Dan untuk ke sekian malamnya, Farrel tergugu. Ia menangisi dirinya sendiri dan dosa yang dilakukannya selama ini di atas sajadah cinta. Walau masih berharap ini hanya lah mimpi buruk namun saking nyatanya, ia tak bisa menghindar. Apalagi tadi Papanya sudah berbicara padanya. Menasehatinya pelan-pelan untuk belajar menerima kenyataan yang sangat sulit ini. Farrel tentu terluka. Hatinya tergores. Andai ia kehilangan iman dan rasa takutnya, barangkali ia sudah pergi lalu membawa kabur Fara jauh-jauh dari semua hal ini. Agar bisa hidup bahagia dengan Fara. Namun semua itu tak ia lakukan. Kenapa? Atas nama cintanya pada Allah, mana mungkin ia melakukannya? Ini bukan tentang perkara hisab tapi perkara cinta. Mana mungkin Farrel mengkhianati cintanya pada Allah? Tuhan semesta alam. Yang jika Di

