5

3173 Words
Kematian Lei Wang bersama sang istri dan seluruh orang di dalam rumahnya sudah menyebar ke seluruh penjuru negeri seperti wabah. Menciptakan ketakutan yang mencekam perlahan-lahan namun pasti. Semua orang kebingungan. Dibuat terheran-heran. Di mulai dari teror kematian Latina dimana investigasi sementara mengatakan kalau dia dibunuh sebelum tubuhnya terhantam mobil yang cukup keras hingga tewas seketika. Lamia menghela napas panjang. Menyadari ada yang salah dengan dunia ini kembali menjadi sorotan. Dia mengerling, menatap Agnia dan Lily yang terpaku pada televisi di sebuah restauran sederhana tempat mereka bertemu untuk makan siang. "Apa alasan dia dibunuh?" "Mana kutahu." Lamia menyahut santai. Dia mengaduk lemon dinginnya dan tembang Flux milik Ellie Goulding samar-samar sampai ke telinganya dengan syahdu. Agnia menoleh pada Lamia. Menatapnya dalam diam dan sorot matanya berubah tanpa arti. "Ini berkaitan dengan bisnis atau selama masa kampanye tenang? Kalau iya sesuai dugaanku, ini benar-benar pengalihan isu yang bagus.” "Apa?" Lamia menatapnya bosan. "Dugaanmu terlalu berlebihan. Kita tidak tahu apa yang Lei Wang lakukan dibelakang, kan?" "Kematian Latina belum selesai diinvestigasi. Dan sekarang orang tuanya menyusul?" Lamia menoleh pada Woodie Lily dengan alis tertekuk tajam. "Kau punya ide menulis buku tentang ini? Seingatku, kau mencintai kegelapan dan sisi lain dari genre yang selalu kau pegang teguh selain romansa receh yang menggelikan." Lily terkekeh pahit. "Sialan, kau." Tulip Agnia sungguh tidak mengerti. Lamia menganggap kematian Lei Wang adalah wajar? Dia mati mengenaskan. Kepala terpenggal bersama sang istri di saat semua orang di dalam rumahnya mati dengan luka tusukan katana dan darah membanjiri ruang tengah di kediaman mereka. Itu yang dia namakan wajar? "Kenapa kau menatapku seolah aku baru saja merebut kekasihmu?" Tulip Agnia mengerjap. Dia menatap Lamia terperangah kemudian menghela napas. Tidak ada gunanya menyimpan rahasia apa pun dari seorang Agneli Lamia yang terlampau over power. "Hilangkan kata merebut, kami sudah seleRansom." Woodie Lily memandang keduanya dan dia diam-diam mengulum senyum sinis. Lamia mengangkat alis. Dia mengaduk pasta dengan saus daging dan potongan sosis goreng di atas piring dalam diam. "Aku percaya untuk yang satu itu. Keluarga Cornell Hiro ternyata tidak ingin putranya terlalu lama berkencan dengan wanita yang bermuka dua sepertimu." "Ah." Tulip Agnia kehilangan kesempatan bicara ketika dia hanya berdeham. Menatap Lamia dengan pandangan tersinggung kemudian membuang muka. Kemudian, televisi berganti layar menjadi breaking news dimana seorang reporter wanita mengumumkan bahwa kematian Latina adalah murni pembunuhan. Setelah dia sekarat, dan kemudian tewas seketika karena tabrak lari, polisi menemukan banyak kejanggalan sebelum kematian itu membawa jiwa Latina pergi. Dan wajah Agneli Lamia muncul di layar televisi. Membuat semua pengunjung terkesiap kaget menemukan salah satu pengunjung restauran yang sama dengan mereka adalah pelaku kejahatan kelas berat. "Lamia? Ini bercanda, kan?" Lily menatap Lamia dengan pandangan tak percaya. Agnia menoleh, mengangkat alis dengan tatapan bingung. "Kau tidak mungkin melakukannya." "Kalian ingin tahu rahasianya malam itu?" Keduanya membisu. Lamia menarik napas panjang. Mengabaikan tatapan menuduh dan menghakimi dari semua pasang mata di dalam restauran. Berita lokal itu hanya memuat bahwa dia pelaku kejahatan, bukan pelaku atas insiden tabrak lari. Ini kelewatan! "Aku tidak membunuhnya. Dan ya, aku mengemudi dengan kecepatan tinggi dan menerobos lampu merah dengan Porsche milikku. Kaza membereskan semuanya dengan rapi dan menghilangkan jejak di mobilku. Tetapi, dia melemparkan mayat Latina kembali ke jalan. Polisi tahu identitasku?" Lamia mendengus geli. "Keluarga Cornell Hiro cari mati denganku." "Kenapa mereka?" "Berhenti bermuka dua untuk membela keluarga pecundang itu, bitches." Lamia menyahut dingin pada Agnia yang bungkam. "Kau terkadang buatku muak." Woodie Lily menenangkan mereka dan dia kembali pada Lamia untuk meminta penjelasan. "Kau menabraknya?" "Ya." Lamia mengunyah pastanya. "Dia sudah sekarat saat aku menabraknya. Dan mobilku ternyata mempercepat kematiannya sendiri." "Ini mengerikan." Lily mendesis dan Lamia bersikap santai bahkan ketika namanya menjadi trending di beberapa jejaring sosial dan situs media lokal. Dan bisik-bisik menghakimi tentang Agneli Lamia dimulai sekarang. *** "Hana!" "Hana!" Lamia membanting pintu ruangannya dengan kasar. Dia menoleh tajam dan menemukan sang ibu duduk santai menyilangkan kaki dengan segelas teh dingin dan tas Hermes yang tertaruh anggun di atas sofa. Dia tersenyum pada Lamia, dan Lamia membuang muka kasar setelah dia kembali berteriak memanggil Hana sekali lagi. "Sayang, jangan terlalu keras. Hana bisa-bisa mundur dari pekerjaan kalau kau mencak-mencak seperti ini terus." "Sudahlah, ibu." Lamia menggeram dalam suaranya. Hana datang dengan berlari. Menatap Lamia dengan pandangan kalut karena dia baru saja mendengar berita mengerikan tentang pelaku kematian Latina. "Kirim surat peringatan dariku pada media lokal di Jepang. Dan satu lagi, beri mereka ancaman. Aku akan menghancurkan semuanya tanpa sisa." Lamia terengah-engah dan Agneli Kania menatapnya dengan senyum. "Aku akan hancurkan siapa pun yang menjatuhkan reputasiku." "Turuti saja, Hana." Kania bersuara dan Lamia sempat terdiam selama beberapa menit lamanya. "Kau boleh pergi." Hana membungkuk pada Lamia dan pada Kania yang mengangguk menahan senyum geli melihat wajah gadis berusia dua puluh lima tahun itu begitu ketakutan. Lamia berdiri dengan kasar dari kursinya, meraih tablet mahal miliknya di atas meja dan melempar bokongnya ke atas sofa di hadapan sang ibu. "Ada apa ibu kemari?" "Ibu rindu kamu." Kania menggodanya dan Lamia sama sekali tidak merespon. "Lamia, ibu sudah mendengarnya. Ayah juga. Dan kami hanya tertawa. Kaza sudah menceritakan segalanya. Terlebih saat keluarga Cornell memutar video itu sebagai ancaman untuk kita." Lamia menurunkan tabletnya di atas pangkuannya dan tatapan Kania turun menatap layar tablet itu. Di sana, video seks ilegal Roose Abe sedang terputar. "Kau bisa pulang lebih cepat? Ayah akan membicarakan tentang dukungan kita." Alis Lamia terangkat tinggi. "Ah, sekarang kalian mengambil keputusan tanpaku?" "Lamia. Bukan begitu. Kami juga tetap meminta pendapatmu. Kau yang memegang seluruh saham Agneli Group. Tetapi, jangan lupa bahwa ayahmu masih berpengaruh di dalam tubuh perekonomian Jepang. Ini penting untuk keluarga kita menyetir boneka baru nanti." Lamia melebarkan seringainya. "Oke. Aku akan kembali lebih cepat." Agneli Kania berdiri dari sofa. Merapikan celana hitamnya saat dia membawa tas Hermes dan menatap putrinya lembut. "Kau ingin ibu memasak apa untuk makan malam nanti?" "Aku ingin seafood. Udang saus tiram tidak masalah." Lamia menjawab tanpa melepas pandangannya dari tablet yang dia genggam. "Oke. Ibu akan memasak untuk kalian nanti malam." Kania berjalan tenang ke luar ruangan Lamia dan tersenyum ramah pada Hana yang membungkuk menyapanya. Lamia mengangkat alis ketika dia mengeraskan volume di dalam video itu dan desahan yang bersahut-sahutan membuat panas hawa di sekitarnya. Dan Lamia sama sekali tidak terpengaruh. Roose Abe sedang melakukan seks bersama pelacurnya di sebuah hotel berbintang. Dengan ketololan pada pihak perempuan yang merekam video itu, dan membuat Lamia bisa menemukannya dengan mudah. Dia bisa membuat Roose Abe bertekuk lutut sekali lagi di bawah kakinya. Lamia menghubungi seseorang dari ponsel miliknya ketika dia tersenyum lebar dan merencanakan sebuah ide yang luar biasa. "Aku punya tawaran menarik untukmu." *** "Ya Tuhan, ada apa dengan Roose gila itu? Dia benar-benar melakukan hubungan intim dengan penjaja seks murahan di klub?" "Aku tahu! Itu adalah hotel White's di Osaka." Bisik-bisik mulai terdengar saat Roose Nata tengah duduk. Menyantap bubur kerang untuk makan siang ketika dia melirik Attan Menma dan Draco Ransom yang tampak acuh dan sibuk dengan PUBG di ponselnya. "Video seks kakakmu tersebar di internet sekarang." "Video seks?" Nata mengeluarkan ponsel mahalnya dan mencari situs kenamaan dimana memuat berita lokal Jepang tanpa terlewat sedikit pun. Di sana, ada video berdurasi dua menit dengan wajah si perempuan sengaja diburamkan dan ketika mereka berdua melakukan seks sembari menghisap ganja dan mabuk bersamaan. "Gila." Draco Ransom menyela dengan gelengan kepala miris. Dia menaruh ponselnya dan tidak lagi tertarik pada permainan sialan itu. "Siapa yang menyebarkan video laknat ini?" "Cornell Hiro." Attan Menma menurunkan ponselnya saat dia menatap keduanya dengan sepasang mata biru yang berkilat-kilat antusias. "Siapa lagi kalau bukan penjahat kelamin satu itu?" Roose Nata tampak ragu. "Aku tidak yakin ini kakakku.” "Ayolah, kakakmu mungkin mengamuk sekarang di ruangannya dan sedang menyumpahi Cornell Hiro dengan ancaman dia akan membunuhnya." Menma menahan tawa lepas. "Benarkan?" Semua orang di dalam kedai bubur menatap Nata dengan tatapan lain. Ada yang jijik, mencibir dan mengejek. Ada pula yang membela bahwa Roose Nata bersih dari skandal apa pun dan tidak seperti Roose Abe yang kotor. Nata sama sekali tidak peduli. "Kau tahu? Kalau Lamia yang menabrak tubuh Latina malam itu? Keluarga Cornell Hiro mengancam keluarga adikuasa itu dengan video murahan yang sama sekali tidak akan berefek apa pun pada keluarga bangsawannya." Alis Menma tertekuk tajam. "Latina sudah sekarat sebelum mobil Lamia menabraknya." "Media mendramatisir keadaan. Mereka melebihkan berita bahwa Lamia yang membunuh Latina malam itu. Menciptakan spekulasi dan opini kencang di publik untuk membenci sosoknya yang elegan dan menunjukkan sosok perempuan berkelas tinggi." Draco Ransom membalas dengan tenang. "Cari dulu sumbu dari peledak ini, Nata. Kau tidak bisa gegabah sekarang. Ini menyangkut martabat keluargamu. Publik boleh mencintai ayahmu, tetapi reputasi Roose Abe dipertaruhkan di sini." Dracoi Ransom benar. Nata menatapnya dalam diam ketika Ransom menyesap air putih dinginnya dan mengaduk bubur kerangnya tanpa minat. "Agneli Lamia ... aku pernah mendengar ini. Dia membunuh simpanan Agneli Tenate. Aku kurang tahu kapan itu terjadi, yang jelas dia membunuh simpanan ayahnya dengan sadis." "Dia melakukannya sendiri?" Kening Attan Menma mengernyit dalam. "Tidak. Dia menyewa pembunuh bayaran. Lamia tidak pintar bela diri atau apa pun itu. Dia selalu memerintah orang lain dengan uang dan otaknya." "Siapa?" Menma menoleh dengan tatapan bingung. "Siapa simpanan Agneli Tenate?" "Ah, itu," Menma menghela napas. Merasa bodoh di depan Nata yang tampak begitu tenang padahal badai sedang menerjang keluarganya. "Ame. Kau tahu model papan atas itu, kan? Mantan Miss Jepang tahun 2012." Draco Ransom mengernyitkan kening cukup dalam dan Roose Nata hanya menunduk, mengamati bubur kerangnya yang mulai mendingin dan dia benar-benar larut dalam dunianya sendiri sekarang. *** "Kita tidak perlu menggelontorkan seluruh kekuatan kita untuk mendukung keluarga Cornell Hiro." Lamia mengunyah udang berbumbu saus tiram di dalam mulutnya dengan tatapan dingin dan sang ibu hanya diam, menunduk dan sibuk memotong cumi-cumi berbumbu asam manis di dalam piring nasinya. "Apa rencanamu, Lamia?" Lamia mengangkat bahunya acuh. Dia menatap sang ibu yang sedang larut dalam euforia mengunyah cumi-cumi di dalam mulutnya. "Masakanmu yang terbaik, ibu. Sudah lama aku menantikan ini." Agneli Tenate mendengus karena diabaikan. Kania tersenyum malu mendapat pujian manis dari putri semata wayangnya. Dia terkekeh pelan dan kembali menuangkan porsi udang yang cukup banyak dari piring lain ke piring Lamia yang hampir tandas. "Kita beri dukungan yang sama besarnya pada dua keluarga ini, ayah. Roose dan Cornell. Adil, bukan?" "Kau mendukung keluarga Roose?" Roose Kobe sedikit terkejut dengan perkataan Lamia. "Kenapa tidak?" Lamia menatap sang ayah dengan pandangan bosan. "Apa karena ayah menonton video menggelikan itu tadi siang?" "Kau pasti punya rencana, Lamia." Agneli Tenate menipiskan bibir mengamati sikap terlalu santai putrinya dalam diam. "Aku jelas memiliki rencana. Dan rencana ini tidak akan kubagi pada siapa pun sebelum aku mewujudkannya." Kania termenung dan Tenate menghela napas. Dia mengusap pelipisnya dan menatap putrinya dalam gamang. "Kita akan berseberangan kubu sekarang. Siapa yang lebih pantas menyandang gelar presiden boneka, menurutmu?" "Dua-duanya pantas." Agneli Tenate terdiam. Dia bersedekap dengan ekspresi benar-benar serius memandangi putrinya yang seperti orang kelaparan menyantap makan malamnya tanpa jeda. "Keluarga Cornell Hiro cari mati dengan kita. Mereka seharusnya tahu diri kalau kita menjadikan Lamia umpan. Dan apa?" "Ibu," Lamia meneguk air putihnya dan Kania menoleh. "Keluarga Cornell jelas saja mengincar uang kita. Ibu lupa tentang tambang batubara di Kyoto yang baru? Mereka mengincar hampir lima puluh persen saham di sana. Dengan pernikahan, semua bisa berubah lancar." "Sialan." Agneli Kania menggeram ketat mendengar ucapan putrinya. Agneli Tenate menghela napas. "Kita tetap adakan pernikahan ini. Semua diatur kontrak, Lamia." "Hanya lima tahun, kan?" Tenate menganggukkan kepala. "Lima tahun." "Aku heran dengan Kobe. Mengapa dia lebih memilih Abe untuk naik ke kursi nomor satu dibanding putra keduanya, Nata? Apa karena pria satu itu tidak berkompeten?" "Berkompeten atau tidak, yang jelas Roose Abe memiliki banyak pengalaman di dalam tubuh pemerintahan cukup lama, ibu. Nata tidak sehandal pria itu dalam mengontrol keadaan.” "Ah, kau benar." Kania memotong udang gorengnya. "Nata hanyalah sampah di dalam keluarga itu, kan? Apa pekerjaannya? Wakil direktur?" "Itu yang terlihat. Sisi lainnya, aku tidak tahu." "Sisi lain apa?" Tenate menyahut dengan ekspresi dingin. "Nata memiliki sisi lain di dalam pekerjaannya?" "Dia pernah masuk militer Angkatan Udara saat usianya lima belas tahun." Lamia menunduk, menghabiskan sisa makanan di piringnya. "Dan keluar saat usianya dua puluh dua tahun." "Kau mengawasinya?" Kepala merah mudanya menggeleng. "Aku pernah mendengar ini dari sahabatku, Lily." "Dia banyak tahu rupanya." Lamia memicingkan kedua matanya dengan ekspresi keras. "Ibu banyak meremehkan lingkungan sekitarku ternyata." Lamia menghela napas panjang. "Aku akan kembali ke apartemen. Aku tidak akan tidur di rumah malam ini." Lamia mengambil tas miliknya dan mengalungkan ke bahunya. Berjalan santai setelah dia menghabiskan makan malamnya, mengangguk singkat pada pelayan rumah tangga mereka dan berjalan menuruni tangga menuju garasi mobil. *** "Sialan! b*****h! Agneli Lamia benar-benar b*****h!" Roose Nata menatap pemandangan di depannya dengan ekspresi datar luar biasa. Roose Abe mengamuk hebat di ruangannya. Setelah sang ayah memberi kalimat memperingati, membuat Abe harus hati-hati melangkah saat dia ingin berada di jalan baik-baik saja. Keluarga Roose sekaligus pendukung mereka di dalam tubuh pemerintahan sedang bersusah payah membangun kembali reputasi Abe yang terlanjur di bawah garis merah. Dan ini semua karena siapa? Ya, Agneli Lamia. Terkutuklah gadis itu. "Bagaimana bisa dia tahu kalau aku yang menyebarkan opini publik tentang dia yang membunuh Latina?" Roose Nata mendengus tajam. Dia hanya mengangkat bahu sebagai tanda acuh dan kembali pada ponsel di tangannya. "Mudah saja. Keluarga Cornell terlalu takut pada ancaman keluarga adikuasa itu. Dan kau mencari kematianmu sendiri dengan membajak dokumentasi mereka dan menyebarkan ke seluruh media massa di Jepang bahwa Agneli Lamia adalah pelaku tindak kriminal tingkat tinggi." "Latina memang dibunuh, dan sampai sekarang pelaku masih buron. Kesalahanmu adalah kau terlalu bodoh, Abe." Roose Abe yang kalap melemparkan guci dengan kedua tangannya ke arah Nata yang duduk, menabrakkan guci itu ke arah dinding dan hancur berkeping-keping. Nata masih bersifat statis di tempatnya duduk. Dia memandang sang kakak dengan tatapan lain sebelum Abe menghempaksan bokongnya ke kursi, bernapas keras-keras di sana. "Dia menyerangku! Aku berpikir ini akan jadi bumerang bagi keluarga Cornell agar Lamia tidak memberikan dukungannya pada keluarga sialan itu." Roose Nata mengembuskan napas kasar. "Jika kau berhadapan dengan keluarga lemah lainnya yang hanya memiliki uang dan kekayaan mereka, ini mudah bagimu. Yang kau hadapi Agneli Lamia. Agneli. Apa perlu kutekankan sekali lagi?" "Diam, Nata." "Coba saja cari keberuntunganmu sendiri, Abe. Aku hanya akan memantau." Nata bangkit dari kursinya, menemukan satu pesan masuk mampir ke dalam ponselnya dan dia berjalan pergi. Meninggalkan Abe dalam jeritan putus asa sekali lagi. *** Lamia menatap pintu kaca lift yang tertutup rapat saat dia merasakan kepalanya berdentam dan dia meraih sesuatu di dalam tasnya. Mencari-carinya dalam gerakan tangan cepat. Dia menuangkan dua butir pil berwarna putih ke telapak tangannya, menelannya tanpa air karena dia sudah biasa meminumnya dan perlahan tubuhnya limbung. Dia terjatuh ketika lift berdenting menandakan dia sudah sampai ke lantai yang dituju. Dengan kekuatan yang coba dia bangun kembali, Lamia bangkit berdiri. Dia meraba-raba sekitarnya dan merasakan pemandangan objek di depannya mulai mengabur. Lamia mendesis dingin, mencoba berdiri tegak ketika dia tidak sanggup dan debaran di dadanya semakin terasa sakit. Lamia merogoh ponsel di dalam saku mantelnya. Menekan nomor darurat milik Hana saat dia menghubungi gadis itu untuk membawa dokter Dahlia ke kamar apartemennya sekarang. Lamia terengah-engah saat dia bersandar pada tembok lorong yang dingin. Meluruskan kedua kakinya ketika napasnya mulai membaik dan semua anggota tubuhnya tidak lagi terasa sakit. Keringan dingin menetes dari pelipisnya dan Lamia menghapusnya dengan kasar. Salah satu pintu di dalam lorong terbuka. Lamia menahan napas menemukan langkah tenang itu terpaku ke arahnya. Ketika kepalanya mendongak, dia menemukan Roose Nata berdiri menjulang dengan ekspresi menahan diri di hadapannya. Lamia mendesis dingin saat dia mencoba bangun dan sekali lagi tubuhnya belum seratus persen pulih. Dia menatap Nata dalam picingan tajam dan mendesah keras. "Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Dia menyapa dingin dan Nata memindai dirinya bagai sinar laser dalam ruang ronsen rumah sakit. "Kenapa kau duduk di lantai?" "Terpeleset. Bagian punggungku terbentur dan agak nyeri." Lamia membalas tenang. Membuat kedua alis Nata menekuk tajam. "Kenapa kau bertanya?" "Ini aneh karena kau tampak kepayahan." Nata menarik sudut bibirnya ke atas ketika Lamia mengepalkan tangan di sisi tubuhnya. Roose Nata menunduk, menemukan telapak tangan kirinya sedikit berlumuran darah. Dia mengepalkan tangan, dan sayangnya gerakan tangan itu tertangkap mata Lamia. "Ini bukan daerahmu. Mau apa kau kemari?" "Apa ini termasuk daerah kekuasaanmu juga, Agneli? Karena kupikir, Jepang juga milik rakyat yang mendiami wilayahnya." "Kau bicara omong kosong sekarang?" Lamia menghela napas saat dia berjalan menjauhi Nata yang bergeming di tempatnya berdiri. Sebelum langkah Lamia sempat menjauh, dia mendengar pintu sekali lagi terbuka. Langkahnya membeku. Lamia menyipitkan kedua matanya menemukan Cornell Hiro keluar dalam tampilan berantakan sehabis bercinta dengan seorang gadis. Dan dugaan Lamia benar. Gadis itu keluar dengan tawa pelan dan wajah puas luar biasa. Lamia memicingkan kedua matanya. Menemukan bahwa gadis itu adalah seorang pramugari maskapai penerbangan internasional Jepang Airlines. "Ya Tuhan." Gadis itu memekik terkejut saat dia menemukan Agneli Lamia berdiri tidak jauh dari mereka. Menatap keduanya bergantian dan Cornell Hiro tampak tidak terlalu peduli dengan kehadiran Lamia melainkan terusik dengan kehadiran Roose Nata di belakang punggungnya. "Kau bertemu Roose Nata di sini?" "Apa ini menjadi urusanmu?" Lamia membalas sinis saat tatapan matanya terlempar pada gadis yang berprofesi sebagai pramugari itu, Shion. "Jelas ini menjadi urusanku." Lamia mendengus menahan tawa geli. Dia melirik Nata dari bahunya dan memiringkan kepala. Memberikan Hiro tatapan memperingati. "Tutup mulutmu, bajingan." Shion terperangah tak percaya mendengar umpatan Lamia di depannya. Gadis itu menutup mulutnya saat Hiro mendesis. "Tidak bisakah kau bicara lebih sopan pada calon suamimu sendiri?" "Calon suami my ass!" Lamia mendengus tajam. Dia menggelengkan kepalanya berulang kali dengan tawa sinis. "Dulu sekali, saat kau berkencan dengan Tulip Agnia, aku berpikir kalau Agnia benar-benar tidak pantas bersanding dengan pria luar biasa buruk seperti dirimu." Cornell Hiro hanya diam. "Dan dugaanku benar. Kasihan sekali diriku harus bersanding dengan pria berlevel rendah sepertimu." Lamia menabrak bahu Hiro saat dia berjalan masuk ke dalam kamar apartemennya sendiri dan meninggalkan Cornell Hiro yang termenung di lorong. Tatapan Shion jatuh mengagumi pada Roose Nata yang memandang keduanya dalam diam. Nata mendengus pelan, bertepuk tangan menatap ekspresi marah Hiro. "Ini bisa jadi bumerang untukmu, Hiro. Kau membawa perempuan lain di depanku. Bisa saja aku membocorkan ini pada media luar, kan?" "Kau tidak mungkin melakukannya, Roose." "Kenapa tidak?" Nata mengangkat alis. "Kau ternyata sama buruknya dengan kakakku. Sekarang semua kabar burung itu benar. Bahwa seorang Cornell Hiro bukanlah orang suci. Itu semua kamuflase dari bentuk pembelaan diri menghadapi pemilu nanti." Cornell Hiro menarik sudut bibirnya. "Kau tidak akan berani melakukannya. Kau hanya boneka di dalam tubuh keluargamu sendiri." "Kau tahu banyak tentangku ternyata." Nata menipiskan bibir. Dia mengangkat bahunya. "Aku tertarik membawamu ke permainan ini sekarang." Setelah mengatakannya, Nata berjalan santai menuju lift yang tertutup dan suara agak keras Cornell Hiro mengusiknya. "Jadi, ini alasanmu keluar dari militer? Karena orang tuamu yang menginginkanmu menjadi politikus?" Cornell Hiro tertawa pelan. Tidak menyadari ekspresi Nata yang menggelap. "Atau karena kemampuanmu terlalu payah di antara militer Angkatan Udara lainnya?" Nata berlalu masuk ke dalam lift. Memandang Hiro dalam sorot tajam sebelum pintu lift tertutup sempurna dan adu pandang itu berakhir di sini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD