Chapter 2
When I’m with you
I get stronger
Ain’t got no fear
(Teen Top – Baby You)
Aira menarik napas dalam ketika akhirnya tak bisa melihat Rey lagi. Digenggamnya erat senter di tangan, sementara kakinya seolah membeku di tempat. Ia tak tahu sudah berapa lama berdiri di sini, dan hanya berdiri di sini.
Aira kembali menarik napas dalam, menguatkan diri. Ia hanya harus mengambil buku yang ditinggal Alfon di kelas yang sudah tidak terpakai di lantai dua. Ruangan itu sudah menjadi gudang, setahu Aira.
Dalam hati Aira memaki Alfon. Dia benar-benar sudah menyiapkan balas dendamnya tanpa pengampunan. Ia benar-benar akan membalas Alfon untuk ini. Setelah menarik napas dalam lagi, akhirnya Aira melangkah melintasi halaman sekolahnya, menuju gedung selatan, kelas paling ujung di lantai dua.
Aira ingin menangis saat menaiki tangga menuju kelas yang ia tuju. Ia benar-benar takut. Namun, jika ia tidak melakukan ini, ia tidak tahu apa lagi yang akan Alfon ingin ia lakukan. Ini saja sudah cukup mengerikan. Dan jujur, ia tidak ingin sampai harus merepotkan Rey, apalagi sampai membuatnya harus mendapat hukuman karena menolong Aira.
Ia hanya perlu menyelesaikan ini dengan cepat. Ia tidak perlu mendengarkan apa pun, tidak perlu melihat apa pun selain jalan di bawahnya. Ia bahkan harus mengabaikan hawa dingin yang sedari tadi mengikutinya. Ini demi Rey. Ia tidak akan membuat Rey berlari kemari karena khawatir padanya.
Akhirnya Aira tiba di lantai atas setelah membisikkan nama Rey berkali-kali untuk mengusir ketakutannya. Ia bergegas menuju ruang kelas paling ujung di lantai itu. Ia tidak menoleh ke arah mana pun dan hanya fokus membuka pintu ruangan. Namun, begitu ia membuka pintu kelas, sesuatu terbang ke arahnya dengan cepat, membuatnya berteriak bahkan sebelum ia menyadari.
***
“Al, ini kayaknya udah keterlaluan, deh,” Rey berkata, untuk kesekian kalinya.
“Kalo lo mau, lo boleh nyusul Aira. Lo cuma perlu ngelakuin penalty-nya ntar,” sahut Alfon enteng.
Rey mengepalkan tangan menahan emosi. Ia benar-benar ingin menghajar Alfon saat itu juga.
“Rey, mending lo nyusul Aira, deh. Lagian hukuman apa pun ntar kan, lo pasti bisa ngehadapinnya. Tapi ini Aira sendirian di sana.” Yura terdengar cemas.
Rey ingin melakukan itu. Namun, setelah apa yang Alfon lakukan padanya dan Aira dalam perjalanan dari kantin ke kelas kemarin, Rey harus berpikir ulang untuk itu. Entah kenapa, ia merasa Alfon ingin membuatnya dan Aira melakukan sesuatu yang bodoh. Ia akan baik-baik saja seandainya itu tidak melibatkan Aira, tapi melihat bagaimana Alfon menatapnya tadi, ia tidak yakin Alfon akan membuatnya semudah itu bagi Rey dan Aira.
“Aira nggak pa-pa, kan?” Arisa juga mulai cemas. Sepuluh menit sudah berlalu dan Aira masih juga belum kembali.
Lalu Rey mendengar Aira berteriak. Jantungnya seolah merosot dari tempatnya mendengar teriakan ketakutan Aira. Ia tak lagi bisa peduli akan hal bodoh apa pun yang Alfon ingin lakukan padanya nanti. Rey hendak berlari menyusul Aira, tapi karena tak memperhatikan jalan, kakinya tersandung kaki Alfon, atau lebih tepatnya, kaki Alfon menjegalnya.
Ia bahkan tak punya waktu untuk membalas Alfon dengan satu pukulan pun karena terlalu mengkhawatirkan Aira. Secepat mungkin ia berlari menyusul Aira. Dia baik-baik saja, kan? Jika sampai dia terluka … ah, seharusnya ia menemani Aira sejak awal. Toh ia bisa memikirkan hukuman yang harus ia lakukan nanti. Bahkan meskipun itu melibatkan Aira, entah bagaimana, ia pasti bisa mengatasinya.
Membiarkan Aira menghadapi ketakutannya sendiri seperti ini adalah hal terbodoh yang pernah Rey lakukan.
***
Sedari tadi Alfon mengamati Rey yang sudah mengepalkan tangan, bersiap lari menyusul Aira kapan saja jika cewek itu memanggilnya. Aira bahkan tak perlu memanggil Rey untuk membuatnya datang pada cewek itu. Ia juga bisa melihat betapa Rey ingin menghajarnya karena membuat Aira melakukan ini sendiri, meski Rey berhasil menahan diri. Alfon mendengus geli mengingat Rey bahkan tak menoleh ke belakang meskipun ia tahu Alfon yang sengaja membuatnya terjatuh tadi.
“Kalo lo sedendam ini sama Aira, kita bisa mikir kalo lo emang suka beneran ama Elsa,” celetuk Ken.
Alfon tersenyum kecil. “Ini bukan tentang Elsa ama gue,” ucapnya. “Kalian yang lebih lama kenal mereka, tapi kalian nggak tau kenapa gue ngelakuin ini?”
“Jangan bilang lo …”
“Setelah jadi korban pertama gue, sekarang lo ngerti?” Alfon menyela kalimat Dio.
Dio mendengus tak percaya. “Tapi kalo mereka sih, percuma, Al. Sampai nanti juga mereka bakal ngelak terus. Lo juga tau kan, mereka sama-sama keras kepala. Jadi, jangan berharap banyak dengan ngelakuin semua ini. Mau mereka sahabatan, pacaran, nggak ada yang berubah. Apa pun status mereka berdua, mereka nggak bakal bisa dipisahin. Tapi seberapa pun dekatnya mereka, mereka bakal bilang kalo mereka cuma sahabat.”
“Let’s see,” balas Alfon. “Gue cukup tau banyak hal tentang cewek. Gue bahkan udah tau kalo Yura nggak mungkin ngeliat gue selama ada lo pas gue mau serius deketin dia.”
Dio tersenyum geli. “Kayaknya sekarang hobi lo udah ganti. Udah bosen ama cewek, jadi ngurusin perasaan orang lain sekarang?”
Alfon meringis. Tidak seperti itu juga. Ia hanya tidak tahan melihat tingkah Aira dan Rey. Telinganya panas mendengar perdebatan mereka setiap saat. Mungkin bersama dengan orang-orang inilah yang merubahnya. Baru dua bulan Alfon bersama anak-anak ini, tapi melihat mereka, ia menyadari bahwa seseorang bisa menjadi begitu berarti bagi seorang lainnya.
***
“Aira!” Suara itu membuat Aira menoleh cepat. Ia benar-benar lega ketika melihat Rey, tapi ia juga cemas.
“Lo ngapain ke sini?” tuntut Aira saat Rey berjongkok di sampingnya. “Ntar pasti Alfon nyuruh lo ngelakuin hal-hal bodoh.”
“Lo bego atau apa, hah?! Apa itu penting sekarang?!” bentak Rey. “Lo nggak pa-pa? Kenapa lo duduk di lantai gini?!”
Aira bisa melihat kecemasan Rey dengan jelas kini. Ia bahkan tidak memikirkan dirinya dan hanya memikirkan Aira.
“Tadi pas gue buka pintu kelas ini ada burung atau kelelawar, atau apa gitu yang tiba-tiba terbang ke arah gue. Gue kaget, kan. Makanya … ah, padahal gue udah berusaha buat nggak teriak betapa pun takutnya gue. Tadi gue cuma kaget dan …”
“Lo nggak pa-pa?” potong Rey seraya memeriksa lengan dan kaki Aira.
Aira menggeleng saat Rey kembali menatapnya. Mendadak ia ingin menangis saat menatap Rey seperti ini.
“Lo bisa berdiri?” tanya Rey pelan.
Aira mengangguk, tapi akhirnya ia berdiri dengan dibantu Rey. Bahkan setelah berdiri, ia masih berpegangan pada lengan Rey.
“Lo pasti takut banget,” desah Rey.
“Sekarang udah enggak,” ucap Aira jujur.
“Sori, harusnya tadi gue nggak ngebiarin lo pergi sendiri,” sesal Rey.
Aira menggeleng. “Sori, karena gue udah buat lo kena masalah,” balasnya. “Alfon sialan itu … awas aja ntar, gue bakal bales dia,” janji Aira. Bahkan meskipun ia harus menggunakan Elsa, ia akan membuat Alfon membayar ini.
***
“Kaki lo kenapa?” Aira tampak cemas ketika melihat celana jeans Rey koyak di bagian lutut dan ada noda darah di sana. “Lo tadi jatuh?” Aira berjongkok untuk memeriksa kaki Rey, tapi Rey menarik kakinya.
Ia menatap Alfon penuh dendam, sementara yang ditatap hanya mengangkat tangan, tak sedikit pun tampak menyesal.
“Nggak pa-pa,” Rey berkata seraya menarik Aira agar cewek itu berdiri.
“Nggak pa-pa, gimana? Sampai berdarah gitu,” ucap Aira muram.
“Gue nggak pa-pa, Ai,” ucap Rey lelah. Ia menatap Ken dan yang lain, berpamitan pada mereka sebelum menggandeng Aira pergi dari sana. Ia sempat menabrak bahu Alfon dengan kasar saat melewati anak itu.
“Lo masih utang satu penalty ke gue, Rey!” seru Alfon di belakangnya.
“Rey, sori …” gumam Aira, terdengar penuh penyesalan.
“Nggak pa-pa, Ai,” balas Rey seraya mengacak rambut Aira.
“Sori …” cewek itu terus berkata bahkan sampai mereka di dalam mobil Rey.
Seharusnya tadi Rey tidak menahan diri. Menghajar Alfon pasti bisa membuatnya merasa lebih baik. Mendengar Aira terus menyalahkan diri sendiri seperti ini, Rey benar-benar tidak suka.
***
“Gara-gara elo nih,” tuding Aira saat Alfon baru tiba di kelas mereka pagi itu. Seperti biasa, Ken, Arisa dan Dio sudah ikut berkumpul di sana.
“Gue kenapa?” balas Alfon santai seraya berjalan ke tempat duduknya.
“Kalo kemaren lo nggak nyuruh gue ke sini sendiri, kakinya Rey nggak bakal luka, tau!” Aira terdengar sangat kesal.
Alfon menoleh untuk menatap Rey yang masih menatapnya penuh dendam. Alfon memberikan senyum selamat pagi pada Rey sebelum membalas Aira,
“Sori. Gue nggak tau kalo lo bakal teriak ketakutan kayak gitu,” ucapnya seraya mengangkat tangan. Tatapan penuh dendam di mata Aira menunjukkan bahwa cewek itu sama sekali tak percaya. Yah, Alfon juga tak mengharapkan itu. “Dan gue juga nggak tau kalo Rey bakal langsung lari kayak gitu gara-gara denger teriakan lo.”
Aira mendesis kesal, tapi tak lagi mendebat Alfon. Cewek itu menatap Rey.
“Kaki lo gimana? Masih sakit? Lagian, elo sih, lari nggak liat jalan,” omel Aira cemas.
“Gue nggak pa-pa, Ai,” Rey tampak luar biasa lelah saat mengatakan itu, entah untuk keberapa kalinya.
“Kemaren lo jatuh di mana, sih? Lo nggak jatuh dari tangga, kan? Yang luka cuma kaki lo, kan?” Aira mulai memeriksa lengan Rey.
Alfon mengangkat alis. Apakah Rey tidak mengatakan bagaimana ia jatuh semalam? Ken dan Dio yang tampaknya semalam juga melihat itu hanya bisa meringis. Sepertinya, Alfon harus berterima kasih untuk ini. Secara tidak langsung, anak-anak itu menyelamatkannya dari Aira yang mungkin akan langsung mencekiknya jika tahu tentang itu. Atau lebih tepatnya, Rey tidak ingin membuat Aira merasa lebih bersalah lagi.
Dan sore ini, Alfon akan menyelesaikan permainan ini.
***
“Alfon ngapain mendadak ngajak kita semua ngumpul di sini?” tanya Ken penasaran begitu ia dan Arisa duduk.
Aira mengedik cuek. “Katanya mau nraktir kita. Mau minta maaf, mungkin.”
Rey mendengus menanggapinya. Alfon? Minta maaf? Dugaan Rey, ia berniat membuat Rey melakukan sesuatu di sini.
“Gue mau pesen makanan yang banyak buat balas dendam,” ucap Aira berapi-api. Cewek itu tampaknya sama sekali tidak menyadari alasan sebenarnya Alfon membawa mereka kemari. Yah, begini lebih baik. Rey benar-benar lelah memberikan jawaban yang sama setiap setengah jam sekali tentang kakinya yang terluka kemarin.
“Tapi Alfon mana? Dia nggak ngerjain kita, kan?” Bahkan Yura yang luar biasa polos masih sempat curiga.
“Dia udah di jalan tadi pas gue telpon,” balas Aira santai.
Dengan terlalu gembira, Aira menawarkan diri untuk memesan. Yura dan Arisa pun menawarkan untuk ikut dan mereka bertiga akhirnya pergi untuk memesan makanan. Ken dan Dio kini menatap Rey, menyadari kekhawatiran Rey.
“Lo kenapa?” tanya Dio tanpa basa-basi.
Alih-alih menjawab Dio, Rey justru berkata, “Ntar kalo Alfon dateng, lo ajak Aira keluar, ya?”
Dio mengerutkan kening bingung. “Emangnya kenapa?”
“Perasaan gue nggak enak aja,” ungkap Rey. “Pokoknya ntar kalo Alfon dateng …” Kalimat Rey terhenti ketika ponselnya berbunyi.
Telepon masuk. Dari Alfon.
“Lo bisa keluar bentar, nggak?” tanya Alfon begitu Rey mengangkat telepon.
Rey menatap Dio, lalu mengedikkan kepala ke arah Aira, memberi isyarat tanpa kata. Dio mengangguk, Rey pun berdiri. Ia lantas keluar untuk menemui Alfon yang ternyata sudah berdiri di pintu masuk kafe.
“Lo nggak lupa kan, lo masih utang penalty ke gue?” Alfon memastikan saat Rey sudah berdiri di depannya.
“Lo mau gue ngapain di sini?” tanya Rey cepat.
Alfon menarik napas dalam. “Kayaknya lo udah tau alasan gue ngajak kalian ke sini, ya?” Ia tampak geli. “Lo bahkan sempet minta tolong Dio buat bawa Aira pergi.” Alfon melongok ke belakang.
Rey mengumpat pelan. Ia menoleh ke belakang dan melihat Dio sudah menghampiri Aira, tapi Aira tampaknya menolak untuk pergi. Cewek itu benar-benar keras kepala. Saat Dio menoleh ke arahnya, menggeleng kecil, Rey tahu ia kalah.
“Confess ke Aira,” sebut Alfon.
Rey mendesah berat. “Oke.” Hanya itu jawabannya sebelum berbalik, hendak menghampiri Aira, tapi Alfon menahan bahunya.
“Dari sini,” perintahnya.
“Apa?” Rey menatap Alfon tak percaya.
“Confess ke Aira dari sini. Bilang kalo lo suka ama dia,” urai Alfon.
Rey menatap Alfon dengan geram. “Lo …”
“Kalian kan sahabat, jadi masalah kayak gini nggak masalah, kan?” Alfon mengedikkan bahu santai.
“Lo tau nggak ini di mana?” desis Rey. “Besok, di sekolah, gue bakal ngelakuin apa yang lo minta di depan kelas,” janjinya.
Alfon menggeleng. “Di sekolah udah biasa. Toh semua udah tau kalo kalian sahabatan dan elo ama Aira paling sering bercanda tentang hal kayak gini. Aira paling suka kan, game kayak gini? Terakhir juga dia buat Dio ama Yura jadian. Atau, lo mau jadian aja ama dia? Bukan cuma buat sebulan, tapi sepuluh tahun?”
Rey mengepalkan tangan, berusaha menahan emosi.
“Lo ngehajar gue pun nggak bakal ngubah apa pun. Ini game yang kalian buat, jadi kalian harus nepatin. Atau … lo mau Aira yang ngelakuin ini buat lo? Gimana kalo dia yang confess ke elo di depan semua orang ini?” Alfon tampak bersemangat dengan usulan gilanya.
“Nggak perlu,” desis Rey marah. Setelah melemparkan tatapan penuh permusuhan untuk terakhir kali pada Alfon, Rey kembali menatap ke depan. Ia menarik napas panjang sebelum meneriakkan nama Aira.
Kini, tidak hanya Aira yang menoleh padanya, tapi juga seisi kafe. Aira yang sudah duduk di meja mereka bahkan melambaikan tangan ke arahnya dengan senyum riang.
“Gue suka ama lo, Ai,” ucap Rey keras, lebih keras dari yang ia pikir. Kata-kata itu bahkan meluncur begitu saja dari mulutnya tanpa ia pikirkan. Ia bahkan tidak bisa memikirkan kata-kata lain yang lebih … tidak masuk akal. Karena perhatian seluruh kafe tadinya sudah terpusat padanya, sepertinya tak ada seorang pun yang tak mendengarnya. Namun, bukan itu yang membuat Rey terganggu. Reaksi Aira saat ini … cewek itu tampak benar-benar terkejut. Dia tidak berpikir …
“Alfon sialan,” umpat Rey dalam desisan sebelum bergegas menghampiri Aira.
***
Suara sorakan di kafe bahkan tak bisa menembus keterkejutan Aira. Ia semakin panik saat Rey berjalan ke tempatnya. Apa yang harus ia katakan? Tidak … kenapa jantungnya mendadak berdegup sekencang ini? Apa yang harus ia lakukan?
“Jangan ngomong apa pun.” Suara Rey menembus kepanikan Aira.
Aira menunduk menatap Rey yang sudah berlutut di depannya. “Rey …”
“Alfon,” Rey memotong kalimat Aira cepat. “Penalty gue,” lanjutnya.
“Ah …” gumam Aira seraya mengangguk-angguk, tapi saat ini, isi kepalanya benar-benar kosong. Ia tak tahu apa yang harus ia katakan. Ia masih terkejut karena reaksinya sendiri. Biasanya, ia bahkan mengatakan kata-kata seperti itu pada Rey setiap kali mendapat dare dari teman-temannya. Namun, kenapa kali ini ia bereaksi seperti ini?
Ia hanya … terkejut karena Rey tiba-tiba mengatakan itu, di depan semua orang ini. Entah kenapa, Aira sempat berpikir bahwa tadi Rey serius mengatakan itu. Ia terdengar sungguh-sungguh dengan apa yang ia katakan. Karena itu Aira juga …
“Sori,” ucap Rey penuh penyesalan, memotong pikiran Aira. “Tadi gue udah minta Dio bawa lo pergi, tapi …”
“Lo udah tau kalo Alfon bakal minta lo ngelakuin ini?” tanya Aira kaget.
“Nggak pasti kayak gini, tapi kurang lebih kayak gini, lah,” jawab Rey pelan. “Kemaren waktu ada Elsa kan … dia juga ….”
“Ah …” Aira tidak perlu penjelasan lebih lanjut. Jadi, karena kemarin Aira sempat mempermalukannya di depan cewek itu, sekarang ia membalas dendam. Ia bahkan menggunakan Rey untuk itu.
Kali ini, Aira bertekad untuk melakukan sesuatu pada Alfon dan Elsa.
***
“Nice show.” Suara dingin bernada sarkatis itu membuat Alfon mengalihkan perhatian dari Aira dan Rey.
Alfon segera menghapus ekspresi keterkejutannya demi melihat Elsa berdiri di depannya. “Thanks,” jawab Alfon sesantai mungkin.
“Pastiin aja mereka nggak tau weakness lo, atau lo bakal kena masalah ama Aira,” ucap Elsa dengan nada meremehkan.
Alfon menelengkan kepala menatap cewek itu. “Thanks buat sarannya.”
“Dan kalo sampai lo ngelakuin hal bodoh kayak gini ke gue lagi, gue pastiin gue nggak bakal cuma nyebut lo gila sebagai jawaban,” ucap Elsa serius.
Alfon berdehem. “Oke, don’t worry.”
Namun bahkan setelah Alfon mengatakan itu, Elsa masih berdiri di tempatnya, membuat Alfon mengangkat alis.
“Apa lagi sekarang?” tuntutnya.
Elsa mendengus. “Awas, lo ngehalangin jalan gue,” dinginnya seperti biasa.
Reflek, Alfon menepi, tapi ketika ia menyadari bahwa cewek itu bisa saja lewat di jalan kosong sebelahnya, ia mengumpat pelan. Cewek itu benar-benar Ice Princess yang mengerikan.
***