Musik berhenti. Aginos menunduk, mengecup punggung tangan Hazel sekilas. Kilatan kamera kembali pecah. Hazel gemetar, wajahnya panas, namun ia menahan diri untuk tetap tegak.
“Bagus,” bisik Aginos. “Kau belajar cepat.”
Lagi-lagi panas itu kembali, dan lagi-lagi demi terlihat sempurna, ia justru melakukan kesalahan yang membuat aliran darahnya berdesir hebat.
Ah, sial. Apa denganku? batin Aginos bergemuruh. Darahku benar-benar berdesir kuat, haus ingin dipuaskan. Kenapa hanya dari tatapannya?
Kilatan mata gadis itu, bak penyihir yang sedang meramalkan takdir, membuat dirinya hampir kehilangan kendali.
Aginos menarik napas panjang, menoleh sekilas, lalu menegakkan tubuh. “Jangan terlalu menikmati, Hazel. Ingat, semua ini hanya sandiwara,” ucapnya datar, mencoba menegaskan.
Hazel mengangguk patuh, tapi sorot matanya tak bisa bohong. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang menyalakan api kecil di d**a Aginos.
Berhenti. Hentikan. Ini berbahaya.
Dia hanya pion. Hanya bagian dari permainan ini.
Lalu kenapa… tubuhku menolak? Kenapa mataku sulit lepas darinya?
Tangannya mengepal di sisi jas hitamnya, seolah menahan sesuatu yang ingin meledak.
Hazel kembali menunduk sopan, padahal ia sendiri bergetar. Aginos menatapnya sekali lagi—hanya sepersekian detik—dan ia tahu dirinya semakin tenggelam dalam kebingungan yang menyesakkan.
“Jangan buat aku mengulanginya,” katanya pelan, lirih, nyaris seperti peringatan pada dirinya sendiri daripada pada Hazel.
Hazel menunduk, matanya berkilat samar. Aku bukan boneka yang bisa kau pamerkan selamanya, Aginos. Namun ia hanya tersenyum manis, menjaga perannya.
---
Saat Aginos beralih menyapa seorang pebisnis Asia, Hia melihat celah. Ia melangkah mendekati Hazel dengan gaun putihnya yang berkilauan. Senyum manis terpasang, meski matanya penuh kebencian.
“Halo, Hazel,” ucapnya dengan nada manis yang menusuk.
Hazel menoleh, terkejut. “Hia…”
“Aku tak menyangka kau bisa berdiri di sini… bersanding dengan Aginos,” lanjut Hia. Bibirnya tersenyum, tapi nadanya jelas penuh sindiran. “Rasanya… lucu. Kau yang seharusnya berlutut di bawah keluarga kami, malah tampil seolah ratu malam ini.”
Hazel mengangkat dagu. “Kau iri?”
Sekilas, wajah Hia berubah. Tapi ia cepat menutupinya dengan tawa ringan. “Iri? Tidak. Aku hanya heran. Aginos pantas mendapatkan pasangan sejajar… bukan b***k keluarga Alagar.”
Kata itu menusuk, membuat Hazel menggenggam gelasnya erat-erat. Tapi sebelum ia sempat membalas, Aginos kembali. Tatapannya langsung menusuk Hia.
“Ada masalah?” suaranya dingin.
Hia tersenyum manis. “Tidak sama sekali. Aku hanya… menyambut Hazel.”
Aginos menatapnya lama, lalu bergumam datar. “Sebaiknya kau ingat posisimu, Nona Alagar.”
Hia terdiam, wajahnya memerah. Shapira yang mengamati dari jauh mengepalkan tangan. Wanita hina itu bahkan membuat Aginos menegur putriku…
---
Jam bergulir, pesta makin ramai, namun bagi Hazel, udara terasa semakin berat. Setiap langkah diiringi tatapan iri, setiap tawa penuh sindiran terselubung.
Dan ketika ia keluar sebentar ke balkon untuk menghirup udara malam, suara langkah mendekat.
“Aku tahu kau membenciku.”
Hazel menoleh cepat. Hia berdiri di ambang pintu, bayangan lampu menyorot wajahnya yang cantik namun kejam.
Hazel tak menjawab.
Hia berjalan mendekat. “Tapi percayalah… semua yang kau punya sekarang, akan segera lenyap. Kau hanya ilusi sesaat, Hazel. Aginos akan bosan padamu. Dan saat itu tiba…” ia mencondongkan wajah, suaranya berubah tajam, “…aku akan ada di sisinya.”
Hazel menahan napas. Ia ingin membalas, tapi lidahnya kelu. Tatapan Hia bukan sekadar cemburu, melainkan obsesi.
Hia tersenyum tenang, menelisik Hazel dari bawah sampai atas lalu menggeleng, senyum mencemooh tak terlihat. “Sekalipun kau di poles berlian dari ujung kali hingga rambut, darah kotor sebagai babu Alagar tidak akan tersembunyi.”
Hazel tak tumbang tetapi nyawanya seolah menghilang dari raga nya.
“Aku menunggu sampai Aginos membuangmu kembali ke kubangan lumpur dan pada saat itu terjadi, maka… kau benar-benar telah mati.” Lanjut Hia tersenyum menyeringai lalu berbalik meninggalkan Hazel yang tidak bereaksi apa-apa selain terpaku dengan nafas tercekat.
Sebenarnya apa mau mereka? Setelah menjadikanku barang dagangan, ternyata tidak membuat nya berhenti.
---
Di dalam, Shapira sedang berbicara dengan seorang pria berjas hitam. Bisikan mereka samar, namun jelas penuh rencana.
“Malam ini kita tidak bergerak. Biarkan gadis itu merasakan manisnya dulu,” kata Shapira. “Semakin manis, semakin pahit saat kita merenggutnya.”
Pria itu mengangguk, lalu melangkah pergi.
Shapira mengangkat gelas sampanye, meneguknya pelan. Matanya tetap terpaku pada Hazel di balkon, bagai singa menunggu mangsa lengah.
---
Ketika pesta mendekati puncak, sebuah insiden kecil mengguncang. Lampu ruangan tiba-tiba padam beberapa detik, meninggalkan bisikan panik. Hazel spontan meraih lengan Aginos.
“Tenang,” bisik Aginos, suaranya tenang namun tajam.
Lampu kembali menyala. Tapi di meja utama, sebuah pesan singkat tertinggal di kartu undangan emas:
“Tidak peduli seberapa tinggi kau angkat gadis itu, Aginos. Semua akan jatuh di ujung pisau.”
Hazel melihat tulisan itu dan tubuhnya merinding. Aginos menyobek kartu itu tanpa ekspresi, namun rahangnya mengeras.
Dan di seberang ruangan, Shapira tersenyum samar.
***
Langkah-langkah kaki para tamu terdengar beriringan meninggalkan aula. Namun Hazel masih bisa merasakan getaran dingin di punggungnya setiap kali mengingat tulisan singkat itu.
“Semua akan jatuh di ujung pisau.”
Kata-kata itu berputar di kepalanya, menggema lebih keras daripada dentuman musik pesta yang perlahan mereda.
Aginos berdiri tegak di sampingnya, wajahnya tetap dingin, tetapi Hazel tahu—dari rahang yang mengeras, dari kilatan tajam di matanya—bahwa pria itu sama sekali tidak menganggap enteng ancaman tersebut.
Tanpa berkata sepatah pun, Aginos meraih tangan Hazel dan menuntunnya keluar aula. Genggamannya erat, penuh tekanan, seolah sengaja menunjukkan kepada semua orang bahwa gadis itu miliknya, tak peduli siapa pun yang mencoba merenggut.
Hazel menunduk, namun dari sudut matanya ia sempat menangkap Shapira berdiri di seberang ruangan dengan segelas anggur merah. Senyum samar menghiasi wajah wanita itu, membuat bulu kuduk Hazel meremang.
“Aginos…” Hazel akhirnya memberanikan diri bicara ketika mereka melewati koridor menuju pintu keluar. “Tulisan itu… apa—”
“Diam.” Suara Aginos rendah, tegas, bukan teriakan, tapi cukup untuk membungkamnya. “Jangan ulangi kalimat itu.”
Hazel terhenti sepersekian detik. Ada rasa sesak di dadanya, tapi juga rasa ingin tahu yang makin menjerat. Seolah kalimat yang dilarang itu justru semakin mengikat pikirannya.
Begitu mereka tiba di depan pintu utama, sopir sudah menunggu di samping mobil hitam panjang. Aginos membuka pintu belakang, mendorong Hazel masuk lebih dulu, lalu menyusul dengan gerakan kaku penuh kendali.
Ketika pintu tertutup rapat dan dunia luar terhalang kaca gelap, Hazel merasakan ketegangan yang lebih pekat daripada suasana aula pesta.
Aginos duduk di sampingnya, diam, hanya sesekali menoleh. Tatapan yang jatuh ke arahnya membuat Hazel bergidik—bukan sepenuhnya karena takut, tetapi karena ada sesuatu yang membara di balik tatapan itu. Hasrat. Bara yang sejak tadi Hazel rasakan, sejak ia melangkah keluar kamar mengenakan gaun malam itu.
Hazel menarik napas dalam, mencoba memecah keheningan. “Kalau semua orang melihatku seperti itu… kenapa aku merasa seperti… umpan?”
Aginos menoleh perlahan. Bibirnya melengkung tipis, samar antara senyum dan peringatan. “Karena kau memang umpan. Dan pancingannya adalah aku.”
Hazel tertegun. “Umpan?”
“Ya.” Aginos menyilangkan kaki, meletakkan satu lengan di sandaran kursi. “Mereka yang hadir di pesta tadi bukan hanya konglomerat. Ada musuh, pesaing, dan orang-orang yang selalu mencari celah untuk menjatuhkan Falcone. Dengan kehadiranmu, mereka terpancing.”
Hazel menelan ludah. “Jadi… kau sengaja membawaku untuk—” Kata-katanya menggantung.
Aginos mengangguk singkat. “Untuk melihat siapa yang cukup bodoh berani mengancam di depan umum.”
Hati Hazel berdenyut sakit. Ia sempat berpikir ia diundang karena… mungkin Aginos melihatnya berbeda. Karena ia bukan lagi sekadar b***k. Tapi kenyataannya, ia hanyalah alat.
“Jadi aku cuma pion?” bisiknya lirih.
“Jangan salah paham.” Tatapan Aginos menusuk. “Pion bisa mengubah jalannya permainan—jika dimainkan dengan benar.”
Hazel tak menjawab. Kata-kata itu tak sepenuhnya menenangkan, tapi juga bukan sekadar penghinaan.
---
Perjalanan pulang berlangsung sunyi. Hanya suara mesin mobil yang menemani. Hazel bersandar pada jendela, memandang lampu kota yang melintas cepat.
Ketika mobil berhenti di depan mansion Falcone, Hazel menghela napas lega, meski sesaat kemudian rasa lega itu menguap. Para penjaga berdiri lebih tegak dari biasanya, udara malam dipenuhi ketegangan.
Aginos turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan agar Hazel ikut turun. Hazel menatapnya sejenak, ragu, sebelum akhirnya menyambut genggaman itu.
Mereka melangkah masuk, dan pintu besar mansion tertutup rapat di belakang mereka.
---
Malam itu Hazel sulit tidur. Ia berbaring di ranjang empuk, tapi matanya tetap menatap langit-langit kamar yang gelap. Kata-kata di kartu emas itu menghantui pikirannya. Ditambah tatapan Shapira yang penuh arti, semuanya bercampur menjadi kabut hitam yang mencekik.
Dan ketika akhirnya matanya terpejam, mimpi buruk kembali datang.
Ia berada lagi di rumah Alagar—diikat, dipaksa berlutut di lantai dingin. Suara cambuk memecah udara. Shapira berdiri jauh di depan, tersenyum puas, sementara Hia berbisik di telinganya dengan nada mengejek.
“b***k tetaplah b***k. Tidak peduli seberapa indah gaun yang kau kenakan.”
Hazel terbangun dengan jeritan tertahan. Nafasnya tersengal, tubuh basah oleh keringat dingin. Ia menatap sekeliling, berusaha meyakinkan diri bahwa ia berada di tempat yang berbeda. Namun rasa takutnya tidak mudah hilang.
---
Pintu kamar terbuka. Aginos berdiri di ambang, kemejanya sudah terlepas sebagian kancing. Sorot matanya tajam, gelap.
“Kenapa kau teriak?” suaranya datar.
Hazel menatapnya, bibirnya gemetar. “Mimpi buruk.”
Aginos melangkah masuk, berdiri di sisi ranjang. Ia menatap Hazel lama, seolah ingin menembus pikirannya. “Jika kau tidak bisa mengendalikan dirimu, kau akan selalu jadi mangsa. Dunia ini tidak memberi belas kasihan pada gadis rapuh.”
Hazel menggenggam selimut erat-erat. “Aku tidak minta belas kasihan.”
Alis Aginos terangkat. “Bagus. Maka buktikan. Perbaiki dirimu. Karena ancaman yang kau lihat di pesta tadi bukan yang terakhir. Kurasa kau cukup tau bagaimana Marco menghabisimu.”
Hazel terdiam. Kata-kata itu menusuk, tapi entah mengapa, di balik ketegasan Aginos, ia merasakan sesuatu yang lain. Tipis, samar. Seperti lapisan tipis dari rasa peduli yang tidak pernah benar-benar ingin ia tunjukkan.
***
Malam itu, meski mansion telah senyap, Aginos tetap terjaga.
Ia duduk di kursi kerja di ruang pribadinya, lampu meja menyala temaram, sementara jarum jam terus berdetak. Namun pikirannya sama sekali tidak tenang.
Bayangan Hazel masih jelas di pelupuk matanya—gaun malam berkilau yang membalut tubuhnya dengan begitu pas, bahu jenjang yang terekspos, kilauan mata yang gugup namun memabukkan. Bahkan aroma samar parfum Hazel yang terbawa angin di pesta tadi seolah masih menempel di hidungnya.
Aginos menutup mata rapat, tetapi yang muncul justru lebih berbahaya. Hazel yang berputar di hadapannya, tersenyum malu-malu, tangan mungilnya terulur. Hazel yang bibirnya bergetar, seolah menanti dicium. Hazel yang…
“Keparat.” Aginos mendesis, menyandarkan punggung di kursi dengan kasar. Rahangnya mengeras, napasnya memburu.
Ini salah. Ia tahu itu. Hazel bukanlah wanita yang bisa ia perlakukan sebagai mainan. Gadis itu adalah bagian dari permainan besar—umpan, pion, dan sekaligus ancaman bagi pertahanannya sendiri.
Tapi tubuhnya berkhianat. Setiap bayangan Hazel membuat bara semakin membakar.
Aginos bangkit dengan gerakan kasar, melangkah menuju kamar mandi pribadinya. Ia membuka keran bak mandi, membiarkan air dingin mengisi cepat. Tanpa ragu, ia melepas kemeja dan rompinya, lalu menjatuhkan tubuh tegapnya ke dalam air yang menusuk kulit.
Suhu dingin menggigit, merayap hingga ke tulang. Aginos mendesah panjang, menenggelamkan kepalanya beberapa detik, membiarkan air membekukan setiap fantasi liar yang sempat menguasai pikirannya.
Namun bahkan di dalam kedinginan itu, Hazel tetap muncul. Wajahnya, suaranya, bahkan tatapan mata yang lugu namun menyimpan sesuatu yang tak bisa dijelaskan.
Aginos membuka mata di bawah air, menatap kosong, lalu bangkit dengan helaan napas berat. Butiran air menetes dari rambut dan wajahnya, jatuh ke bahu bidangnya.
Ia menatap bayangannya sendiri di cermin. Mata yang merah, rahang yang menegang, dan tatapan yang dipenuhi hal yang tak pernah ia izinkan untuk tumbuh.
“Lemah,” gumamnya pada dirinya sendiri. “Kau terlalu lemah.”
Tangannya mengepal, meremas tepi bak mandi hingga buku-buku jarinya memutih. Ia benci pada dirinya yang membiarkan Hazel menembus pertahanan sekuat baja yang selama ini ia bangun.
Hazel seharusnya hanya pion. Hanya umpan. Hanya… alat.
Namun semakin keras ia meyakinkan dirinya, semakin jelas pula kenyataan bahwa Hazel telah menggoreskan sesuatu jauh lebih dalam dari sekadar permainan.