Heart Choice : Bab 6

1323 Words
Diam-diam Badai mengeratkan tangannya di stir mobil. Jadi maksud dari pemuda yang tiba-tiba datang ke mobilnya, ingin bertanding secara halus untuk memperebutkan hati Zahra? Dan siapa yang bisa menjadi pendamping gadis itu kelak? "Itu saja. Anda hati-hati di jalan." Setelah mengatakan itu Ruian keluar dari mobil Badai. Badai terdiam beberapa saat, lalu mulai melajukan mobilnya untuk pulang ke rumah. Ruian bilang seperti itu supaya Badai mau maju dan berhenti menyakiti hati Zahra. Namun kalau Badai tetap menjadi pengecut, dia akan berusaha mengambil hati Zahra. Ini tidak main-main. Dia sengaja membiarkan Badai dulu untuk maju, dan melihat apakah bisa membuat Zahra bahagia apa tidak. Setelah mobil Badai hilang dari pandangan, Ruian kembali masuk ke dalam rumah Hadiutomo. Arfiq bilang, Zahra sedang mandi. Ruian terdiam menunduk dengan perasaan tidak menentu. Entah apa yang dilakukan tadi adalah langkah yang benar atau tidak. Seumpama Zahra tahu kalau tadi dirinya bilang seperti itu ke Badai, apa reaksinya? Sementara Badai keluar dari mobil setelah memarkirkan di depan halaman rumahnya. Badai masuk ke rumah dalam langkah dan raut wajah datar. Dia masih kepikiran omongan Ruian saat di mobil tadi. Tidak rela? Jelas lah tidak rela. Meskipun dia pengecut seperti yang dibilang Ruian, tapi dirinya tahu hati Zahra hanya untuknya. Kalau saja sang ibu tidak menaruh harapan ke Salwa, sudah dari dulu dia mengajak Zahra pacaran bahkan bisa menikah. Ya, lebih dari satu kendalanya selain restu sang ibu, yaitu Salwa. "Nak, mau minta tolong antar Ibu kondangan ke Pakdenya Salwa ya? Ibu nggak enak kalau tidak datang," pinta sang ibu melihat anaknya baru saja pulang dari olahraga. "Kapan, Bu?" "Nanti siang, Nak. Ibu minta tolong sama kamu ya? Kamu nggak ada acara 'kan?" Badai tersenyum, lalu menggeleng pelan, "Nggak ada kok, Bu." "Terima kasih, Nak." Badai mengangguk dengan senyuman, kemudian pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Tubuhnya lengket karena keringat. Siang hari... Sesuai keinginan sang ibu, Badai mengantarkan beliau ke tempat Pakdenya Salwa. Badai yang memiliki wajah tampan dan datar, bertambah daya tariknya karena sekarang memakai batik berwarna hitam dengan motif warna putih lengan panjang. Badai tidak curiga apapun ke sang ibu. Toh, hanya kondangan saja kan? Bukan ke acara lainnya. Padahal itu salah satu rencana sang ibu agar Badai semakin dekat keluarga Salwa. Setelah mereka turun dari mobil ternyata sudah banyak yang datang mungkin itu keluarga besar Salwa. Badai menuntun sang ibu masuk ke gedung resepsi pernikahan yang disewa keluarga gadis itu. Salwa melihat Badai dan ibunya sudah datang, berjalan dengan senyum mengembang menghampiri mereka berdua. Melihat Salwa yang datang, Badai mulai memasang wajah datar. Berbeda dengan sang ibu yang sama seperti Salwa, tersenyum lebar. Bagi beliau, Salwa adalah calon menantu idaman dan istri yang cocok untuk anak tunggalnya. Salwa menyalami tangan ibu Badai, dan berjabat tangan dengan Badai juga. "Apa kabar, Mas?" "Baik," jawab Badai singkat, tanpa senyum dan lainnya. Badai menoleh ke sang ibu, setelah beliau menabok pelan lengannya. "Nak, kurang-kurangi wajah datarnya. Setidaknya senyum gitu loh. Kasihan Salwa sudah cantik begini dan menyambut kita dengan senyuman, masa respon kamu seperti itu," tegur sang ibu, namun Badai masih diam saja. Jujur, meskipun menurut sang ibu Salwa gadis yang sempurna untuknya, tapi tidak bisa sama sekali menggeser nama Zahra dari di hatinya. Ok lah, kalau sebagai teman Badai akan menerima Salwa. Namun yang lebih dari itu, dia belum sampai ke tahap sana. Dia sendiri tidak mengerti. Salwa melihat apa dalam dirinya. Kenapa gadis itu biasa menaruh perasaan terhadapnya. Sebab selama ini, dia selalu berwajah datar alias tidak ramah. Jangankan menyapa duluan, Salwa bertanya saja dia jawab sesingkat mungkin. Kalau kalian tanya kenapa dirinya seperti itu? Sebab dia tidak mau memberi harapan pada Salwa. Takutnya kalau dia memang sering berkomunikasi dengan Salwa, malah disalah artikan oleh gadis itu. "Tidak apa-apa, kok, Bu. Mungkin Mas Yoga sedang capek," ucap Salwa masih dengan senyuman. Tidak masalah wajah Badai sedatar keramik. Dia tinggal semakin berusaha untuk mendapatkan hati Badai. Toh, ibunya sudah setuju kok, kalau mereka menikah. Itu memang harapannya. Salwa mengambil alih di samping ibu Badai. Mereka berjalan berdampingan, sementara Badai mengekor di belakang mereka. Kemudian Badai mengambil ponsel yang ada di saku, takut ada pesan dari sang atasan atau yang lainnya. Terutama dari Zahra. Badai khawatir dengan Zahra sekarang. Ingin kesana, ini hari Minggu. Dia tidak bisa datang karena tidak ada kerjaan yang diperintahkan sang atasan. "Owh ... ini calon suami kamu, Salwa?" celetuk ayah Salwa, membuat semua yang ada di situ terfokus pada Badai. Kening Badai berkerut, 'calon suami?'. Dia melihat sang ibu yang tersenyum lebar. "Iya, Pak. Saya berharap mereka berjodoh, soalnya saya sudah nyaman sekali dengan Salwa," jawab ibu Badai. 'Masalahnya aku yang nggak nyaman, Bu!' jerit Badai dalam hati. Namun, Badai tidak bisa menjawab apapun sekarang. Dia hanya tersenyum tipis saja. "Kalian memang cocok sekali." Berbeda dengan Salwa yang menunduk, dan sesekali curi-curi pandang ke Badai. Reaksi Badai juga sebaliknya. Wajahnya kian datar dan dengan pandangan ke depan. Seperti tidak terpengaruh oleh obrolan itu. Badai pamit menunggu sang ibu di luar saja. Di dalam membuatnya tidak nyaman. Selain harus berdesakan dengan para tamu undangan, di situ juga sang ibu terus menyuruhnya mengobrol dengan Salwa. Sudah dia tekankan dalam hati, kalau dia tidak akan memberi harapan pada Salwa. Setelah menghadiri kondangan, selama di perjalanan Badai dan ibunya sama-sama terdiam. "Nak, Ibu hanya pengen yang terbaik untuk kamu. Ibu pikir Salwa cocok dengan kamu. Bisakah kamu mencoba menjalin hubungan dengan dia? Ibu yakin kamu pasti akan bahagia nanti. Terus ternyata bukan Ibu saja yang melihat kalian cocok, tapi kedua orangtuanya Salwa juga. Lalu tunggu apa lagi?" "Bu, Yoga hanya bisa bilang kalau jodoh tidak akan kemana, kok," jawab Badai sehalus mungkin. Dia tidak mau menyakiti ibunya dengan bilang tidak menaruh perasaan ke Salwa. "Ibu berdoa semoga kalian berjodoh." Beberapa hari kemudian.... Karena kaki Zahra masih sakit, jadi gadis itu tidak berangkat kuliah. Dia belajar lewat laptop dan beberapa buku. Jangan tanya kenapa Zahra tidak ada yang menjenguknya ya? Karena di kampus memang Zahra tidak ada teman cewek. Entah kenapa mereka tidak mau berteman dengan Zahra. Ada yang bilang, status sosial mereka berbeda, dan juga Zahra banyak yang tidak suka karena dengan dengan Ruian. Si Casanova kampus mereka. Zahra melihat kakinya sebentar, lalu mendesah. Memang benar kata sang kakak, kalau dia tidak bakat pergi joging. Baru pertama kali joging, sudah kena musibah seperti ini. Lalu kemudian Zahra tersenyum karena mengingat kekhawatiran Badai. Hanya seperti itu sudah membuatnya bahagia. "Kenapa senyam-senyum sendiri?" Zahra sedikit terkaget. Kemudian menghembuskan napas, melihat kakak iparnya datang. "Mbak, Arash mana?" tanya Zahra, karena Indah tidak membawa Arash. Ponakan kesayangannya. "Sama opanya, mereka sedang memberi makan ikan," jawab Indah dengan seulas senyum. "Owh...." Sang papi memang sudah tidak berangkat lagi ke perusahaan setelah kelahiran Arash. Semua urusan kantor diserahkan kepada kakaknya. Kalau benar-benar penting dan butuh persetujuan sang papi saja, baru ada orang kantor datang ke rumah. Termasuk Badai yang sering bolak-balik datang ke rumah Hadiutomo. "Mami jadi pergi, Mbak?" "Hem, beliau sudah pergi sepuluh menit yang lalu," jawab Indah. Mami mertuanya sedang keluar untuk berbelanja bulanan. Biasanya Indah akan ikut bersama Arash, tapi hari ini tidak. Ada Zahra di rumah, takut meminta pertolongan nanti. "Kamu kenapa tadi senyam-senyum sendiri?" Zahra menggelengkan kepalanya pelan. Sakit sekali loh ... mengingat perasaan mereka (dirinya dan Badai) saling menyukai tapi belum bisa bersama. Indah mengajak mengobrol yang lainnya, daripada melihat raut kesedihan di wajah adik iparnya. Mereka berbicara dunia per-Kpopan yang sama-sama disukai. Setelah hampir dua jam berbincang-bincang. Indah masuk ke dalam rumah setelah Ruian datang, sekaligus ingin membantu mami mertuanya untuk menata belanjaan. Kebetulan sekali beliau datang barengan dengan Ruian. "Aya," panggil Ruian. "Apa, Yan?" tanya Zahra tanpa menatap mata Ruian. Dia sedang mengetik tugas di laptop. "Bisakah kamu sedikit menaruh perasaan ke aku? Bukan sebagai seorang teman, tapi lebih dari itu?" Zahra menghentikan jari jemarinya yang sedang menari di atas laptop. Dia menatap mata Ruian yang masih menatapnya. Ruian mengambil kedua tangan Zahra, dan menggenggamnya lembut. "Aku suka kamu. Bukan suka sebagai teman, tapi seorang cowok pada cewek. Mau kah kamu jadi pacarku?" tanya Ruian penuh harap. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD