Teringat Masa Lalu

1014 Words
LEVINE ALFERO Mendengar nama itu membuat ingatan Sam kembali ke masa lalu. Sewaktu ia berusia sepuluh tahun, saat itu ia dan keluarganya sedang merayakan ulang tahun Sang kakak yang kedua belas. Hari itu dipenuhi sukacita dan canda tawa, memakan makanan lezat dan saling bertukar cerita. Sam sedang bermain petak umpet dengan dua sepupunya, Hani dan Ali serta Paman Albert, pensiunan tentara. Tiba-tiba tujuh orang pria bertopeng datang dan memberondong keluarganya dengan tembakan. Paman Albert membawa Sam bersembunyi di gudang yang berada di taman belakang. Dari sela-sela papan mereka melihat Hani dan Ali yang sedang berlari tewas diberondong tembakan. Sam ingin berteriak, dengan cepat Paman Albert membekap mulutnya. "Kita akan mati kalau kau berteriak," bisiknya. Tubuh Sam dan Paman Albert gemetar, keringat dingin membasahi tubuh saat seorang dari tujuh pria bertopeng berjalan ke arah gudang.0 Namun, langkahnya terhenti karena temannya memanggil dan mengatakan, "Misi telah selesai semua orang sudah mati." Suasana kemudian sepi dan gelap, Paman Albert perlahan membuka pintu gudang. Ia memegang sekop dengan erat, sekop itu akan ia gunakan sebagai senjata pertahanan diri. Dengan penuh kewaspadaan, pria enam puluh tahun itu melangkah menuju bagian dapur. Di dapur ada mayat Tante Eva, Ibundanya Hani dan Ali. Di ruang tengah yang merupakan tempat perayaan tiup lilin, ada mayat Ayah dan Ibunya Sam, dan beberapa orang kerabat, termasuk Bibi May, istri Paman Albert. Di tangga ada mayat Sandy, kakak laki-laki Sam. Darah mereka membuat lantai yang berwarna putih menjadi merah. Paman Albert menghubungi Polisi, tidak sampai setengah jam mereka datang bersama dengan mobil ambulans. Suasana jadi ramai, para tetangga yang tadi ketakutan mulai memberanikan diri keluar rumah dan melihat yang terjadi. Dua orang Polisi meminta keterangan Paman Albert, pria yang masih terlihat gagah itu menceritakan kejadian yang sebenarnya. "Aku rasa ini ada hubungannya dengan Levine Alfaro." "Kenapa Bapak bisa memiliki dugaan seperti itu?" tanya Pak Polisi. "Adikku adalah Hakim yang memvonis pria jahat itu hukuman dua puluh tahun penjara, sewaktu sidang Levine Alfaro sudah mengancam adikku," jelas Paman Albert dengan suaranya yang serak. "Anak buahnya masih berkeliaran, mereka pasti yang melakukan ini." "Kami akan menemukan pelakunya, Pak," ucap Polisi itu. Kedua Polisi itu pergi, Paman Albert merangkul Sam yang masih gemetaran. "Paman, aku mau Ayah dan Ibu, aku mau bermain lagi dengan Kakakku, Hani, dan Ali ...." Tangis Sam pecah, Paman Albert memeluknya dengan erat sembari mengusap punggung Sam yang berguncang. Dua hari kemudian, keluarga Sam dimakamkan. Sam tak henti-hentinya menangis, bahkan meraung-raung saat peti mati Ayah dan Ibunya dimasukkan ke liang lahat. Beberapa hari setelah pemakaman, Paman Albert membawa Sam pergi sangat jauh. "Hukum sudah dibeli, dalang pembunuh keluarga kita sudah dibebaskan. Nyawa kita oun terancam, jadi kita harus pergi," kata Paman Albert. "Siapa dalang pembunuh keluarga kita, Paman?" tanya Sam lirih. "Levine Alfaro." Paman Albert pun menceritakan tentang sepak terjang Levine Alfaro dan keluarganya. "Mereka keluarga penjahat." Di tempat tinggal yang baru Sam dilatih fisik dan mentalnya, Paman Albert ingin agar Sam balas dendam kepada Levine Alfaro. "Pria jahat itu yang membunuh kekuargamu, membuat kamu jadi yatim piatu. Kamu harus membalaskan dendam untuk mereka, hanya kamu satu-satunya, Sam!" kata Paman Albert yang membuat Sam semakin bersemangat. Lulus sekolah menengah atas, Sam mendaftar sebagai tentara. Semua tes bisa ia lakukan, bahkan meraih peringkat pertama. Setelah lulus langsung, ia dipilih langsung oleh Ibu negara untuk menjadi pengawalnya. Tidak lama berselang, Paman Albert meninggal dunia. Aksinya saat melumpuhkan dua penyusup yang ingin mencelakai Ibu Negara menghebohkan media. Menjadi pengawal Ibu negara hanya dua tahun karena ia mendaftarkan diri sebagai agen intelijen. Ia lulus dengan predikat terbaik, ia pun menjadi intelijen negara. Banyak misi yang berhasil ia kerjakan, membongkar jaringan perdagangan orang, jaringan pembuatan uang palsu, sampai jaringan teroris yang ingin membuat kekacauan. Namun, ia merasa tidak cocok dengan sistem yang ada di badan intelijen negara karena terlalu banyak protokol, ia merasa kurang bebas bergerak. Saat melakukan misi ia berkenalan dengan seseorang pria bernama Gustav, Gustav seorang agen khusus yang tergabung dalam SIA (Secret International Agent) Agen bayaran yang harus mengerjakan misi pesanan dari pihak-pihak tertentu yang dirahasiakan, bisa pihak pemerintah atau pribadi. Misinya bisa hanya mengumpulkan informasi dan bukti, atau membunuh. semakin sulit misinya, semakin tinggi pula bayarannya. SIA adalah organisasi yang sangat rahasia, antara agen dan atasannya yang memberikan misi, tidak saling kenal. Mereka hanya berkomunikasi dengan ponsel khusus yang tidak bisa terlacak. Para agen SIA juga diberikan senjata dan semua hal yang diperlukan. Cara memberikannya pun cukup unik, terkadang disimpan di tempat sampah atau tempat lain yang tidak terduga. Sam pun tertarik, ia menjalani dua pekerjaan sekaligus. Namun, lama kelamaan aksinya diketahui pihak negara. Ia pun memutuskan untuk keluar dari Intelijen negara. Namun, untuk keluar dari Intelijen negara tidak semudah yang ia pikir, Sam harus menjalani prosedur menghilangkan memori dari otak dengan alat khusus agar semua rahasia negara tidak bocor ke pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Sam melarikan diri dan menjadi buronan Intelijen negara. Semua data dan segala hal yang berhubungan dengan Sam dihapus, ia oun tidak mendapatkan uang pensiun. Akan tetapi, ia sama sekali tidak peduli, baginya adalah tujuan utamanya menjadi agen adalah membalas dendam kepada Levine. Sam meninju samsak yang sudah diberi foto Levine dengan sekuat tenaga sampai robek dan isinya berhamburan ke lantai. Napasnya terengah-engah, keringat mengucur deras dari wajahnya. Saat yang ia tunggu-tunggu tiba juga, ia akan menjalani misi untuk mengumpulkan bukti-bukti kejahatan Levine Alfaro beserta kroni-kroninya, lalu membunuhnya. Untuk itu, ia akan menyamar sebagai pengasuh anak perempuan Levine yang lumpuh akibat kecelakaan yang juga menewaskan Miranda, istri Levine. *** Sam dikejar-kejar empat orang pria bertubuh besar dan bersenjata. Karena kurang hati-hati ia menabrak sebuah mobil yang sedang melaju. Supir mobil Mercedes Benz itu menginjak rem dalam-dalam membuat penumpangnya, yaitu Levine dan putrinya sedikit terdorong ke depan. Andi, sang supir buru-buru minta maaf. "Saya tidak sengaja menabrak orang, Tuan." Pengawal-pengawal Levine yang berada di mobil depan dan belakang keluar semua dengan pistol digenggaman. Nyali Keempat pria yang tadi mengejar Sam menciut karena ditodong pistol oleh pengawal-pengawal Levine. Keempatnya lari terbirit-b***t. Ben, memberitahu bahwa yang tertabrak adalah seorang wanita. "Apa dia sudah mati?" tanya Levine. "Belum, tapi luka-lukanya cukup parah," jawab Ben. "Tinggalkan saja, kita terus jalan," kata Levine dengan ekspresi datar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD