"Lamia, jangan banyak membantah kali ini. Jika kau terus mengabaikannya, ini akan semakin bertambah parah. Risiko kematiannya akan semakin—"
"Diam. Jangan katakan apa pun lagi."
Lamia mengangkat tangan, menatap tajam dokter Dahlia yang mengembuskan napas panjang dan tampak lelah karena tidak bisa melunakkan kekeraskepalaan Lamia yang kaku.
"Baik. Semua terserah padamu. Tapi, jika semua berlalu begitu cepat dan satu organ penting itu berhenti, kau akan mati. Kau siap dengan risiko besar itu?"
Lamia mengusap pelipisnya. Memejamkan mata menahan debaran rasa sakit yang bersumber dari dalam dadanya. Tangannya meremas seprai dengan erat. Semuanya tertangkap oleh mata dokter Dahlia tanpa terkecuali.
"Mau sampai kapan kau membohongi orang tuamu tentang ini?"
"Selamanya. Sampai aku mati." Lamia membalas tanpa perlu menolehkan kepala pada Dokter Dahlia yang langsung terpaku diam. "Tidak ada seorang pun yang tahu kecuali kau dan Hana. Aku sudah banyak mengeluarkan uang untuk membuat kalian dan rumah sakit tutup mulut."
"Kau membeli rumah sakit itu!" Dokter Dahlia berbicara dengan nada tinggi tanpa sadar. Membuat kekehan ringan Lamia meluncur bebas. "Kau benar. Aku membelinya. Untuk siapa? Agar media b******k itu tidak menyebarkan opini buruk tentangku. Agar lawanku tidak mudah menjadikan kelemahanku ini sebagai serangan balasan untukku. Aku tidak akan mempermudah jalan kematianku sendiri."
"Berhentilah bersikap seolah kau tidak akan terluka."
Lamia mengangkat alis. Menatap Dokter Dahlia dengan pandangan mencemooh. Sinar matanya meredup, tetapi ekspresinya berubah sinis. "Kau siapa memangnya? Siapa yang mampu melukaiku?"
"Jangan berpura-pura bodoh. Aku mengenalmu lebih baik dari ibumu sendiri."
Lamia menerawang menatap plafon kamarnya dengan tatapan hampa. "Terima kasih pada Nenek Nanami yang memberikan asuhanku pada dirimu. Kau berlagak seperti ibu kandungku sekarang."
Dokter Dahlia menghela napas panjang. Dia menggeleng pelan seraya sedikit menundukkan kepala. "Tidak ada gunanya aku menyembunyikan rasa cemasku padamu, Lamia. Aku menyayangimu seperti putriku sendiri. Tentu saja, kesehatan dan segala yang berbau tentangmu akan menjadi fokus untukku."
"Aku bangga karena aku dicintai. Benar-benar dicintai."
"Semua orang pantas dicintai. Bahkan, ketika iblis mengikrarkan diri akan berubah menjadi malaikat, dia pantas dicintai."
Lamia tersenyum masam mendengar ucapan dokter Dahlia yang kini membisu. Ruangan ini berubah senyap. Kamar Lamia yang biasa selalu sepi kembali seperti sedia kala.
"Kau boleh pergi."
Hanya ada hembusan napas berat yang terdengar dan Lamia sudah biasa berteman dengan kesepian yang absolut nyata.
"Jaga dirimu. Jangan sungkan menghubungiku kalau kau butuh bantuan. Dan untuk operasi besar itu, aku sebisa mungkin akan—"
"Pergilah. Jangan katakan apa pun."
Dokter Dahlia mengangguk pelan. Pengusiran itu dilakukan secara halus, kemudian berubah sedikit kasar saat Lamia bosan mendengar kalimat yang sama tentang operasi.
Pintu kamarnya tertutup rapat. Tidak perlu waktu lama sampai Lamia kembali mendengar pintu utama kamar apartemennya terkunci otomatis setelah sosok dokter Dahlia pergi meninggalkannya sendiri. Di dalam kekosongan kamar yang pekat, di dalam suasana yang sunyi dan pada gadis malang yang meringkuk menahan tangis seorang diri.
***
"Aku akan pergi ke Osaka selama dua hari untuk kunjungan. Bagaimana denganmu?"
Lamia mengangkat sedikit kepalanya. Menatap Cornell Hiro yang sibuk mengaduk salad sayurnya dan pria itu sama sekali tidak berselera berbicara padanya pagi ini.
"Terserah. Kenapa denganku?"
"Kupikir, kau akan meninggalkan pekerjaanmu dan ikut denganku."
Alis Lamia menekuk tajam. "Kau pikir aku mau meninggalkan segalanya demi pria berkasta rendah sepertimu? Tidak. Terima kasih. Untuk apa aku di sana jika kau membawa perempuan lain untuk menghangatkan ranjangmu di depan mataku."
"Kau terdengar tidak suka karena aku senang bermain-main."
Kepala merah muda itu menggeleng. Sebuah senyum dingin terpatri di wajah kaku Lamia. "Bukan. Aku hanya menyayangkan di usiamu yang ke dua puluh tujuh, hidupmu masih tidak berguna."
Cornell Hiro menggeram dalam suaranya. Segala makanan beraneka rupa di atas meja tidak menarik perhatiannya. Lamia tampak acuh, menyeduh sup kepitingnya dalam tambahan bumbu agar pedasnya sedikit lebih terasa.
"Tentang Roose Abe ... kau menolongku?"
"Untuk apa?" Lamia menikmati rasa sup kepiting itu lumer di dalam mulutnya. "Aku melakukannya untuk diriku sendiri. Jangan berbangga hati karena sekarang perhatian publik mulai terarah padamu."
"Ini salah satu bentuk dukunganmu padaku, kan?"
Lamia terkekeh ringan. Dia mengaduk supnya dan meminta pelayan menambahkan satu porsi kentang rebus untuknya.
"Siapa bilang?" Lamia menatap Hiro dan gadis manis itu menopang dagu dengan tatapan manja. "Kau paham dengan maksud 'rangkul musuhmu, kemudian hempaskan dia ke dasar hingga tak bersisa.' Kau paham maksudnya, kan?"
Pelayan membawakan kentang rebus kurang dari lima menit kemudian. Lamia tersenyum menggumamkan terima kasih dan Hiro mengepalkan tangan di bawah meja. Merasa terusik karena sejak tadi pembicaraan mereka tidak pernah berakhir baik.
"Agneli Tenate akan menemui Presiden Kara hari ini. Apa kau akan bergabung dengannya untuk membahas tambang minyak di selatan Jepang?"
Lamia mengerjap. Menikmati sensasi kentang rebus bercampur sup kepiting yang gurih dan lezat. Tidak terlalu pedas memang dan ini cukup membuat perutnya bergejolak ingin menambah satu porsi lagi.
"Kau hanya perlu duduk dan melihat apa yang bisa keluargaku lakukan untuk membuat Presiden Kara mematuhi perintah kami."
Cornell Hiro membisu. Dia menatap Lamia dengan tatapan lain ketika kepalanya menoleh, menemukan televisi sedang menayangkan Roose Abe yang memberi bantuan pada yayasan peduli kesehatan untuk menjenguk anak-anak pengidap kanker dan penyakit langka lainnya yang memiliki masalah ekonomi karena rumah sakit itu mendapat bantuan dari pemerintah.
"Abe mulai melemparkan sayap ternyata."
Lamia ikut menoleh dan dia sama sekali tidak tertarik dengan pemandangan di depannya. "Semua petinggi sama saja. Mereka akan melempar janji manis pada orang-orang, berjanji akan membantu kehidupan mereka di depan orang banyak dan para awak media, seakan-akan mereka berjanji dengan sungguh-sungguh," Lamia menatap Hiro dengan pandangan meremehkan. "Kemudian, saat mereka duduk di posisi mereka, katakan selamat tinggal pada janji semu itu. Aku akan mengeruk semua uang untuk memperkaya diriku sendiri. Betapa malang nasib orang miskin di dunia ini." Lamia menjetikkan jarinya di hadapan Hiro dengan senyum dingin.
"Begitu pula dengan bisnismu, kan? Kau banyak menghancurkan orang lain agar bisnismu lancar dan pundi-pundi uangmu bertambah." Cornell Hiro mencela dengan tatapan tak bersahabat.
Lamia mengunyah daging kepiting di dalam mulutnya dan mengangguk berulang kali sebagai tanda setuju. "Yap. Kau benar. Bisnis memang kejam. Tapi, sayangnya aku bukan orang bermuka dua yang menawarkan madu, kemudian memberikan mereka racun sebagai pengganti. Aku bekerja apa adanya. Berjalan sesuai yang semestinya.”
"Ingatlah tambang batu bara di Kyoto. Kau membiarkan Presiden Kara menghancurkan rakyat di sana untuk tambang keluargamu."
Alis Lamia terangkat tajam. "Dan sekarang kau mulai peduli kesejahteraan rakyat dan masa depan mereka, Hiro?" Lamia mendengus sinis. "Aku rasa, sikap keluargamu juga sama buruknya. Ayahmu pernah menjabat sebagai ketua legislatif dan dia memberikan izin bagi perusahaan reklamasi untuk menghancurkan kehidupan para penduduk pesisir. Bahkan keluargamu bisa membeli jet pribadi dan rumah di Beverly Hills dari hasil penggelapan dana reklamasi. Yang harusnya untuk mereka yang tertindas, kau memakainya untuk bersenang-senang."
Cornell Hiro terpaku diam. Lamia mendengus tajam ketika mendapati Hana mengirimkan pesan singkat untuknya.
"Aku harus pergi." Lamia berdiri. Mengeluarkan beberapa lembar uang dan memanggil pelayan yang segera memberikan dia bill untuk menjumlahkan seluruh makanan yang mereka pesan.
"Biarkan orang ini tetap di sini. Dia sepertinya ingin menghabiskan waktu untuk melamun dan berpikir mau sampai kapan negara ini akan hancur."
Pelayan itu tampak kebingungan, tetapi dia hanya mengangguk dan tidak sanggup melirik Cornell Hiro, calon presiden muda itu terlalu lama.
"Dan ini bonus untukmu. Semoga harimu menyenangkan." Lamia menyelipkan tiga lembar uang ke saku seragam gadis mungil itu dengan senyum manis. Kemudian, dia berjalan pergi menjauhi restauran dengan bungkukan terima kasih dari para pegawai yang melihatnya berlalu pergi.
***
"Selamat pagi."
Lamia mengangguk pelan saat para kabinet di bawah komando Presiden Kara membungkuk hormat padanya. Lamia melangkah nyaman ke tengah ruangan, mencari kursi kosong di samping Agneli Tenate yang tampak serius di kursinya menghadap langsung pada Presiden Kara yang membisu.
"Aku tidak setuju dengan landasan udara di sana. Tempat itu masih terpencil dan kita hanya membuang uang kalau nekat membangun bandara."
Lamia menatap Presiden Kara yang bergeming. Pria itu hanya mengangguk patuh saat Tenate mengeluarkan mandatnya. "Jangan gunakan uang apa pun. Kau bisa memanipulasi saham di pertambangan minyak Alaska untuk kepentingan Agneli Group, keluargaku akan tetap mendapat bagian. Kau paham?"
Presiden Kara lagi-lagi hanya mengangguk.
Lamia berdeham. "Untuk mengecoh publik, sebarkan salah satu anggota parlemen yang menggelapkan pajak dan buat dia seolah-olah hendak melarikan diri. Jadikan namanya trending di seluruh berita harian sampai kita mendapatkan uang dari investor asing."
"Hanya menggelapkan pajak?"
"Kau ingin ada skandal lain yang lebih berat? Dan resikonya, publik akan membunuhmu lebih cepat."
Salah satu anggota kabinet bungkam seribu bahasa mendengar jawaban lugas Lamia.
"Aku setuju." Presiden Kara mengangguk ringan. "Aku akan melemparkan saham itu ke investor asing dan menjadikannya tambang mereka sebagai lahan uangmu, Tuan Tenate. Apakah negara mendapat bagian?"
Agneli Tenate tersenyum. Dia melirik Lamia yang menulis dalam memo kecilnya. "Lima puluh dari seratus persen, negara akan mendapat tiga persennya. Cukup banyak, bukan?"
Semua orang setuju. Lamia kembali mengangguk dengan senyum. "Jika ada yang memberontak atau menyuarakan ketidakadilan pada kalian, bunuh saja mereka. Lenyapkan dengan manis dan jangan sampai publik tahu tentang kematian mendadaknya."
"Kami bisa melakukannya untuk masalah satu itu."
Lamia menyeringai lebar. "Bagus."
"Rakyat mulai paham dan beberapa dari mereka mulai memberontak. Terutama partai oposisi yang ingin lepas. Bagaimana cara mengatasinya?"
Lamia memiringkan kepala. Menatap semua ekspresi di sana dan Presiden Kara hanya diam setelah mengeluarkan pendapatnya. "Bawa salah satu dari mereka untuk kalian ambil. Berikan siksaan yang pedih, kemudian paksa mereka untuk mengkhianati kaumnya sendiri. Dengan apa? Dengan membunuh warga yang memberontak dan menyuarakan ketidaksukaan mereka pada kita. Lalu, kau bisa memborbardir partai oposisi itu dan menciptakan kebanggaan pada publik tentang kerjamu yang becus, Presiden Kara."
Agneli Tenate tersenyum mendengar ide Lamia. Dia mengangguk pelan. Menatap satu-persatu anggota kabinet yang hanya menganggukkan kepala patuh.
"Kalian boleh tenang. Aku akan melempar acak siapa yang akan kujatuhi skandal kali ini. Keluarga kalian akan makmur. Kalian akan tetap bersenang-senang dengan kehidupan kalian. Ini semua hanya pengecoh."
"Terutama kau, Presiden Kara. Jangan ragukan komisi dari kami untukmu." Lamia mengedip padanya dan Presiden Kara menyeringai lebar.
"Terima kasih banyak."
Salah satu anggota kabinet mengangkat tangan. Lamia menolehkan kepala bersamaan yang lainnya. "Lalu, bagaimana dengan pembangunan jalan utama di sana? Presiden Kara menjanjikan pembangunan jalan untuk pasokan distribusi logistik ke daerah terpencil."
"Oh, itu." Lamia menarik napas. "Aku akan menyetir presiden selanjutnya untuk melakukan pekerjaanmu. Untuk sementara, pakai anggaran yang ada. Aku tidak mau peduli berapa banyak anggaran yang kalian dapatkan dan hutang darimana. Bangun semuanya dan tinggalkan setelahnya."
"Baik."
Lamia mengangguk dan Presiden Kara yang dikawal beberapa pasukan terlatih dari militer segera keluar dari ruangan.
"Lamia."
Lamia menoleh pada Agneli Tenate yang masih duduk diam di tempat.
"Apa suaramu akan kau berikan pada keluarga Cornell?"
Lamia mengernyitkan kening dengan ekspresi santai. "Aku memberikan suaraku pada Roose Abe."
"Kita membagi suara. Bagaimana?"
Lamia melirik sang ayah dengan ekspresi dingin. "Bukan masalah. Biarkan pihak di bawah kita bertengkar untuk mendukung salah satu calon."
Tenate terkekeh pelan. Kemudian, tak lama ekspresi wajahnya mengeras. "Tentang Lei Wang, kau menangkap sesuatu yang janggal."
Lamia menghela napas saat dia membuka tablet miliknya dan mengangguk. "Pembunuh bayaran. Seseorang menyewa pembunuh bayaran untuk menghabisi keluarga itu."
"CCTV di dalam rumahnya?"
"Semua mati. Tidak ada satu pun yang merekam kejadian itu. CCTV mereka dibajak."
Tenate terdiam. "Sayang sekali, padahal perusahaan dia bergerak untuk Agneli Group bagian perumahan. Pembunuh bayaran itu ternyata lihai juga.”
"Apa ini unsur kesengajaaan?"
Lamia mengerling pada sang ayah. "Dia mendukung salah satu calon diam-diam. Memberikan mereka akses mudah. Tentu saja ini kesengajaan."
"Kau tahu?"
Lamia mendengus bosan. "Lei Wang pantas mati."
"Dan kau menabrak putrinya malam itu."
"Dia memang sudah sekarat. Dan itu bukan salahku." Lamia mematikan tabletnya. Memasukkan kembali ke dalam tas kerjanya dan duduk dalam kebisuan.
Agneli Tenate berdiri dari kursinya. Dia melirik sebentar Lamia yang tampak pucat dan beralih memilih mengabaikan putrinya untuk pergi meninggalkan ruangan.
***
Nata menghela napas bosan. Dia menatap Roose Abe yang tengah mengumbar senyum pada anak-anak dan orang tua mereka yang dengan sabar dan telaten menunggu anak mereka yang sakit tanpa mengenal lelah.
Tidak sampai di sana saja, Abe juga membawakan hadiah sebagai kenang-kenangan pada anak-anak dan memberikan salam bagi orang tua serta berfoto bersama mereka. Tidak luput dari pandangan Nata yang menajam dan bosan secara bersamaan.
Roose Nata mundur sedikit lebih jauh untuk menyingkir dan memantau sekitar. Dia duduk di kursi lain, mengamati sekitar ketika sepasang mata gelapnya tidak sengaja menangkap objek merah muda yang melintas dengan troli dorong di depannya.
"Lamia?"
Roose Nata sontak berdiri. Menahan langkah gadis itu saat Lamia menatapnya dalam diam. Hanya mengangkat satu alis. "Kau lagi?"
Nata bergeming sejenak. Dia menatap troli lain yang didorong oleh pria bersetelan jas hitam dengan wajah kaku. "Kau mengunjungi anak-anak di sini?"
"Tanpa media dan embel-embel mencari dukungan materi semata." Senyum Lamia mengembang pongah. Dia menatap Nata dengan ekspresi datar. "Ini sudah kedua kalinya aku bertemu denganmu tidak sengaja. Apa yang ketiga nanti bisa disebut sebagai kaulah jodohku?" Lamia berbicara sarkatis dan langkahnya begitu anggun membelah lorong ketika dia meninggalkan Nata dalam kebisuan.
Roose Abe baru saja keluar dari ruangan saat dia melihat Lamia. Dia mengangguk sopan dan Lamia membalas dengan anggukan kepala singkat yang sama. Kemudian, berjalan pergi mendorong trolinya dan menemukan anak-anak yang sedang bermain berteriak senang ke arahnya.
"Kakak Lamia datang!"
Kepala Nata menoleh tajam menatap pemandangan langka di depannya. Begitu juga dengan Roose Abe yang membisu.
"Dia begitu dekat dengan anak-anak dan aku terkejut." Roose Abe menghela napas. Saat dia berbalik, hendak membawa dirinya pergi dan Nata masih diam di tempatnya.
Ada salah satu anak yang pingsan tiba-tiba saat Lamia sedang membagikan hadiah kecil pada mereka. Dokter yang berjaga segera berlari menghampirinya dan anak-anak lain terpekur bingung. Saat Nata mendekat untuk melihat lebih jelas, dia menatap sosok merah muda yang tengah berbalik memunggunginya. Dan ada darah menetes dari kedua lubang hidungnya.
Lamia jatuh berlutut di atas rumput. Diabaikan oleh anak-anak yang sibuk bermain dengan makanan ringan di tangan mereka, Lamia mencoba menahan sakitnya sendiri ketika pria bersetelan jas itu memanggil seseorang dari alat di telinganya dan Nata terdiam sesaat.
Agneli Lamia sakit?
Lamia tidak menyadari kehadiran Nata di belakangnya yang cukup jauh dari penglihatan mata awas. Dia masih merintih menahan sakit, saat napasnya berubah sedikit sesak dan Lamia harus mengeluarkan obat dari dalam tas yang dia bawa, menelannya cepat hingga dia kepayahan dan mencoba bangkit kembali untuk menghapus jejak lemahnya.
"Bawakan aku tisu basah. Cepat!"
Pria itu melesat pergi tanpa diperintah dua kali. Tubuhnya membeku ketika dia melihat Roose Nata menatap kejadian di depannya tanpa terlewat sedikit pun.
***
"Agneli Lamia di sini?"
Keluarga Roose yang sedang berkumpul untuk makan malam segera berdiri. Saat Lamia memberanikan diri datang ke mansion itu tanpa membuat janji sebelumnya. Manakala itu tidak diperlukan karena keluarga itu dengan senang hati membuka tangannya pada Lamia.
"Selamat malam."
Lamia menyapa dengan nada ringan. Tatapan matanya memindai ruangan dan menemukan ketiga senyum lebar dari anggota keluarga Roose terkecuali Nata yang menatapnya datar.
"Selamat malam. Silakan duduk." Roose Ayana berinisiatif menarik kursi untuk Lamia dan membawa gadis itu agar bergabung bersama mereka.
"Ini suatu kehormatan karena kau mau datang berkunjung."
Roose Kobe membuka suara dan Lamia hanya merespon singkat sampai tatapan Nata memakunya tajam dan Lamia balas menatapnya tak kalah dingin.
"Aku tidak akan lama di sini," Lamia tersenyum samar menatap keluarga penjilat ini. "Dukunganku akan kuberikan pada keluarga Roose."
"Sungguh?"
Semua orang terkejut kecuali Uchiua Nata yang tetap statis. Dia tidak bergerak dari tempat duduknya. Dan malah memandang Lamia sinis seolah gadis itu datang membawa wabah berbahaya bagi keluarganya.
"Kau memberikan dukungan cuma-cuma? Pasti ada imbalannya, kan?"
Lamia menolehkan kepala pada Nata yang bersuara setelah lama membisu. Kepala merah muda Lamia hanya menggeleng singkat dan dia tertawa ringan. "Imbalan apa? Memang ada yang bisa kalian janjikan padaku sebagai bentuk terima kasih?"
Semua orang terdiam.
Lamia menepuk meja sedikit keras. "Sudah kuduga. Ayahku juga menentang ini karena aku tidak mendapat keuntungan apa-apa dari membantu kalian. Terutama Roose Abe yang namanya sudah tercoreng di mata publik."
Roose Nata mendengus. "Dukunganmu percuma. Pergilah."
"Nata!"
Lamia hanya tersenyum. Dia merapikan kemeja abu-abunya dengan senyum yang tak sampai ke matanya. "Pengusiran yang membuatku tersinggung. Tapi tak apa. Aku memang tidak akan lama di sini."
Semua orang terdiam.
"Aku akan berseberangan kubu dengan keluargaku. Terutama ayahku yang memberikan dukungan pada keluarga Cornell. Dan aku, memberikan dukungan pada kalian. Jangan terlalu terkejut kalau nanti akan ada sedikit goncangan pada tubuh pemerintahan."
"Kami akan mengantisipasinya dengan baik."
Roose Abe menjawab tegas. Diam-diam Lamia meneliti ekspresi pria itu yang tampak lega.
"Aku akan mengusahakan segala cara agar kalian bisa menang."
"Meski dengan menentang keluarga besarmu?"
Lamia hanya menyunggingkan senyum tipis. "Jangan cemaskan itu, Tuan Kobe. Aku bisa mengatasinya."
Ayana tersenyum manis. Dia meraih tangan Lamia, menggenggamnya lembut dan memberi sedikit remasan sebagai tanda terima kasih yang amat dalam.
"Keluarga Cornell tidak akan suka ini. Kau calon istri dari putra mereka dan kau malah membelot untuk membela pihak lawan? Kau sudah gila ternyata."
"Terakhir kali aku mengecek kondisiku, aku sehat dan masih dalam kadar waras. Apa maksudmu dengan aku sudah gila?" Lamia melemparkan pertanyaan balasan pada Nata yang terdiam, kemudian berdiri dari kursinya dan meraih jaket kulit miliknya. Menyampirkan jaket itu ke bahunya dan berlalu pergi.
"Dia memang bar-bar seperti itu."
Lamia mengerjap menatap sosoknya sampai tertelan di ujung pintu dan dia menoleh dengan raut dingin. "Aku rasa aku akan mengenalnya lebih baik. Dia seumuran denganku."
"Kau benar. Kuharap, kalian bisa menjadi teman baik."
Teman baik.
Lamia berusaha untuk tidak tertawa ketika dia berdiri. Menolak dengan halus tawaran makan malam dari keluarga Roose saat dia berdiri, mendorong kursi dan berlalu ditemani Roose Ayana sampai ke pelataran parkir.
"Hati-hati di jalan."
Lamia hanya mengangguk pelan. Dia kembali masuk ke dalam mobilnya dan menelepon seseorang.
"Cari tahu tentang Roose Nata secepatnya. Aku curiga dia masih begitu berpengaruh pada tubuh militer terutama Angkatan Udara karena pangkat dia dahulu.”
***
"Berkas-berkas sudah kau siapkan?"
Dokter Dahlia meminta asisten sekaligus tangan kanan terbaiknya—Shizune untuk menyiapkan berkas penting secepatnya. Shizune melesat pergi dari ruangan untuk mencari dokumen yang dimaksud ketika meninggalkan dokter Dahlia seorang diri di tengah gelap dan temaramnya lampu yang berasal dari luar lorong.
Mereka beraksi seperti mata-mata yang mencari informasi di malam hari. Dan memang benar. Dokter Dahlia mencari berkas penting itu di malam hari karena pengawasan sedikit lebih longgar.
Terlebih dia memiliki pengaruh di sini.
Sepuluh menit lamanya dan Shizune tidak kunjung kembali. Dokter Dahlia mengernyit bingung ketika dia memasukkan kembali map-map berisi data pasien dan membawanya pergi.
Sebelum dia bisa menyentuh gagang pintu, seseorang mendorongnya keras. Membuat Dokter Dahlia mengerjap panik ketika tubuhnya berbenturan dengan tepi meja dan rak yang menjulang tinggi. Ikut bergeser dan menimbulkan bunyi derit sedikit memekakkan telinga.
"Kau ... siapa?"
Dokter Dahlia tidak bisa menyembunyikan rasa takutnya saat dia melihat bayangan gelap menjulang berdiri di hadapannya. Sosok itu masih bersembunyi di dalam kegelapan, hanya memberikan seringai ngeri saat dia memicingkan kedua mata, menatap tajam sosok Dokter Dahlia yang bergetar rapuh.
"Berkas apa yang coba kau cari, dokter?"
Dokter Dahlia memeluk berkas itu seolah dia adalah separuh nyawanya. Dia menatap sosok itu ketakutan dan mata cokelat madunya berpendar mencoba mencari jalan keluar saat sosok itu menerjangnya, membuatnya limbung hingga terbentur kaki meja dan berdarah.
"Aku tidak mengenal ampun bahkan dengan wanita sekali pun."
Dokter Dahlia meringis pelan. Dia merangkak mencoba menyelamatkan diri namun sosok mengerikan itu menghentikannya. Menginjak punggung tangannya dan dokter Dahlia mengaduh kesakitan kemudian.
Sosok itu mengambil dokumen yang sempat dokter Dahlia lindungi. Dia membukanya dan sorot matanya berubah menemukan identitas asli pemilik dokumen itu.
"Kembalikan!"
Dokter Dahlia menerjang dengan kekuatan penuh dan sosok di dalam kegelapan itu mengulurkan katana miliknya, menggoreskan sedikit ujungnya pada urat nadi sang dokter yang berdenyut pelan.
"Bergerak sekali lagi, kau mati."
Dokter Dahlia menahan napas saat sosok itu bergerak maju. Dan sepasang mata yang menajam itu membuatnya membelalak ngeri.
"Kau?" Suaranya tertelan rasa takutnya sendiri. Saat dia menatap mata itu, rasa takutnya menggelenyar menjadi panik.
Sosok itu terkekeh pelan. Dia menancapkan sedikit ancaman pada ujung katana miliknya menggores permukaan kulit dokter Dahlia yang pucat. Menyebabkan titik-titik darah keluar dari permukaan kulit yang sobek.
Dokter Dahlia dihempaskan jauh ke ujung ruangan dengan dorongan kuat. Dan Shizune masuk ke dalam. Mencoba melarikan diri ketika dia memeluk dokumen yang dimaksud untuk meninggalkan tempat secepatnya.
Dokter Dahlia menahan napas. Menemukan Shizune tergeletak di atas lantai dengan darah yang menggenang akibat luka tusukan pisau menancap pada tengkorak belakang kepalanya. Menembus hingga ke depan dan Shizune seketika kehilangan nyawa.
"Tidak. Tidak. Aku hanya ... tidak. Tolong."
Sosok itu mendekat. Berjongkok di hadapan sang dokter yang mengkerut ketakutan dan mencoba menahan tangisnya sendiri.
"Berjanjilah padaku untuk rahasiakan ini dari Agneli Lamia. Kau mengerti, dokter?"