Chapter 3

2371 Words
Chapter 3 Sekarang bagaimana? Siapa yang menyukai siapa?   Situasi apa ini? Kenapa bisa jadi seperti ini? Dan kenapa Ken bahkan tak membantah? Apa dia sudah gila? Arisa menatap Ken dari tempat duduknya, lekat. Ia tidak terlalu terkejut dengan kenyataan bahwa Ken memperhatikannya sepanjang presentasi, toh semua murid di kelas juga pasti memperhatikannya, kecuali Sera dan Nadia. Alasan kenapa Ken sampai tidak sadar ketika sudah gilirannya presentasi, dia pasti gugup. Arisa pun gugup saat ia akan maju presentasi. Entah bagaimana Sera dan Nadia bisa mengambil kesimpulan seperti itu. Namun, mengatakannya di depan semua orang, bahkan di depan Miss Anne, itu benar-benar keterlaluan. Yang paling mengejutkan Arisa adalah, ketika Ken bahkan tak membantah. Arisa tahu dengan baik bahwa Ken tidak menyukainya. Ia bahkan tidak pernah memperhatikan Arisa. Sekarang apa yang akan ia lakukan? Bagaimana ia akan menghadapi Ken setelah ini? Dan lagi, mereka masih satu kelompok untuk tugas berikutnya. Memikirkan itu, Arisa benar-benar tidak bisa berkonsentrasi sepanjang pelajaran Biologi. *** “Ari-chan.” Panggilan itu datang dari Sera. Arisa mendongak dari kesibukannya merapikan buku-buku. Sera menoleh ke arah pintu kelas, Arisa mengikuti arah tatapannya dan langsung terlonjak kaget melihat siapa yang berdiri di sana. Bergegas Arisa menghampiri wanita cantik berwajah oriental dan rambut hitam sepunggung. “Mama, ngapain di sini?” panik Arisa dalam bahasa Jepang. “Tadi Mama habis belanja, jadi sekalian jemput kamu. Tapi Mama nungguin di luar tadi kamu nggak keluar-keluar, padahal semua temenmu udah pulang. Makanya Mama nyusul ke sini,” terang mamanya. Arisa meringis. Terima kasih pada guru Biologinya untuk itu. Gurunya yang sangat berdedikasi itu memutuskan untuk menyelesaikan penjelasan materi yang sedang mereka pelajari dengan terlalu bersemangat hingga melewatkan bel pulang. “Ini juga lagi beresin buku,” Arisa berkata. “Mama tunggu di luar, ya?” Namun, karena ini mamanya, Arisa tidak terlalu heran ketika alih-alih menuruti kata-katanya, mamanya justru masuk ke kelas, menarik perhatian teman-teman sekelas. “Hai, semuanya. Tante mamanya Arisa,” mama Arisa berbicara di depan kelas. Arisa memejamkan mata. Tahun lalu mamanya juga melakukan hal seperti ini, memperkenalkan diri di depan semua teman-teman sekelas Arisa, lalu mengundang mereka ke rumah. “Kalo kalian ada waktu, main-main deh ke rumah Arisa,” lanjut mamanya. Arisa menghela napas berat. Mamanya selalu berpikir bahwa Arisa tidak punya teman. Namun sebenarnya, ia hanya tidak ingin. Berusaha menghentikan mamanya yang mulai mempromosikan kemampuan memasaknya, Arisa menghampiri. “Ma,” panggil Arisa, menghentikan mamanya. “Iya, Sayang?” Mama menatap Arisa dengan mata berbinar, seperti biasanya. “Mama tunggu di luar, ya? Bentar lagi Arisa selesai, kok.” Arisa menambahkan senyum lemah di akhir kalimatnya. Mama mengerutkan kening, tapi ia mengangguk. Betapa pun cerewetnya Mama, ia selalu tahu jika Arisa sedang tidak baik-baik saja, meski terkadang terlambat menyadarinya. “Oke, Mama tunggu di luar,” Mama berkata. Arisa tersenyum lega kali ini. Lalu, ia mendengar Sera memanggil mamanya, “Tante.” Mama Arisa menghentikan langkah dan menoleh ke arah Sera. “Arisa boleh punya pacar nggak, Te?” tanya Sera. Arisa mendengus tak percaya. Sera sudah pernah bertemu dengan mama Arisa tahun lalu. Karena itulah ia berani bertanya seperti ini. “Sera cuma bercanda, Ma,” Arisa berkata, tapi mamanya tampak terlalu tertarik dengan pertanyaan Sera. “Memangnya Arisa punya pacar? Kok dia nggak pernah bilang ke Tante?” Mama menatap Arisa dengan kecewa kini. Arisa menggeleng. “Nggak ada, Ma,” ia berusaha meyakinkan. “Sera kan, cuma tanya tadi.” Mama Arisa mengangguk. “Tapi kalo kamu memang mau pacaran, selama itu nggak bawa pengaruh negatif dan nggak ganggu belajar kamu, nggak pa-pa kok, Sayang,” lanjut mamanya. “Ciyee … yang udah dapet lampu hijau …” heboh Sera. Tatapan Arisa seketika melayang ke arah Ken, sebelum kembali memalingkan wajah cepat karena ternyata Ken juga sedang menatapnya. “Tante tenang aja, nanti kalo Arisa udah punya pacar, Sera pasti langsung kabarin ke Tante,” Sera berkata ke mama Arisa. Mama tersenyum lebar mendengarnya. “Makasih ya, Sera. Main-main lagi ke rumah, nanti Tante masakin makanan kesukaan kamu,” janji mamanya, yang disambut anggukan antusias Sera, sementara Arisa hanya bisa mendesah lelah. “Ya udah, Mama tunggu di luar, ya?” Mama akhirnya kembali menatap Arisa, mendaratkan ciuman ringan di puncak kepalanya sebelum melambaikan tangan pada Sera dan meninggalkan kelas. “Ari-chan deket banget ama mamanya, bikin iri,” celetuk Mayang, salah seorang teman sekelasnya. Teman-temannya yang lain ikut menimpali komentar itu dengan persetujuan. Beberapa juga membicarakan tentang betapa cantiknya mama Arisa, juga logat bicaranya yang mirip Shizu Sensei, dan tentang fakta bahwa mamanya adalah orang Jepang. Arisa membalas pertanyaan teman-temannya dengan jawaban ala kadarnya seraya membereskan buku-buku dengan cepat. Saking tergesanya, ia sampai menabrak seseorang di depan kelas. “Sori,” gumamnya seraya mendongak. Ia tersentak mundur melihat siapa yang barusan ditabraknya. “So … sori …” gugup Arisa sembari kembali menunduk, sebelum melewati anak itu. Arisa memaki kecerobohannya sepanjang perjalanan menuju gerbang. Di antara semua orang yang bisa ditabraknya, kenapa harus menabrak Dio, salah satu teman Ken? Bodoh. *** Ken dan teman-temannya sengaja tinggal di kelas Ken sampai ruangan kosong. Atau lebih tepatnya, teman-teman Ken menahannya di sini. Pasalnya, mereka sempat melihat mama Arisa, dan di depan mereka, Sera berkata heboh tentang Ken yang sudah mendapat izin dari mama Arisa. Ditambah, kepergian Arisa yang tergesa hingga menabrak Dio tadi. “Jadi, maksudnya temen lo apa tadi? Lo udah dapet izin buat jadian sama Arisa? Si Arisa itu … cewek yang lo suka? Temen-temen lo udah pada tau? Lo confess di depan anak-anak sekelas atau gimana, Ken?” buru Aira. Ken menghela napas berat. “Mereka nyimpulin sendiri kalo gue suka sama Arisa. Dan gue sama sekali nggak mungkin ngelakuin hal gila kayak gitu.” Aira mencibir, sementara Yura berkomentar, “Itu romantis, kali.” Ken mendesah lelah. “Intinya, mereka cuma salah paham tadi. Sekarang, gue udah boleh pulang?” Aira menggeleng. “Kalo sampai temen-temen lo nyimpulin kayak gitu, berarti lo ngelakuin sesuatu yang terlalu jelas tentang perasaan lo ke dia.” Dan bagaimana bisa tak ada satu pun dari mereka yang tahu tentang perasaan Arisa ketika cewek itu memperhatikan Ken sepanjang waktu? Rasanya, setiap kali Ken menoleh ke belakang, ia mendapati cewek itu sedang menatapnya. Namun, kenapa tak satu pun orang di kelasnya tahu tentang itu? Kini bahkan sahabat-sahabatnya berpikir bahwa Arisa benar-benar membencinya. “Tapi, yang tadi itu beneran mamanya Arisa?” Yura mendadak penasaran. Ken mengangguk. “Cantik, ya? Makanya anaknya juga cantik. Tapi mamanya tadi kayak orang …” “Jepang,” Ken memotong. “Japanese, iya.” “Oh … berarti Ari-chan yang sering diomongin Shizu Sensei itu Arisa lo itu?” tanya Dio. Ken mengangguk. “Kalian tau Ari-chan, tapi nggak tau Arisa?” dengusnya. “Sori, kita nggak lagi naksir dia sih, makanya nggak begitu tau,” ledek Aira. Ken mendesis. “Gue tau juga bukan karena gue suka dia, sih.” “Sukanya nggak, tapi penasaran?” cibir Aira. “Trus, udah sejauh mana informasi yang lo dapet tentang Ari­sa lo itu? Mau kita bantuin?” Ken mendecakkan lidah, tapi tak mengelak. Bukankah dia memang tahu tentang itu juga karena penasaran dan bertanya pada Sera? Entah kenapa, belakangan ia menjadi terlalu sering penasaran akan Arisa. “Taruhan deh, sebelum akhir tahun ajaran juga Ken pasti udah naksir dia,” cetus Yura mantap. “Nggak usah nunggu akhir tahun, sekarang juga kayaknya dia udah mulai naksir ama cewek itu,” dengus Rey geli. “Atau malah, jangan-jangan sekarang lo udah naksir parah ama dia, Ken? Makanya lo …” “Rey, mending lo simpen tenaga lo buat debat ama Aira aja, deh.” Akhirnya Ken tak bisa tinggal diam lagi. Ia bangkit dari duduknya, mengabaikan teriakan protes Aira yang masih ingin menginterogasinya, dan meninggalkan teman-temannya di belakang. Kata-kata Rey tadi benar-benar mengusiknya. Ken hanya penasaran tentang cewek itu, meski ia tak tahu bagaimana cara menghentikan rasa penasarannya. Namun, menyukai cewek itu … terdengar sedikit berlebihan. Mengingat ia tahu bahwa Arisalah yang menyukainya. *** Langkah Arisa seketika terhenti di depan pintu kelas ketika mendapati hanya ada Ken di kelas mereka pagi itu. Ken mengamati cewek itu menunduk, tampaknya menimbang-nimbang untuk masuk atau tidak. Ken reflek tersenyum ketika cewek itu memutuskan untuk masuk ke kelas. Tanpa menatap Ken, Arisa bergegas ke tempat duduknya di belakang. Ken selalu bertanya-tanya. Arisa bukan murid pemalas, ia rajin mengerjakan tugas, ia juga tidak bodoh, tapi kenapa ia memilih tempat duduk di deret paling belakang? Ken bangkit dari duduknya ketika melihat Arisa hendak keluar kelas begitu meletakkan tas. Ken melompati kursi sebelahnya untuk menghalangi jalan Arisa, membuat cewek itu tersentak kaget. Ketika melihat bahwa Kenlah yang menghalangi jalannya, Arisa mulai panik. Ia menunduk dan menggumamkan maaf seraya bergeser ke kanan, tapi Ken juga ikut bergeser, kembali menutup jalan. Saat cewek itu bergeser ke kiri, Ken mengikutinya. Ken tak dapat menahan senyum saat melihat Arisa semakin panik. Bagaimana ia bisa tidak yakin tentang perasaan cewek ini padanya? Wajahnya yang memerah, kepanikannya yang luar biasa, ia bahkan tak bisa menatap Ken saat ini. Ken harus mengakui kehebatan cewek itu menyembunyikan perasaannya dari semua orang, dan malah membuat teman-teman sekelas berpikir bahwa Kenlah yang menyukainya. “Ken!” Seruan dari pintu kelas membuat Ken menoleh. Memanfaatkan kesempatan, Arisa bergeser dan melewati Ken. Melihat itu, entah kenapa Ken mengulurkan tangan, menahan lengan Arisa. “Wow?” Aira mengangkat alis sementara Rey sudah mendengus geli. “Lo berangkat subuh dan ninggalin kita-kita cuma buat ini? Nembak Arisa?” dengus Rey. Ken tak menyahut dan justru menarik Arisa, memaksa cewek itu berdiri di depannya. Ken menahan bahu Arisa, tidak terlalu kencang, khawatir akan menyakitinya. “Lo juga tau kan, anak-anak pada mikir kalo gue suka ama lo?” Ken bertanya pada Arisa. Arisa menghindari tatapan Ken. “Mereka kan, nggak tau apa-apa. Tenang aja, gue nggak bakal salah paham, kok. Gue tau lo nggak mungkin suka ama gue, jadi … tolong lepasin gue …” ucapnya seraya berusaha menarik diri. Ken tertegun, tatapannya lekat ke arah Arisa yang masih dengan panik berusaha melarikan diri. Di saat semua orang begitu yakin bahwa Ken menyukainya, cewek itu justru dengan yakinnya berkata bahwa Ken tidak mungkin menyukainya. “Ken …” Suara Arisa penuh permohonan, membuat Ken reflek melepaskan pegangan. Sebelum ia sempat mengatakan apa pun, cewek itu sudah berlari keluar kelas. “Cara nembak lo … unik, Bro,” Rey berkata. Ken mendengus kasar. “Kayaknya dia bakal makin ngehindarin gue, deh,” ucapnya. “Thanks to you, Guys,” lanjutnya penuh sarkasme. “Sori ya, Ken, tapi seinget gue, tadi elo yang ngomongnya mistis,” desis Aira seraya masuk ke kelas Ken. “Lagian, ngapain lo pake ngomong gitu ke Arisa? Yang ada, dia malah takut kali ama elo. Kesannya lo ngamuk gara-gara gosip itu. Kalo emang nggak bener, ya udah sih, nggak perlu juga ngomong gitu ke Arisa. Lo berharap dia ngomong apa?” Ken memaki dirinya sendiri dalam hati. Ia sama sekali tidak bermaksud menakut-nakuti Arisa, atau mengatakan hal yang kasar. Ia hanya ingin mengajak cewek itu bicara. Meski jika dipikir-pikir, caranya berbicara tadi memang sedikit … aneh. Jawaban apa yang dia harapkan dari Arisa? ‘Nggak pa-pa, soalnya gue juga suka ama lo’? Ken pasti sudah gila. “Tadinya gue mau ngomong baik-baik ke dia, ngejelasin kalo itu cuma salah paham. Tapi tiba-tiba kalian datang dan ngacauin timing-nya,” Ken kembali menyalahkan kedua temannya. “Nah lo mau ngajak ngomong juga caranya serem gitu. Ngapain coba lo ngehalangin jalan dia, kayak mau ngajak ribut. Tinggal ngomong kalo lo pengen ngomong ama dia, kelar kan? Ribet sih, otak lo,” tuding Aira. Ken mengumpat pelan. Ia tak tahu jika Aira dan Rey sudah ada di sana tadi. Ia terlalu fokus memperhatikan Arisa. “Tapi lo yakin, itu cuma salah paham?” Rey bertanya. Ken mengerutkan kening. “Harus berapa kali lagi gue ngomong kalo …” “Trus, apa maksudnya lo ngeliatin Arisa kayak tadi?” potong Rey. “Lo udah kayak serigala yang mau nerkam mangsanya gitu. Yang bisa lo liat cuma dia doang?” Ken melengos kasar. “Terserah deh, kalian mau mikir apa juga,” ucapnya akhirnya. Selama beberapa saat, Aira dan Rey tak mengatakan apa pun, hingga kedua teman Ken yang lain, Yura dan Dio, masuk ke kelasnya. “Arisa lo kenapa lagi, sih? Udah kayak yang dikejar hantu aja, sampai nggak liat jalan di depannya,” Dio berkata seraya menghampiri Ken. “Dia nabrak lo lagi?” keluh Ken. Entah kenapa, ia tidak suka mendengarnya. Ia tidak suka Arisa begitu ceroboh, ia tidak suka cewek itu menabrak orang sembarangan, ia tidak suka … “Kalo di film-film nih ya, biasanya abis nabrak-nabrak gitu, bisa suka, lho,” celetuk Yura. Ken menatap cewek itu tajam. “Itu cuma film, Ra,” kesalnya. “Ya, biasa aja kali ngomongnya. Kayak nggak tau Yura aja,” Aira berbicara. Kali ini Ken menatap Aira dengan kesal. “Lo kenapa, sih? Pagi-pagi udah bad mood gitu?” Dio mulai penasaran. “Salah dia sendiri, sih,” dengus Rey geli. “Nembak cewek caranya aneh gitu …” “Gue nggak nembak dia,” desis Ken, makin kesal. “Oke, lo nggak nembak dia,” Aira mengangkat tangan, “tapi panas kan, denger Yura bilang, cewek lo bisa suka ama Dio gara-gara …” “Dia bukan cewek gue dan dia bukan cewek yang bakal sembarangan suka sama orang!” bentak Ken tak sabar. “Exactly!” Aira menjentikkan jari. “Makanya lo langsung bad mood. Dia bukan cewek lo, sih ….” Terkadang Ken benar-benar kesal, luar biasa kesal, pada teman-temannya ini. Ia masih sering bertanya-tanya, bagaimana ia bisa bertahan dengan anak-anak ini. Namun, ia mendapatkan jawabannya, ketika Dio berkata, “Udah ah, ngapain sih ngebahas itu mulu? Kemaren kan, Ken udah bilang, dia nggak suka sama Arisa. Nggak usah ngedesak dia lagi, lah. Pagi-pagi gini udah nggak enak gini suasananya. Lagian, kalo emang Ken jadian ama cewek itu, dia pasti bakal cerita ama kita. Kalo dia butuh bantuan kita, dia juga pasti ngomong, kan?” Dan begitulah, percakapan tentang Arisa berakhir pagi itu. Betapa pun keras kepalanya teman-temannya, mereka akhirnya akan menghargai keputusan Ken. Bahkan meskipun itu adalah keputusan terbodoh Ken. Pada akhirnya, mereka juga yang akan membantu Ken memperbaikinya. Ken hanya berharap, ini bukanlah salah satu dari sekian banyak keputusan bodohnya. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD