Di situ Zahra berdiri dengan wajah datar. Dia tidak berusaha melerai atau apapun, dan malah membiarkan Ruian bicara dengan Badai. Tadi dia memang mencari Ruian ingin meminta tolong antarkan ke kantin rumah sakit untuk membeli air hangat buat kakak iparnya.
Badai melepaskan tangan Ruian yang berada di kerah bajunya, lalu menatap Zahra sekilas. Entah kenapa hawa panas mulai menjalar di hatinya. Apalagi mengingat ucapan Ruian di mobil. Tapi bukannya mereka sudah berpacaran?
"Apa Anda bilang kalau kalian sebenarnya tidak pacaran? Karena itu menyuruh saya untuk mengungkapkan perasaan ke Aya?"
Ruian sedikit tersentak, tapi kemudian dia kembali ekspresi wajah datar atau lebih ke biasa saja, terus berdecih pelan. "Anda jangan pura-pura bodoh atau tidak peduli. Meskipun kami memang berpacaran, saya yakin Anda pasti tahu hati Zahra sepenuhnya buat siapa?"
"Tadinya saya bertanya-tanya kenapa Anda sepengecut ini? Padahal kalian saling mencintai." Ruian tertawa kecil. "Ternyata Anda sudah ada yang lain." Ruian mendekati Badai. "Oh ya ampun ... terima kasih kesempatannya, Pak Badai. Saya akan benar-benar berusaha membuat hati Zahra sepenuhnya hilang untuk Anda dan beralih ke saya," bisik Ruian, kemudian menepuk bahu Badai sedikit kencang.
Ruian menghampiri Zahra, dan ingin membawanya pergi dari situ. Dia juga heran dengan Zahra yang diam saja, padahal pemuda yang dicintainya hampir saja dihajar olehnya.
"Ayo kita pergi." Ruian menggenggam tangan Zahra lalu mereka berlalu dari hadapan Badai. Namun sebelum ikut Ruian, Zahra melirik Badai yang wajahnya menegang.
Setelah Ruian membawa Zahra pergi, Badai mengusap wajah kasar. Napasnya sedikit memburu karena kekesalan yang datang kepadanya. Rasanya dia ingin berteriak sekencang mungkin. Bukannya dia pengecut atau apa, tapi ada hati sang ibu yang harus dijaga. Dia takut sang ibu terluka, tapi dirinya juga takut kehilangan Zahra. Ini adalah pilihan yang sangat sulit baginya. Tolong beri dia waktu untuk memutuskan semua itu.
"Mas, ternyata kamu di sini toh?" Salwa mendesah lega, karena telah menemukan Badai. "Aku cari-cari Mas, soalnya ibu udah selesai kontrolnya."
Badai tidak menjawab apapun, dia langsung pergi begitu saja ke tempat sang ibu. Kepalanya terasa ingin meledak, dan dia tidak mau menambah kekesalannya sekarang.
Karena suasana hatinya sedang tidak baik-baik saja. Badai menyuruh Salwa duduk di belakang bersama sang ibu. Tidak apa-apa kalau dia dikira supir, asalkan jangan ada yang mengganggunya selama menyetir mobil.
Sementara di rumah sakit...
Ruian memberikan sebotol minuman ke Zahra yang masih terdiam menunduk tanpa ekspresi apapun. Bahkan dia sampai lupa untuk membeli minuman hangat buat kakak iparnya. Beruntung sang kakak sudah membelinya tadi saat mereka berpapasan. Dan tumben sekali sang kakak hanya berpesan 'kalau kalian mau pulangnya nanti, telepon Mas Arfiq. Biar kami pulang duluan.'
"Terima kasih, Yan," ucap Zahra, sembari menerima minuman dari Ruian.
"Sama-sama, Ya." Kemudian Ruian duduk di samping Zahra, di bangku rumah sakit yang tidak jauh dari ruangan kakak iparnya dirawat.
Zahra dan sekeluarga tak terkecuali Arash memang sedang menjenguk kakak ipar Ruian yang beberapa hari lalu telah melahirkan di rumah sakit ini. Tak disangka, ternyata rumah sakit ini juga tempat Badai membawa sang ibu untuk pergi kontrol. Terus lebih tidak disangka lagi, ternyata Badai tidak hanya berdua saja bersama sang ibu, melainkan dengan seorang gadis cantik berhijab. Jauh sekali perbedaan dirinya dan gadis itu. Yang Zahra tahu, ibu Badai juga memakai hijab. Dalam pikirannya sekarang, apakah itu alasannya kenapa Badai tidak mengungkapkan rasa cinta, atau pria itu memang tidak memiliki perasaan terhadapnya. Dianya saja yang sudah percaya diri, kalau Badai memiliki perasaan yang sama dengannya.
"Maaf, tadi aku---"
"It's okay, Yan." Zahra langsung memotong ucapan Ruian. Ya, dia memang tidak apa-apa, meskipun dalam hati sudah mulai berdenyut nyeri sedari tadi. Ibaratnya seperti ini, mendapatkan cinta Badai sama saja ingin menyentuh pucuk pohon pinus, yang susah digapai kecuali pohon itu jatuh ditebang. Atau dia adalah air laut, sementara Badai batu karang. Meskipun batu karang tersebut dikelilingi oleh air laut dan terus diterjang ombak yang sangat dahsyat, tapi tetap saja, batu karang itu masih berdiri kokoh di tepi lautan tanpa bergeser sedikitpun. Ya, susah memang. Namun dia masih sepenuhnya sadar, ada yang lebih hebat dari batu karang tersebut, yaitu Kuasa Sang Illahi.
Tinggal berdoa saja yang khusyuk, semoga mereka ditakdirkan bersama, walaupun untuk saat ini saling menyakiti satu sama lain. Tidak ada yang tidak mungkin kalau mereka memang berjodoh, bukan? Sebesar dan seberat apapun rintangan mereka, yang namanya jodoh pasti akan bersatu.
Zahra mendongak ke atas langit biru yang indah dan cerah, tentu tidak sama dengan suasana hatinya sekarang. Tuhan, bisakah mereka berhenti saling menyakiti? Kemudian dia kembali menunduk. Tenang saja, dia tidak menangis, kok. Mungkin sebagian orang akan bilang, dia adalah gadis yang bodoh. Ya benar, dia memang bodoh. Padahal dia bisa loh dapat yang lebih dari Badai, dari segi sosial ataupun berani tidak pengecut seperti Badai. Namun, mau bagaimana lagi, orang yang telah membuatnya jatuh cinta pertama kali adalah Badai. Terdengar lucu karena dia menaruh perasaan ke pria itu bahkan sebelum umurnya menginjak 10 tahun. Lucu bukan? Tadinya dia berpikir ini hanya cinta monyet dari anak kecil ke seorang laki-laki yang baik. Nyatanya, cinta yang dia miliki sampai sekarang dan tidak tahu bagaimana caranya untuk menghapuskan rasa cinta itu. Menyedihkan sekali every body...
"Bagaimana kalau kita kembali ke ruangan Mbak Vaness? Mereka pasti sedang mencari kita sekarang," ajak Ruian dengan nada lembut. Dia tidak mau Zahra terlihat bersedih karena kejadian tadi. Lebih baik mereka kembali ke sana. Lagipula di sana ada Arash yang sudah sembuh dari sakit dan kembali berceloteh riang. Pasti Zahra bisa melupakan masalahnya kalau sudah bermain dengan keponakannya, putra kecil Indah dan Arfiq.
"Ayo, aku juga belum mengecup pipi ponakan kamu. Soalnya abang kamu natap orang yang dekati anaknya kaya waspada gitu. Takut anaknya kenapa-napa. Aku sampai merinding loh, lihat tatapannya yang setajam burung elang," ucap Zahra, memeluk badannya karena sedikit bergidik. Padahal dia sudah tahu dan paham abang Ruian seperti apa.
Ruian tertawa mendengar ucapan Zahra. "Abangku memang kaya gitu. Wajar sih, ponakan aku kan anak pertama mereka."
"Iya juga ya, Mas Arfiq juga pelit banget waktu Arash baru lahir. Jangankan digendong orang lain. Dicium Kak Aden sama Kak Libra aja aura menyeramkannya langsung keluar ke ruangan Mbak waktu itu."
Kemudian mereka sama-sama tertawa karena mempunyai kakak yang hampir sama.
Karena ini hari Minggu, tentu saja Badai ada di rumah. Dia lebih memilih di kamar untuk mengerjakan sesuatu yang tidak harus dikerjakan. Ya, demi mencari kesibukan lain, dia sampai membersihkan kamar tidurnya. Membereskan baju dan beberapa kardus berisi berkas perusahaan yang dipegang olehnya.
Setelah kejadian di rumah sakit, dia belum bertemu dengan Zahra sama sekali. Bahkan saat dia mengharapkan Zahra datang bersama istri sang atasan ke kantor, nyatanya gadis itu tidak datang. Biasanya jangan ditanya. Meskipun pas datang tidak bareng Indah, tapi tidak lama kemudian Zahra akan datang sekalian menjemput kakak ipar dan ponakannya pulang. Kali ini tidak, karena Indah pulang bersama supir keluarga Hadiutomo.
Pikirannya bercabang karena ada dua kemungkinan. Zahra di rumah saja atau gadis itu pergi bersama Ruian.
Badai menggelengkan kepalanya untuk menyangkal pikiran itu. Namun kemudian, mau Zahra pergi bersama Ruian atau tidak bukan urusannya. Salah siapa dia menjadi seorang yang pengecut, tidak berani mengatakan cinta ke Zahra. Apa yang dikatakan Ruian benar, bahwa dia tidak bodoh, kok. Dia tahu dengan jelas, kalau Zahra mencintainya sampai sekarang. Sama seperti hatinya yang terpatri hanya ada nama Zahra Septiani Hadiutomo.
"Nak, Ibu boleh masuk?" Di pintu, kepala ibu Badai menyembul sedikit masuk ke dalam kamar anak tunggalnya.
Badai mengernyit heran. "Loh, Ibu kalau mau masuk, ya masuk saja, Bu. Nggak ada yang ngelarang, kok."
Sang ibu tersenyum tipis, lalu masuk ke dalam setelah menutup pintu. "Persediaan barang bulanan sudah hampir habis, Nak."
Badai menghentikan kegiatannya yang sedang mengelap patung kecil yang terbuat dari keramik, lalu menoleh ke arah sang ibu yang sedang duduk di tepi ranjang miliknya.
"Ya sudah, ayo kita pergi belanja, mumpung Yoga ada di rumah. Kita beli keperluan yang dibutuhkan Ibu,'' kata Badai, kemudian kembali mengelap.
"Ibu tidak enak, karena kamu sedang sibuk."
Badai terkekeh kecil. "Sesibuk apapun, kalau Ibu butuh Yoga, akan Yoga dahulukan kepentingan Ibu dulu. Lagipula kerjaan ini bisa Yoga tunda sebentar. Nanti tak lanjutkan lagi kalau sudah tidak ada kerjaan."
Sang ibu tersenyum. "Terima kasih, Nak. Kalau begitu nanti kasih tahu Ibu kalau kamu sudah selesai dan siap pergi. Ibu catat dulu apa saja yang harus kita beli."
"Baik, Bu," jawab Badai mengangguk.
Karena permintaan sang ibu, Badai menjeda pekerjaannya, lalu bersiap-siap mandi dan akan berganti baju santai.
Setelah siap, Badai mengambil kunci mobil, ponsel dan dompet, kemudian pergi keluar kamar.
Ternyata tidak sesuai rencana, karena Badai malah pergi bersama Salwa untuk berbelanja bulanan. Sang ibu tadi bilang, beliau ada urusan ke tetangga sekitar. Tadinya Badai ingin menunda pergi berbelanja karena sang ibu tidak ikut dan ibunya tidak ada yang jaga nanti kalau dirinya pergi. Namun sang ibu bilang, kalau nunggu Minggu depan, takutnya persediaan barang bulanan benar-benar habis dan tidak sempat membelinya. Mungkin ini sedikit memaksa Badai, tapi dia memang tidak bisa berkutik kalau sang ibu sudah menyuruhnya.
Akhirnya, Badai hanya bisa memasang wajah datar saat harus berbelanja dengan Salwa. Sang ibu juga berpesan, jalan-jalanlah dulu ajak Salwa kemana atau pergi menonton ke bioskop. Beliau bilang, Salwa belum pernah menonton bioskop secara langsung. Kalau mau menonton film di ponsel saja.
Seperti yang kalian tahu, Badai juga belum pernah menginjakkan kaki di gedung bioskop atau tempat seperti itu. Makanya dulu pas sang atasan minta tolong carikan tiket bioskop untuk kencan bersama istrinya, dia seperti orang bodoh karena tidak tahu menahu bagaimana caranya.
"Mas, kalau Mas tidak mau pergi menonton film, tidak apa. Kita belanja saja, lalu pulang ke rumah," ucap Salwa sedikit tidak enak karena melihat raut wajah Badai.
"Hem, baiklah."
Salwa memalingkan wajahnya, kemudian tersenyum getir. Entah kenapa juga hatinya menyukai pria seperti Badai, yang tidak ada kesan baiknya. Wajah datar dan jarang senyum, sudah begitu nada bicaranya juga dingin. Dia tidak tahu apakah hanya kepadanya saja, pria di sampingnya bersikap seperti itu atau kepada yang lain pun juga iya.
"Kita menonton bioskop saja dulu, baru belanja."
Ucapan Badai membuat hati Salwa sedikit berbunga-bunga. Ya, setidaknya ada harapan untuknya. "Terima kasih, Mas."
Padahal Badai memutuskan seperti itu bukan tanpa alasan. Dia takut sang ibu kecewa saja kalau tahu mereka tidak jadi menonton. Demi sang ibu. Lagipula apa salahnya membalas kebaikan Salwa yang telah menjaga sang ibu selama dia bekerja. Namun, untuk masalah hati, jelas dia belum bisa memberikan itu ke Salwa.
Badai dan Salwa sampai di tempat swalayan terbesar di Jakarta. Kebetulan sekali ada gedung bioskop di lantai atas, jadi tidak perlu repot-repot pindah tempat ke tempat lain.
Tidak seperti kebanyakan pasangan lainnya yang bergandengan tangan, Badai dan Salwa malah jalan sendiri-sendiri. Badai mengekor di belakang Salwa, sembari sesekali mengecek ponsel takut ada pesan penting dari seseorang.
"Wah, kebetulan sekali kita bertemu di sini, Pak Badai."
Badai mendongakkan kepalanya, setelah mendengar suara seseorang yang kenal dengannya. Kemudian mata Badai, membulat setelah tahu siapa orangnya. Apalagi melihat gadis cantik yang berdiri di samping pria itu.
***