Levine dan Adara

1006 Words
"Tinggalkan saja, kita terus jalan," kata Levine dengan ekspresi datar. Putrinya yang bernama Adara mendengar itu mengajukan protes. "Kenapa Papa jahat sekali? Harusnya kita menolong dia karena udah menabraknya." "Orang itu yang tiba-tiba muncul, dia yang salah," jawab Levine. "Dia sakit, Papa. Sudah jadi kewajiban kita menolongnya. Itu yang selalu Mama katakan, menolong orang yang memerlukan," sahut Adara. Levine menghela napas, dengan penuh keterpaksaan ia menyuruh Ben membawa wanita yang tertabrak itu ke rumah sakit. Dua pengawal membopong tubuh Sam ke mobil, mereka berdua masuk ke mobil yang berada di belakang mobil Levine. Saat dipertigaan, mobil yang membawa Sam berbelok ke arah rumah sakit, sedangkan mobil Levine dan dibelakangnya lurus. "Mereka bener-bener membawa dia ke rumah sakit, kan, Pah?" Adara bertanya untuk memastikan. "Iya, Sayang." Levine membelai pipi putrinya yang berusia sepuluh tahun itu. Adara tersenyum. Senyumnya sama persis dengan mendiang mamanya yang meninggal tiga tahun lalu karena kecelakaan, kecelakaan itu pula yang membuat Adara harus menggunakan kaki palsu seumur hidupnya. "Sayang, kamu ngantuk? Sini tidur sama Papa." Levine menepuk-nepuk pahanya. Adara menggeleng, ia malah mengalihkan pandangannya ke jendela. "Aku enggak ngantuk aku mau melihat pemandangan aja soalnya jarang-jarang bisa jalan sama Papa." Levine merasa perkataan putri semata wayangnya itu menyindirnya karena akhir-akhir ini pekerjaannya sangat padat. Pergi pada saat matahari belum terbit dan kembali saat matahari sudah digantikan bulan. Sekadar menyapa atau menemani putrinya sarapan saja tidak bisa. "Maafkan, Papa. Papa janji kalau pekerjaan Papa sudah beres akan menghabiskan waktu bersama kamu," kata Levine dengan sungguh-sungguh "Jangan berjanji kalau belum tentu bisa menepati, janji itu hutang," sahut Adara. Suasana kembali sepi, Levine menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil. Saat matanya hendak terpejam, ia mendengar putrinya terisak-isak. "Kamu nangis, Sayang?" Levine menghadapkan tubuh Adara ke arahnya. "Ada apa? Cerita sama Papa." "Aku ... aku kangen Mama dan Bik Hana," jawab Adara dengan lirih. Levine memeluk putrinya, sembari mengusap punggungnya. "Mama dan Bik Hana sudah bahagia di surga, mereka udah enggak sakit lagi." "Kenapa mereka enggak ajak aku ke surga juga." Hati Levine mencelos mendengar ucapan Adara, sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak menangis. "Karena kamu anak yang kuat dan baik, kamu masih memiliki banyak tugas kan? Masih banyak teman-temanmu yang membutuhkan kamu, Sayang." Bik Hana adalah Asisten Rumah Tangga yang sudah bekerja dikeluarga Levine sejak lama. Tepatnya saat Levine berusia lima belas tahun, ketika Levine menikah dan memiliki anak, Beliaulah yang membantu mengurusnya karena Miranda yatim piatu, begitupun dirinya. Faktor usia membuat kesehatan wanita itu terus menurun, keluar masuk rumah sakit. Hingga akhirnya meninggal dunia tadi pagi, Levine dan Adara mengantar jenazahnya ke tempat pemakaman umum dekat dengan suami dan saudara-saudaranya yang jaraknya lumayan jauh. Akhirnya mereka sampai di rumah, Levine menggendong Adara yang tertidur. "Biar saya saja yang menggendong Nona Adara, Tuan," kata Ben. "Tidak usah, kamu Carikan pengasuh untuk Adara, tapi harus hati-hati dan selektif. Jangan sampai kecolongan seperti kemarin." Tiga bulan yang lalu ada seorang mata-mata yang menyamar sebagai Chef dirumahnya. Orang itu dipukuli habis-habisan oleh pengawal Levine hingga tewas mengenaskan bersimbah darah. "Siap, Tuan!" Saat Ben berbalik badan dan hendak melangkah, Levine memanggilnya karena ada sesuatu yang tadi lupa ia sampaikan. "Kosongkan jadwalku sampai Adara memiliki pengasuh baru." "Siap, Tuan!" Perlahan-lahan Levine membaringkan putrinya, ia membelai wajah gadis kecilnya dan mengecup keningnya. "Maafkan Papa belum bisa membuat kamu bahagia. Papa sayang sekali sama kamu " *** Keesokan paginya, Levine mengantarkan sarapan untuk Adara ke kamarnya. "Selamat pagi, cantiknya Papa!" Adara tersenyum tipis, biasanya yang mengantarkan makanan adalah Bik Hana. "Papa enggak ke kantor?" "Papa berangkat jam sembilan, Papa mau membuktikan janji Papa semalam. Ya ... walaupun belum sepenuhnya." Levine menyuapi Adara, sembari menceritakan kisah-kisah lucua. Hatinya merasa tenang melihat wajah putrinya kembali berseri-seri. "Pa, aku mau melihat keadaan orang yang tertabrak mobil kita," kata Adara setelah selesai sarapan. "Untuk apa, Sayang?" "Aku mau melihat keadaannya dan ingin tau apakah dia punya keluarga atau tidak," jawab Adara. Meskipun wajah Adara mirip dengan papanya, tetapi sifat mereka saling bertolak belakang. Adara mewarisi difat mamanya yang memiliki jiwa sosial tinggi dan enggak enakan sama orang, sedangkan Levine kebalikannya. Sifat mendiang istri dan anaknya membuat Levine kesulitan, sebab ia sangat menjaga privasi. Adara menepuk-nepuk lengan papanya. "Boleh kan, Pah?" tanyanya dengan mata berbinar-binar penuh harap. "Jam sembilan Papa harus ke kantor." "Suruh saja satu atau dua pengawal Papa untuk nganterin aku." "Sudahlah tidak perlu terlalu kamu pikirkan, dia bukan siapa-siapa untuk kita." Levine berusaha untuk mengubah keinginan sang putri, tetapi Adara tetap memaksa. "Katanya mau membuat aku bahagia, salah satu yang membuat aku bahagia adalah dengan membantu orang lain, Pah!" "Tambah pintar saja kamu bicara, ya." Levine mengacak-acak rambut Adara. "Papa akan suruh Om Daniel dan Om Oscar untuk menemani kamu." Adara bersorak-sorai karena keinginannya dituruti, meskipun banyak syarat yang diajukan papanya. "Papa ke kantor dulu, ingat pesan Papa, oke." "Oke, Pah." Levine mengecup kening sang putri. *** Sam membuka matanya perlahan, tampak seorang gadis kecil berkuncir kuda berdiri di sampingnya. "Apa kamu malaikat yang akan menjemput aku ke surga?" Adara terkekeh. "Aku bukan malaikat, aku anak berusia sepuluh tahun yang memakai kaki palsu." Sam mengerjap. "Siapa namamu?" "Adara Levinda Alfaro," jawab Adara. "Nama yang cantik, sama seperti wajahnya." Ucapan Sam membuat pipi Adara merona. "Oh, iya. Apa kamu punya keluarga?" tanya Adara. Tatapan mata Sam menerawang. "Orang tua dan adikku di kampung, di Jakarta aku tidak memiliki siapapun. Niatnya ke sini mau bekerja, tapi malah kena tipu dan tertabrak mobil." "Maaf, kamu tiba-tiba muncul membuat supir Papa kaget dan tidak sempat mengerem," jelas Adara. "Aku dikejar-kejar orang jahat, yang aku pikirkan adalah terbebas dari orang-orang itu sehingga tidak memperhatikan jalan." "Apa kamu mau bekerja di rumah aku?" Pertanyaan itulah yang ditunggu-tunggu Sam. "Bekerja sebagai apa? Aku hanya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan kasar, sebab pendidikan aku hanya sampai tingkat sekolah dasar." "Jadi pengasuh aku." "Kamu sudah besar, masa masih butuh pengasuh." "Aku cuma butuh teman untuk bicara." Sam menggenggam erat tangan Adara. "Aku bisa jadi temanmu, aku siap mendengarkan cerita-cerita kamu." Sam bersemangat karena sebentar lagi ia akan bertemu dengan orang yang telah membunuh keluarganya. "Tapi ...." "Tapi apa?" Sam penasaran. "Aku takut Papa enggak setuju."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD