38

1022 Words

"Kandunganmu baik-baik saja." Lamia terdiam, memandang sang dokter dengan pandangan menilai intens. Kedua tangan yang sebelumnya terkulai kini terangkat, seakan memeluk perut ratanya posesif, melindungi. "Terima kasih." "Apa benturan itu mengganggu? Kau sampai muntah atau yang lainnya?" Kepalanya menggeleng. Kepanikan yang deras sempat melanda dirinya saat merasakan nyeri luar biasa pada perut. Nata tidak tahu, dan pria itu tidak harus tahu tentang kondisinya. "Nyeri, walau sedikit. Aku tidak bisa menangis." "Suamimu?" "Dia pergi bekerja," dustanya. Karena Nata harus meninggalkan dirinya demi urusan lain. Osaka adalah pelarian mereka, bukan tempat yang sebenarnya. "Kau benar-benar luar biasa kuat," sang dokter dengan ramah mengulurkan resep setelah mendengar semua keluhan si pasien.

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD