Pak Arlan mendongakkan kepalanya, menatap Arfiq dengan kening berkerut. "Kamu tanya Papi tahu Aya? Lah, jelas tahu, dong, Mas! Kan dia adikmu, anak kandung Papi dan mami. Bagaimana sih?" Pak Arlan geleng-geleng kepala, lalu menunduk untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Arfiq menggaruk kepala. Iya juga ya, apa yang dijawab sang papi tidak salah. Masalahnya bukan itu yang dia maksud. Kalau Zahra adiknya ya, memang benar. Dia jadi bingung bagaimana cara ngomongnya. "Pi, aku mau mendiskusikan sesuatu dan pertanyaan yang aku ajukan tadi bukan seperti itu jawabannya," sahut Arfiq. Dia sendiri bingung bagaimana cara jelasinnya ke sang papi. Sebab dia yakin sekali, papinya meskipun diam, beliau tahu segalanya. "Coba kamu ngomong yang jelas deh, biar Papi bisa menangkap apa maksud kamu, Mas

