Badai memang datang ke rumah Hadiutomo untuk menjenguk Zahra sekaligus mengambil berkas kantor sang atasan yang tertinggal.
Zahra menyerahkan gelasnya pada Badai, yang ingin membantunya mengambil air minum.
"Terima kasih, Kak," ucap Zahra dengan pandangan menunduk dengan pipi mulai memerah.
Padahal hanya perhatian kecil saja yang Badai berikan, tapi pipinya langsung memerah menggemaskan. Coba kalau Badai menggunakan kata cinta atau rayuan receh, sudah pasti Zahra akan pingsan karena meleleh.
"Ini." Badai menyerahkan air putih ke Zahra. Kemudian matanya melirik kaki Zahra yang sudah tidak bengkak lagi.
"Kak Badai mau jenguk aku?" tanya Zahra penuh harap, kalau pria tampan berkacamata yang dia cintai akan jawab seperti itu.
Badai berdehem sekali. "Anggap saja seperti itu, kebetulan tadi Kakak emang mau mengambil berkas bapak yang ketinggalan di rumah."
Zahra seketika cemberut. Padahal tinggal bilang saja seperti itu, pakai alibi mau mengambil berkas sang kakak. Iya tahu, Badai memang bekerja untuk sang kakak, tapi apa salahnya jawab jujur.
"Bagaimana kakimu?"
"Seperti yang Kakak lihat, aku sudah bisa berjalan meski pelan-pelan."
"Syukurlah kalau begitu. Kakak senang kalau kaki kamu sudah baikan," ucap Badai dengan seulas senyum. Namun setelah Zahra menatapnya tanpa berkedip, dia kembali ke mode datar. Bukan, bukan maksudnya tidak mau ditatap seperti itu oleh Zahra. Hanya saja dia tidak mau Zahra semakin berharap akan dirinya, meskipun dia juga ingin bersama gadis itu. Masalahnya, banyak sekali halangan untuk cinta mereka terutama restu. Seperti yang kalian tahu, orangtua mereka belum tentu memberi restu terutama sang ibu, yang menginginkan Salwa sebagai calon istrinya.
Zahra mengangguk kecil, sembari menggigit bibir bawahnya. Sebenarnya ini bukan jati dirinya sekarang, karena sedari dulu dia selalu mengganggu Badai dan selalu mengklaim kalau Badai calon suami masa depannya. Masih ingat tidak? Saat Zahra bilang apakah orangtuanya setuju kalau Badai jadi calon suaminya di rumah Indah? Sejak saat itu Zahra ingin mengubah imagenya, dari gadis yang tidak tahu malu ke gadis yang disukai Badai.
"Kakak udah makan?"
"Udah, kok, di kantin kantor."
"Owh."
"Badai," panggil Indah dari dalam sembari menenteng berkas yang diminta sang suami. Cukup lama mencari karena Arash sedikit rewel, dan tidak mau terlepas dari gendongan.
Badai yang tadi duduk berdampingan dengan Zahra beranjak berdiri. Tidak mungkin kan, dia duduk terus? Lagipula berkas itu sedang ditunggu sang atasan di kantor.
"Maaf ya, sedikit lama," ucap Indah sedikit bersalah, sembari memberikan berkas yang sang suami minta. Pasti sang suami sedang menunggu berkas itu sekarang. Namun bagaimana lagi, putra kecil mereka sedang tidak mau ditinggal barang sejenak oleh mommy-nya. Tadi saja sang mami mertua sedikit kewalahan membujuk Arash yang tidak mau lepas dari gendongannya.
"Tidak apa-apa, Bu," jawab Badai dengan senyum kecil, lalu mengambil yang diberikan istri atasannya.
Zahra melihat wajah kakak iparnya yang kelelahan menjadi kasihan. "Mbak capek banget ya?"
Indah tersenyum kecil, lalu menggelengkan kepalanya pelan. Capek atau tidak capek mengurus sang anak, memang itu sudah tugasnya. Lagipula Arash tidak setiap hari sakit. Cuma mungkin sedang pergantian cuaca jadi banyak orang yang sakit. Jangankan anak kecil, yang orang besar saja gampang terkena sakit kalau memang sudah waktunya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Bu," pamit Badai sedikit memunggukkan badan ke Indah.
"Hati-hati, Kak Badai," kata Zahra dengan senyum mengembang. Mungkin orang yang melihat Zahra akan bilang, 'bodoh' karena sudah disakiti tetap saja berlaku baik ke Badai. Ini memang caranya. Cara ampuh untuk sedikit menghilangkan rasa sakit itu, dan dia pikir buat apa membenci orang yang dicintainya. Biarkan saja seperti ini. Semoga saja dengan sifatnya yang begini, Badai akan menyakinkan diri kalau dirinya bisa menghadapi kedua orangtua, terutama orangtuanya. Setiap orangtua akan menginginkan kebahagiaan anak-anaknya 'kan? Begitu pula Zahra yang berharap papi dan maminya mengerti kalau bukan Ruian yang dia cinta, tapi Badai.
Indah mengelus lembut lengan Zahra yang sampai sekarang masih menatap punggung lebar Badai.
"Eh, Mbak." Zahra tersenyum kikuk. "Apa Aya kelihatan sekali mengharapkan cinta Kak Badai?" tanya Zahra sedikit malu-malu. Meskipun kakak iparnya sudah tahu, tapi tetap saja malu. Kesannya memang dia yang begitu mencintai dan mengharapkan Badai menjadi pendamping hidupnya nanti.
"Mbak rasa itu hal yang wajar. Karena kamu, eh ralat, kalian saling mencintai dan berharap suatu hari nanti akan bersama. Namun Mbak mau berpesan dengan kamu, selain mengharapkan cinta Badai, persiapkan diri untuk segala kemungkinan yang terjadi nanti di depan sana. Mbak tidak menakuti kamu, Ya. Sebab kita tidak tahu yang terjadi nanti. Takutnya di saat kamu sangat sangat sangat mencintai Badai malah berakhir menyakitkan karena tidak bisa bersama," seloroh Indah bijak. Indah bukan tanpa alasan bicara seperti itu, karena memang punya firasat yang tidak enak seperti luka yang akan terbuka atau dipaksa dibuka sebelum cinta adik iparnya berakhir bahagia dengan seseorang.
Zahra menelaah ucapan kakak iparnya. Mencoba mencerna setiap kata demi kata, dan apa yang diucapkan tadi memang ada benarnya. Apa dia mulai mempersiapkan diri dari sekarang? Mengingat Badai belum mengungkapkan perasaan cintanya dan datang meminta restu ke orangtuanya pasti ada alasan lain. Dan dia tidak tahu apa itu. Hiks
"Mbak masuk ke dalam dulu. Kamu jangan lama-lama di sini. Istirahat kalau sudah capek."
"Terima kasih, Mbak," ucap Zahra tulus. Bersyukur karena setelah sang kakak menikah, dia ada teman di rumah. Mana baik sekali melebihi sang kakak.
Beberapa hari kemudian...
Hari ini Badai sengaja pulang cepat karena ada jadwal membawa sang ibu kontrol ke rumah sakit. Beruntung sang atasan tidak terlalu sibuk hari ini, jadi dia bisa tepat waktu untuk datang ke sana.
Setelah keluar dari mobil, dia melihat Salwa yang sedang duduk di teras depan. Mungkin sedang menunggunya untuk berpamitan pulang atau bagaimana, dia pun tak paham.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, Mas," jawab Salwa dengan senyum mengembang. "Mas, hari ini ibu ada jadwal kontrol."
"Saya tahu, makanya saya pulang cepat untuk membawa ibu pergi," ucap Badai datar, kemudian masuk ke dalam rumah. Namun sebelum masuk ke kamar, sang ibu juga keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi. Mungkin sebelum dirinya sampai rumah, sang ibu sudah bersiap-siap.
Badai mencium tangan sang ibu, dan setelah itu ingin membuka pintu kamar.
"Nak, Salwa akan ikut kita ke rumah sakit."
Badai mengurungkan gerakannya. "Loh, kenapa, Bu?"
"Ya nggak apa-apa. Ibu cuma minta ditemani Salwa saja, Nak. Lagipula cepat atau lambat, Salwa akan menjadi anggota keluarga kita, bukan?"
Badai tersenyum tipis. Pembahasan tentang Salwa akan menjadi calon istrinya, membuat dirinya sedikit jengah. Memang ini salahnya karena dia belum bilang tidak setuju atau tidak mau menikah dengan Salwa. Dia takut sang ibu sakit hati karena menolak keinginannya.
"Yoga masuk dulu, Bu."
"Baiklah. Kamu jangan lama-lama ya? Kami menunggu di depan, Nak."
"Baik, Bu."
Setelah menunggu hampir sejam, Badai keluar dengan kaos polo berwarna zebra berkerah dan celana hitam jeans hitam.
Mereka bertiga masuk mobil. Badai tetap menyetir, sang ibu menyuruh Salwa duduk di depan bersama anaknya. Sementara sang ibu lebih memilih duduk di belakang mereka.
Sedari dulu Badai memang pendiam, apalagi kalau dengan Salwa. Raut wajahnya tidak menunjukkan apapun. Datar seperti papan triplek. Mau bagaimana lagi, ini adalah bentuk ketidaksetujuannya kalau menikah dengan Salwa.
Setelah sampai di rumah sakit, mereka bertiga turun. Salwa langsung menuju ke ibu Badai dan membantu wanita paruh baya itu turun dari mobil. Mereka sudah seperti pasangan ibu dan anak. Apalagi keduanya sama-sama berhijab. Itulah salah satu alasan, kenapa ibu Badai begitu menyukai Salwa.
Badai berjalan di belakang mereka. Sedikit terdengar kalau sang ibu bercerita bagaimana dulu beliau ingin berobat, tapi tidak ada biaya. Beruntung ada keluarga atasan Badai yang membantu mereka.
Diam-diam Badai tersenyum. Terlalu banyak keluarga Hadiutomo membantu keluarganya dari keterpurukan.
Setelah sampai di tempat sang ibu untuk kontrol dengan dokter biasa, karena ada Salwa, Badai lebih memilih menunggu di luar. Tidak disangka ada seorang pria tampan mendatanginya, membuat Badai mendongak.
"Bisa kita bicara?" pintanya dengan raut wajah datar, malah sedikit mengetat seperti menahan amarah.
"Baiklah," jawab Badai datar seperti biasa.
Mereka pun beralih ke tempat yang lumayan sepi dari situ. Setelah sampai, pria itu menarik kerah Badai karena emosinya sudah tidak bisa dibendung dan mendorongnya sampai mentok ke dinding rumah sakit.
"Kalau ini alasan Anda menjadi pengecut, karena ada yang lain dan tidak berani mengatakan cinta ke Zahra, sebaiknya cepat katakan. Jangan bikin anak gadis orang berharap terlalu tinggi," desisnya. "Saya adalah orang pertama yang akan menghancurkan hidup Anda, kalau Anda berani menyakiti hati Zahra."
"Ruian." Panggil seseorang membuat keduanya menoleh ke sumber suara.
***