Heart Choice : Bab 5

1284 Words
Digendongan Badai, Zahra masih meringis dan menahan sakit. Pasti kakinya membengkak sekarang. Namun, begitu melihat kepanikan dan kekhawatiran Badai tadi, membuat hatinya seketika menghangat. Sedari dulu memang Badai lah yang bisa menjungkirbalikkan hatinya. Dari kesal sampai ke tahap ubun-ubun, dan sekarang malah membuat rasa cintanya semakin dalam. Hanya karena perhatian kecil saja, kekesalan Zahra pada pria berkacamata itu menguap entah kemana. Good job, Badai Prayoga. Kamu tidak bisa tergantikan di hatinya. Zahra menghirup dalam-dalam aroma parfume Badai yang sudah bercampur keringat. "Kak Badai, aku nyaman bersama Kakak," ucap Zahra lirih. Tanpa berbicara dengan nada keras pun, Badai tetap dengar. Sebab Zahra bicara tepat di telinganya. Sesaat tubuh Badai mematung, bahkan langkahnya berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan jalannya. Meskipun tidak menjawab, tapi dia merasakan kalau gadis yang dicintainya sedang menangis di pundaknya sekarang. Mereka tidak tahu kalau Ruian sedang melihat adegan itu. Rasa sakit di hati Ruian, tapi dia juga tidak bisa berbuat apapun sekarang. Tadi dia datang ke rumah Hadiutomo untuk mengajak Zahra ke suatu tempat. Namun Bu Mega bilang, putri bungsunya sedang joging di sekitaran daerah situ. Tak disangka, setelah memperhatikan Zahra dari jauh, tidak lama kemudian gadis itu terjatuh dan saat akan menghampiri untuk menolongnya sudah keduluan sama Badai. Ruian hanya bisa mendesah panjang melihat mereka. Meskipun mereka tidak bersama dalam artian pacaran atau apa lah istilahnya, tapi ada ikatan hati yang membuat hubungan mereka erat. Setelah sampai di mobil, Badai dengan penuh hati-hati menurunkan Zahra sebentar sebelum membuka mobil. "Kak," panggil Zahra pelan. "Ayo masuk! Kakak anterin kamu pulang." Dengan nada lembut Badai menyuruh Zahra masuk ke mobilnya. "Bagaimana kaki kamu? Sakit nggak?" tanya Badai setelah mobilnya keluar dari area gor, dan menuju rumah utama Hadiutomo. Zahra menoleh, "Kayanya terkilir deh, Kak. Sakit sih, tapi tidak separah tadi." "Owh ya udah. Nanti kalau sampai ke rumah minta diurut kakinya, takut bertambah parah." "Kak, bisakah jangan cepat-cepat mengemudinya? Aku masih pengen bersama Kakak," ucap Zahra berharap bisa berlama-lama dengan pria yang dicintainya. "Tapi kakimu harus segera diobati," jawab Badai. Bukannya menolak kemauan Zahra, cuman memang kaki gadis itu harus segera diobati sebelum bertambah parah. Lagipula dia takut keluarga sang atasan salah paham, sudah tahu Zahra habis jatuh terkilir, tidak segera ditangani. "Aku nggak peduli dengan kakiku kalau Kakak jadi seperhatian ini aku, Kak," ucap Zahra dengan bibir bergetar menahan tangis. "Jangan keras kepala, Aya," desis Badai pelan. Zahra memalingkan wajahnya ke samping jendela. Tidak lama kemudian bulir bening mulai menetes dari kedua sudut matanya. Dia menangkap kalau Badai memang sudah tidak mau berdekatan dengannya lagi. Sementara Badai mendesah panjang. Maksudnya tadi bukan seperti itu. Dia khawatir kaki Zahra bertambah parah. Lagipula siapa sih orangnya yang tidak ingin berlama-lama bersama gadis yang dicintainya. Masalahnya sekarang adalah, kaki Zahra harus segera diobati, takut keluarga khawatir. Badai jelas tahu, gadis yang dicintainya selain manja, keras kepala, cengeng, dia juga anak kesayangan di keluarga Hadiutomo. Melihat Zahra yang mengusap air matanya, membuat Badai mendesah panjang. Dengan terpaksa dia menghentikan mobilnya di bahu jalan, untuk memberi pengertian ke Zahra. "Aya, coba lihat Kakak kesini," pinta Badai dengan nada lembut. Zahra menoleh menatap Badai setelah mengusap air matanya yang masih terus mengalir. "Maaf tadi Kakak sedikit menyakiti hati kamu, tapi kaki kamu memang harus segera diobati takut bertambah sakit. Itu saja." 'Bukan itu, Kak Badai!' jerit Zahra dalam hati, 'Tapi sudahlah, aku loh sudah menahan sakit selama berbulan-bulan karena kakak, bukan hanya ini saja. Luka ini tidak seberapa dibandingkan luka di hatiku.' "Ayo jalan, Kak." Zahra kembali memalingkan wajahnya ke samping. Semakin dia menatap mata pria berkacamata itu malah hatinya semakin sakit. Zahra tahu perasaan Badai kepadanya, tapi dia tidak bisa menghilangkan rasa pengecut pria itu. Padahal apa yang ditakutkan. Huhuhu Badai menarik napas, lalu menghembusnya pelan-pelan. Mata Zahra yang memerah karena menangis tadi, membuat hatinya ikut sakit. Namun dia bisa apa? Memeluknya? Itu tidak mungkin. Yang ada gadis itu akan semakin menangis. Akhirnya Badai kembali melajukan mobilnya ke rumah Hadiutomo. Setelah sampai di parkiran, Badai turun terdahulu untuk membantu Zahra berjalan. Dia paling memapahnya. Tidak mungkin menggendong Zahra masuk ke dalam rumah. Tidak enak ke keluarga Hadiutomo, terutama sang atasan. Meskipun hubungannya dengan keluarga Hadiutomo lebih dari itu, tapi dia masih segan. "Ya ampun, Aya! Kamu kenapa?!" Indah yang sedang menemani sang putra berjemur, mendadak panik melihat adik iparnya berjalan dipapah Badai sambil sesekali meringis kesakitan. "Mami!" panggil Indah sedikit berteriak. Ini kali pertama dia berteriak memanggil mami mertuanya karena panik. Sebelumnya Indah belum pernah seperti itu, terkecuali ke sang suami yang sering kali menggodanya. Bu Mega datang tergesa-gesa dari dalam. Kemudian mata beliau membulat melihat putri bungsunya berjalan seperti itu. Beliau juga sangat panik, menyuruh mereka masuk ke dalam rumah. Lalu beliau memanggil suami dan Arfiq yang masih berada di kamar. Kebetulan sekali di situ juga ada Ruian yang ingin memastikan Zahra baik-baik saja. Ya, dia setelah dari tempat joging Zahra, langsung ke rumah Hadiutomo lagi. Dia bilang pada Bu Mega, untuk menunggu Zahra pulang saja. Namun ternyata sedikit lama, entah apa yang Zahra dan Badai lakukan sebelum pulang. Ruian membantu Zahra duduk di sofa ruang tengah. Kemudian dia berjongkok untuk melihat kaki Zahra yang terkilir tadi. "Sakit banget ya?" tanya Ruian khawatir. Ini perasaannya, bukan untuk pura-pura. Sementara Zahra menganggukkan kepala, tapi ekor matanya menatap Badai. Melihat itu Badai tersenyum kecut, lalu sedikit terkejut setelah mendapatkan bahunya ditepuk oleh seseorang. Ternyata sang atasan yang baru saja keluar dari kamar, setelah ada mendengar teriakkan sang mami memanggil namanya. Bahkan Arfiq masih memakai kaos oblong hitam tanpa lengan, belum mandi hanya cuci muka dan gosok gigi saja. "Pak," sapa Badai. "Hem." Pria tampan satu anak itu, menatap adiknya kenapa bisa kakinya bisa terkilir. Tunggu dulu, dia baru sadar Zahra memakai kaos olahraga. "Dari mana kamu? Kenapa kakimu bisa terkilir seperti itu?" "Kata Tante Mega, Aya tadi pergi joging, Mas." Ruian yang jawab, karena Zahra hanya diam menunduk. "Tumben sekali kamu joging? Kamu loh nggak berbakat joging," ucap Arfiq menyebalkan. "Mas! Nggak kasihan apa sama adik satu-satunya ini!!'' pekik Zahra kesal. Kayanya cuma dia saja yang mempunyai kakak seperti Arfiq Septian Hadiutomo. Sudah menyebalkan, menjengkelkan lagi. Arfiq mencibir pelan, "Makanya di rumah saja, nggak usah gaya-gayaan pergi joging." Arfiq pergi setelah mengatakan itu. Dia pergi keluar untuk menemui sang istri dan putra kecil mereka. Bu Mega datang sembari membawa kotak P3K, dan di belakangnya ada Pak Arlan yang menghampiri mereka. Ruian sudah berdiri dari jongkoknya. Membiarkan Bu Mega untuk mengobati kaki Zahra. Badai langsung menyapa Pak Arlan. Sama seperti Arfiq, Pak Arlan juga menepuk bahu pria yang telah dianggap seperti anak sendiri. Bu Mega duduk di samping Zahra, lalu membawa kaki anaknya ke pangkuan untuk diobati. "Mami, sakit...." Tangis Zahra kembali pecah saat sang mami memegang kakinya. Dia hanya menangis mencari alasan untuk meluapkan perasaannya yang tidak bisa dibendung lagi. "Aduh, maaf, maaf, Sayang. Mami janji akan pelan-pelan," ucap Bu Mega khawatir. "Kalau begitu, saya permisi dulu semua," pamit Badai ke semua yang ada di situ. "Terima kasih ya, Dai." "Sama-sama, Bu." "Terima kasih, Nak." Sekali lagi Pak Arlan menepuk bahu Badai. Beliau diberitahu sang istri bahwa Badai lah yang telah menolong dan membawa putri bungsunya ke rumah. "Sama-sama, Pak." Zahra yang masih menangis menatap Badai dengan perasaan tak menentu. Terbuat dari apa pria yang dicintainya itu. Tatapan Zahra ke Badai tidak lepas dari mata pandangan Ruian. Dia mendesah panjang melihat kedua orang itu saling menyakiti. Tanpa sepengetahuan Badai, Ruian mengikutinya dari belakang. Dia ingin berbicara sesuatu pada pria berkacamata itu. Ruian ikut masuk mobil, bahkan sebelum Badai masuk. "Kamu?" tanya Badai dengan kening berkerut. "Iya. Saya cuma mau bilang sekaligus memberi tahu. Kalau Anda masih jadi pengecut dan tidak mau mengungkapkan perasaan ke Zahra. Jangan salahkan saya, kalau Zahra pindah hati ke saya. Saya akan berusaha mendapatkan hati Zahra," ucap Ruian dengan pandangan ke depan. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD