Chapter 2

2377 Words
Chapter 2 Selama dia tidak tahu aku menyukainya Semuanya akan baik-baik saja, kan?   “Ntar kalo gue dapet kelompok ama Ken, kita switch, ya?” pinta Arisa pada Lea yang duduk di depannya. Hanya dia, Lea, Ken dan Fian yang tersisa untuk pembentukan kelompok. Karena guru bahasa Inggris mereka, Miss Anne yang memutuskan pembagian kelompok, tak ada yang bisa Arisa lakukan. Setidaknya, nanti ia bisa bertukar pasangan jika dengan sialnya, ia harus berkelompok dengan Ken. “Arisa dengan Ken, jadi otomatis, Lea dengan Fian, ya?” Miss Anne mengakhiri pembagian kelompok. Arisa menepuk bahu Lea, memasang wajah memelas terbaiknya. “Lea, switch, ya?” Lea tampak ragu kini. “Tapi, Ar …” “Please …” Arisa menangkupkan kedua tangan, memohon. Lea menggigit bibir. “Sebenernya gue …” “Ari-chan.” Panggilan Ken membuat Arisa dan Lea kompak menoleh. Lalu tanpa kata, Ken duduk di tempat duduk di sebelah Arisa yang sudah kosong karena teman sebangkunya juga sudah berpindah ke tempat duduk pasangannya. “Lo sama Lea. Gue switch ama dia,” Arisa berkata cepat. Ken mengerutkan kening. Ia menatap Lea. “Beneran, Le?” Lea masih tampak ragu. “Eh, itu …” “Hai, Le.” Sapaan Fian yang sudah mengambil tempat di sebelah Lea mengalihkan perhatian Lea. Lea menoleh ke samping dan melempar senyum pada Fian. Ketika ia kembali menatap Arisa, wajahnya memerah. Arisa mencelos. Ia tahu reaksi seperti ini. Amat sangat tahu. “Gue nggak mau switch sih, anyway,” celetuk Ken. Kali ini Arisa tak bisa mendebat. Lea membisikkan “Sori,” padanya sebelum berbalik dan sibuk dengan Fian, cowok yang disukainya. “Lo juga tau kalo Lea suka ama Fian?” bisik Ken tiba-tiba, membuat Arisa berjengit kaget. Ia menatap Ken kesal sebelum menjawab, “Barusan. Kenapa? Lo udah tau sejak lama?” “Gue pernah denger Sera ngomongin itu, sih,” Ken mengedikkan bahu. “Tapi kalo emang bener, kenapa kita nggak bantu dia? Dia pasti seneng kan, bisa satu kelompok sama orang yang dia suka.” “Oh ya?” Arisa sangsi. Apakah Lea benar-benar nyaman berada di dekat Fian jika ia memang menyukainya? Apa dia tidak takut jika Fian mengetahui perasaannya? Namunn, melihat Lea di depannya seperti ini, bahkan meski semua orang tahu tentang perasaannya, tampaknya Lea baik-baik saja dengan itu. Ia tampak senang berada di samping Fian. Ken mengangguk. “Lagian, bisa deket sama orang yang dia suka, siapa sih yang nggak seneng?” Arisa meringis. “Gue,” Arisa berucap, hanya dalam hati. *** “Jadi, kita mau pake negara mana buat presentasi?” tanya Ken seraya mengetuk-ngetukkan bolpoin di meja. Arisa hafal dengan sangat baik kebiasaan Ken ketika sedang berpikir itu. Dan suara berisik dari bolpoinnya membuat Arisa tidak bisa berpikir. “Jepang? Yunani? Inggris? Perancis? Spanyol?” Ia mulai menyebutkan nama-nama negara, masih dengan mengetukkan bolpoin. Arisa akhirnya kehabisan kesabaran dan merebut bolpoin di tangan Ken. “Bisa nggak sih, mikir tanpa mainin ini?” kesalnya seraya mengangkat bolpoin Ken. Ken sedikit terkejut karena reaksi Arisa. Namun, pertanyaan Ken kemudian membuat Arisa kelabakan, “Lo … tau dari mana kalo gue biasa mainin bolpoin sambil mikir?” Arisa berdehem seraya mengembalikan bolpoin Ken. “Pernah denger. Ada yang bilang, sih. Lagian, gue jadi nggak bisa mikir kalo lo berisik,” elaknya tanpa menatap Ken. Oh, dia tidak sanggup menatap Ken tanpa membuat wajahnya memerah. Dalam jarak sedekat ini, jika tidak bisa mengendalikan ekspresinya, bisa-bisa Ken tahu bahwa dia … “Trus, lo udah kepikiran mau pake negara mana buat presentasinya?” Ken kembali bertanya, untungnya tentang pelajaran. Setidaknya, untuk saat ini Arisa bisa bernapas lega. “Terserah. Lo aja yang pilih,” ucapnya. “Negara mana yang paling pengen lo kunjungi?” Ken bertanya. Arisa mengerutkan kening, berpikir serius. “Um … Spanyol?” sebutnya. “Oke, Spanyol,” Ken memutuskan. “Kita pake negara itu.” Arisa menatap Ken, sedikit terkejut. Cowok ini … apa-apaan, coba? *** “Gue baru tau Barcelona ama Real Madrid punya sejarah kayak gini,” gumam Arisa seraya mencatat beberapa hal penting dari informasi yang didapatnya dari internet. “Apa gara-gara sejarah itu juga makanya tim sepak bolanya juga nggak akur gitu? Masa kalo ada pemain bola dari klub Barcelona pindah ke Real Madrid atau sebaliknya, mereka disebut pengkhianat? Isn’t that too much?” Ken mendengus pelan. “Lo juga suka bola?” Arisa menggeleng. “Sering denger anak-anak cowok di kelas ngomongin bola, dan nyebut-nyebut si ini, si itu pengkhianat cuma gara-gara pindah tim. Konyol aja dengerin mereka debat gitu,” dengusnya geli. “Kalo bukan bola, jadi apa yang lo suka?” tanya Ken kemudian. “Eh?” Arisa melongo selama beberapa saat. Tiba-tiba bertanya seperti itu … “Lo suka …” “Jadi, lo udah nemu hal yang unik tentang Valencia?” Arisa memotong, sengaja mengalihkan pembicaraan. Ken tak menyahut selama beberapa saat dan hanya menatap Arisa, membuat Arisa menunduk dan berpura-pura sibuk mencari artikel lain dari internet. “Bentar lagi istirahat. Ntar gue rapiin catatan gue, trus gue print dan besok gue bawain buat lo,” Ken akhirnya memberikan jawaban. Arisa hanya membalas dengan anggukan, masih berusaha menyembunyikan wajah yang terasa semakin panas. *** “Kayaknya cewek itu nggak suka banget ama lo, Ken,” celetuk Aira saat Arisa tampak tergesa meninggalkan kelas saat Aira dan teman-teman Ken yang lain memasuki kelasnya. Ken mengikuti arah tatapan Aira dan mendesah lelah. “Jelas banget kan, ya?” desahnya. “Gue aja baru nyadar itu setelah dua bulan sekelas ama dia. Dia selalu ngehindar, dan herannya, gue nggak pernah satu kelompok sama dia sampai tugas presentasi bahasa Inggris ini,” ceritanya. Aira mendengus geli. “Jadi, Kendrick yang populer, vokalis band populer di sekolah, yang cewek-cewek pada ngantri buat jadi pacar dia, malah naksir cewek yang benci sama dia?” Yura tampak tertarik mendengarnya dan tersenyum lebar. “Jadi kalo di drama-drama Korea gitu, ceritanya kayak idol yang suka antifans-nya.” Ken memutar mata. “Gue males cerita ke kalian gara-gara ini, nih,” ungkapnya. “Selalu aja nyimpulin sendiri.” “Nah emang kenyataannya gitu, kan?” balas Aira. Yura mengangguk penuh semangat, Ken tak bisa untuk tidak khawatir Yura akan membuat lehernya terkilir. “Emangnya cewek itu juga suka ama lo? Nggak, kan?” tembak Aira. Touché. Ken berdehem. “Terserah deh kalian mau pada mikir apa,” akhirnya ia mengalah. “Tapi kalo cewek itu nggak suka sama Ken, trus Ken gimana?” cemas Yura. “Gimana apanya, Ra?” tanya Ken sabar. “Lo jadi patah hati, kan?” Yura menatap Ken iba. “Tapi Ken kan, belum usaha apa-apa buat dapetin tuh cewek,” Rey angkat suara. “Kecuali kalo dia mau nyerah sebelum perang.” “Jangan!” seru Yura. “Kita bakal bantuin lo kok, Ken. Lo jangan nyerah dulu, oke? Kita bakal …” “Gue baik-baik aja, Ra,” sela Ken lelah. “Gue bisa urus masalah gue sendiri, jadi daripada ngawatirin masalah gue, mending lo khawatirin diri lo dulu, deh. Tahun ini, tolong kurangi tingkat kecerobohan lo, oke?” Yura mendesis kesal. “Kata siapa gue ceroboh?” elaknya seraya bangkit dari kursi di sebelah Ken, hendak meninggalkan kelas Ken, tapi ia tersandung kaki meja dan menubruk Dio yang selalu berada di sampingnya, menjaganya dari cedera lebih parah. “Tuh, kan,” cibir Ken. Yura menoleh ke arah Ken dengan kesal. “Meja lo nih yang rese!” omelnya. Ken mengalah dan mengangguk menyetujui. Lebih baik ia mengalah sebelum Dio memaksanya diam dengan menyebutnya kekanakan. “Tapi gue penasaran, lo apain sih tuh cewek sampai dia benci banget gitu ama lo?” cetus Aira. Ken mengedikkan bahu sebagai balasan. “Pulang sekolah ntar kita latihan?” ia bertanya pada Dio. Dio mengangguk. “Tuh, kalo ngelak gitu, pasti parah banget jawabannya.” Aira menyipitkan matanya curiga. “Lo pasti udah nyakitin cewek itu,” celetuk Yura. “Lo coba inget-inget deh, mungkin lo pernah nolak cewek itu pas lo kelas satu atau …” “Ra, gue aja nggak tau anak itu sampai kita sama-sama di kelas ini. Lagian, kalo dia pernah confess ke gue, gue pasti inget, lah. Secara …” Ken menghentikan kalimat di saat-saat terakhir. Hampir saja … “Dia cantik,” Rey berbaik hati melanjutkan. Ken merasa terganggu mendengar Rey yang mengatakan itu. “Kalopun gue suka dia, bukan itu juga sih, alasannya,” ucapnya kasar. “Ya nggak perlu gitu juga sih ngomongnya,” balas Rey, terdengar geli. “Jealous? Takut gue naksir cewek itu juga?” Ken melemparkan tatapan tajam pada Rey sebagai balasan. Rey mengangkat tangan. “See? Lo suka ama dia.” Aira menjentikkan jari penuh kemenangan. “Wah … parah sih, lo. Masa jealous ama Rey? Kita anti ‘Teman Makan Teman’ kali, Ken,” dengusnya geli. Ken memalingkan wajah dari kedua anak yang sudah tertawa puas itu. “Makanya, lo buruan confess aja ke cewek itu, Ken. Trus kalian jadian. Kelar deh urusan,” ucap Yura santai. Ken tertawa hampa. Bukan itu masalahnya. Ken tidak menyukai Arisa. Ia hanya penasaran akan cewek itu, tentang alasannya menyukai Ken. Arisa yang menyukai Ken, dan bukan sebaliknya. Namun entah kenapa, Ken tidak bisa mengatakan itu pada teman-temannya. Bahkan meskipun mereka teman-temannya, tapi mengingat bagaimana Arisa berusaha menyembunyikan perasaannya pada Ken selama ini, tidakkah keterlaluan jika Ken dengan sembarangan mengatakan pada orang lain tentang perasaan cewek itu? Lagipula, ia tidak ingin jika sampai ada orang lain tahu tentang perasaan Arisa padanya dan membuat cewek itu semakin menghindarinya. Dan lagi, bagaimana jika ternyata cewek itu tidak menyukainya, seperti yang ia pikir selama ini? Bahkan meskipun Ken sampai pada kesimpulan bahwa Arisa menyukainya setelah lima bulan mengamati cewek itu, tapi tetap saja, ia tidak tahu isi hati Arisa. Karena itu, ia juga ingin tahu apa alasan cewek itu menyukainya. Itu pun jika dia memang menyukai Ken. Tapi … dia memang menyukai Ken, kan? Tidak mungkin pengamatan Ken selama lima bulan ini salah. Ia cukup pandai membaca ekspresi seseorang. Dan itu yang ia baca dari ekspresi Arisa saat menatapnya. Meskipun cewek itu berusaha menyembunyikannya, tapi … Ken bisa melihatnya, Ken bisa merasakannya. Arisa … memang menyukainya, kan? *** Ken nyaris tidak memperhatikan hal lain selain Arisa saat cewek itu memulai presentasi. Dengan bahasa Inggris yang lancar, ia mempresentasikan tentang Spanyol. Tempat-tempat romantis di Barcelona, gedung-gedung menakjubkan di Valencia … Ken membeku di tempat ketika tiba-tiba Arisa menoleh ke arahnya. Arisa mengedikkan kepala ke arah catatan Ken di depannya. Sedikit gelagapan, Ken meraih catatannya dan menghampiri Arisa. Arisa menepi dan memberi ruang untuk Ken melanjutkan presentasinya tadi. Ken menarik napas dalam. Arisa tadi terakhir menyebutkan tentang gedung-gedung bergaya artistik di Valencia, jadi sekarang … Ken menghembuskan napas lega saat ia berhasil mengakhiri presentasi dengan baik, mengingat ia sempat tidak memperhatikan gilirannya tadi. Ia lebih suka menyalahkan Arisa untuk kesalahannya. Kenapa Arisa harus begitu bagus? Ken jarang mendengar Arisa berbicara selama pelajaran bahasa Inggris. Setiap kali ada tugas reading atau conversation, Arisa nyaris tidak pernah mendapat bagian kecuali hanya sedikit dalam conversation. Bahkan, selama mereka mengerjakan tugas presentasi bersama sepanjang minggu kemarin, Arisa juga tidak banyak berbicara dan hanya mengangguk atas apa pun yang disarankan Ken. Saat mereka berlatih, Arisa hanya menyebutkan poin-poinnya, dan tidak menguraikannya selancar tadi. Ken sama sekali tidak tahu jika Arisa sebagus ini. “Good job, Arisa, Ken,” puji guru bahasa Inggris mereka, Miss Anne. “Arisa, pronunciation kamu bagus.” Ternyata, bukan Ken satu-satunya yang baru menyadari tentang kemampuan Arisa. Sepertinya cewek itu memang terlalu tidak banyak bicara di kelas dan terlalu tidak aktif dalam pelajaran ini, bahkan meskipun ia begitu bagus. Sepertinya, satu-satunya pelajaran ia mau berbicara lebih sering adalah bahasa Jepang. Oh, itu pun karena Shizu Sensei tak pernah absen memanggilnya untuk membaca di depan atau memberikan pertanyaan padanya. Namun setelah ini, Ken mungkin akan lebih sering mendengar Arisa berbicara dalam pelajaran bahasa Inggris. Ia tidak akan mengeluh tentang itu. Tampaknya ia juga terlalu jarang mendengar Arisa berbicara. Ken segera mengalihkan pikiran dari Arisa ketika sesi tanya jawab dimulai. Dua pertanyaan pertama dijawab Arisa dengan lancar. Ken mulai sedikit terganggu ketika beberapa murid cowok menatap Arisa kagum. “Why did you choose this country?” salah seorang teman mereka bertanya. Ken menoleh pada Arisa, menunggu jawaban cewek itu, tapi ia tak segera menjawab. Ia tampak ragu. “Because she likes it,” Ken akhirnya memberikan jawaban. “And you don’t?” celetuk Sera. “I’m okay with any country. But because she likes this country, so we decided to use it,” sahut Ken santai. “So, there’s no personal feeling?” pancing Sera. Ken mengerutkan kening. “I said we choose it because she likes it.” “Not her, but you. Why didn’t you choose another country? Last week, I clearly heard you say that you like Italy, so … why did you choose Spain instead? Did you choose it because she likes it? Because you like her?” “Sorry, but that’s out of the topic and …” “Does Ken like Arisa?” Pertanyaan penasaran Miss Anne itu memotong protes Arisa. “Yes, Miss!” Sera dan rekan setimnya, Nadia, menyahut bersemangat. Berikutnya, sorakan untuk Ken dan Arisa memenuhi ruangan. Ken melirik Arisa yang tampak panik. “Tadi pas Arisa presentasi, Ken ngeliatin Arisa terus, Miss,” lanjut Sera. “Makanya, sampai nggak sadar pas giliran dia presentasi,” tambah Nadia. Ken berusaha menjaga ekspresi tetap datar. Ia berani bertaruh, ia bukan satu-satunya yang menatap Arisa sepanjang presentasi cewek itu tadi. “Kalau gitu, sekalian saja untuk tugas berikutnya, kelompoknya tetap seperti ini,” putus Miss Anne. Ken bisa melihat Arisa semakin panik sementara murid-murid lain langsung meneriakkan persetujuan mereka. Ken tidak tahu apakah ia harus kesal atau justru berterima kasih pada Sera. Cewek itu memang ratu gosip di kelas dan ia bisa membuat gosip apa pun terdengar begitu meyakinkan. “Ken, untuk tugas berikutnya, kamu punya kesempatan lho, buat confess ke Arisa,” ucap Miss Anne bersemangat. Ken meringis. Miss Anne memang selalu seperti ini. Jadi, ia tidak terlalu heran. Gurunya yang satu ini selalu terlalu bersemangat setiap kali mendengar tentang cerita seperti ini. Impiannya adalah mencomblangkan murid-muridnya sendiri dan mendapat undangan pernikahan mereka suatu hari nanti. Masalahnya, bukankah Arisa yang seharusnya menyatakan perasaannya? ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD