Farrel sangat-sangat bersyukur karena akhirnya perempuan ini lah yang tetap menjadi istrinya. Perempuan yang terlelap di dalam pelukannya. Farrel terkekeh. Jika ingat beberapa bulan kemarin, hidupnya terasa sangat suram. Apalagi detik-detik akan menikahi Shabrina. Rasanya seperti sedang menunggu dieksekusi untuk mati. Ia tak pernah siap untuk itu. Bagaimana mungkin ia bisa menikahi perempuan yang sama sekali tak ia sukai? Sementara ia sudah memiliki perempuan ini disisinya? Kini Farrel menatap lagi perempuan yang ada dipelukannya ini. Ia sempat berpikir untuk tidak menikahi Fara kala itu. Namun rasa cintanya memberatkan. Benar lah jika rasa cinta itu seharusnya dititipkan pada-Nya dulu baru kemudian diberikan kepadanya. Agar apa? Agar dapat menjaga fitrahnya cinta. Tak salah pula menempa

