Arfiq duduk di sofa ruang tengah, sendirian. Sang istri tercinta sedang menidurkan anak mereka di kamar. Sang mami juga sudah masuk ke kamarnya. Hanya papi yang berada di ruang kerja karena tadi ada kedatangan Badai. Entah apa yang akan dibicarakan pria berkacamata itu sekarang? Bukannya tadi siang dia bilang akan menikah? Untuk apa datang ke sini, kalau pada sebelumnya membuat orang, terkecuali Arash dan sang mami kecuali. Bukan hanya Zahra saja yang merasakan sakit, dia pun iya. Tidak menyangka hubungan mereka tadinya sampai sejauh itu. Maksudnya, sampai menjalin pacaran. Tak pikir, Zahra hanya meledek Badai dan tidak melibatkan perasaannya. Pantas saja saat dia mengusulkan perjodohan Zahra dan Ruian, gadis itu tidak setuju atau keberatan. Jadi Badai lah alasannya? Sayang sekali, Bada

