"Gue mau jadi pacar Lo, Nik," aku langsung memeluk Niko. Niko menegang di tempatnya, terkejut dengan apa yang baru ku katakan tadi. Namun tak lama, dia mulai membalas pelukanku. Jangan tanya aku kenapa aku bisa melakukan semua ini, aku pun tidak tahu. Aku spontan melakukannya. Niko pun melerai pelukan kami. Kini dia memegang kedua lenganku dengan jarak wajah kami yang sangat dekat--bshkan hidungku hampir menyentuh hidungnya. Jika orang lain melihatnya, mereka akan mengira jika kami berciuman. Niko menatapku dalam, seakan bertanya apa maksud kalimat yang baru saja ku ucapkan tadi. "So--sorry, gue--" aku belum selesai berbicara, dan seseorang sudah memanggil kami. "Vaya! Niko!" Itu suara Maya yang membuat kami sontak langsung menjauh. Maya sedang berdiri di dekat taman, dan di sampin

