Chapter 1

2222 Words
Chapter 1 Aku menyukainya Apa yang salah dengan itu?   Arisa segera memalingkan wajah ketika cowok itu menoleh ke arahnya. Ia merasakan jantungnya seolah merosot. Apakah tadi dia sempat melihat Arisa yang menatapnya? Apakah dia menyadari jika sedari tadi Arisa menatapnya? “Ari-chan.” Panggilan itu membuat Arisa menoleh ke depan, dan cowok yang tadi menjadi pusat perhatiannya, kini menatapnya lekat. Sementara salah seorang teman sekelas yang memanggilnya tadi duduk di kursi di belakang cowok itu. “Iya?” balas Arisa seraya mengarahkan tatapan pada temannya yang bernama Sera. “Gue boleh pinjem tugas bahasa Jepangnya, nggak? Gue lupa nggak ngerjain semalem,” pinta Sera. Arisa mengangguk, lalu mengambil buku tugas bahasa Jepang dari ransel. Ia meminta tolong pada Nindy yang duduk di dua bangku depan untuk menyampaikan buku tugasnya pada Sera. “Thanks, Ari-chan. Ntar istirahat gue traktir, deh,” janji Sera. Arisa hanya tersenyum menanggapi. Namun, begitu Sera memutar tubuh, Arisa tak dapat menahan mata untuk menatap sosok cowok yang selalu ia perhatikan sejak ia masuk di kelas yang sama dengannya beberapa bulan lalu. Cowok itu mengerutkan kening, tampak sedang berpikir. Panik, Arisa segera menundukkan wajah, berpura-pura sibuk dengan buku Fisika. Kenapa dia menatapnya seperti itu? Apa dia tahu? Tidak, tidak mungkin. Bahkan di kelas ini, tidak ada seorang pun yang tahu tentang perasaan Arisa pada cowok itu. Jadi tidak mungkin … “Ari-chan.” Suara itu sukses membuat Arisa mendapat heart attack. Berusaha mengendalikan ekspresi, Arisa mendongak. Ia tidak perlu melihat untuk tahu pemilik suara itu. Namun, kini, menatap pemilik suara itu lagi, ia … “Kenapa anak-anak pada manggil elo Ari-chan?” tanyanya. Arisa melongo. “Lo nggak tau, Ken?” Sera yang mendengar pertanyaan cowok itu, Ken, angkat suara. “Kalo gue tau, ngapain gue nanya?” dengus Ken. “Arisa kan, murid kesayangannya Shizu Sensei. Semua anak di sekolah ini juga tau itu,” urai Sera. “Tiap kali pelajaran bahasa Jepang, lo juga sering kan, denger Shizu Sensei manggil ‘Ari-chan, Ari-chan’ gitu, seolah murid dia cuma Arisa doang.” Ken mengangguk-angguk. “Itu doang?” Sera menggeleng. “Nyokapnya Japanese,” ia menambahkan. Ken kembali mengangguk-angguk seraya menatap Arisa lagi. Tiba-tiba ia tersenyum, lagi-lagi sukses mengirimkan heart attack pada Arisa. “Tapi nama itu emang cocok sih buat elo,” ucapnya. Arisa tak menanggapi kata-kata Ken dan kembali menunduk menatap buku Fisika, melanjutkan berpura-pura sibuk sementara ia nyaris tak bisa melihat apa pun di depannya karena terlalu sibuk memikirkan kejadian tadi. Sejak ia masuk ke kelas ini dan menyukai Ken tepat di hari pertamanya melihat anak itu memainkan gitar dengan kerennya, mereka jarang berinteraksi. Dan lagi, Arisa bukan orang yang banyak bicara. Ia lebih suka menyendiri. Untungnya, dengan sedikit usaha, Arisa bisa menghindari berada di dalam kelompok yang sama dengan Ken untuk tugas kelompok. Selama beberapa bulan ini, Arisa berhasil menghindari Ken dengan amat sangat baik. Menurutnya, itu adalah salah satu cara untuk menyembunyikan perasaannya dari Ken. Karena, semakin banyak Arisa berinteraksi dengan Ken, tidak hanya Ken, tapi mungkin teman-teman sekelasnya juga akan melihatnya. Melihat perasaannya pada Ken. Itu adalah hal terakhir yang Arisa inginkan. Tidak seperti murid-murid cewek lain yang justru berebut perhatian Ken, bahkan tanpa ragu mengirim surat cinta dan menunjukkan perasaan mereka, Arisa lebih suka menyembunyikan perasaannya. Karena sejak awal ia menyukai Ken, ia ingin menyimpan perasaannya ini sendiri. Hanya untuk dirinya sendiri. *** Arisa mendongak dari novel yang sedang dibacanya saat mendengar suara ribut dari pintu kelas. Ia kembali merasakan heart attack saat melihat Ken, dan teman-temannya. Arisa bahkan tahu nama teman-teman terdekat Ken itu. Dio, Rey, Yura dan Aira. Mereka sangat dekat. Membuat Arisa iri, terkadang. Jam istirahat kelas memang kosong. Kecuali Arisa, semua anak-anak di kelas sudah meninggalkan kelas. Tadi memang Sera mengajak Arisa ke kantin, tapi Arisa menolak karena sedang malas keluar kelas. Siapa sangka, kini ia justru terjebak di kelas dengan Ken dan teman-temannya. Arisa tak bisa berkonsentrasi membaca novel karena mendengar suara Ken, dan juga teman-temannya. Mereka benar-benar berisik. Namun, jika itu bukan Ken dan teman-temannya, Arisa tidak akan seterganggu ini. Masalahnya, karena itu adalah Ken dan teman-temannya, Arisa tidak bisa berkonsentrasi karena terlalu tertarik pada percakapan mereka. Kali ini ia mendengar perdebatan Rey dan Aira. Mereka berdua memang yang paling sering berdebat. Bahkan untuk hal paling kecil sekalipun. Rasanya mereka tidak pernah kehabisan bahan untuk diperdebatkan. Kedua anak itu seperti … “Ari-chan.” Panggilan itu menyentakkan Arisa. Ia mendongak dan mendapati tidak hanya Ken yang menatapnya, tapi keempat temannya juga. “Lo nggak ke kantin?” Ken bertanya. Arisa menggeleng, lalu kembali menunduk, berusaha tampak sefokus mungkin dengan novelnya meski saat ini ia bahkan tak bisa berpikir. Arisa terlonjak kaget ketika tiba-tiba wajah Ken muncul di depannya. Ia bahkan nyaris membuat dirinya terjungkal ke belakang jika Ken tidak menahan kursinya. “Wow, wow …” Ken tampaknya juga terkejut karena reaksi Arisa. “Lo nggak pa-pa?” tanyanya. Arisa menggeleng cepat. Ia melirik tangan Ken yang masih terulur melewati bahunya, menahan kursinya. Jantungnya berdegup kencang karenanya. Khawatir Ken bisa mendengarnya, Arisa bergeser ke kursi sebelah. “Gue baru tau kalo lo gampang kaget,” Ken berkomentar seraya menegakkan tubuh. Arisa tersenyum kecut. Cuma kalo ada hubungannya ama lo, ia menjawab dalam hati. “Elo …” “Sori, tapi gue lagi pengen baca ini,” Arisa memotong seraya mengangkat novel. “Jadi, bisa nggak, tolong jangan ganggu gue?” Arisa sempat melihat keterkejutan di mata Ken, sebelum cowok itu segera menyingkirkannya dan tersenyum pada Arisa. Ia mengangguk. “Sori kalo gue udah ganggu lo,” ia berkata. Arisa tak menyahut. Bahkan meskipun Ken dan teman-temannya berpikir bahwa ia bersikap kasar, ia tidak peduli. Ia hanya ingin Ken menjauh darinya. Atau orang-orang ini akan melihatnya. Melihat perasaan Arisa sebenarnya pada Ken. “Ke kelas lo aja, Rey.” Arisa mendengar Ken berbicara saat ia kembali menghampiri teman-temannya. Arisa bisa merasakan teman-teman Ken menatapnya. Namun, mereka kemudian saling bergumam, “Oke.” Arisa menarik napas dalam. Baiklah, ia tidak peduli pada apa pun yang orang-orang itu pikirkan. Hanya saja, ini mengganggunya. “Lo di sini aja, biar gue yang keluar,” tiba-tiba Arisa berkata seraya bangkit dari duduknya. Lalu, tanpa menatap Ken ataupun teman-temannya, Arisa bergegas meninggalkan kelas. Yah, setidaknya taman sekolah juga tidak terlalu buruk. *** “Gara-gara lo, hari ini gue mampir hampir ke semua tempat di sekolah.” Suara itu membuat Arisa terlonjak kaget, lagi. “Ken?” Arisa terbelalak tak percaya melihat Ken sudah duduk di sebelahnya, di atas rumput, bersandar di batu yang juga disandari Arisa. “Gue lewat taman ini dua kali, tapi kalo dari belakang, gue nggak bisa liat elo. Lagian, ngapain sih lo ngumpet di belakang batu gini?” Ken menepuk-nepuk batu besar yang mereka sandari. “Lo … ngapain nyari gue? Ada … perlu apa?” tanya Arisa hati-hati. Ken tersenyum padanya. “Nggak pa-pa, sih. Tapi kalo lo ninggalin kelas kayak tadi, mana bisa gue diem aja?” Arisa memalingkan wajah. “Emangnya kenapa? Toh bukan elo yang nyuruh gue keluar.” “Tapi kalo situasinya kayak tadi …” “Tetep aja, gue yang keluar dengan kemauan gue sendiri, dan itu nggak ada urusannya sama lo,” potong Arisa. Arisa lantas berdiri, dan tanpa mengatakan apa pun lagi, ia meninggalkan Ken di sana. Selama ini, ia sudah berusaha keras untuk menjauh dari Ken. Lalu apa ini? Ada apa dengan Ken? Tadi pagi dia menanyakan perihal nama panggilan Arisa. Dan sekarang, dia bahkan menyusul Arisa ke taman. Jangan-jangan … dia tahu jika selama ini Arisa memperhatikannya, menyukainya? *** Ken menatap punggung Arisa yang menjauh seraya tersenyum. Begitu cewek itu lenyap dari pandangannya, Ken kembali duduk di atas rumput. Ia bersandar di batu besar di belakangnya, memejamkan mata, ketika ia mendengar Rey menyapa, “Mana Cinderella lo?” Ken mendengus seraya membuka mata dan menatap Rey yang sudah berdiri di depannya. “Lo naksir sama cewek tadi, Ken?” Aira yang bergabung dengan Rey tampak penasaran. “Ngejarnya setengah mati gitu,” cibirnya. Ken tak menanggapi kedua temannya yang selalu kompak membuat siapa pun kesal. Ia kembali memejamkan mata. “Sekarang gue ngerti kenapa dia suka banget duduk di sini,” gumam Ken. “Stalker?” celetuk Yura. Ken mendengus, membuka matanya untuk melihat Yura yang membungkuk melewati batu besar. “Kebetulan sering liat di sini, selain di kelas,” bantah Ken, setengah berdusta. Awalnya memang kebetulan, tapi sejak ia tahu bahwa Arisa menyukainya, ia mulai tidak bisa menyingkirkan rasa penasarannya akan cewek itu. Ya, Ken tahu Arisa menyukainya. Ya, ia tahu Arisa selalu memperhatikannya. Ya, ia tahu itulah alasan Arisa selalu menghindarinya. Ya, ia tahu kenapa Arisa bersikap seolah ia tidak suka berada di dekat Ken, atau bahkan terkadang, tampak sangat membenci Ken. Ken sendiri sempat berpikir cewek itu membencinya. Sampai ia sadar, cewek itu terlalu sering menatapnya. Berkali-kali Ken sempat menangkap tatapannya saat sedang memperhatikan Ken. Namun, Arisa mungkin tidak tahu, Ken bahkan lebih sering memperhatikannya sejak berpikir cewek itu membencinya. Seandainya saat itu Ken memutuskan untuk tidak peduli, sampai saat ini ia tidak akan pernah tahu tentang perasaan Arisa. Ken tersenyum teringat bagaimana wajah Arisa memerah saat cewek itu memalingkan wajah setelah Ken memergokinya menatap Ken. Juga, ketika cewek itu memalingkan wajah dengan kecepatan yang Ken khawatir akan membuat lehernya sakit saat tanpa sengaja tatapan mereka bertemu. “Tuh kan, sampai senyum-senyum sendiri,” celetuk Aira. Ken membuka mata, mulai merasa terganggu dengan gangguan dari teman-temannya. “Ai, mending lo urusin Rey aja, deh,” kesalnya. Aira menyeringai. “Jadi, lo beneran naksir ama cewek tadi?” Ken melotot kesal. “Ken, jangan liat ke atas.” Kata-kata Yura itu mengalihkan Ken dari Aira, dan kontan membuatnya mendongak. “Ih, udah dibilang jangan … whoa!” Yura menjerit panik ketika seseorang mencengkeram bahunya, dan menghentikan usahanya untuk memanjat batu besar. Ken memutar mata melihat tingkah kekanakan Yura, dan berterima kasih pada Dio yang menurunkan Yura dari batu besar. “Lo bisa jatuh,” Dio berkata. “Lo tuh takut ketinggian, tapi suka banget manjat-manjat beginian.” Yura merengut. “Ini kan, nggak tinggi,” argumennya. “Sekalian latihan.” Ken mendengus tak percaya mendengar alasan cewek itu. “Sini, pegangan,” ucap Dio kemudian seraya meletakkan tangan Yura di bahunya untuk berpegangan, lalu mengangkat Yura hingga cewek itu duduk di atas batu dengan aman. “Jangan manjat sembarangan. Lo kan ceroboh, bisa-bisa lo jatuh.” Yura mengabaikan omelan Dio dan tersenyum pada Dio, senang karena akhirnya berhasil duduk di atas batu, seperti yang ia inginkan. Ken tak dapat menahan dengusan geli. Yura yang kekanakan dan Dio yang selalu setia menjaganya. Yah, meskipun Aira dan Rey tidak pernah melewatkan kesempatan untuk membuatnya kesal, tapi melihat Yura dan Dio sudah cukup menghiburnya. “Kenapa sih, kalian nggak jadian aja?” cetus Aira tiba-tiba. “Iya, kalian cocok deh, kayaknya,” timpal Yura. “Temen sekelas lo itu imut lho, anyway.” Aira kontan tergelak mendengar kata-kata Yura itu. “Maksud gue, elo sama Dio, Ra,” terangnya. “Heh?” Yura melongo menatap Aira. “Kenapa gue sama Dio yang jadian? Bukannya Ken yang lagi naksir temennya?” “Gue nggak naksir dia, dan elo tuh emang harusnya jadian aja ama Dio, biar aman. Jadi kita semua nggak perlu ngawatirin elo lagi,” ucap Ken. “Emangnya gue salah apa? Kenapa gue yang harus jadian ama Dio?” desis Yura. “Karena elo kayaknya nggak bisa apa-apa kalo nggak ada Dio,” Aira berbaik hati menjelaskan. “Lucu,” dengus Yura sinis. “Daripada elo ngomongin gue ama Dio, mending lo ama Rey … eh, gue gimana turunnya?” Perhatian Yura teralih ketika ia kebingungan untuk turun dari batu. Tampaknya ia berniat melarikan diri setelah mengatakan sesuatu yang akan membuat Aira atau Rey kesal. “Gue lompat nggak pa-pa, kan?” Yura menatap Dio. Ken mendengus geli sementara Aira sudah memutar mata ketika Dio membuat Yura menjerit kaget, lagi, saat ia kembali mengangkat Yura dan membawa cewek itu mendarat dengan aman di atas rumput. “Huft … thanks, Dio,” ucap Yura santai seraya merapikan rok seragamnya. Dio tak menyahut, dan hanya tersenyum kecil menatap Yura. Diam-diam, Ken iri pada mereka berdua. Seandainya Arisa tidak berusaha menghindari Ken setiap kali ingin membantunya, apakah mereka bisa sedekat Yura dan Dio? Ken menyadari betapa uniknya Arisa setelah beberapa bulan ia mengamati cewek itu. Dua bulan pertama di kelas, ia pikir Arisa mungkin tidak menyukainya, atau bahkan membencinya. Namun, setelah itu, ia justru mengamati cewek itu karena penasaran. Hingga ia akhirnya menyadari perasaan Arisa. Selama itu pulalah ia mengamati Arisa. Itu berarti … sudah lima bulan ia juga mengamati cewek itu diam-diam. Apa sebaiknya ia segera mengatakan pada Arisa bahwa ia tahu perasaan cewek itu padanya, dan mengajaknya berteman? Tidak. Bagaimana jika Arisa mengelak dan malah semakin menghindarinya? Sebelum ini, Ken tak pernah peduli pada cewek-cewek yang memperhatikan atau menyukainya. Mereka dengan terang-terangan menyatakan dan menunjukkan perasaan, tapi Ken tak menanggapi. Namun, Arisa tidak seperti itu. Meski menyukai Ken, cewek itu justru menghindarinya. Terlalu menghindarinya. Ken mendesah pelan. Ia bukannya memiliki perasaan pada Arisa atau apa, tapi kenapa belakangan ia terus-menerus memikirkan cewek itu? Dan ketika ia tahu sesuatu tentang Arisa, ia jadi ingin tahu lebih banyak. Namun, mengingat bahwa ia sudah berusaha berpura-pura tidak tahu selama lima bulan terakhir, ia tidak terlalu heran dengan keingintahuannya yang agak sedikit terlalu berlebihan. Ia hanya … ingin tahu Arisa lebih jauh lagi. Juga, alasan kenapa cewek itu bisa menyukainya. ***   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD