BAB 7 — MALAM PESTA KONGLOMERAT

1895 Words
Tidak ada angin tidak ada hujan Aginos akan membawanya ke sebuah pesta di mana konglomerat berkumpul. Pantas saja, beberapa hari ini dia tidak lagi di minta untuk melawan Marco, lebih memilih untuk mengobati diri. Kini Hazel berdiri di depan cermin raksasa kamar mewahnya. Kilauan lampu kristal memantulkan bayangan seorang gadis yang nyaris tak ia kenali sendiri. Kulitnya dibalut gaun malam berwarna merah marun dengan potongan elegan di bahu, memperlihatkan garis leher jenjang yang tak pernah berani ia pamerkan sebelumnya. Rambut hitamnya disanggul rapi, dihiasi batu permata kecil yang berkilau tiap kali ia bergerak. Hazel menggigit bibirnya gugup. “Ini… bukan aku,” gumamnya lirih. Dari balik pintu, suara berat yang sudah akrab menyelinap masuk. “Kau akan jadi siapa pun yang kuinginkan malam ini,” ujar Aginos datar. Dengan jantung berdegup kencang Hazel pun pelan-pelan melangkah keluar dengan perasaan tak karuan. Pintu kamar terbuka. Aginos berdiri di ambang pintu, mengenakan setelan hitam yang terjahit rapi, memancarkan wibawa dingin khasnya. Tatapannya membeku sesaat begitu Hazel menoleh. Ada sesuatu yang menyala di dalam dirinya, sebuah hasrat yang ia sendiri tak ingin akui. Darahnya mendidih. Hasratnya menyala. Kilasan perasaan itu membuat pikirannya seolah mundur ke malam pelelangan—malam ketika ia pertama kali melihat Hazel bukan hanya sebagai barang, tapi sebagai perempuan dengan daya tarik yang menyalakan darahnya. Aginos menarik napas dalam, menahan gejolak yang muncul. “Kau siap?” tanyanya singkat. . Hazel bukan sekadar "barang lelang". Ia adalah racun manis yang bisa menenggelamkan siapapun, bahkan dirinya. Aginos menegakkan tubuh, menahan diri agar tidak memperlihatkan gejolak yang berkecamuk di dalamnya. Namun matanya tak bisa lepas dari Hazel. “Jangan buat aku menyesal membawamu,” katanya dingin, meski nada suaranya serak seolah dipenuhi sesuatu yang tak ia akui. Hazel menunduk, menyembunyikan debaran yang juga tak ia mengerti. Hazel menoleh. Sosok pria itu berdiri tegak dengan wajahnya dingin namun memikat. Aura penguasa terpancar kuat hingga membuat Hazel menunduk tanpa sadar. “Kau… yakin aku harus ikut?” tanyanya hati-hati. Aginos melangkah lebih dekat, jaraknya dipangkas hingga Hazel bisa merasakan aroma parfumnya—maskulin, tajam, bercampur samar bau tembakau. “Pesta konglomerat bukan sekadar hiburan. Itu panggung. Dan malam ini, kau adalah salah satu alatku untuk menunjukkan kekuasaan Falcone.” Hazel tercekat. “Alat?” Senyum tipis melintas di bibir Aginos, tapi matanya tetap sedingin es. “Kau berpikir terlalu banyak. Diam saja, tersenyum saat aku perintahkan, dan berjalan di sisiku. Itu cukup.” Hazel mengepal tangannya, menahan gemetar. “Kalau aku salah melangkah?” Aginos mencondongkan tubuh, berbisik di telinganya. “Kalau kau mempermalukanku… maka aku akan pastikan kau lebih menyesal daripada waktu kau masih jadi b***k di Alagar.” Tubuh Hazel kaku. Ancaman itu tak perlu diteriakkan—suaranya yang tenang justru membuat bulu kuduknya meremang. Aginos menarik mundur wajahnya, lalu meraih mantel Hazel. Dengan gerakan yang nyaris tak terduga, ia menyampirkannya ke pundak gadis itu. “Jangan buat wajah ketakutan itu. Malam ini, kau harus terlihat berharga. Dunia harus iri padaku karena memiliki seseorang seperti dirimu.” Hazel menelan ludah, bingung antara malu, takut, dan… sesuatu yang tak ia pahami. --- Mobil hitam berlapis baja berhenti di depan mansion Falcone. Sopir membukakan pintu, dan Aginos menggiring Hazel masuk. Interior mobil mewah itu dipenuhi aroma kulit asli dan kayu mahal. Hazel duduk gelisah, jarinya meremas gaun. “Berhenti menggigit bibirmu,” ujar Aginos tanpa menoleh, matanya menatap keluar jendela. Hazel kaget, buru-buru melepaskan gigitannya. “Aku gugup…” “Gugup itu kelemahan. Dan kelemahan harus disembunyikan,” balas Aginos cepat. Hening menyelimuti. Hanya suara mesin halus yang terdengar. Hazel memberanikan diri membuka suara. “Kenapa… kenapa aku harus berpura-pura menjadi sesuatu yang bukan diriku?” Aginos menoleh, tatapannya menusuk. “Karena dunia tidak peduli siapa dirimu. Mereka hanya peduli pada apa yang mereka lihat. Malam ini, kau bukan Hazel si b***k. Kau adalah permata yang menghiasi Falcone.” Hazel menunduk, matanya berair. Tapi sebelum ia bisa menjawab, tangan Aginos terulur, menangkup dagunya kasar namun tidak menyakitkan. Ia memaksa Hazel menatap lurus ke matanya. Namun, sepertinya dia melakukan kesalahan. Sentuhan. Brengsek. Ada dengannya! “Jangan pernah turunkan kepalamu. Biar aku yang menyeretmu ke dunia ini, tapi kau akan berdiri tegak. Mengerti?” Hazel terdiam. Sesuatu di dalam dirinya berontak, tapi tatapan Aginos terlalu kuat. Akhirnya ia mengangguk pelan. “Bagus,” gumam Aginos, melepaskan dagunya. Ia bersandar kembali, seolah percakapan itu tak berarti apa-apa baginya. Tangannya mengepal kuat, jakunnya naik turun, tubuhnya terasa panas. Dia terkhianati oleh dirinya sendiri. Mobil melaju menembus jalanan kota yang ramai, lampu neon berkelebatan di kaca. Hazel memperhatikan bayangan dirinya yang berkilau di jendela. Untuk pertama kalinya, ia terlihat seperti seseorang dari dunia glamor itu. Tapi di balik semua kilauan, hatinya tetap dihantui rasa takut. --- Saat mobil mulai melambat, Hazel bisa melihat gedung pencakar langit menjulang, dihiasi cahaya gemerlap. Karpet merah terbentang di depan pintu masuk, kamera media berderet, lampu blitz menyala-nyala. Hazel menggenggam erat jemarinya. “Aku… tidak bisa…” bisiknya. Aginos menoleh, suaranya datar namun penuh otoritas. “Kau bisa. Karena aku ada di sampingmu.” Hazel menoleh cepat, menatapnya, kaget mendengar nada itu. Bukan sekadar ancaman, tapi… keyakinan. Sesuatu yang membuat jantungnya berdegup tak terkendali. Pintu mobil dibuka. Sorakan dan kilatan kamera langsung menyambut. Aginos turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan ke arah Hazel. Sejenak Hazel ragu, tapi akhirnya ia menyambut tangan itu. Sentuhan hangat dan kuat mengalir dari jemari Aginos ke tubuhnya. Dan ketika ia melangkah keluar, semua mata benar-benar terpaku padanya. Dan hal yang membuatnya panas bukan rasa itu, tetapi sesuatu yang tidak pernah ia rasakan. Tatapan orang-orang pada Hazel, dia jengkel. *** Blitz kamera menyambar-nyambar ketika Hazel melangkah keluar dari mobil. Kilauan gaun merah marunnya menelan cahaya lampu, membuatnya tampak seperti bintang jatuh di tengah malam kota. Suara wartawan berdesakan, memanggil nama Aginos, tapi lensa mereka jelas lebih banyak mengarah pada gadis di sisinya. “Siapa dia?” bisik seseorang di kerumunan. “Pacar baru Aginos Falcone?” “Tidak mungkin, wanita itu terlalu muda—tapi lihat betapa cantiknya…” Hazel nyaris goyah mendengar bisikan-bisikan itu. Namun genggaman tangan Aginos di pinggangnya begitu kokoh, menuntunnya berjalan anggun di karpet merah. Senyum tipis pria itu seakan memberi sinyal: jangan berani terlihat lemah. Hazel mengatur napas, mengingat kata-katanya di mobil. Dunia hanya peduli apa yang mereka lihat. Maka ia menegakkan bahu, membiarkan kamera menangkap sorot matanya yang penuh misteri. --- Di dalam ballroom, suasana lebih mewah lagi. Kristal raksasa menggantung di langit-langit, alunan musik klasik berpadu dengan gelas sampanye beradu. Para konglomerat dunia—dari taipan minyak, raja teknologi, hingga bangsawan modern—berkumpul dalam lingkaran-lingkaran kecil, bercakap dengan bahasa bisnis yang kaku namun penuh kepentingan. Dan ketika Aginos melangkah masuk, semua percakapan mereda. Falcone. Nama itu selalu membawa wibawa tersendiri. Namun kali ini, yang mencuri perhatian bukan hanya pria itu, melainkan wanita di sampingnya. Hazel. Gadis mungil yang entah dari mana asalnya, membawa kecantikan yang begitu memukau para tamu undangan. Shapira yang berdiri di sisi ruangan menahan napas sejenak. Matanya menyipit, menilai gaun, perhiasan, hingga senyum tipis Hazel yang memukau. Hatinya bergetar antara marah dan getir. Gadis hina itu seharusnya berlutut di kaki keluarga Alagar, bukan bersanding dengan Aginos Falcone. Sementara Hia yang berdiri tak jauh darinya, matanya membelalak. Kecantikannya sendiri terasa pudar di hadapan Hazel. Bibirnya mengerucut, matanya dipenuhi api cemburu. “Itu… milikku,” bisiknya. Shapira menoleh cepat. “Apa katamu?” Hia menegakkan kepala, meski wajahnya memerah. “Gaun itu, perhatian itu, semua seharusnya milikku. Aku yang pantas berdiri di sisi Aginos, bukan dia.” Shapira menatap putrinya lama. Dalam hatinya ia tahu cemburu itu bisa menjadi senjata. Senyum samar muncul di bibirnya. “Kalau kau benar-benar menginginkannya… maka rebut.” --- Hazel, tanpa menyadari tatapan penuh racun itu, berusaha menyesuaikan diri. Beberapa pria tua berdasi menghampiri Aginos, menyalami dengan hormat. “Falcone, sudah lama tak terlihat di pertemuan seperti ini,” ujar salah satu dari mereka, suaranya penuh basa-basi. Aginos tersenyum tipis. “Aku hanya muncul bila ada hal penting.” Lalu tatapan mereka jatuh pada Hazel. “Dan wanita cantik ini…?” Hazel menegang. Sebelum ia sempat bicara, Aginos sudah mendahului. “Dia milikku.” Kalimat itu, sederhana namun tegas, membuat Hazel nyaris kehilangan pijakan. Wajahnya memanas, entah karena malu atau marah. Namun di mata para konglomerat, pernyataan itu semakin menambah daya tarik. “Luar biasa… dia tidak hanya mungil tetapi waw…. selera Anda memang tak pernah gagal, Falcone.” Hazel tersenyum kaku, menunduk sedikit. Ia ingin lenyap dari pandangan itu, tapi genggaman tangan Aginos di pinggangnya semakin erat—seakan menegaskan kepemilikannya. Entah kenapa, Aginos merasa bangga. --- Di sisi lain ruangan, Hia mengepalkan tangannya begitu keras hingga kukunya menancap di telapak. “Dia… memanggilnya milik. Di depan semua orang!” Shapira menepuk pundaknya pelan, menahan amarahnya sendiri. “Tenanglah. Malam ini baru permulaan. Biarkan semua orang terpana oleh Hazel. Semakin tinggi ia terbang, semakin keras pula ia akan jatuh nanti.” Hia menghela napas berat, matanya tetap terkunci pada Aginos. Bukan hanya Hazel yang ia benci, tapi juga obsesi yang tumbuh pada sosok pria itu—dingin, berkuasa, tak terjangkau. Semakin ia diabaikan, semakin besar keinginannya untuk dimiliki. --- Hazel merasa dadanya sesak. Setelah sesi salam-salaman, ia memohon lirih pada Aginos. “Bolehkah aku… duduk sebentar?” Aginos menatapnya cepat. “Jangan terlihat lemah.” “Tapi—” Aginos menunduk sedikit, suaranya nyaris tak terdengar. “Tersenyumlah, Hazel. Semua mata sedang menilai kita. Kau tak ingin mempermalukanku, kan?” Hazel terdiam. Kata-kata itu bagai rantai tak kasatmata. Ia memaksa bibirnya melengkung, meski dalam hati ia gemetar. Dan ketika ia melangkah lagi di samping Aginos, Hazel tahu: malam itu bukan miliknya. Malam itu adalah panggung… dan ia hanyalah pemeran utama yang harus bersinar sesuai perintah sutradara. *** Musik berganti lebih cepat, denting piano dipadukan biola, mengiringi pasangan-pasangan yang mulai berdansa di lantai dansa. Hazel berdiri terpaku, menyaksikan putaran gaun-gaun indah bagai ombak warna-warni. Aginos menoleh sekilas. “Kau bisa menari?” Hazel menelan ludah. “Sedikit…” Tanpa banyak kata, Aginos menarik tangannya. Seketika mereka sudah berada di tengah kerumunan, sorotan lampu kristal menyapu wajahnya. Hazel menunduk, takut salah langkah. Namun genggaman Aginos kuat, gerakannya tegas, membuatnya tak bisa lari. “Tatap aku,” bisik Aginos. Hazel mendongak, jantungnya berdetak kencang. Mata hitam itu, dingin sekaligus penuh kekuatan, menelannya bulat-bulat. Tubuhnya bergerak mengikuti, meski bukan karena lihainya, melainkan karena dipaksa mengikuti ritme pria di depannya. Tatapan dingin itu, ada sesuatu di sana dan Hazel tidak bisa menebaknya. Para tamu berbisik. “Lihat bagaimana Falcone menari dengan wanita itu…” “Mereka serasi… meski wanita itu terlihat masih begitu muda.” “Bukan hanya muda. Ia seperti… berlian mentah.” Hazel merasa setiap langkahnya dipantau, setiap senyum menjadi bahan komentar. Ia benci, tapi di saat yang sama, ada sedikit kebanggaan aneh karena mampu berdiri sejajar dengan pria itu di panggung dunia. --- Di sisi ruangan, Hia hampir gila melihatnya. Gelas sampanye di tangannya retak karena genggaman. “Dia berani menari dengan Aginos di depan semua orang…” gumamnya penuh api. Shapira menyeringai tipis. “Tenang, Hia. Lihatlah sekeliling. Semua orang terpana pada Hazel. Tapi justru di situlah kelemahannya. Semua mata iri, semua mata menginginkannya. Kau hanya perlu satu langkah tepat untuk membuatnya jatuh.” Hia menoleh cepat. “Dan kau akan mendukungku?” “Jika itu membuat keluarga kita kembali berjaya, kenapa tidak?” jawab Shapira tenang, meski hatinya mendidih. Ia tak pernah suka melihat Hazel berkilau. Tapi jika obsesi putrinya bisa menjadi senjata, ia akan menyalakan api itu sebesar mungkin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD