Heart Choice: Bab 4

2336 Words
Zahra masuk ke dalam setelah mengucapkan salam. Ruian juga masuk karena tahu yang siapa datang di rumah Zahra, yaitu sang mama. Jadi dia bisa pulang bersama mamanya nanti. Benar sekali! Mobil yang terparkir di halaman rumah Hadiutomo milik mama Ruian. Bu Mega dan mama Ruian sedang duduk di ruang tengah sembari bercengkrama. Zahra mendekati mereka, lalu mengambil tangan kanan sang mami dan menciumnya. Diikuti Ruian mencium tangan mereka juga. "Tante apa kabar?'' tanya Zahra setelah memberi salam juga pada mama Ruian. "Kabar Tante baik, Sayang," jawab Bu Bertha dengan senyuman. "Syukurlah kalau Tante kabarnya baik." Zahra duduk di samping sang mami, lalu mengambil bantal untuk menutupi tinggi dress yang potongannya hanya di atas lutut. "Ma," sapa Ruian seraya mengecup pipi sang mama. Bu Bertha mengangguk, lalu menyuruh Ruian duduk di sampingnya. "Wah, kalian memang cocok sekali. Sepertinya kalau kita bicarakan, kita bisa jadi besan loh, Jeng," ucap Bu Mega antusias. "Mami...," cegah Zahra sebelum maminya yang nyentrik itu berbicara semakin kemana-mana. "Loh, nggak apa-apa dong, Sayang!" Bu Mega menepuk pelan lengan Zahra, "Kalian kan sudah saling kenal. Kami pasti setuju kalau hubungan kalian sampai ke jenjang pernikahan." "Tapi kami tidak memikirkan hubungan itu, Mi. Kami hanya bersahabat. Iya kan, Yan?" Ruian tersenyum lalu mengangguk, "Iya, Tante. Kami cuma bersahabat saja." "Pacaran juga nggak apa-apa, kok," gumam Bu Mega, "Oh ya, menantu sama cucu Mami ikut kamu pulang, Ya?" "Iya." Kening Bu Mega berkerut, karena beliau tidak nampak menantu dengan cucunya masuk ke rumah, "Tapi Mami nggak lihat mereka." "Selama perjalanan Arash tertidur, Mi. Lagipula mungkin Mbak takut ganggu Mami yang sedang mengobrol sama Tante Bertha." "Owh...." Bu Mega beralih menoleh ke Bu Bertha, "Kalian makan malam di sini saja ya, Jeng?'' "Tidak usah, Jeng Mega. Kami makan di rumah saja, kakak dan kakak iparnya Ruian mau datang ke rumah nanti malam, nginap di sana juga. Berhubung Ruian sudah ada di sini, kami mau pulang saja." "Owh ya udah deh." Bu Bertha dan Ruian pamit pulang. Sebelum masuk ke mobil, Ruian sempat mengacak rambut Zahra. Pemandangan itu jelas tidak luput dari mata Bu Mega dan Bu Bertha. Bahkan Bu Mega ikut tersenyum, padahal bibir anaknya malah cemberut. Malam hari... Dentingan sendok beradu dengan garpu terdengar di ruang makan keluarga Hadiutomo. Seluruh keluarga sedang makan malam, tak terkecuali Arash yang duduk di kursi bayi di antara mommy dan daddy-nya. Bayi gembul itu menjadi penambah suasana dengan celotehan lucunya. Tentang tadi sore, Bu Mega membicarakannya pada Pak Arlan. Beliau cerita interaksi antara putri bungsunya dengan Ruian. Zahra sudah tahu arah alurnya kemana kalau tidak dia hentikan. Dia langsung membantah sang mami soal hubungan itu. Lagipula dia masih ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu. Ditambah ucapan Arfiq soal Ruian membawa mainan untuk, seakan-akan ingin meminta restu dan sebagainya. Padahal bukan seperti itu maksudnya. "Mami udah deh! Aku kan sama Ruian cuma sekedar bersahabat doang," ucap Zahra dengan bibir cemberut. "Ada hubungan spesial juga nggak apa-apa, kok. Iya kan Arash?" Arfiq ikut menimbrung. Bapak satu anak itu suka sekali mengompori dan memprovokasi keadaan. "Mami sih setuju omongan Mas kamu tentang hubungan kalian, Sayang. Kamu kan sendiri, Ruian juga sendiri. Apa salahnya memperdalam hubungan kalian. Toh, keluarga kita sudah saling mengenal kan?" "Papi...," rajuk Zahra ke Pak Arlan yang sedari tadi hanya diam menyimak obrolan istri dan anak-anaknya. "Sudahlah, Mi, Mas. Jangan memaksakan Zahra. Dia tidak mau, ya udah. Biarkan Zahra dengan keinginannya, yang penting dia bahagia," ucap Pak Arlan dengan nada bijaksana. Kalau Pak Arlan sudah berbicara, tidak ada yang berani membantah atau protes. Apalagi Indah yang tidak mau ikut campur urusan tentang hubungan Zahra, karena dia tahu milik siapa hati adik iparnya. Arfiq mencibir adiknya, sementara Zahra menatap sengit sang kakak. Padahal sudah menikah, tapi sifat sang kakak yang sangat menyebalkan tidak bisa hilang. Malah semakin bertambah menyebalkan. Mereka pun kembali melanjutkan makan malam yang tertunda tadi. Dan saat ini Zahra sedang berdiri di balkon kamar sembari menatap sinar rembulan. Setelah selesai makan malam, Zahra langsung ke kamar. Dia beralasan ingin tidur karena capek, padahal ingin sendiri meratapi nasib perasaannya. Angin sepoi-sepoi menyapa rambut hitam miliknya. Dingin-dingin sejuk yang dia rasakan sekarang. Berbeda sekali dengan kegundahan hatinya. Tidak lama kemudian, Indah masuk ke dalam kamar adik iparnya. Dia tidak bisa tidur jadi ingin berbincang-bincang dengan Zahra, dan kali saja adik iparnya butuh teman curhat. Tadinya kalau Zahra sudah tidur, Indah tidak akan masuk ke dalam. Indah bahkan rela naik ke lantai dua untuk mengobrol dengan adik iparnya. Sebab semenjak dia hamil Arash sampai melahirkan, belum pindah ke kamar mereka di lantai atas. Kamar yang menjadi saksi saat melakukan ritual malam pertama bersama sang suami. Namun, karena pintu kamar Zahra terbuka sedikit jadi dia yakin yang punya kamar belum tidur. Indah masuk setelah tidak jawaban dari Zahra, dan ternyata adik iparnya sedang berdiri di balkon. Indah berjalan mendekati Zahra, kemudian memegang pundak Zahra dari belakang. Zahra terkaget, lalu menoleh ke arah samping, "Ya ampun, Mbak...." Dia mengelus dadanya. Indah meringis tidak enak, "Maaf, maaf, kalau Mbak ngagetin kamu." "Ok, ok. Aya nggak apa-apa kok, Mbak. Mungkin Ayanya yang melamun, jadi kaget kalau Mbak datang." Indah tersenyum, "Iya kamu memang sedang melamun, makanya Mbak tadi ketuk pintu kamar kamu nggak ada jawaban. Nggak baik loh melamun malam-malam begini. Maaf juga karena Mbak masuk tanpa izin. Mbak ingin mengecek kamu juga tadi." Zahra tersenyum kecil. Wanita cantik di depannya memang sudah dia anggap seperti kakak kandung sendiri. Bahkan setelah sang kakak menikah, dia lebih pro ke kakak iparnya. Zahra akan terbuka dalam hal apapun ke Indah. Indah selain kakak ipar, dia juga seorang teman baginya karena selalu menjadi pendengar yang baik ketika dia sedang ada masalah. Zahra duduk di sofa yang ada di balkon diikuti Indah. Kemudian dia mengambil keripik talas ungu kesukaannya. Pelampiasan Zahra ketika sedang kesal dan marah langsung lari ke makanan terutama cemilan. "Kamu baik-baik saja?" tanya Indah memegang lengan Zahra. Zahra menoleh, lalu mendesah panjang, "Semakin kesini, semakin malas aku menjalani hidup, Mbak." "Hush, nggak boleh ngomong begitu. Nggak baik." Zahra meringis pelan, "Maaf." "Kalau kamu merasa keberatan dengan omongan mami tadi, cobalah berbicara pada beliau siapa yang kamu cintai selama ini. Mbak yakin, mami ingin kamu sama Ruian, karena kalian terlihat dekat, sedangkan pemuda yang kamu cintai tidak pernah mendekati kamu." Zahra kembali mendesah, "Aku ini cewek, Mbak. Kalau aku bilang ke mami tentang Kak Badai, aku sedikit ragu. Kecuali Kak Badai sendiri yang bilang sama mami." "Itu yang Mbak maksud. Badai tidak datang kesini bicara ke mami memperjelas perasaan yang kalian punya. Makanya mami berpikir kamu dan Ruian mempunyai hubungan spesial." "Aku bingung, Mbak," keluh Zahra, "Oh ya, Mbak kesini Arash sama siapa?" Indah tersenyum, "Arash sama daddy-nya. Mas Arfiq nggak lembur malam ini, langsung tidur." "Owh...." "Mbak cuma berdoa, semoga kalian semua menemukan kebahagiaan." Zahra mengangguk dengan senyum kecil, lalu meringsek memeluk kakak iparnya, "Terima kasih, Mbak." "Kamu yang Mbak kenal adalah gadis yang selalu bersemangat dan ceria, jadi Mbak minta kamu nggak boleh pantang menyerah, ok?" "Hem." Sementara itu di tempat yang berbeda.... Badai baru saja selesai sholat isya, setelah tadi mengerjakan beberapa tugas penting dari sang atasan. Meskipun besok hari Sabtu dan libur, Badai tetap mengerjakan sesuatu. Dulu, sebelum sang atasan menikah. Sabtu Minggu tetap berangkat ke kantor. Hanya sang atasan dengan dirinya saja, sedangkan yang lain libur. Namun semenjak sang atasan menikah, dia lebih memilih quality time bersama keluarganya di akhir pekan. Apalagi ditambah sang atasan sudah mempunyai anak. Badai keluar dari kamar menuju dapur sederhana rumahnya, karena dia belum makan makan tadi. Kalau kalian bertanya kenapa sederhana? Sebab ibu Badai tidak mau merubah rumahnya, meskipun sang anak sudah berkecukupan dan mempunyai gajih yang tinggi. Banyak kenangan kata beliau. Makanya Badai tidak merenovasi rumahnya. Badai duduk di kursi, lalu membuka tudung saji. Kemudian bibirnya melengkung ke atas. Rupanya sang ibu masak banyak sekali hari ini. Maksudnya, bukan berarti sang ibu tidak pernah masak banyak. Tapi mengingat mereka hanya tinggal berdua saja, pastilah sang ibu tidak terlalu sering masak banyak. Toh, dia juga sehari-hari jarang makan di rumah hanya pas malam hari saja, terkecuali kalau libur kerja. "Nak," panggil sang ibu. "Eh, Ibu." Badai menoleh ke arah sang ibu, yang mungkin saja baru selesai wiridan karena beliau masih mengenakan mukenah. "Ibu sudah makan?" tanya Badai, setelah itu dia membuka mulut memasukkan makanannya. "Sudah tadi sama Salwa," jawab sang ibu. Beliau masuk ke dalam kamar. Kemudian keluar lagi setelah mengganti mukenah dengan kerudung biasa. Sang ibu mendudukkan diri di depan Badai, "Bagaimana masakannya, Nak?" "Enak, kok, Bu. Seperti biasa. Ibu kan pintar masak," jawab Badai menatap sang ibu sebentar, lalu kembali makan. Sang ibu tersenyum, "Itu Salwa yang masak, Nak." Mendengar jawaban sang ibu, membuat Badai menghentikan sendok yang akan masuk ke mulutnya. "Jadi ini yang masak Salwa, Bu?" Badai kembali melanjutkan makannya. "Iya, Nak." Badai mengangguk kecil. Dia akui masakan Salwa memang enak. "Dia sudah pantas menjadi istrimu kan, Nak? Pintar masak, baik, sopan santun. Dan yang terpenting dia sholehah." Dalam keadaan menunduk, Badai tersenyum. "Dia memang baik, Bu." Hanya itu yang bisa Badai jawab sekarang. Dia tidak mau memancing pembicaraan lebih jauh lagi. "Ibu setuju kalau kamu bersama dia, Yoga." "Berarti kalau sama yang lain Ibu nggak setuju?" Kening tua sang ibu mendadak berkerut mendapi pertanyaan balik dari anak semata wayangnya. "Kamu sudah mempunyai pacar, Nak?" Badai mendadak gelagapan. Harusnya tadi dia tidak usah bertanya seperti itu. Kan dia belum bisa mengatakan cinta ke Zahra. Karena dia memang mengharapkan Zahra lah yang jadi pacar sampai istrinya kelak. "Kalau kamu memang sudah punya pacar, bawa ke Ibu. Biar Ibu nilai dia pantas buat kamu apa nggak." Beliau beranjak dari duduk, dan berjalan menuju kamarnya. Badai bisa melihat sedikit raut kekecewaan dalam wajah sang ibu. Tidak lama kemudian dia mendesah panjang. Padahal bukan kaya gitu maksudnya. Dia hanya bertanya. Belum sampai membuka siapa gadis yang dicintainya. Namun tanggapan sang ibu seperti itu. Itu yang dia takutkan selama ini. Sang ibu mungkin sudah sayang sekali ke Salwa, makanya beliau ingin gadis berkerudung itu menjadi menantunya. Beliau sudah kenal seluk beluk Salwa, dari mulai tata bicara dan kesopanannya. Lagipula Salwa lah yang selalu menjaga sang ibu ketika dirinya sedang pergi bekerja atau bepergian. Entah siapa yang salah di sini, dia tidak bisa mencintai Salwa atau sang ibu yang memaksanya menjadikan Salwa sebagai istrinya. Tapi yang jelas, sedikitpun dia tidak punya pikiran menjadikan Salwa sebagai istri. Badai mengacak rambut sedikit. Umurnya baru 27 tahun, dan sang ibu meminta dia menikah. Mending kalau menikah dengan orang yang dicintainya. Ini tidak. Namun, dari awal sampai saat ini. Dialah yang salah. Dia tidak berani membawa Zahra ke rumah bertemu sang ibu. Sementara sang ibu punya Salwa yang ingin sekali dijadikan menantu tapi dia tidak berani menolaknya karena takut sang ibu terluka. Nafsu makan Badai sedikit berkurang sekarang. Dia beranjak berdiri, membereskan bekas piring lalu membawanya ke tempat cucian piring. Setelah mencuci tangan, tanpa melakukan apapun lagi dia kembali ke kamarnya. Badai itu berbeda dengan laki-laki pada umumnya. Sebab saat di hari libur, lebih baik waktunya dihabiskan buat tidur daripada bermain game sampai malam. Hari Sabtu, ternyata Badai diajak Arfiq untuk pergi ke suatu tempat bersama kedua sahabatnya Libra dan Aden. Seharian tidak ada di rumah, jadi meminta tolong ke Salwa untuk menjaga sang ibu selama dia pergi. Dia tidak bisa meninggalkan ibunya sendiri kalau harus pergi di saat akhir pekan. Sampai malam, sang ibu sedikit mendiamkannya. Beliau hanya menyuruh makan saja. Biasanya beliau akan mengajak dirinya mengobrol, meskipun lebih banyak sang ibu yang mengeluarkan suara, sementara dia hanya mendengarkan sesekali menanggapi. Minggu pagi... Zahra sedang bersiap-siap untuk joging pagi di suatu tempat. Entahlah, kalau sang kakak tahu pasti dia akan mengejek habis-habisan dirinya. Biarlah. Kalau sampai Arfiq meledeknya, dia akan mengadu pada kakak iparnya biar sang kakak dihukum. Hihihi Sang kakak kan nggak bisa berkutik kalau kakak iparnya sudah kesal atau marah-marah. Rambutnya sengaja dikuncir jadi satu biar tidak berantakan dan merepotkan ketika sedang berlarian nanti. Zahra turun dari tangga dengan langkah riang. Gadis itu memang periang dan ceria. Gadis seperti itulah yang terkadang cuma berkamuflase untuk menutupi gundah di hatinya. Karena hari ini Minggu dan masih pagi, tentulah belum pada bangun. Hanya beberapa assisten rumah tangga Hadiutomo yang sudah mondar-mandir membersihkan ini dan itu. Zahra melihat pintu kamar sang kakak yang masih tertutup rapat. Mungkin masih kelelahan karena semalam mereka habis jalan-jalan ke Mall, sekalian membeli beberapa keperluan Arash. Ternyata saat keluar rumah sudah ada sang mami yang sedang menyiram bunga mawar kesayangannya. Ekor mata Bu Mega melirik putri bungsunya. Beliau mematikan kran air, kemudian mendekati Zahra dengan kening berkerut. "Kamu mau kemana?" "Morning, Mami." "Morning, Sayang. Mami tanya kamu mau kemana?" "Joging," jawab Zahra sedikit meringis. "Tumben?" Kening Bu Mega semakin berkerut. Sebab putri bungsunya jangankan pergi joging di hari Minggu, orang bangun pagi saja jarang. Terkecuali kalau hari biasa. Zahra cemberut, bibirnya maju beberapa senti. Bangun pagi pergi joging salah. Bangun siang juga salah. Entah siapa yang benar. "Aya pengen aja, Mi." Bu Mega terkekeh pelan. Beliau hanya bercanda. Sudah bagus kok, sang anak bangun pagi pergi joging di hari Minggu daripada bermalas-malasan di atas kasur. "Mami cuma bercanda. Ya sudah kamu hati-hati larinya. Dan kalau ada apa-apa langsung telepon ke sini." Zahra mengangkat satu tangan seperti seorang bawahan yang sedang hormat ke atasannya. "Siap, Mami. Aya pergi dulu," pamit Zahra lalu mengecup pipi sang mami sekilas. Dari rumah Zahra memang sendiri. Tapi dia tidak merasa takut, toh banyak orang yang joging juga di hari Minggu. Ada yang berpasangan, ada yang bersama keluarga. Zahra memasang earphone di telinga, menyetel beberapa musik kesukaannya. Dia sedikit iri dengan pasangan kekasih yang joging bersama. Seandainya saja dia punya kekasih kan? Hiks Beberapa putaran masih mampu dia lalui. Namun karena fokusnya teralih pada satu pasangan, dimana sang cowok yang sedang mengikat tali sepatu si cewek. Sampai tidak sadar bahwa di depan sana ada lubang kecil tapi cukup dalam. Kaki Zahra terpelintir di situ. Tubuhnya langsung ambruk. Dia langsung memegang pergelangan kakinya sembari menahan tangis. "Ya ampun, kamu nggak apa-apa, kan?" Seseorang dengan suara berat, begitu tahu Zahra terjatuh langsung berhenti dan menghampirinya. Zahra mendongak, lalu melihat pria yang datang sekarang membuat matanya malah menjadi berkaca-kaca. "Kak Badai," lirih Zahra dengan suara bergetar. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD