Tiga bulan kemudian. "Ayaaaaaaang!" ia sudah teriak sambil menangis kencang. Farrel sudah tak heran mendengarnya. Lelaki itu baru menutup pintu belakang rumah. Ah, lebih tepatnya mengunci. Kemudian berjalan cepat ke arah teras di mana istrinya berada. Perempuan itu berdiri sambil menangis tanpa air mata. Menangis dengan teriakan lebih tepatnya. Drama yang sudah sangat biasa terjadi di rumah ini tiap istrinya meminta tolong sesuatu. "Kenapa, Love?" tanyanya sambil mengambil sepatunya di rak kemudian menaruhnya di lantai. Mereka hendak berangkat ke rumah sakit hari ini untuk memeriksakan kandungan Fara yang menginjak sembilan bulan. Perut istrinya itu sangat besar sekarang. Apalagi yang ada di dalam perutnya bukan cuma satu bayi. "Aku gak bisa memakai sepatuku," adunya sambil menatap Fa

