Bab 1. Tragedi
"Aku akan pergi berlibur bersama teman-temanku untuk menginap di villanya. Kau boleh menginap di sini dan bersihkan semuanya! Besok saat aku pulang aku ingin semua ini sudah selesai dan bersih. Jika sampai apartemen ini tidak bersih, maka aku tidak akan pernah mengirim uang lagi untuk nenek!!" ancam seorang wanita bernama Lavina. Ia adalah kakak dari Devina.
Mendapatkan ancaman dari sang kakak membuat Devina tak bisa menolak perintah yang dikatakan kakaknya, terlebih Devina memang sangat membutuhkan uang karena ia selama ini memang bergantung pada Lavina. Terlebih lagi, Devina hanya bisa mendapatkan uang dengan berjualan kue saja. Walaupun sesekali, ia mendapatkan pesanan dari ibu-ibu komplek yang akan mengadakan acara. Namun, itu masih tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya bersama sang nenek. Devina tidak bisa bekerja di luar karena takut tidak ada yang menjaga neneknya di rumah. Uang yang dihasilkannya tidak seberapa jika dibandingkan dengan Lavina.
"Kalau aku menginap di sini bagaimana dengan nenek? Aku takut jika nenek membutuhkanku nantinya, Kak," jawab Devina.
Walau bagaimanapun yang terpenting baginya adalah sang nenek, apalagi kondisinya saat ini sudah tidak bisa berjalan lagi dan hanya bisa duduk di tempat tidur. Jika ia tidak ada bagaimana dengan neneknya nanti?
"Aku tidak peduli dengan itu. Bereskan semua ini dan aku akan memberikan uang untuk nenek besok!" Lavina kembali memberi perintah tanpa mau peduli. Ia tidak ingin tahu apa yang Devina pikirkan saat ini. Baginya, yang paling penting adiknya tetap harus membersihkan apartemennya karena besok kekasihnya pulang.
"Bersihkan semua itu!" titah Lavina tak terbantahkan. Dia langsung pergi meninggalkan apartemen setelah memberikan perintah. Sementara Devina, ia memulai membersihkan apartemen itu. Ia terus saja membersihkan apartemen tempat Lavina tinggal hingga tanpa disadari olehnya jika ada seseorang yang masuk ke dalam apartemen.
"Lavina sayang, tolong bantu aku, Lavina! Tubuhku terasa sangat panas," pinta seorang pria bernama Gerry yang baru saja tiba di apartemen miliknya. Apartemen yang selama ini memang ditempati oleh Lavina.
"Lavina." Gerry kembali memanggil hingga membuat Devina yang sedang membersihkan kamarnya Lavina langsung keluar.
"Siapa?" tanya Devina ketika melihat bahwa ada seseorang yang datang. Gerry sendiri juga kaget saat melihat wanita yang sangat mirip dengan Lavina, tetapi ia tahu bahwa itu bukan Lavina, kekasihnya.
"To-tolong aku. Ini panas. Tolong!" pinta Gerry yang semakin merasa bahwa dirinya saat ini tengah dikuasai hawa panas hingga tubuhnya hampir jatuh ke lantai. Beruntung Devina sempat menopang raga pria itu agar tidak terjatuh, walau sebenarnya ia sempat merasa takut dekat dengan Gerry.
Sentuhan tangan Devina membuat aliran darah Gerry berdesir hebat. Entah kenapa hasratnya semakin tidak terkontrol sampai gejolak dalam dirinya kian menggebu-gebu.
"Tolong aku, tolong hilangkan rasa panas ini!" pinta Gerry lagi pada Devina. Dia benar-benar merasa tersiksa dengan rasa panas itu. Namun, ketika Devina menolongnya, tiba-tiba saja tangan pria itu mencengkram kedua tangannya hingga membuat Devina semakin ketakutan.
"Lepaskan aku! Tolong, jangan lakukan ini padaku! Tolong lepaskan aku!" Devina terus memohon. Ia semakin ketakutan saat melihat bahwa wajah pria itu mulai berbeda karena dikuasai oleh hawa nafsunya sendiri.
"Bantu aku, tolong!" pinta Gerry dengan sangat pada Devina yang dia pikir itu adalah Lavina.
"Tidak! Lepaskan aku," teriak Devina saat pria yang tidak dikenalinya itu membawanya ke dalam kamar Lavina yang sedang dibersihkan olehnya tadi. Karena dikuasai oleh nafsunya, Gerry tidak lagi mengindahkan apa yang Devina katakan padanya. Bahkan wanita itu terus saja memohon untuk dilepaskan agar ia bisa pergi dari tempat itu secepat mungkin sebelum semuanya terlambat.
"Tolong, aku tau kamu bukan Lavina dan aku akan bertanggung jawab padamu nanti. Aku berjanji setelah ini aku akan benar-benar bertanggung jawab untukmu," ucap Gerry yang berusaha untuk meyakinkan Devina agar mau melakukan hal ini padanya. Namun tetap saja, Devina tidak ingin melakukan hal itu karena menurutnya ini terlarang. Dalam agama mana pun tidak diperbolehkan mereka melakukan hubungan seperti ini.
"Arghh .…" Devina berteriak saat kemeja yang dipakainya dirobek begitu saja oleh pria yang tidak dikenalnya hingga membuat bagian dadanya langsung terlihat dengan jelas saat ini. Tanpa menunggu lama lagi, Gerry pun melancarkan aksinya. Ia menyetubuhi Devina tanpa memikirkan apa yang akan terjadi pada wanita itu nantinya. Setidaknya dia benar-benar sudah bisa menuntaskan hasratnya dan rasa panas di dalam tubuhnya hilang.
Gerry terjatuh di atas tempat tidur setelah dia benar-benar melampiaskan hasratnya pada Devina. Pria itu merasakan kenikmatan yang luar biasa dengan apa yang telah disalurkannya pada Devina tadi. Bahkan dia juga tidak tahu apa yang terjadi pada wanita itu selanjutnya karena setelah menuntaskan hasratnya Gerry langsung tertidur tanpa mengingat apa pun lagi.
***
Keesokan paginya, Devina yang tak sadarkan diri atas perlakuan paksa Gerry semalam pun terdengar menangis setelah terbangun dari tidurnya.
"Hiks … hiks … hiks .…" Devina benar-benar menangis atas apa yang telah terjadi pada dirinya saat ini. Ia sudah hancur, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan olehnya. Satu-satunya yang ia banggakan selama ini sudah hilang. Jika sudah begini, apa bedanya ia dengan Lavina yang mempertontonkan lekuk tubuhnya sebagai model pemotretan.
Mendengar suara seseorang yang menangis di dekatnya membuat Gerry yang masih tertidur jadi terganggu. Awalnya, ia biasa saja dan coba mengabaikan. Namun, semua tidak bisa diabaikan begitu saja karena suara tangisan itu terus saja terdengar.
"Nenek, maafin Devina, nek. Maafin Devina," ucapnya lagi dengan penuh air mata.
Gerry sendiri langsung terbangun dan melihat ternyata ada seorang wanita yang menangis di sampingnya. Wanita yang tengah memunggunginya itu terus saja menangis hingga membuat Gerry kesal. "Tidak bisakah kamu berhenti menangis? Aku masih membutuhkan waktu untuk istirahat, tapi kamu terus saja menangis sejak tadi! Jika kamu ingin menangis keluar dari kamar ini!" sentak Gerry karena merasa terganggu dengan tangisan Devina.
Mendengar Gerry mengatakan hal kasar padanya, Davina pun langsung menoleh. Menatap pria yang sudah menidurinya itu dengan sorot mata tajam.
"Jika ada orang yang harus disalahkan di sini itu adalah Anda! Anda yang telah melakukan hal ini pada saya, kenapa jadi malah Anda yang marah? Tidak ingatkah Anda apa yang Anda lakukan terhadap saya tadi malam?" tanya Devina dengan penuh emosi. Ia sudah kehilangan satu-satunya harta yang paling berharga dalam hidupnya. Lalu, dengan mudahnya pria itu mengatakan padanya untuk pergi begitu saja. Bukan Devina bermaksud untuk meminta pertanggungjawaban atas apa yang telah Gerry lakukan padanya. Tidak sama sekali, karena Devina tidak membutuhkan itu. Satu-satunya yang dibutuhkan Devina saat ini adalah kekuatan agar dia bisa pergi dari pria itu secepatnya.
"Ma-maaf. Seharusnya aku tidak mengatakan hal seperti itu padamu. Pakailah pakaianmu! Kita akan bicara setelah ini," ujar Gerry yang berusaha menenangkan wanita itu.
"Apa yang harus aku pakai? Pakaianku sudah kamu robek semalam. Aku tidak ingin jadi masalah jika ketahuan pakai baju kak Lavina," jawab Devina dengan suara yang bergetar. Mengingat nama kakaknya benar-benar membuat Devina jadi ketakutan. Bagaimana jika kakaknya mengetahui apa yang telah terjadi antara dirinya dan Gerry.
Astaga, memikirkannya saja sudah membuat kepala Devina berdenyut. Lalu, bagaimana jika kakaknya itu benar-benar mengetahui hal ini. Entah apa yang terjadi pada dirinya nanti jika sampai Lavina tahu bahwa ia sudah berhubungan badan dengan pria yang tidak dikenalnya sama sekali.
"Maaf, kamu tunggu saja di sini karena aku akan menyiapkan pakaianmu!" titah Gerry berusaha mengembalikan kesadarannya setelah dipengaruhi oleh obat perangsang yang tidak sengaja di minumnya tadi malam.
Devina langsung menutup kedua matanya ketika melihat pria itu turun dari tempat tidur dengan keadaan telanjang.
"Maaf, aku akan menyiapkannya," ujar pria itu sebelum hilang di balik pintu kamar mandi.
Saat pria itu di dalam kamar mandi, Devina langsung bersiap untuk turun dari tempat tidur dan meninggalkan kamar karena dia tidak ingin terlibat hubungan apa pun lagi dengan Gerry. Tidak sekalipun karena Devina takut dengan kakaknya. Jika memang dia harus merelakan semuanya, setidaknya itu jauh lebih baik dari pada harus memikirkan Lavina.
Susah payah Devina berusaha untuk pergi agar tidak ketahuan oleh Lavina dan mungkin saja itu kekasihnya karena Devina sendiri sangat mengingatnya bahwa tadi malam pria itu memanggilnya sayang dan itu artinya dia memang benar-benar kekasihnya Lavina.
Setelah selesai membersihkan dirinya, Gerry pun sudah bersiap untuk bicara dengan wanita yang telah diperkosanya tadi malam. Mau bagaimanapun, ia tetap harus membicarakan kelanjutannya. Gerry takut jika apa yang ia lakukan bisa berimbas buruk pada nama baiknya, terlebih jika nanti Devina sampai mengandung anaknya karena semalam pria itu memang sama sekali tak mengenakan pengaman.
"Di mana dia?" tanya Gerry ketika tidak melihat wanita itu berada di kamar itu lagi. Gerry pun berusaha untuk mencarinya. Namun, ketika dia hendak keluar dan melewati tempat tidur ia melihat ada noda merah di sana dan Gerry tidak bodoh. Dia tahu apa artinya itu.
"Ya Tuhan, bagaimana ini? Aku telah merusak masa depan wanita itu. Bagaimana jika nanti dia sampai hamil?" Gerry mulai frustasi dengan keadaannya saat ini. Sungguh, ia tidak menyangka jika telah merusak wanita baik-baik. Bahkan dengan Lavina saja, Gerry tidak tahu apakah ia adalah pria pertama yang melakukannya karena pada saat itu, Gerry tak menemukan hal seperti saat ini.
"Aku harus mencarinya. Ya, aku benar-benar harus mencarinya," ucap Gerry yang sudah bertekad bahwa ia harus mencari wanita yang sudah dinodainya.