#3 Letter - Chapter 1

5924 Words
#3 Letter   Don’t Let Me Go Don’t deceive yourself anymore Don’t pretend to be alright Look into my eyes and ask me to stay Chapter 1 We’re just friend Best of the best    “Ari-chan ama Ken nge-date-nya di rumah calon mertua, Yura ama Dio nge-date-nya belajar bareng. Oh my, kalian nggak ada ide gitu buat nge-date yang seru, gitu? Terakhir kali ke taman hiburan juga gue yang ngajak. Jalan ke mall juga gue yang ngajak. Nonton, main game, karaoke, semuanya gue yang ngajak. Kalian pada nggak pernah jalan atau gimana, sih?” Aira menatap pasangan Ken-Arisa dan Yura-Dio dengan kesal. “Makanya, lo jadian aja ama Rey, trus lo ajak dia muter-muter ke semua tempat yang lo pengen. Sekalian ke luar negeri kalo mau,” balas Yura enteng. Aira mendesis tak rela. “Gue ama Rey tuh sama sekali nggak cocok. Liat aja, tiap hari kerjaan kita cuma berantem. Kalo di deket Rey bawaannya gue kesel mulu.” “Dengerin ya, Ai, cowok mana pun kalo mau jadian ama elo tuh pasti mikir dulu ratusan, bahkan ribuan kali. Lo nggak pernah mau ngalah, bahkan meskipun lo salah. Lo selalu ngelakuin apa pun yang lo suka tanpa nanyain pendapat gue juga. Bukan cuma gue, tapi semua cowok di dunia ini juga nyerah kali, kalo kudu berhadapan ama lo,” cibir Rey. Kontan Aira melayangkan tinju kerasnya di lengan Rey karena kata-katanya. Rey mendesis kesal seraya mengusap lengannya. “Ini juga. Cowok mana coba yang tahan jadi samsak tiap hari, hm?” gerutu Rey. “Mana ada cowok yang mau punya cewek barbar kayak lo?” Aira menyipitkan mata, dan sebelum Rey sempat menyadari, Aira menjambak rambut Rey, membuat cowok itu berteriak kesakitan. “Ngomong apa lo tadi?” tantang Aira. “Nggak, nggak, gue nggak ngomong apa-apa … ini … lepasin …” Rey mengerang kesakitan. Aira mendesis kesal, tapi akhirnya melepaskan rambut Rey. “Bener kata Rey.” Sebuah suara bergabung dengan mereka. “Ngeri juga sih, punya cewek segalak elo, Ai.” Alfon mengambil tempat di ujung meja, mengambil tempat sejauh mungkin dari Aira. Aira menatap Alfon galak. “Elo juga, playboy, mana ada cewek yang mau sama lo?” Alfon mengangkat tangan. “Tadinya gue udah mau nyerah jadi playboy pas ketemu Yura. Tapi apa boleh buat, satu-satunya cowok yang diliat Yura cuma Dio.” “Tapi jujur deh, menurut gue, pas lo lagi ngejar-ngejar Yura kemaren itu, lo keren deh,” ungkap Aira. “Not bad, lah …” Alfon mendengus geli. “Jangan bilang, lo sekarang naksir gue.” Aira mendecih tak terima. “Sori, gue paling anti ama playboy.” “Ati-ati lo, Ai, cinta ama benci bedanya tipis,” celetuk Yura. Aira memutar mata mendengarnya. “Please, tolong, ini bukan sinetron atau drama Korea kesukaan lo itu.” “Ceritanya Aira itu bukan benci jadi cinta, tapi sahabat jadi cinta,” Alfon berkata. “Dari kecil dia bareng mulu ama Rey. Nggak mungkin kalo dia nggak pernah suka ama Rey.” Aira mendengus. “Nggak ya, justru karena gue udah kenal Rey dari kecil, gue yang paling tau tentang dia. Bahkan hal terburuk sekalipun,” tandasnya. “Gue ama Rey tuh nggak match. Dia nyebelin, rese, dan hobi bikin gue kesel.” “Dan elo, bawel, suka buat ribut, nggak mau kalah, nggak bisa diem. Apa lagi ya?” Rey berpikir dengan terlalu serius. “Waktu TK, lo juga pernah …” Geram, Aira membekap mulut Rey. “Lo mau gue kasih tau ke anak-anak kejadian olahraga pas kita kelas dua SD itu?” Rey menarik tangan Aira dari mulutnya dan menatap Aira kesal. “Oke, gue nggak bakal ngomong apa-apa lagi,” Rey mengalah. Aira mengangguk setuju. “Wah, kalian bahkan punya rahasia tergelap masing-masing,” gumam Arisa takjub. “Biar aman, kalian nikah aja sekalian, jadi rahasianya nggak bakal bocor ke mana pun.” Aira menatap Arisa seolah cewek itu sudah gila. “Tenang aja, Ai,” tiba-tiba Rey berbicara. “Gue nggak bakal nikah kecuali ama cewek yang jadi fate gue, kok.” Aira berdehem dan mengangguk. “Bagus, deh. Siapa juga yang mau nikah ama lo.” Ketika Rey tak membalas, Aira menoleh. Ia gelagapan dan segera memalingkan wajah karena ternyata Rey sedang menatapnya. “Ngeliat lo gini, orang bisa mikir kalo lo beneran suka sama gue kali, Ai,” ucap Rey geli. Aira mendengus tanpa menatap Rey. Selama ia bersama Rey, hanya satu hal yang ia takutkan tentang apa yang orang lain pikirkan; Aira menyukai Rey. Ia tidak suka gagasan itu. Sungguh. *** “Lo nggak pa-pa, Rey?” tanya Yura saat mereka berjalan ke kelas seiring jam istirahat berakhir. Rey menatap Yura geli. “Emangnya gue kenapa?” “Ya tadi … Aira ngomong gitu … lo nggak pa-pa, kan?” Yura tampak bersimpati. Rey mendengus geli. “Nggak pa-pa, lah. Emangnya kenapa?” Yura menghela napas berat. “Kalo dia emang cewek fate lo, pasti sakit denger dia ngomong gitu,” desahnya. Rey menghentikan langkah. “Tapi tenang aja, Rey,” ucap Yura lagi. “Kalo udah fate pasti ending-nya bareng-bareng, kok.” Cewek itu tersenyum. Rey mendengus tak percaya mendengarnya. “Ra, itu bukan hal yang bisa kita putusin, anyway.” “Tapi, bukannya udah jelas, ya?” Yura menuding Rey. “Elo ama Aira itu fate. Rasanya nggak bener aja kalo ada Aira, tapi nggak ada lo, dan sebaliknya. Iya, kan?” Rey terdiam akan kata-kata Yura. Lalu didengarnya suara Aira di belakang, “Ngomongin apaan, sih? Serius amat.” Aira mengalungkan lengan di bahu Rey. “Tuh, gue bilang juga apa,” celetuk Yura seraya mengedikkan kepala ke arah Aira, sebelum cewek itu berlalu menuju kelas mereka. “Apaan, sih? Kalian ngomongin gue?” tuduh Aira seraya menarik Rey ke arahnya, membuat kepala mereka hanya berjarak tak lebih dari lima senti. Rey menatap Aira tanpa mengatakan apa pun, membuat cewek itu mengerutkan kening. “Kenapa, Rey? Yura …” Kata-kata Aira berganti teriakan terkejut ketika tiba-tiba seseorang di belakang mereka mendorong kepala Aira dan Rey hingga bertabrakan. Rey dengan cepat memalingkan wajah hingga bibir Aira hanya menyentuh pipi alih-alih bibirnya. “Siapa nih, yang rese?!” amuk Aira seraya melepaskan Rey dan berbalik ke belakang. Rey ikut menoleh ke belakang dan mendengus tak percaya melihat Alfon mengangkat tangan, memberi tanda V dengan jari telunjuk dan jari tengah, tampak luar biasa santai, terlepas dari insiden yang nyaris saja ia sebabkan. “Meleset, ya? Yah, maybe next time,” celetuk Alfon santai. Ia bahkan tidak repot-repot meminta maaf karena keusilannya. “Alfon rese …!” Aira berteriak kesal seraya menerjang ke arah Alfon, tapi cowok itu menghindar dan setelah menepuk bahu Rey sekilas, ia berlari ke arah kelas. Rey dibuat tak bisa berkata-kata karena tingkah kekanakan Alfon. Jika saja tadi ia tidak sigap, situasinya pasti lebih parah lagi. Jika sampai tadi … Rey bahkan tidak berani memikirkannya. *** Alfon menatap Rey dan Aira bergantian dengan penuh selidik. Tidak mungkin jika tidak ada apa-apa di antara mereka. Seandainya tadi ia berhasil, pasti akan lebih mudah membuktikan dugaannya. Meskipun Rey dan Aira selalu bertengkar, tapi keduanya seolah tidak bisa dipisahkan. Tidak pernah sehari pun Alfon melihat Aira tanpa Rey, begitu pun sebaliknya. Bahkan jika Rey tidak ada, Aira akan mencarinya. Rey pun begitu. Terlalu bodoh jika Alfon percaya mereka berdua tak lebih hanya sekedar sahabat. Delapan belas tahun bukan waktu yang sebentar. Sudah selama itu mereka bersama. Setidaknya, meski hanya sekali, pasti mereka pernah merasakan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Senggolan keras di bahu Alfon membuatnya menoleh. Elsa, cewek paling dingin di kelas, ah, tidak, di sekolah, mengedikkan kepala ke depan. Alfon menatap ke depan dan sang guru Biologi sedang menatapnya. Alfon mendesah berat seraya menunduk ke buku dan berpura-pura mendengarkan kelanjutan penjelasan sang guru. “Lo pasti bego kalo mau deketin Aira.” Suara dingin itu berbicara. Alfon menoleh. Segala sesuatu tentang Elsa benar-benar dingin. Cewek ini seperti patung es. Ini benar-benar pertama kalinya Alfon bertemu dengan cewek seperti Elsa, sedingin Elsa. “Dan kenapa gue yang bego kalo gue deketin Aira?” tuntut Alfon tak terima. Elsa mendengus. “Lo nggak liat Rey?” Mendengar itu, Alfon seketika semangat. Elsa juga berpikiran sepertinya, kan? Alfon menegakkan buku di depan mereka, lalu mendekat ke arah Elsa. “Jadi, lo juga setuju kalo Rey ama Aira itu …” Kalimat Alfon terhenti ketika Elsa mendorong kepala Alfon menjauh dengan jari telunjuknya. “Gue lagi belajar. Jangan ganggu gue,” ucap Elsa penuh peringatan. Alfon menatap Elsa dengan kesal. “Nggak heran kenapa mereka nyebut elo Ice Princess,” desisnya kesal. *** “Jadi … menurut lo, gimana? Aira ama Rey?” Alfon melemparkan pertanyaan itu pada Elsa yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Elsa tak menjawab. Alfon mendecakkan lidah tak sabar. “Lo tadi bilang, gue bego kalo deketin Aira. Maksud lo apa? Aira ama Rey saling suka, kan? Mereka nggak cuma sekedar sahabat, tapi juga saling suka, kan?” Elsa mendesah berat, tapi hanya itu tanggapannya. Tak terima, Alfon menyambar salah satu buku Elsa, menyandranya. Saat Elsa menatapnya, Alfon menuntut, “Jelasin dulu maksud lo apa nyebut gue bego tadi?” Elsa menyipitkan mata. “Di antara sekian banyak orang, gue pikir elo cowok yang paling ngerti cewek karena pengalaman lo ama cewek selama ini. Tapi kayaknya gue salah. Nggak cukup ama Yura, sekarang ama Aira. Dan gue nggak ngerti kenapa mereka masih bisa nyebut elo playboy.” Elsa merebut buku di tangan Alfon kasar. “Jadi maksud lo, sama kayak Yura, Aira juga nggak mungkin suka ama gue, karena dia udah punya orang yang dia suka?” Alfon memastikan, mengabaikan kata-kata tidak enak yang dilontarkan Elsa tentangnya tadi. Tanpa jawaban, Elsa melemparkan buku terakhirnya ke dalam tas, lalu bangkit dari kursinya. Alfon mulai kehilangan kesabaran. Ketika Elsa hendak meninggalkan bangku, Alfon menahan tangannya. Cewek itu tampak terkejut saat menatap Alfon. “Gue tau dia nggak mungkin suka ama gue. Gue cuma mau bantuin mereka. Tapi gue sama sekali nggak tau apa yang dia pikirin. Mereka selalu ngelak dan gue nggak punya bukti. Karena itu, kalo lo tau sesuatu tentang mereka … lo bisa bantu gue, kan?” Alfon belum pernah memohon seperti ini, terutama pada cewek es. Karena Alfon tidak mengharapkan jawaban yang menyenangkan, ia hanya bisa mendesah berat saat Elsa memberinya tatapan dingin. Menyerah, Alfon melepaskan tangan cewek itu. Dia benar-benar Ice Princess. *** “Lo ditolak ama Elsa?” Pertanyaan itu adalah hal pertama yang didengar Alfon saat ia baru saja duduk di kursi kafe. Ia menatap Aira kesal. Ia pikir, gara-gara siapa ia harus membuat masalah dengan cewek es itu? “Elsa siapa?” tanya Arisa penasaran. “Ice Princess,” sebut Rey. “Ada yang bilang, dia nggak punya perasaan.” “Nggak separah itu,” debat Alfon. “Ciyee … gitu amat ngebelainnya. Padahal abis ditolak,” goda Aira. “Kalo lo ngajak gue ke sini cuma buat ngeledekin gue, gue pergi, deh,” Alfon menyambar tas, tapi Aira menahannya. “Nggak, nggak, sori …” cewek itu berkata. “Karena gue tau lo lagi stres abis ditolak Elsa, makanya gue ajak lo ke sini buat refreshing.” “Refreshing?” Alfon mendengus tak percaya. Aira mengangguk. “Ayo main game,” tantangnya. Alfon menyipitkan mata, berpikir cepat. Game? Terakhir kali bermain game, Yura kalah dan berakhir berpacaran dengan Dio, kan? Namun, jika Alfon membuatnya seperti itu, akan terlalu mudah. Aira dan Rey tidak akan keberatan dengan itu. Berpacaran atau hanya bersahabat, sepertinya tak akan ada bedanya bagi mereka. Yang terpenting, Alfon harus memenangkan game ini dulu. “Oke!” Alfon mengangguk mantap. *** Aira bersorak gembira saat Alfon kalah di game pertama. Ia ditantang Aira untuk confess pada cewek pertama yang masuk ke kafe. Aira tersenyum puas melihat ekspresi merana Alfon saat ini. “What the …” Gumaman tak percaya Alfon membuat Aira menoleh ke arah pintu kafe dengan semangat. “Wah … fate!” seru Aira saat melihat sosok Elsa yang sudah mengenakan pakaian santai, jeans dan kaos yang ditutup jaket, masuk ke kafe, seperti biasanya. Kedatangannya tepat sesuai perkiraan Aira. Semua orang di meja mereka sudah tertawa melihat apa yang harus dihadapi Alfon. Aira yang paling puas di sini. Apalagi melihat ekspresi Alfon saat ini. Mereka semua kini memperhatikan Elsa yang sedang memesan, lalu mengambil tempat di meja kosong di sudut kafe. Cewek itu memasang headset, lalu mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya, seperti biasa. “Dia mau belajar di sini?” Alfon terbelalak tak percaya. “Tapi dia cantik, tuh,” celetuk Arisa. “Kenapa kalian nyebut dia Ice Princess?” Aira tersenyum mendengarnya. “Liat aja ntar,” ucapnya penuh janji. Ia melirik Alfon yang sudah menghela napas berat, entah untuk keberapa kalinya. Bahkan Alfon yang sudah duduk di meja yang sama dengan cewek itu sepanjang semester ini saja bereaksi seperti ini. *** Alfon menarik napas dalam, mempersiapkan diri, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Elsa. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia harus menghadapi Elsa seperti ini. Terlebih, dengan kejadian saat pulang sekolah tadi. Namun, Elsa juga bersalah di sini. Kenapa di antara sekian banyak kafe, ia harus datang ke kafe ini? Dan di antara sekian banyak hari dalam setahun, kenapa harus hari ini? Alfon bahkan tak segera menyapa Elsa begitu sudah berdiri di samping meja cewek itu. Ia menarik napas dalam, kembali menyiapkan diri. Entah kenapa ia merasa, kali ini ia akan benar-benar dipermalukan di depan Aira dan yang lainnya. Tatapan tajam Elsa saat cewek itu akhirnya mendongak dan menatapnya adalah hal pertama yang menyapa Alfon. Alfon berusaha tersenyum saat cewek itu menyipitkan mata curiga. “Lo nggak ngikutin gue ke sini gara-gara masalah di sekolah tadi, kan?” tuduh Elsa. Alfon menggeleng cepat. “Gue … juga kebetulan di kafe ini. Sama Yura, Aira, Rey, Ken ama Arisa,” sebutnya cepat. Ia tak tahu kenapa ia menyebutkan semua nama itu, selain karena ia tidak ingin tampak begitu kesepian di sini sendiri, di hadapan cewek es ini. Elsa tampak tak tertarik. “Trus?” “Gue …” Alfon mengumpat dalam hati. Ia sudah biasa melakukan hal-hal seperti ini. Mendekati para cewek, merayu mereka, memberikan pernyataan kosong pada mereka, ia sudah biasa. Namun kali ini, yang ia hadapi bukan cewek biasa. “Kalo nggak ada hal penting, lo bisa pergi, nggak? Gue lagi sibuk,” ucap Elsa dingin. Alfon tidak mengharapkan sambutan manis cewek itu. Sama sekali tidak. Jadi, ia tidak terlalu terkejut. Namun, di depan Aira dan yang lainnya … “Elsa.” Panggilan Alfon membuat cewek itu kembali mendongak ke arahnya, tampak benar-benar terganggu kini. Sebelum cewek itu menyemburkan kata-kata esnya, Alfon berkata, “Gue suka ama lo.” Sebagai jawabannya, Elsa menatap Alfon seolah Alfon sudah gila. Seolah itu belum cukup, cewek itu bahkan mengatakannya dengan nada paling dingin, “Lo udah gila?” Suara tawa tertahan di belakang Alfon membuatnya menoleh dan ia mengumpat pelan saat melihat seorang pegawai kafe sudah berdiri di sana dengan membawa pesanan Elsa. Alfon menatap ke arah meja tempat Aira dan yang lainnya sudah tergelak puas melihatnya. Alfon bahkan tak merasa perlu untuk menoleh lagi ketika hendak meninggalkan meja Elsa. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara bernada ledekan Elsa, “Kalah taruhan?” Alfon memutar tubuh dan menatap Elsa tak percaya. Cewek itu sudah tahu dan dia masih melakukan ini? Ia bahkan tidak akan mati jika membantu Alfon sedikit saja, tapi ia justru … “Kayaknya orang-orang nyebut elo Ice Princess bukannya tanpa alasan,” geram Alfon sebelum benar-benar meninggalkan meja Elsa. Cewek es itu benar-benar keterlaluan. *** “Wah … dia emang bener-bener Ice Princess,” komentar Arisa. “Padahal kata Yura tadi, dia sebangku ama lo, kan?” Alfon mengangguk. Rey meringis simpati melihat ekspresi Alfon. Ia sudah sempat memarahi Aira tadi karena membuat Alfon melakukan hal tadi pada Elsa. “Nggak pa-pa lo?” tanya Rey. Alfon kembali mengangguk, tapi ekspresinya sama sekali tak menunjukkan itu. Tampaknya ia masih memikirkan penolakan Elsa tadi. Atau jangan-jangan … “Jangan bilang lo beneran suka ama Elsa,” Aira menyebutkan apa yang dipikirkan Rey. Alfon memberikan tatapan tajam pada Aira sebagai balasan. “Abis lo down banget kayaknya ditolak dia. Padahal, ini kan cuma game. Besok lo bisa kan, jelasin ke dia? Kalo lo mau … nembak lagi dengan cara yang lebih romantis,” usul Aira riang. Alfon mendengus kasar. “Bahkan meskipun di dunia ini cewek cuma ada dia, nggak bakal gue mau ama dia,” ucapnya serius. Rey dan Aira saling berpandangan. Sepertinya ini jauh lebih serius dari yang mereka pikir. Apa pun yang terjadi antara Alfon dan Elsa, sepertinya memang ada sesuatu. *** “Heh? Ke sekolah malem-malem? Sendirian?” Aira langsung menatap Rey dengan panik. “Al, lo tau kan, Aira …” “Yang bantu dia bakal dapat penalty,” cetus Alfon. Rey mendengus tak percaya. “Tapi lo tau kan, Aira paling nggak bisa ngelakuin hal-hal kayak gitu sendiri?” Alfon mengangguk. “Lo pikir gue tiap hari confess ke cewek paling dingin di dunia ini?” Kini Aira baru menyesali permainan bodoh ini. Ia menatap Alfon dengan tatapan memelas terbaiknya, tapi percuma saja. Tampaknya ia juga masih kesal karena kejadian memalukan dengan Elsa tadi. Ia bahkan ditolak Elsa di depan pegawai kafe. “Besok jam tujuh malem, gue tunggu lo di depan sekolah,” putus Alfon. “Dan inget, siapa pun yang bantu dia, bakal dapat penalty.” Alfon menatap Rey saat mengatakan itu. Aira mengerang tak percaya mendapati apa yang harus ia hadapi esok. “Rey …” Ia menarik lengan kemeja seragam Rey, meminta bantuan. Rey menoleh ke arahnya, tampaknya juga tak punya pilihan lain, kecuali ia mau melakukan hukuman gila dari Alfon. “Sori … gue nggak tau kalo dia pendendam banget kayak gini,” Aira berkata pada Rey. Rey tersenyum geli seraya mengacak rambutnya. “Tenang aja, gue bakal mikirin cara buat ngebujuk dia.” Yah, setidaknya itu sedikit menenangkan Aira. ***    We’re just friend Best of the best    “Ari-chan ama Ken nge-date-nya di rumah calon mertua, Yura ama Dio nge-date-nya belajar bareng. Oh my, kalian nggak ada ide gitu buat nge-date yang seru, gitu? Terakhir kali ke taman hiburan juga gue yang ngajak. Jalan ke mall juga gue yang ngajak. Nonton, main game, karaoke, semuanya gue yang ngajak. Kalian pada nggak pernah jalan atau gimana, sih?” Aira menatap pasangan Ken-Arisa dan Yura-Dio dengan kesal. “Makanya, lo jadian aja ama Rey, trus lo ajak dia muter-muter ke semua tempat yang lo pengen. Sekalian ke luar negeri kalo mau,” balas Yura enteng. Aira mendesis tak rela. “Gue ama Rey tuh sama sekali nggak cocok. Liat aja, tiap hari kerjaan kita cuma berantem. Kalo di deket Rey bawaannya gue kesel mulu.” “Dengerin ya, Ai, cowok mana pun kalo mau jadian ama elo tuh pasti mikir dulu ratusan, bahkan ribuan kali. Lo nggak pernah mau ngalah, bahkan meskipun lo salah. Lo selalu ngelakuin apa pun yang lo suka tanpa nanyain pendapat gue juga. Bukan cuma gue, tapi semua cowok di dunia ini juga nyerah kali, kalo kudu berhadapan ama lo,” cibir Rey. Kontan Aira melayangkan tinju kerasnya di lengan Rey karena kata-katanya. Rey mendesis kesal seraya mengusap lengannya. “Ini juga. Cowok mana coba yang tahan jadi samsak tiap hari, hm?” gerutu Rey. “Mana ada cowok yang mau punya cewek barbar kayak lo?” Aira menyipitkan mata, dan sebelum Rey sempat menyadari, Aira menjambak rambut Rey, membuat cowok itu berteriak kesakitan. “Ngomong apa lo tadi?” tantang Aira. “Nggak, nggak, gue nggak ngomong apa-apa … ini … lepasin …” Rey mengerang kesakitan. Aira mendesis kesal, tapi akhirnya melepaskan rambut Rey. “Bener kata Rey.” Sebuah suara bergabung dengan mereka. “Ngeri juga sih, punya cewek segalak elo, Ai.” Alfon mengambil tempat di ujung meja, mengambil tempat sejauh mungkin dari Aira. Aira menatap Alfon galak. “Elo juga, playboy, mana ada cewek yang mau sama lo?” Alfon mengangkat tangan. “Tadinya gue udah mau nyerah jadi playboy pas ketemu Yura. Tapi apa boleh buat, satu-satunya cowok yang diliat Yura cuma Dio.” “Tapi jujur deh, menurut gue, pas lo lagi ngejar-ngejar Yura kemaren itu, lo keren deh,” ungkap Aira. “Not bad, lah …” Alfon mendengus geli. “Jangan bilang, lo sekarang naksir gue.” Aira mendecih tak terima. “Sori, gue paling anti ama playboy.” “Ati-ati lo, Ai, cinta ama benci bedanya tipis,” celetuk Yura. Aira memutar mata mendengarnya. “Please, tolong, ini bukan sinetron atau drama Korea kesukaan lo itu.” “Ceritanya Aira itu bukan benci jadi cinta, tapi sahabat jadi cinta,” Alfon berkata. “Dari kecil dia bareng mulu ama Rey. Nggak mungkin kalo dia nggak pernah suka ama Rey.” Aira mendengus. “Nggak ya, justru karena gue udah kenal Rey dari kecil, gue yang paling tau tentang dia. Bahkan hal terburuk sekalipun,” tandasnya. “Gue ama Rey tuh nggak match. Dia nyebelin, rese, dan hobi bikin gue kesel.” “Dan elo, bawel, suka buat ribut, nggak mau kalah, nggak bisa diem. Apa lagi ya?” Rey berpikir dengan terlalu serius. “Waktu TK, lo juga pernah …” Geram, Aira membekap mulut Rey. “Lo mau gue kasih tau ke anak-anak kejadian olahraga pas kita kelas dua SD itu?” Rey menarik tangan Aira dari mulutnya dan menatap Aira kesal. “Oke, gue nggak bakal ngomong apa-apa lagi,” Rey mengalah. Aira mengangguk setuju. “Wah, kalian bahkan punya rahasia tergelap masing-masing,” gumam Arisa takjub. “Biar aman, kalian nikah aja sekalian, jadi rahasianya nggak bakal bocor ke mana pun.” Aira menatap Arisa seolah cewek itu sudah gila. “Tenang aja, Ai,” tiba-tiba Rey berbicara. “Gue nggak bakal nikah kecuali ama cewek yang jadi fate gue, kok.” Aira berdehem dan mengangguk. “Bagus, deh. Siapa juga yang mau nikah ama lo.” Ketika Rey tak membalas, Aira menoleh. Ia gelagapan dan segera memalingkan wajah karena ternyata Rey sedang menatapnya. “Ngeliat lo gini, orang bisa mikir kalo lo beneran suka sama gue kali, Ai,” ucap Rey geli. Aira mendengus tanpa menatap Rey. Selama ia bersama Rey, hanya satu hal yang ia takutkan tentang apa yang orang lain pikirkan; Aira menyukai Rey. Ia tidak suka gagasan itu. Sungguh. *** “Lo nggak pa-pa, Rey?” tanya Yura saat mereka berjalan ke kelas seiring jam istirahat berakhir. Rey menatap Yura geli. “Emangnya gue kenapa?” “Ya tadi … Aira ngomong gitu … lo nggak pa-pa, kan?” Yura tampak bersimpati. Rey mendengus geli. “Nggak pa-pa, lah. Emangnya kenapa?” Yura menghela napas berat. “Kalo dia emang cewek fate lo, pasti sakit denger dia ngomong gitu,” desahnya. Rey menghentikan langkah. “Tapi tenang aja, Rey,” ucap Yura lagi. “Kalo udah fate pasti ending-nya bareng-bareng, kok.” Cewek itu tersenyum. Rey mendengus tak percaya mendengarnya. “Ra, itu bukan hal yang bisa kita putusin, anyway.” “Tapi, bukannya udah jelas, ya?” Yura menuding Rey. “Elo ama Aira itu fate. Rasanya nggak bener aja kalo ada Aira, tapi nggak ada lo, dan sebaliknya. Iya, kan?” Rey terdiam akan kata-kata Yura. Lalu didengarnya suara Aira di belakang, “Ngomongin apaan, sih? Serius amat.” Aira mengalungkan lengan di bahu Rey. “Tuh, gue bilang juga apa,” celetuk Yura seraya mengedikkan kepala ke arah Aira, sebelum cewek itu berlalu menuju kelas mereka. “Apaan, sih? Kalian ngomongin gue?” tuduh Aira seraya menarik Rey ke arahnya, membuat kepala mereka hanya berjarak tak lebih dari lima senti. Rey menatap Aira tanpa mengatakan apa pun, membuat cewek itu mengerutkan kening. “Kenapa, Rey? Yura …” Kata-kata Aira berganti teriakan terkejut ketika tiba-tiba seseorang di belakang mereka mendorong kepala Aira dan Rey hingga bertabrakan. Rey dengan cepat memalingkan wajah hingga bibir Aira hanya menyentuh pipi alih-alih bibirnya. “Siapa nih, yang rese?!” amuk Aira seraya melepaskan Rey dan berbalik ke belakang. Rey ikut menoleh ke belakang dan mendengus tak percaya melihat Alfon mengangkat tangan, memberi tanda V dengan jari telunjuk dan jari tengah, tampak luar biasa santai, terlepas dari insiden yang nyaris saja ia sebabkan. “Meleset, ya? Yah, maybe next time,” celetuk Alfon santai. Ia bahkan tidak repot-repot meminta maaf karena keusilannya. “Alfon rese …!” Aira berteriak kesal seraya menerjang ke arah Alfon, tapi cowok itu menghindar dan setelah menepuk bahu Rey sekilas, ia berlari ke arah kelas. Rey dibuat tak bisa berkata-kata karena tingkah kekanakan Alfon. Jika saja tadi ia tidak sigap, situasinya pasti lebih parah lagi. Jika sampai tadi … Rey bahkan tidak berani memikirkannya. *** Alfon menatap Rey dan Aira bergantian dengan penuh selidik. Tidak mungkin jika tidak ada apa-apa di antara mereka. Seandainya tadi ia berhasil, pasti akan lebih mudah membuktikan dugaannya. Meskipun Rey dan Aira selalu bertengkar, tapi keduanya seolah tidak bisa dipisahkan. Tidak pernah sehari pun Alfon melihat Aira tanpa Rey, begitu pun sebaliknya. Bahkan jika Rey tidak ada, Aira akan mencarinya. Rey pun begitu. Terlalu bodoh jika Alfon percaya mereka berdua tak lebih hanya sekedar sahabat. Delapan belas tahun bukan waktu yang sebentar. Sudah selama itu mereka bersama. Setidaknya, meski hanya sekali, pasti mereka pernah merasakan perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Senggolan keras di bahu Alfon membuatnya menoleh. Elsa, cewek paling dingin di kelas, ah, tidak, di sekolah, mengedikkan kepala ke depan. Alfon menatap ke depan dan sang guru Biologi sedang menatapnya. Alfon mendesah berat seraya menunduk ke buku dan berpura-pura mendengarkan kelanjutan penjelasan sang guru. “Lo pasti bego kalo mau deketin Aira.” Suara dingin itu berbicara. Alfon menoleh. Segala sesuatu tentang Elsa benar-benar dingin. Cewek ini seperti patung es. Ini benar-benar pertama kalinya Alfon bertemu dengan cewek seperti Elsa, sedingin Elsa. “Dan kenapa gue yang bego kalo gue deketin Aira?” tuntut Alfon tak terima. Elsa mendengus. “Lo nggak liat Rey?” Mendengar itu, Alfon seketika semangat. Elsa juga berpikiran sepertinya, kan? Alfon menegakkan buku di depan mereka, lalu mendekat ke arah Elsa. “Jadi, lo juga setuju kalo Rey ama Aira itu …” Kalimat Alfon terhenti ketika Elsa mendorong kepala Alfon menjauh dengan jari telunjuknya. “Gue lagi belajar. Jangan ganggu gue,” ucap Elsa penuh peringatan. Alfon menatap Elsa dengan kesal. “Nggak heran kenapa mereka nyebut elo Ice Princess,” desisnya kesal. *** “Jadi … menurut lo, gimana? Aira ama Rey?” Alfon melemparkan pertanyaan itu pada Elsa yang sedang memasukkan buku-bukunya ke dalam tas. Elsa tak menjawab. Alfon mendecakkan lidah tak sabar. “Lo tadi bilang, gue bego kalo deketin Aira. Maksud lo apa? Aira ama Rey saling suka, kan? Mereka nggak cuma sekedar sahabat, tapi juga saling suka, kan?” Elsa mendesah berat, tapi hanya itu tanggapannya. Tak terima, Alfon menyambar salah satu buku Elsa, menyandranya. Saat Elsa menatapnya, Alfon menuntut, “Jelasin dulu maksud lo apa nyebut gue bego tadi?” Elsa menyipitkan mata. “Di antara sekian banyak orang, gue pikir elo cowok yang paling ngerti cewek karena pengalaman lo ama cewek selama ini. Tapi kayaknya gue salah. Nggak cukup ama Yura, sekarang ama Aira. Dan gue nggak ngerti kenapa mereka masih bisa nyebut elo playboy.” Elsa merebut buku di tangan Alfon kasar. “Jadi maksud lo, sama kayak Yura, Aira juga nggak mungkin suka ama gue, karena dia udah punya orang yang dia suka?” Alfon memastikan, mengabaikan kata-kata tidak enak yang dilontarkan Elsa tentangnya tadi. Tanpa jawaban, Elsa melemparkan buku terakhirnya ke dalam tas, lalu bangkit dari kursinya. Alfon mulai kehilangan kesabaran. Ketika Elsa hendak meninggalkan bangku, Alfon menahan tangannya. Cewek itu tampak terkejut saat menatap Alfon. “Gue tau dia nggak mungkin suka ama gue. Gue cuma mau bantuin mereka. Tapi gue sama sekali nggak tau apa yang dia pikirin. Mereka selalu ngelak dan gue nggak punya bukti. Karena itu, kalo lo tau sesuatu tentang mereka … lo bisa bantu gue, kan?” Alfon belum pernah memohon seperti ini, terutama pada cewek es. Karena Alfon tidak mengharapkan jawaban yang menyenangkan, ia hanya bisa mendesah berat saat Elsa memberinya tatapan dingin. Menyerah, Alfon melepaskan tangan cewek itu. Dia benar-benar Ice Princess. *** “Lo ditolak ama Elsa?” Pertanyaan itu adalah hal pertama yang didengar Alfon saat ia baru saja duduk di kursi kafe. Ia menatap Aira kesal. Ia pikir, gara-gara siapa ia harus membuat masalah dengan cewek es itu? “Elsa siapa?” tanya Arisa penasaran. “Ice Princess,” sebut Rey. “Ada yang bilang, dia nggak punya perasaan.” “Nggak separah itu,” debat Alfon. “Ciyee … gitu amat ngebelainnya. Padahal abis ditolak,” goda Aira. “Kalo lo ngajak gue ke sini cuma buat ngeledekin gue, gue pergi, deh,” Alfon menyambar tas, tapi Aira menahannya. “Nggak, nggak, sori …” cewek itu berkata. “Karena gue tau lo lagi stres abis ditolak Elsa, makanya gue ajak lo ke sini buat refreshing.” “Refreshing?” Alfon mendengus tak percaya. Aira mengangguk. “Ayo main game,” tantangnya. Alfon menyipitkan mata, berpikir cepat. Game? Terakhir kali bermain game, Yura kalah dan berakhir berpacaran dengan Dio, kan? Namun, jika Alfon membuatnya seperti itu, akan terlalu mudah. Aira dan Rey tidak akan keberatan dengan itu. Berpacaran atau hanya bersahabat, sepertinya tak akan ada bedanya bagi mereka. Yang terpenting, Alfon harus memenangkan game ini dulu. “Oke!” Alfon mengangguk mantap. *** Aira bersorak gembira saat Alfon kalah di game pertama. Ia ditantang Aira untuk confess pada cewek pertama yang masuk ke kafe. Aira tersenyum puas melihat ekspresi merana Alfon saat ini. “What the …” Gumaman tak percaya Alfon membuat Aira menoleh ke arah pintu kafe dengan semangat. “Wah … fate!” seru Aira saat melihat sosok Elsa yang sudah mengenakan pakaian santai, jeans dan kaos yang ditutup jaket, masuk ke kafe, seperti biasanya. Kedatangannya tepat sesuai perkiraan Aira. Semua orang di meja mereka sudah tertawa melihat apa yang harus dihadapi Alfon. Aira yang paling puas di sini. Apalagi melihat ekspresi Alfon saat ini. Mereka semua kini memperhatikan Elsa yang sedang memesan, lalu mengambil tempat di meja kosong di sudut kafe. Cewek itu memasang headset, lalu mengeluarkan buku-buku dari dalam tasnya, seperti biasa. “Dia mau belajar di sini?” Alfon terbelalak tak percaya. “Tapi dia cantik, tuh,” celetuk Arisa. “Kenapa kalian nyebut dia Ice Princess?” Aira tersenyum mendengarnya. “Liat aja ntar,” ucapnya penuh janji. Ia melirik Alfon yang sudah menghela napas berat, entah untuk keberapa kalinya. Bahkan Alfon yang sudah duduk di meja yang sama dengan cewek itu sepanjang semester ini saja bereaksi seperti ini. *** Alfon menarik napas dalam, mempersiapkan diri, sebelum akhirnya berjalan menghampiri Elsa. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa ia harus menghadapi Elsa seperti ini. Terlebih, dengan kejadian saat pulang sekolah tadi. Namun, Elsa juga bersalah di sini. Kenapa di antara sekian banyak kafe, ia harus datang ke kafe ini? Dan di antara sekian banyak hari dalam setahun, kenapa harus hari ini? Alfon bahkan tak segera menyapa Elsa begitu sudah berdiri di samping meja cewek itu. Ia menarik napas dalam, kembali menyiapkan diri. Entah kenapa ia merasa, kali ini ia akan benar-benar dipermalukan di depan Aira dan yang lainnya. Tatapan tajam Elsa saat cewek itu akhirnya mendongak dan menatapnya adalah hal pertama yang menyapa Alfon. Alfon berusaha tersenyum saat cewek itu menyipitkan mata curiga. “Lo nggak ngikutin gue ke sini gara-gara masalah di sekolah tadi, kan?” tuduh Elsa. Alfon menggeleng cepat. “Gue … juga kebetulan di kafe ini. Sama Yura, Aira, Rey, Ken ama Arisa,” sebutnya cepat. Ia tak tahu kenapa ia menyebutkan semua nama itu, selain karena ia tidak ingin tampak begitu kesepian di sini sendiri, di hadapan cewek es ini. Elsa tampak tak tertarik. “Trus?” “Gue …” Alfon mengumpat dalam hati. Ia sudah biasa melakukan hal-hal seperti ini. Mendekati para cewek, merayu mereka, memberikan pernyataan kosong pada mereka, ia sudah biasa. Namun kali ini, yang ia hadapi bukan cewek biasa. “Kalo nggak ada hal penting, lo bisa pergi, nggak? Gue lagi sibuk,” ucap Elsa dingin. Alfon tidak mengharapkan sambutan manis cewek itu. Sama sekali tidak. Jadi, ia tidak terlalu terkejut. Namun, di depan Aira dan yang lainnya … “Elsa.” Panggilan Alfon membuat cewek itu kembali mendongak ke arahnya, tampak benar-benar terganggu kini. Sebelum cewek itu menyemburkan kata-kata esnya, Alfon berkata, “Gue suka ama lo.” Sebagai jawabannya, Elsa menatap Alfon seolah Alfon sudah gila. Seolah itu belum cukup, cewek itu bahkan mengatakannya dengan nada paling dingin, “Lo udah gila?” Suara tawa tertahan di belakang Alfon membuatnya menoleh dan ia mengumpat pelan saat melihat seorang pegawai kafe sudah berdiri di sana dengan membawa pesanan Elsa. Alfon menatap ke arah meja tempat Aira dan yang lainnya sudah tergelak puas melihatnya. Alfon bahkan tak merasa perlu untuk menoleh lagi ketika hendak meninggalkan meja Elsa. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar suara bernada ledekan Elsa, “Kalah taruhan?” Alfon memutar tubuh dan menatap Elsa tak percaya. Cewek itu sudah tahu dan dia masih melakukan ini? Ia bahkan tidak akan mati jika membantu Alfon sedikit saja, tapi ia justru … “Kayaknya orang-orang nyebut elo Ice Princess bukannya tanpa alasan,” geram Alfon sebelum benar-benar meninggalkan meja Elsa. Cewek es itu benar-benar keterlaluan. *** “Wah … dia emang bener-bener Ice Princess,” komentar Arisa. “Padahal kata Yura tadi, dia sebangku ama lo, kan?” Alfon mengangguk. Rey meringis simpati melihat ekspresi Alfon. Ia sudah sempat memarahi Aira tadi karena membuat Alfon melakukan hal tadi pada Elsa. “Nggak pa-pa lo?” tanya Rey. Alfon kembali mengangguk, tapi ekspresinya sama sekali tak menunjukkan itu. Tampaknya ia masih memikirkan penolakan Elsa tadi. Atau jangan-jangan … “Jangan bilang lo beneran suka ama Elsa,” Aira menyebutkan apa yang dipikirkan Rey. Alfon memberikan tatapan tajam pada Aira sebagai balasan. “Abis lo down banget kayaknya ditolak dia. Padahal, ini kan cuma game. Besok lo bisa kan, jelasin ke dia? Kalo lo mau … nembak lagi dengan cara yang lebih romantis,” usul Aira riang. Alfon mendengus kasar. “Bahkan meskipun di dunia ini cewek cuma ada dia, nggak bakal gue mau ama dia,” ucapnya serius. Rey dan Aira saling berpandangan. Sepertinya ini jauh lebih serius dari yang mereka pikir. Apa pun yang terjadi antara Alfon dan Elsa, sepertinya memang ada sesuatu. *** “Heh? Ke sekolah malem-malem? Sendirian?” Aira langsung menatap Rey dengan panik. “Al, lo tau kan, Aira …” “Yang bantu dia bakal dapat penalty,” cetus Alfon. Rey mendengus tak percaya. “Tapi lo tau kan, Aira paling nggak bisa ngelakuin hal-hal kayak gitu sendiri?” Alfon mengangguk. “Lo pikir gue tiap hari confess ke cewek paling dingin di dunia ini?” Kini Aira baru menyesali permainan bodoh ini. Ia menatap Alfon dengan tatapan memelas terbaiknya, tapi percuma saja. Tampaknya ia juga masih kesal karena kejadian memalukan dengan Elsa tadi. Ia bahkan ditolak Elsa di depan pegawai kafe. “Besok jam tujuh malem, gue tunggu lo di depan sekolah,” putus Alfon. “Dan inget, siapa pun yang bantu dia, bakal dapat penalty.” Alfon menatap Rey saat mengatakan itu. Aira mengerang tak percaya mendapati apa yang harus ia hadapi esok. “Rey …” Ia menarik lengan kemeja seragam Rey, meminta bantuan. Rey menoleh ke arahnya, tampaknya juga tak punya pilihan lain, kecuali ia mau melakukan hukuman gila dari Alfon. “Sori … gue nggak tau kalo dia pendendam banget kayak gini,” Aira berkata pada Rey. Rey tersenyum geli seraya mengacak rambutnya. “Tenang aja, gue bakal mikirin cara buat ngebujuk dia.” Yah, setidaknya itu sedikit menenangkan Aira. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD