Heart Choice : Bab 7

1332 Words
"Loh, bukannya kita sudah berpacaran? I mean, pura-pura, Yan," ujar Zahra setelah terdiam beberapa menit dan menyelami iris mata Ruian. Tidak lama kemudian, Zahra tertawa canggung, sembari melepaskan tangannya dari Ruian. "Lagipula, kamu nggak pantas tahu nggak dalam mode serius begini." Zahra kembali melanjutkan ketikannya dan berusaha tidak membahas itu lagi. Bukannya apa, persahabatan dia dan Ruian sudah terjalin lama sekali. Jelas tidak mau cuma gara-gara dia menolak pernyataan cinta Ruian yang mana itu benar apa tidak, membuat hubungan mereka renggang. Lagipula bukannya Ruian sudah tahu hatinya itu sudah tertulis nama siapa, Badai Prayoga. Meskipun kalian tahu sendiri bagaimana sifat dan sikap Badai, namun dirinya tidak bisa menghilangkan nama itu dari hatinya. Menyebalkan memang, tapi mau bagaimana lagi. Respon Zahra seperti itu, membuat Ruian juga ikut tertawa. Tawa yang miris. Seandainya Zahra tahu kalau dia tidak berbohong, apa responnya tidak akan seperti itu? Maksudnya hubungan mereka selama ini tidak lebih dari persahabatan. Namun dia tadi benar-benar serius, kok, menyatakan cinta ke Zahra. Bukan bercandaan apalagi berbohong. No! Itu memang hatinya. Akan tetapi melihat respon Zahra tadi, membuat dia berpikir berarti gadis itu tidak memberikan ruang untuk dirinya. Hati Zahra hanya untuk Badai. Itu yang dia tangkap saat ini. Namun, bukankah Tuhan bisa membolak-balikkan hati manusia? Berharap dan berdoa kayanya boleh, deh? Siapa tahu akhir dari kisah cinta ini, dia bisa bersatu bersama Zahra. Who know, 'kan? "Tolong jangan bercanda masalah hati, Yan? Aku nggak mau persahabatan kita putus," ucap Zahra pelan, bagaikan pisau belati yang sedikit menggores hati pria bernama lengkap Ruian Abdi Dewangsa itu. "Ya ampun ... tadi aku cuma bercanda doang, Aya." Lagi-lagi Ruian tertawa. Ya, tertawa. Tertawa karena mencoba menghalau kesedihannya. "Tuh kan, aku pikir juga apa. Pasti kamu cuma bercanda? Seperti aku itu jadi kelinci percobaan kamu, kaya belajar gitu untuk menyatakan cinta ke cewek lain. Bye the way ... siapa sih, Yan, ceweknya?" 'Kamu, Aya, kamu!' batin Ruian. 'Tidak bisakah kamu melihat kalau tadi itu bukan bercanda?' "Adalah pokoknya, dia gadis yang bisa membuat aku jatuh cinta pertama kali," ucap Ruian dalam seraya menatap mata Zahra. Zahra yang ditatap seperti itu, hanya berdehem canggung. "Oh ya udah, semoga beruntung ya, Yan, dapatkan hati dia." Ruian mengangguk dan berdoa dalam hati apa yang didoakan Zahra akan jadi kenyataan. Tinggal menunggu waktu saja. Zahra dan Badai melupakan obrolan itu, terus beralih ke obrolan lainnya. Mereka membahas tentang mata pelajaran kuliah. Zahra akui, Ruian adalah paket sempurna sebagai seorang cowok. Sudah pintar, kaya, tampan dan baik. Namun sayangnya, selama kenal dengan Ruian, dia tidak bisa menaruh perhatian kepada cowok itu. Padahal kalau gadis lain diperlakukan sedemikian rupa oleh Ruian, pasti bakalan tersanjung dan ingin jadi pacarnya. Sementara dirinya? Entah kenapa dia malah tidak bisa menaruh perasaan lebih dari teman. Apapun itu, dia memang tidak bisa kehilangan Ruian sebagai teman. Karena Ruian bakalan sampai sore ada di rumah Hadiutomo, dia ikut makan siang bersama keluarga Zahra. Cuma Arfiq saja yang tidak ada di situ. Ya tahu sendiri kan, pekerjaan Arfiq sampai sore. Jadi Indah membawakan bekal untuk sang suami tercinta buat makan di kantor. Hari ini dia tidak datang karena Arash sedikit demam semalam. Perhatian Ruian terhadap Zahra tidak luput dari mata Pak Arlan dan Bu Mega. Mereka sama-sama tersenyum saat Ruain membantu Zahra berjalan ke ruang makan. Meskipun cukup heran karena wajah putri bungsu mereka sedikit cemberut. Ya bagaimana Zahra tidak cemberut? Orang tadi ingin berjalan sendiri tanpa bantuan Ruian, malah cowok itu memaksa membantunya. Kakinya sudah tidak sakit lagi kok? Dia kan cuma terkilir bukannya patah tulang. Bu Mega ikut tersenyum melihat interaksi putri dan anak sahabatnya. Sangat cocok. Seandainya mereka berdua meminta restu, pasti beliau orang pertama yang mengatakan setuju tentang hubungan mereka. Aw, beliau jadi tak sabar akan kedatangan anggota baru lagi. Berbeda dengan Bu Mega, Pak Arlan justru tidak menangkap binar cinta di mata putrinya untuk Ruian. Zahra pernah bilang kalau hubungannya dengan Ruian hanya sebatas teman. Nah, seperti itu yang beliau tangkap. Namun semua terserah sang putri nanti. Bisa saja kan beliau salah tangkap? "Hallo baby Arash," sapa Ruian, setelah membantu Zahra duduk di sebelah Bu Mega. "Hallo Uncle Ruian," sapa Indah balik menirukan suara anak kecil, seraya melambaikan tangan Arash. "Arash kenapa, Mbak?" tanya Ruian, karena Arash terlihat diam saja, tidak mengoceh seperti biasanya. "Semalam Arash demam, jadi nggak bersemangat ya, Nak?" Indah mengelus kepala Arash lembut. Kata sang mami mertua, Arash kalau demam seperti daddy-nya waktu kecil. Diam saja tidak mau berbicara, cuma butuh pelukan dan perhatian yang besar. "Tapi sekarang sudah mendingan kan, Mbak?" tanya Zahra menimpali. Dia menjadi merasa bersalah tidak membantu kakak ipar dan ponakan kesayangannya karena keadaan. "Alhamdulillah, sudah mendingan, kok. Arash kan anak kuat, iya kan, Sayang?" jawab Indah, diakhiri dengan mencium kening putra kecilnya. "Syukurlah kalau begitu," gumam Zahra. Mereka memulai makan. Harusnya kan seorang wanita yang melayani pria makan, ini sebaliknya. Karena Ruian yang membantu Zahra mengambil lauk-pauk yang ada di meja, meskipun Zahra kebanyakan menolak. Dari dulu Ruian memang sangat perhatian ke Zahra. Cuma Zahra yang menganggap itu biasa saja. Perhatian ke teman biasa. Dan wajar Ruian perhatian, karena melihat sakit. Seperti itu. "Yan, kamu tahu nggak? Seandainya kalian meminta restu untuk jenjang pernikahan, Tante adalah orang pertama yang akan mengatakan setuju." "Maksudnya, Tante?" Ruian masih tidak paham, siapa 'kalian' yang dimaksud oleh Bu Mega. "Kamu dan Aya. Tante sangat setuju kalau hubungan kalian sampai ke pernikahan." "Mami, Ruian itu terlalu sempurna untuk aku yang cengeng, manja, nggak bisa masak. Jadi jangan memaksanya untuk itu. Lebih baik cari yang lain saja, jangan aku," ucap Zahra, kentara kalau dia memang tidak setuju dengan usulan sang mami. Ruian tersenyum kecut, meskipun sekarang dia sudah mengantongi restu, namun malah si ceweknya yang tidak mau. "Loh, manusiawi, Sayang. Tidak ada manusia yang sempurna di muka bumi ini. Namanya manusia tapi banyak kekurangannya. Lagipula sifat kamu pasti bisa berubah seiring berjalannya waktu, terutama ketika kamu sudah menjadi seorang ibu." Zahra mendesah panjang. Dia yang akan menjalankan bukan sang mami, kenapa maminya terkesan memaksakan? Ruian yang melihat raut wajah Zahra jadi tidak enak. "Kami hanya bersahabat, Tante. Kebetulan aku memang sudah mempunyai pujaan hati." "Oh iya kah?" Ruian mengangguk kecil dengan senyum kecil. Senyum yang dipaksakan agar Zahra tidak kesal lagi dengan maminya. "Yah...," gumam Bu Mega sedikit kecewa. "Sudah, lanjutkan makan kalian," ucap Pak Arlan, untuk menyudahi obrolan itu. Apalagi sekarang mereka sedang makan. Tidak etis seseorang yang sedang makan sembari sesekali berbicara. Setelah makan siang, Ruian dan Zahra kembali meneruskan pekerjaan mereka. Ruian tampak sabar mengajari Zahra yang masih belum paham. Padahal baru makan, Bu Mega sudah membawakan cemilan dan minuman untuk mereka. Ya, beliau memang berharap kalau hubungan anaknya bisa lebih dari itu. Ternyata sekitar jam dua, Ruian ada telepon masuk dari kakaknya. Sang kakak mengabarkan kalau istrinya lahiran dan menyuruhnya datang ke rumah sakit sekarang. Mata Ruian berbinar mendapatkan kabar baik itu. Setidaknya bisa mengurangi rasa sakit di d**a, karena kedatangan sang ponakan yang baru lahir ke dunia ini. Dengan terpaksa Ruian pamit ke Zahra dan semua yang ada di situ. Mendengar kabar kakak ipar Ruian melahirkan, Indah juga bahagia. Mungkin setelah Arash sehat akan datang menjenguk ke rumah sakit bersama sang suami. Tak disangka, dalam perjalanan keluar dari rumah Hadiutomo, Ruian bertemu seseorang yang baru saja datang sembari menenteng parcel buah. Mungkin ia akan menjenguk Zahra. Orang itu membungkukkan badan sedikit ke Ruian, tanpa banyak bicara atau berwajah datar seperti biasa. Sementara Ruian lebih memilih diam, bahkan melengos tidak peduli. Setelah meminta izin masuk ke dalam rumah, ia pun masuk. Ia melihat gazebo tempat Zahra masih duduk di situ. Tanpa sadar ia tersenyum, karena melihat Zahra sedang mengacak-acak rambut. Zahra memang kesal karena tugas yang diberikan sang dosen cukup sulit. Dia ingin mengambil air putih karena di jar sudah habis. "Biar Kakak yang ambil airnya." Zahra mendongak siapa yang tiba-tiba datang dan mengambil gelasnya. Entah kenapa setiap kali bertemu dengan Badai Prayoga, matanya jadi berkaca-kaca. Seperti seorang gadis sangat berharap ingin bersama dengan pria berkacamata itu. "Itu adalah orang yang memiliki cinta di hatinya," gumam seseorang yang tidak sengaja melihat Zahra dan Badai bertatapan mata. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD