Heart Choice : bab 3

2420 Words
Badai duduk di kursi kerjanya sembari mengetuk-ngetuk meja dengan tatapan kosong. Obrolan tentang semalam yang diucapkan sang ibu masih terlintas di kepalanya. Semakin dia mencoba tidak memikirkan itu, malah semakin membuatnya pusing. Di antara dua pilihan itu, tentu saja ada pengorbanan dan pastinya ada satu yang akan terluka. Seandainya boleh memilih, dia ingin cinta dari gadis yang dicintainya tapi tidak membuat hati sang ibu terluka. Dia masih saja melamun sampai tidak sadar sang atasan masuk ke ruangannya. Kening Arfiq mengernyit melihat pria berkacamata itu hanya diam saja seperti banyak pikiran. "Ehm!" Badai terlonjak kaget, lalu langsung beranjak berdiri setelah tahu sang atasan ada di ruangannya. "Pak," sapa Badai canggung. Arfiq mencoba menelisik raut wajah Badai, kemudian berdehem sekali lagi setelah melihat gelagat Badai yang tidak enak dipandang seperti itu. "Ke ruangan saya sekarang, Dai, ada yang ingin saya bicarakan." Arfiq berlalu setelah mengatakan itu. Badai mendesah panjang. Pasti sang atasan akan berpikir yang tidak-tidak karena keterdiamannya tadi. Dia jadi tidak enak sendiri dengan sang atasan. Setelah dirasa cukup tenang, Badai keluar dari keluar lalu berjalan menuju ruangan sang atasan. Sebelum masuk ke dalam, Badai menyapa Leni yang sedang mengetik di tempat kerjanya. Arfiq langsung menyuruh Badai masuk setelah mengetuk pintu. "Duduk, Dai!" perintah Arfiq tanpa menoleh. Dia sedang mengecek beberapa file yang terdapat di laptop. "Baik, Pak." "Tadi saya cukup lama melihat kamu yang melamun. Apa ada sesuatu yang sedang kamu resahkan?" tanya Arfiq, menghentikan sebentar kegiatan, lalu menumpukkan dagu di kedua tangannya , "Saya bertanya seperti itu karena kamu tidak biasanya kaya gini." "Tidak ada, Pak," jawab Badai setelah terdiam beberapa menit. Jelas dia tidak mau terbuka masalah pribadi, apalagi kalau menyangkut adik sang atasan. Zahra Hadiutomo. Arfiq memicingkan matanya. Menatap Badai dengan tatapan menyelidik. Sementara Badai berdehem canggung. "Baiklah, kalau begitu. Saya tidak akan memaksa kamu untuk bercerita. Tapi kalau itu dirasa berat di kamu, coba ceritakan ke saya. Kali saja saya bisa bantu kan." Arfiq kembali melanjutkan pekerjaannya yang tertunda tadi. Badai tersenyum tipis. Beberapa tahun kenal dengan sang atasan membuatnya paham. Sang atasan memang tidak memaksakan sesuatu yang ingin diketahuinya, terkecuali kalau dia bicara langsung ke Arfiq. Dia selalu menghargai apapun itu. Itulah kenapa Badai bertahan sampai sekarang, meskipun sifat sang atasan terkenal menyebalkan. "Ada yang ingin Anda bicarakan lagi, Pak?" "Sudah tidak ada. Saya hanya ingin bertanya seperti itu saja," jawab Arfiq. "Baiklah kalau begitu saya permisi dulu, Pak." "Hem." Badai kembali ke ruang kerjanya. Dia mencoba fokus, jangan sampai sang atasan tahu kalau ada yang tidak beres dengannya. Lagipula ini jam kerja, seharusnya dia bisa mengendalikan mana hal pribadi dan kerjaan. Beruntung ada beberapa kerjaan yang harus dia kerjakan, jadi bisa sedikit melupakan masalahnya sejenak. Badai meregangkan otot-otot tubuh, setelah hampir satu jam mengetik suatu kerjaan. Badai mengecek jam kecil di pergelangan tangan kiri. Ternyata sebentar lagi makan siang. Biasanya jam segini istri sang atasan akan datang bersama anak mereka. Semenjak sang atasan menikah, Badai sudah tidak lagi datang dan bertanya mau makan apa atau sekedar datang ke ruangan atasannya. Sebab, dia pernah memergoki sang atasan berciuman mesra padahal anak mereka sedang tidur di sofa. Dasar nggak ada akhlak! Untung anak mereka tidak terganggu dengan kelakuan kedua orangtuanya. Sementara di tempat yang berbeda... Zahra masih menunggu Ruian selesai kuliah di mobil. Hari ini dia hanya ada beberapa mata kuliah saja, sementara Ruian lumayan banyak. Sebab Ruian pilih mata kuliah di bidang bisnis. Iya lah, bisnis keluarganya sudah menggurita dan dia akan menjadi salah satu pewaris perusahaannya nanti. Kedekatan Zahra dan Ruian sampai banyak orang yang mengira bahwa mereka adalah sepasang kekasih. Ruian akan cuek dan datar kalau ke cewek lain, sedangkan ke Zahra jangan ditanya. Makanya tidak heran kalau banyak mengira hubungan mereka itu spesial. Apalagi Zahra sendiri bukan gadis sembarangan. Nama Hadiutomo GROUP sendiri sudah tidak asing lagi, dan perusahaan itu milik keluarga Zahra yang dipimpin oleh Arfiq Hadiutomo, sang kakak. Zahra adalah bungsu dan dia tidak mau ikut andil dalam perusahaan itu. Ya, keberuntungan Zahra adalah meskipun dekat dengan Ruian tidak menjadi bahan perundungan oleh teman-temannya, karena status sosial Zahra setara dengan Ruian. Apalagi mereka tahu kalau Arfiq Hadiutomo sangat menyeramkan ketika marah. Jelas mereka tidak mau berurusan dengan kedua anak orang kaya itu. Setelah lima belas menit menunggu, akhirnya dari kejauhan Ruian sedang berjalan menghampiri mobil Zahra. Kalau tanya, kenapa Ruian tidak bawa mobil sendiri. Karena saat Zahra bilang mau pulang bareng, Ruian lebih memilih menelpon sang supir untuk mengambil dan membawa mobilnya pulang ke rumah. Pria dengan gaya rambut comb-over itu tersenyum lebar saat melihat Zahra keluar dari mobil dengan bibir cemberut lucu. Entah kenapa apa yang ada pada diri Zahra menurut Ruian sangat menggemaskan. Apapun itu. "Lama banget sih, Yan...," gerutu Zahra mendapat kekehan dari Ruian. "Tadi aku bantu Pak Leo dulu, makanya lama, Aya," jawab Ruian santai, sembari mengacak sedikit rambut Zahra. Zahra mendelik tajam Ruian yang tidak tahu sopan santun mengacak rambutnya, "Jangan sentuh rambut aku! Dari tadi aku rapihkan ini setengah mati!" Zahra kembali merapikan rambut yang diacak-acak Ruian, padahal tidak berantakan. Ruian terkekeh geli, "Emang mau kemana sih? Kok sampai segitunya gitu?" Nada bicara Ruian memang santai, tapi bagi gadis bernama lengkap Zahra Septiani Hadiutomo itu sangat menyebalkan. Apalagi melihat bibir Ruian yang sudah seperti ibu-ibu tukang julid. Mencibir. "Aku mau ke tempat Mas Arfiq, di sana ada Mbak Indah sama Arash." Zahra masuk ke mobil di bagian kursi samping pengemudi. Ruian juga masuk mobil, mengambil alih menyetir mobil Zahra. "Owh ... lalu apa hubungannya dengan aku?" tanya Ruian dengan kening berkerut. "Ya jelas ada dong! Kan kita sudah sepakat dengan rencana kita kemarin. Membuat Kak Badai cemburu, dan mengakui perasaannya sama aku!" sungut Zahra tanpa tahu Ruian tersenyum kecut. "Jadi mau sekarang jalanin misinya?" Ruian mulai melajukan mobil keluar dari parkiran universitas tempat mereka kuliah. "Iya lah! Semakin cepat semakin baik, bukan?" Ruian mengangguk-anggukkan kepalanya. Ya, dia bisa apa sekarang selain menuruti kemauan gadis yang dicintainya. Kebahagiaan Zahra adalah yang pertama meskipun hati seperti teriris belati. Tapi Ruian mencoba menerima itu karena cinta tidak bisa dipaksa juga, dan Zahra mencintai Badai bukan dirinya. Tidak apa, sekarang dia menjadi pacar pura-pura Zahra yang terpenting bisa bilang kalau gadis itu adalah pacarnya. Ilusi? Iya memang ilusi. Tapi dia juga yang salah karena tidak mengungkapkannya ke Zahra. "Ehm, kamu mau makan dulu?" tanya Ruian melirik sebentar ke Zahra. Zahra menoleh ke Ruian sebentar, lalu kembali menatap ke depan, "Nggak. Mbak Indah bawa makanan ke sana. Eh, tapi kita mampir dulu deh, beli apa gitu." "Arash suka apa?" "Arash mah pasti milihnya mainan, meskipun mainan dia sudah banyak dari daddy-nya atau kami." Ruian terkekeh, "Ya udah, kita mampir dulu. Beli mainan buat calon keponakan aku." "Dih, ngarep," ucap Zahra enteng. "Kan emang bener?" balas Ruian membuat Zahra memutar bola matanya malas. Bersahabat lama dengan Ruian tentu saja Zahra paham, kalau pria blasteran itu suka bercanda. Apalagi mengingat keluarga mereka yang saling mengenal satu sama lain. Zahra dan Ruian mampir ke toko mainan terdekat dari jarak perusahaan Hadiutomo. Tidak ada obrolan lagi dari mereka sampai di depan gedung milik Hadiutomo GROUP. Zahra turun mendahului Ruian. Sementara Ruian mengambil barang bawaan mereka buat Arash. Mereka pun berjalan beriringan. Ruian bahkan tanpa segan merangkul bahu Zahra santai. Sampai di depan Lift, Ruian memencet tombol buka. Ternyata pas pintu besi itu terbuka sudah ada Badai di dalam sana sedang membaca berkas yang ada di tangannya. Badai mendongak, menatap datar dua orang yang berada di hadapannya. Kemudian matanya terfokus pada tangan Ruian yang bertengger santai di bahu Zahra. Zahra sadar tatapan Badai, mencoba menyingkirkan tangan Ruian. Dan sebagai gantinya, dia malah mengapit lengan Ruian manja. Melihat itu membuat wajah Badai tiba-tiba mengetat, tapi sebisa mungkin menutupinya. Badai berdehem, "Kalian mau tetap berdiri di situ, apa mau masuk? Saya harus buru-buru sekarang," ucap Badai datar. Sementara Zahra mengeram kecil melihat wajah datar pemuda yang dicintainya. Kayanya dia memang harus memeriksakan diri kenapa bisa menyukai pemuda datar seperti Badai Prayoga. Ah, menyebalkan sekali! Ruian menatap Zahra dan Badai secara bergantian. Kemudian dalam diam, dia mendesah. Padahal mereka saling menyukai, tapi kenapa tidak saling terbuka. "Ayo, Sayang, kita masuk. Kasihan Pak Badai menunggu kita." Dengan nada lembut Ruian mengajak Zahra masuk ke dalam lift. Raut wajah Zahra memang kesal, tapi dia menuruti Ruian agar masuk, dan satu lift dengan Badai. Setelah Zahra dan Ruian masuk, terasa sesak buat Badai. Bukan sesak karena tempatnya kecil atau tidak muat, tapi karena melihat gadis yang dicintainya datang bersama Ruian dan malah berada satu lift dengannya. Kenapa sih ... tidak di jeda waktunya? Dia sudah di atas terlebih dahulu, baru Zahra dan Ruian datang setelahnya atau apa kek. Tapi meskipun dia tidak bareng satu lift dengan Zahra, tetap saja. Dia akan melihat Zahra datang bersama Ruian. Badai menunduk lalu tersenyum getir. Dia harusnya tidak menyalahkan Zahra, karena di dalam hal ini, dirinya yang pengecut. Tidak berani mengungkapkan perasaannya terhadap adik sang atasan. Zahra melihat Badai yang menunduk dalam pantulan cermin. Sebenarnya apa yang diragukan Badai selama ini? Apa yang membuat Badai tidak berani mendekatinya? Kenapa susah sekali mengungkapkan isi hatinya, padahal dia dari dulu selalu mencari perhatian pria berkacamata itu. Bahkan Zahra menebalkan wajahnya pernah mengatakan cinta ke Badai. Dan sekarang lebih lucunya, hanya mereka bertiga saja yang naik ke atas. Karena selama berjalannya lift, tidak ada yang menghentikan. Setelah melewati beberapa nomor, akhirnya mereka bertiga sampai di ruangan paling atas tempat pemimpin Hadiutomo GROUP berada. Zahra dan Ruian berjalan beriringan di depan, sementara Badai berada di belakang mereka. Sudah kebiasaan Zahra kalau masuk ke ruangan sang kakak tidak mengetuk pintu dulu. Dia tidak peduli apa yang dilakukan kakak dan kakak iparnya di dalam ruangan. Arfiq sendiri langsung berdecak kesal saat adiknya masuk saja. Beruntung dia dengan istrinya tidak melakukan apapun tadi, karena Arash bangun dan mengajak bermain. "Kamu itu ya, bisa nggak kalau mau masuk ke ruangan Mas ketuk pintu dulu? Kebiasaan banget jadi cewek. Beruntung tadi Mas sama Mbak Indah lagi nggak berbuat aneh-aneh," omel Arfiq ke adiknya. Zahra cemberut, "Mas tuh yang aneh. Kalau ada Mbak di kantor bukannya semangat kerja malah berbuat aneh. Untung aja Arash belum mengerti, kalau daddynya sangat m***m!" "Aya!" tegur Indah menutupi telinga anaknya, sembari menahan malu. "Terserah Mas, dong! Mbak Indah kan istri Mas!" Arfiq tidak mau kalah dengan Zahra, padahal istri kesayangannya sudah memberi peringatan. "Mas," panggil Indah sedikit putus asa. Suami dan adik iparnya memang tidak bisa mengalah satu sama lain. "Aya cuma kasihan sama Arash, Mas!" "Sstt ... sudah, sudah! Apa kalian masih mau berdebat? Padahal di sini juga ada Arash, Badai dan Ruian!" lerai Indah sedikit kesal. Arfiq mengatupkan bibir seketika, sebelum dia akan membalas perkataan adiknya. Kemudian melirik Indah yang wajahnya sudah merah padam, antara kesal dan malu. Kalau Indah sudah kesal begini, dia tidak akan berani lagi mengatakan apapun yang bisa memancing kekesalan istrinya. Sama seperti sang kakak, Zahra juga terdiam. Semenjak sang kakak menikah dengan kakak iparnya, perdebatan mereka yang tidak berfaedah sedikit terkendali. Bahkan mami mereka akan memanggil menantunya kalau dia dan sang kakak sudah beradu mulut. Arfiq berdehem sebentar mencoba meredakan tenggorokan yang tiba-tiba kering, "Dai," panggil Arfiq mencari pengalihan pembicaraan. "Iya, Pak." Badai maju ke depan setelah membenarkan kacamatanya. Arfiq bangun dari lesehan karena sedari tadi dia duduk bersama istri dan anaknya, di lantai yang beralasan karpet tebal berbulu di ruangan. Sekarang sudah ada tempat itu, agar Indah nyaman bermain dengan Arash. "Mana berkasnya?" tanya Arfiq setelah duduk di kursi kebesarannya. Badai menyerahkan berkas yang tadi dia bawa, "Ini, Pak, berkasnya." Arfiq mengangguk kecil, lalu mengambil berkas yang diserahkan Badai, "Saya cek dulu coba." Sementara Zahra masih dengan raut wajah cemberut, berjalan lalu mendudukkan diri di antara kakak ipar dan keponakannya diikuti Ruian yang juga duduk. Zahra mengambil tubuh gembul Arash dari pangkuan Indah, "Hallo ponakan kesayangan Aunty." Kemudian langsung menciumi seluruh wajah tampan ponakannya. "Hallo baby Arash." Ruian mengambil tangan Arash lalu mengayun-nyayunkannya, "Uncle Ruian bawa mainan buat kamu." Ruian mengambil paper bag berisi mainan Arash yang tadi dia bawa. "Terima kasih ya, Uncle Ruian," ucap Indah dengan seulas senyum. "Udahlah kalian menikah saja! Sudah pantas jadi orangtua, kok. Itu juga Ruian bawa mainan buat Arash, seperti meminta restu buat menikahi aunty-nya," celetuk Arfiq tanpa menoleh ke siapapun. Beragam ekspresi yang ditampilkan celetukan Arfiq. Zahra dan Indah saling pandang sebentar. Sementara Ruian terkekeh kecil. Termasuk Badai yang tersenyum kecut. "Do'akan saja, Mas," ucap Ruian menanggapi celetukan Arfiq dengan senyuman lebar. 'Tahan, Badai, tahan ... kalau kalian jodoh pasti tidak akan kemana, kok,' batin Badai, tekankan dalam hati. Tapi kenapa dia tidak rela. Indah menatap Badai, lalu tersenyum tipis. Dia memang sudah tahu perasaan Zahra dan Badai yang saling menyukai satu sama lain. Tapi Badai tidak berani mendekati adik iparnya. Zahra sendiri tidak berani berkomentar apapun tentang celetukan kakaknya. Takut salah bicara. Sebab di situ masih ada Badai, dan dia sedang mengerjai pria yang dicintainya agar berani mengatakan cinta. Padahal kalau tidak ada Badai, dia pasti akan menganggapi ucapan sang kakak dengan mengelak atau tidak akan mau sama Ruian, karena dia mencintai pria lain. "Sudah, Dai," ucap Arfiq setelah selesai mengecek. "Baik, Pak, kalau begitu saya permisi dulu." Badai membungkukkan badan sedikit, lalu berjalan keluar dari ruangan sang atasan. Zahra menatap punggung pria yang dicintainya dengan tatapan sendu. Kemudian menoleh ke arah kakak iparnya yang sedang mengelus lengannya dan sedang tersenyum. Badai menutup pintu besar atasannya, lalu mendesah panjang. 'Kamu itu memang tidak pantas buat Zahra, Badai. Dia lebih pantas dengan Ruian, karena status sosial mereka sama. Jadi tolong jangan berharap lebih,' batin Badai. Kurang lebih satu setengah jam kemudian. Zahra dan Ruian keluar dari ruangan Arfiq, barengan bersama Indah dan Arash. Ruian dengan suka rela mendorong kereta bayi dimana Arash sedang tertidur pulas. Karena ada Zahra dan Ruian, Indah ikut pulang bersama mereka. "Kami pulang dulu ya, Dai," pamit Indah ke Badai karena mereka melewati tempat kerja tangan kanan suaminya. Badai berdiri dari duduk, "Silahkan, Bu." Sekarang gantian Badai yang menatap punggung mungil Zahra. Rasanya menjangkau Zahra kenapa sulit sekali, Tuhan.... Dulu, sebelum ini. Saat Zahra baru sampai di perusahaan atau mau pulang akan selalu mengganggunya. Sekarang. Zahra terdiam dan tidak pernah mengucapkan apapun yang kadang membuatnya kesal. Mungkin kehilangan yang pantas dia gambarkan sekarang. Selama perjalanan pulang ke rumah Hadiutomo, tidak ada obrolan apapun. Zahra lebih memilih menatap keluar jendela. Indah juga diam karena sedang memangku Arash yang masih tertidur. Setelah melewati beberapa nama jalan di Jakarta, akhirnya mobil Zahra terparkir di depan rumah orangtuanya. Zahra membantu kakak iparnya turun dari mobil. Sementara Ruian mengambil kereta bayi yang ada di bagasi mobil. Kening Zahra berkerut setelah melihat satu mobil hitam terparkir di situ. Dia melirik Ruian yang dibalas senyuman oleh pria dengan nama lengkap Ruian Abdi Dewangsa itu. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD