Levine dan pengawal-pengawalnya tiba di sebuah kompleks pergudangan yang sudah lama terbengkalai. Ada empat pria duduk bersimpuh dengan tangan terikat di belakang, wajah mereka memar habis terkena pukulan.
"Tuan, merekalah penyebab stok barang di gudang selalu kurang," kata Marco yang merupakan orang kepercayaan Levine untuk mengawasi dan menjaga gudang penyimpanan obat-obatan terlarang.
"Memangnya apa yang mereka lakukan?" tanya Levine.
"Mereka mencuri stok barang kita dan menukarnya dengan barang berkualitas rendah," jawab Marco.
"Ada buktinya?" Levine kembali bertanya.
"Kami diam-diam memasang kamera CCTV ditiap sudut gudang, terlihat dengan jelas mereka mencuri, Tuan," jelas Marco
Pria pertama memohon ampun dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, begitupun ketiga orang lainnya.
"T-tuan saya mohon ampun, sa-saya janji tidak akan mengulanginya lagi," kata pria pertama.
Marco memukul kepala pria pertama hingga hampir terjatuh. "Dia punya utang judi sebesar dua ratus juta rupiah."
Pria kedua diperlakukan seperti pria pertama. "Kalau dia mencuru untuk membeli barang-barang mewah, kemarin dia beli mobil."
Levine geleng-geleng kepala mendengarnya.
"Sa-saya minta maaf, Tuan. Saya akan mengembalikan semuanya. Saya menyesal, Tuan," ucap pria kedua dengan wajah memelas.
"Karena ketahuan kalian minta maaf dan bilang menyesal, kalau enggak ketahuan terus saja kalian membuat aku rugi!" sahut Levine.
Marco menendang punggung pria ketiga hingga wajahnya mencium tanah. "Dia menggunakan uang hasil dari mencuri barang-barang kita untuk bersenang-senang dilokalisasi, dia juga memiliki tiga istri."
Sedangkan dengan pria keempat tidak diapa-apakan oleh Marco. "Anak perempuannya yang berusia sepuluh tahun terkena kanker darah dan harus segera dioperasi. Menurut penyelidikan dia baru sekali."
Levine berjalan menuju pria keempat. "Kenapa harus mencuri? Padahal kamu bisa bilang terus terang dan aku akan senang hati memberikannya."
Pria keempat minta maaf dan menyesal, ia juga memohon untuk tidak dibunuh karena merupakan tulang punggung keluarga.
"Mencuri adalah perbuatan salah dan merupakan pelanggaran berat. Kalian pasti tau apa hukumannya, kan?" Levine berjalan bolak-balik didepan para pelanggar itu. "Tapi ... Karena suasana hatiku sedang baik, aku akan memaafkan kalian dengan syarat ...."
Levine menjeda perkataannya, kemudian ia meminta pistolnya pada Ben. Keempat pelanggar menelan ludah, keringat dingin mengucur dari kepala, jantung mereka berdetak kencang, maut di depan mata.
"Kalian liat drum di sebelah sana!" Levine mengarahkan jari telunjuknya ke arah sebuah drum yang jaraknya kira-kira dua ratus meter dari tempatnya berdiri. "Kalau kalian berhasil melewati drum itu dalam waktu satu menit, kalian bebas, tapi ... jika tidak kalian harus mati!"
Sangat sulit berlari dengan kondisi tangan terikat ke belakang karena mengurangi keseimbangan. Tapi mereka akan berusaha sekuat tenaga demi nyawa tetap melekat di badan.
Dengan susah payah mereka berdiri, Levine lalu memberikan aba-aba dengan menghitung mundur. Dihitungan kesatu, keempat pria itu berlari, senyum licik tersungging di bibir Levine. Ia mengarahkan pistolnya ke pria pertama.
Dhuar!
Pria pertama tewas seketika, disusul pria kedua, dan ketiga. Sementara pria keempat ia biarkan terus berlari menuju tempat yang ditentukan.
"Kenapa Tuan menembak ketiganya padahal waktunya belum habis?" Marco keheranan.
"Kayak enggak tau Tuan Levine aja kamu Marco." Ben terkekeh.
"Ketiga orang itu enggak pantas hidup karena menyusahkan orang lain. Perbuatan mereka bisa menginspirasi yang lain untuk melakukannya," jelas Levine. "Sedangkan pria keempat aku maafkan karena nasibnya sama seperti aku memiliki anak perempuan yang harus merasakan penderitaan diusianya yang masih belia."
"Mendengar ceritanya, aku langsung teringat Adara," ucap Levine kemudian. Ia meminta Asisten setianya untuk mengurus biaya pengobatan putri pria keempat dan memerintahkan Marco mengurus mayat ketiga pelanggar.
"Jangan meninggalkan jejak, musnahkan saja mayatnya!" titah Levine.
Levine sebenarnya adalah Bos yang baik, ia memberikan gaji besar pada para pekerjanya karena ia sadar bekerja di dunia hitam itu selalu bersinggungan dengan maut.
Saat sampai dirumah, Levine terkejut karena putrinya belum tidur.
"Maaf, Tuan. Kami sudah membujuk Nona Adara untuk tidur, tapi enggak mau karena mau bicara penting sama Tuan," kata salah satu pengawal dengan takut-takut
"Kalian boleh pergi."
Kedua pengawalnya menghela napas lega, sebelumnya mereka takut dihukum. Levine membuka jasnya dan mengendurkan simpul dasinya, lalu duduk di samping putrinya. "Ada apa, Sayang?"
Adara tersenyum, lalu menceritakan tentang pertemuannya dengan Sam. Ia memuji-muji Sam sebagai wanita yang cantik, menarik, dan enak diajak mengobrol.
Perasaan Levine mulai tidak enak dan benar saja, Adara meminta Papanya untuk memperkejakan Sam yang menyamar sebagai Karenina untuk menjadi pengasuhnya.
"Om Ben sedang mencari pengasuh untuk kamu dari penyalur tenaga kerja yang profesional, kamu tunggu kabar dari Om Ben saja, ya."
Adara menggeleng, ia bersikukuh pada pendiriannya.
"Sayang, tidak selamanya orang yang terlihat baik benar-benar baik. Kita enggak mengenal wanita itu." Levine terus membujuk rayu putrinya, akan tetapi semua sia-sia.
Adara merajuk dan menangis. Ia juga mengancam enggak mau makan. Levine mengusap wajahnya dengan kasar, tidak mau melihat putrinya kecewa dan sedih, ia pun mengabulkan keinginannya.
Adara menghapus air matanya, ia bersorak gembira dan langsung mengucapkan terima kasih sambil mengecup pipi papanya. Levine menggandeng tangan putrinya menuju lift.
Setelah putrinya tidur, Levine memanggil Ben dan menyuruhnya untuk menyelidiki wanita yang tertabrak kemarin. "Jangan ada informasi yang terlewat sedikitpun!"
"Baik, Tuan."
***
Setelah hasil penyelidikan keluar, Levine meminta pengawalnya membawa Sam ke rumahnya. d**a Sam bergemuruh, akhirnya ia bisa bertemu langsung dengan pembunuh keluarganya tujuh belas tahun silam.
Sam disuruh duduk bersimpuh dilantai oleh pengawal Levine, Sam memperhatikan sekeliling. Rumah Levine sangat mewah dan luas, didominasi warna hitam, abu-abu, dan putih, tiap sudutnya terdapat kamera CCTV dan banyak sekali pengawalnya. Di pintu gerbang saja ada sepuluh orang, di depan pintu rumah dua orang dan mereka semua bersenjata.
"Nina!" teriak Adara begitu keluar dari lift.
Sam tersenyum dan merentangkan kedua tangannya. Adara memeluk wanita yang baru dikenalnya kemarin dengan erat seolah-olah sahabat yang lama tidak bersua.
Sam mengusap-usap rambut panjang Adara yang digerai. "Apa kamu baik-baik saja?"
"Aku baik. Kaki kamu masih sakit?"
"Enggak."
"Mereka sepertinya sudah saling cocok," bisik Ben.
"Kamu sudah memastikan dia aman, kan?" tanya Levine.
"Iya, Tuan. Peristiwa kemarin tidak akan pernah terulang lagi," jawab Ben.
Ben pernah membuat kesalahan fatal dengan memasukkan seseorang untuk dijadikan Chef. Ia tidak memeriksa data orang itu dengan teliti, ternyata orang tersebut merupakan agen yang menyamar.
Ben merasa sangat bersalah karena beberapa informasi berhasil dibocorkan. Ben pasrah bila nyawanya harus hilang ditangan Levine. Namun, Levine memaafkan dan memberinya satu kesempatan lagi.
"Ehem!" Levine berdeham. Adara melepaskan pelukannya, Levine meminta Sam untuk berdiri.
Levine mendekat dan berjalan memutari Sam. 'Secara fisik dia cantik, tatapan matanya tajam, fitur wajahnya tegas, tubuhnya tinggi dan proporsional.' komentar Levine dalam hati.
Levine merasa aneh pada dirinya sendiri karena sebelumnya ia tidak pernah mengomentari apalagi memperhatikan fisik seseorang.