kok," sahut Sam. Mata Paman Lou menyipit. "Benarkah?" Paman Lou mengetes Sam dengan memberikan pertanyaan, Sam berhasil menjawabnya membuat Paman Lou keheranan. "Ternyata kamu pintar juga." Setelah itu, Paman Lou memerintahkan Sam untuk mengambil cemilan dan minum untuk Adara dan gurunya. Baru jalan beberapa langkah Paman Lou kembali memanggilnya. Sam mengembuskan napas kesal. "Ada apa lagu, Paman?" "Ada satu persatu tambahan buat kamu karena kamu adalah satu-satunya wanita disini," jawab Paman Lou. "Apa?" "Kamu enggak boleh ke basemen karena disana merupakan kamar para pengawal, kamu juga enggak boleh meladeni para pria disini, enggak boleh melaju gerakan-gerakan yang bisa membuat seorang pria tergoda, dan jaga sikap didepan Tuan Levine dan Ben, ngerti?" "Ya, aku mengerti. Aku juga enggak ada niat untuk menggoda siapapun disini," jawab Sam. Sam menuju dapur kelima Chef masih sangat sibuk sehingga tidak menyadari keberadaannya. Sam berdeham, kelima Chef kompak menghentikan aktivitasnya dan menatap Sam. "Aku mau mengambil cemilan untuk Nona Adara dan gurunya," kata Sam. Salah satu Chef yang aslinya merupakan agen rahasia mendekatinya dan memberikan nampan berisi dua gelas orange juice satu mangkok besar potongan buah dan satu mangkuk lagi berisi muffin. "Di mangkuk muffin ada pesan penting," ucap agen itu dengan suara sangat pelan dan cepat. Sam mengangguk, ia lalu membawa nampan yang lumayan berat itu ke ruang belajar. Sebelum masuk ke ruang belajar, ia melihat dibagian dalam mangkuk muffin ada selembar kertas, ia mengambilnya dan memasukkannya ke saku rok. "Permisi! Cemilan datang," ucap Sam. "Letakkan saja di sana," gurunya Adara mengarahkan jari telunjuknya ke meja kecil samping rak buku. "Oke." Setelah meletakkan nampan, ia berpamitan hendak ke kamar mandi. Di kamar mandi ia membaca pesan dari agen tadi. "Senang bisa bertemu denganmu lagi, Sam. Aku Gustav, tapi disini aku menjadi Andy seorang Chef. Kamu harus berhati-hati, jangan bicara apapun dengan siapapun karena tidak ada yang bisa dipercaya. Tempat paling aman di sini tanpa cctv adalah kamar mandi dan empat kamar utama di lantai tiga. Seminggu lagi aku akan memberikan kamu senjata untuk berjaga-jaga." Sam merobek surat itu menjadi potongan kecil, sebagian dibuang ke tempat sampah, sebagian lagi ia masukkan ke closet. Saat ia datang ke ruang belajar, rupanya sesi belajar sudah berakhir, Adara dan gurunya sedang menikmati camilan. Tidak lama kemudian, guru bernama Agustine itu berpamitan pulang, Adara dan Sam mengantarnya hingga ke depan pintu. "Bagaimana belajarnya?" tanya Sam. "Oke-oke aja, Bu Agustine adalah guru favorit aku waktu disekolah. Sebenarnya aku merindukan sekolah dan teman-teman," kata Adara. "Bujuk papa kamu agar kamu kembali sekolah di luar, itu kan menyenangkan." Kalau Adara kembali bersekolah biasa, tentu akan menguntungkan untuk Sam. Setidaknya ia bisa keluar dari rumah mewah tetapi menyesakkan ini. "Aku sudah coba berkali-kali, tapi tidak berhasil." "Mungkin perlu sedikit air mata dan drama," sahut Sam. "Pernah aku coba tapi, tetap gagal." Adara menunduk, matanya mulai berkaca-kaca. Sam mengusap-usap rambut panjang Adara. "Mungkin Papamu berpikir kamu terlalu lemah untuk pergi ke sekolah, jadi dia khawatir terjadi sesuatu sama kamu." "Terus apa yang harus aku lakukan?" "Kamu harus membuktikan pada Papa bahwa kamu kuat dan tegar!" Adara tersenyum, semangatnya kembali menyala. Gadis berusia sepuluh tahun itu merasa seperti bertemu kembali dengan sosok Mamanya. Sifat Sam dan Mamanya hampir sama, mereka berdua selalu membuatnya untuk selalu berpikir positif. **** Setelah selesai mandi, Sam menggambar denah rumah Levine lengkap dengan titik-titik keberadaan kamera CCTV dan pengawal. Ada tiga titik vital dirumah ini, yaitu kamar Levine, ruang kerja, dan basemen yang terdapat kamar para pengawal dan ruang pengawas. Sam memindai sekeliling kamar, nalurinya berkata ada sesuatu dikamar ini yang bisa memberikannya informasi. Bagaimanapun juga Bik Hana sudah bekerja di rumah ini selama bertahun-tahun. Sam mulai memeriksa laci-laci di meja rias dan meja kecil sampai tempat tidur. Ia tidak menemukan apapun, lalu memeriksa lemari pakaian. Bik Hana mempunyai banyak macam pakaian, pakaian casual sampai pesta dan masih pantas dipakai era sekarang. Sam menatap foto Bik Hana yang sedang tersenyum. "Rupanya kamu seorang fashionista juga, ya, Bik. Aku pinjam kamar dan barang-barangmu." Sam berbicara dengan fotonya Bik Hana, matanya yang jeli melihat sesuatu yang tidak biasa pada foto itu. Rupanya dibalik foto itu ada brankas yang menggunakan kunci. "Hmm ... kira-kira kuncinya dinana dan ada apa didalamnya." Sam benar-benar penasaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD