Air dingin mulai kehilangan suhu beku, tapi Aginos masih belum beranjak.
Tubuhnya bersandar di dinding marmer bak mandi, nafasnya berat, tersengal di antara uap dingin yang perlahan menipis.
Ia sudah melampiaskan hasrat meski dengan sabun, bisa keluar mencari perempuan seperti yang selama ini ia lakukan, sayangnya bayangan b***k itu benar-benar tak membiarkan nya memikirkan perempuan lain.
Ia memejamkan mata, mencoba menarik dirinya kembali dari jurang yang tak seharusnya ia dekati.
Namun di dalam kegelapan kelopak matanya, Hazel justru semakin hidup.
Gaun malam itu, cahaya lampu kristal yang menari di kulitnya, tatapan gugup yang justru membuatnya tampak jauh lebih menawan dari siapapun di ruangan tadi malam.
Aginos mendengus keras.
Tangannya menenggelamkan diri ke air, menampar permukaannya hingga riak tercipta.
“Keluar dari kepalaku,” geramnya lirih.
Tapi suara itu tenggelam dalam air yang kembali beriak.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu meraih gelas kecil dari tepi meja marmer—berisi cairan transparan dengan aroma mint dan alkohol kuat.
Minuman itu bukan sekadar pelepas lelah.
Itu bagian dari ritualnya.
Aginos meneguknya dalam satu gerakan, membiarkan sensasi panas menelusup ke tenggorokan dan perutnya.
Air dingin di sekeliling tubuhnya dan panas dari alkohol di dalamnya menciptakan benturan yang ia butuhkan—rasa sakit yang nyata untuk menghapus hal-hal yang tak seharusnya ia rasakan.
“Hazel bukan milikmu,” desisnya pelan.
Ia menatap bayangannya di permukaan air, wajahnya tampak pecah oleh riak halus.
“Dia bagian dari permainan. Hanya itu.”
Tapi kalimat itu terdengar kosong, seperti mantra yang gagal.
Setiap kali ia mengucapkannya, bayangan Hazel justru muncul lebih jelas.
Hazel saat menunduk sopan di hadapan para tamu.
Hazel saat matanya bertemu mata Aginos, seolah meminta perlindungan tanpa kata.
Hazel saat mengucap terima kasih dengan suara nyaris berbisik—suara yang kini menghantui setiap sudut pikirannya.
Aginos memejamkan mata lagi, membenamkan dirinya ke dalam air.
Udara di paru-parunya menipis, dadanya mulai menekan, tapi ia tak peduli.
Ia ingin keheningan.
Ia ingin rasa dingin menusuk otaknya, membekukan setiap dorongan, setiap hasrat, setiap bayangan tentang gadis itu.
Ketika akhirnya ia muncul ke permukaan, napasnya terengah.
Rambutnya meneteskan air, matanya menatap kosong ke arah langit-langit.
Beberapa helai uap tipis melayang di udara, menandakan suhu tubuhnya masih berperang melawan air dingin.
“Sudah cukup,” katanya, suaranya serak, nyaris tak terdengar.
Ia bangkit perlahan, mengambil handuk besar, mengeringkan tubuhnya dengan gerakan kaku.
Setiap lipatan ototnya terasa tegang—bukan hanya karena suhu, tapi juga karena perang batin yang belum usai.
Aginos berjalan ke arah meja di sudut kamar, membuka sebuah kotak kecil di atasnya.
Di dalamnya, beberapa benda tersusun rapi: jam tangan, cincin perak, dan seuntai kalung kecil dengan batu hitam di tengahnya—benda yang pernah ia gunakan untuk menenangkan diri dalam masa-masa sulit.
Ia menggenggam kalung itu erat.
“Jangan biarkan dia masuk lebih jauh,” katanya dalam hati. “Jangan ulangi kesalahanmu, Aginos.”
Namun bahkan ketika bibirnya melafal larangan itu, pikirannya kembali mengulang momen saat Hazel menatapnya malam itu—tatapan polos yang membuatnya ingin melindungi, tapi juga menghancurkan.
Ia menutup mata.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu lama, Aginos benar-benar takut—bukan pada musuh, bukan pada ancaman di luar sana, tapi pada dirinya sendiri.
***
Air dingin sudah lama mengalir turun ke saluran pembuangan.
Namun kamar Aginos masih diselimuti udara beku, seolah sisa-sisa dingin dari bak mandi belum mau pergi.
Di depan jendela besar yang menghadap taman belakang, Aginos duduk dalam diam.
Kemeja hitam yang ia kenakan setengah terbuka, rambutnya masih lembap, dan di tangannya tergenggam ponsel serta segelas whiskey.
Jam menunjukkan pukul dua lewat sedikit.
Di luar sana, langit malam masih basah oleh sisa hujan.
Ia membuka layar ponselnya, mengetik pesan singkat di aplikasi terenkripsi—jaringan internal milik keluarga Falcone, jalur yang hanya dipakai untuk urusan penting.
A: “Cari tahu siapa yang menulis pesan di pesta malam ini. Fokus pada tiga nama: Shapira, Hia, dan semua yang punya hubungan dengan Alagar.
Gunakan jalur bawah. Jangan sebut nama Falcone di mana pun.”
Pesan terkirim.
Tanda centang ganda muncul, lalu berubah abu-abu—artinya pesan diterima tanpa jejak.
Aginos memandangi layar ponselnya beberapa detik, sebelum akhirnya menutupnya dan meneguk sisa minumannya.
Ia tahu, dalam hitungan jam, informasi akan sampai padanya. Tapi bahkan kepastian itu tak cukup menenangkan pikirannya malam ini.
Nama Shapira berputar di kepalanya. Wanita itu berbahaya. Senyum samar di pesta tadi bukan sekadar ejekan—itu tantangan.
Dan Aginos Falcone tidak pernah menolak tantangan.
Ia berdiri, melangkah ke arah kaca besar di dinding, melihat pantulan dirinya.
Mata merah, napas berat, wajah yang tampak kuat tapi di baliknya menyimpan badai yang tak bisa ia kendalikan.
Pikirannya kembali pada Hazel.
Gadis itu seharusnya tak berarti apa pun.
Namun, bahkan setelah semua ritual dingin itu, bayangannya tetap melekat: gaun malam yang jatuh sempurna di lekuk tubuhnya, tatapan ragu yang entah kenapa justru membuatnya ingin menundukkan dunia.
“Kenapa kau…” suaranya serak, rendah, “...masih ada di pikiranku?”
Ia menatap pantulan itu lebih lama, seolah menantang dirinya sendiri.
“Lemah,” gumamnya. “Kau terlalu lemah.”
Ia meraih handuk, mengeringkan rambutnya kasar, lalu menyalakan kembali ponselnya.
Bukan untuk pekerjaan, bukan untuk dunia bawah.
Melainkan hanya… melihat foto Hazel dari database lelang tempo dulu—satu-satunya file yang masih tersimpan.
Ia memperbesar gambar itu.
Wajah Hazel di layar tampak polos, tapi matanya… mata itu seperti menyimpan rahasia yang bisa menenggelamkan siapa pun yang menatap terlalu lama.
Aginos menutup ponsel cepat, seolah tersadar dari mimpi.
Ia berdiri tegak, menatap ke arah langit malam.
“Cukup,” desisnya. “Mulai besok, kau tak akan lagi menguasai pikiranku, Hazel.”
Namun ketika ia akhirnya berbaring di ranjang, seluruh tekad itu runtuh dalam diam.
Karena setiap kali ia memejamkan mata, yang datang justru senyum lembut gadis itu—senyum yang membuat seluruh dunia tampak tak lagi cukup jauh darinya.
***
Matahari pagi menembus jendela besar kamar Hazel. Tirai tipis berwarna krem menari lembut tertiup angin, dan cahaya keemasan menyentuh wajahnya yang tenang.
Hazel membuka mata perlahan. Sekilas, ia tak tahu dimana dirinya berada. Langit-langit putih tinggi, wangi lembut linen bersih, dan dentingan halus jam antik di sudut ruangan mengingatkannya bahwa ini bukan lagi kediaman Alagar.
Ini… rumah sang Falcon.
Namun, entah mengapa, udara di ruangan terasa dingin pagi ini—dingin yang bukan berasal dari suhu, melainkan dari sesuatu yang tak terlihat.
Hazel bangkit duduk di tepi ranjang. Tubuhnya masih terasa letih setelah pesta panjang semalam. Tapi bukan itu yang membuat dadanya sesak.
Ada sesuatu dalam diri Aginos tadi malam yang tak bisa ia hapus dari pikirannya—tatapan mata yang tajam tapi juga berat, seolah sedang menahan sesuatu.
Hazel mengusap wajahnya. “Apa aku… yang membuatnya seperti itu?” gumamnya nyaris tak terdengar.
Ketika ia turun ke ruang makan, aroma kopi hitam memenuhi udara.
Aginos sudah duduk di meja panjang, mengenakan kemeja putih rapi, rambutnya basah sedikit seperti baru selesai mandi. Wajahnya tampak segar—terlalu segar, seolah semalam tak terjadi apa-apa.
Namun Hazel tahu, sesuatu telah berubah.
Senyum dingin yang biasanya ia gunakan untuk menutupi ketegangan kini diganti dengan ketenangan yang jauh lebih berbahaya.
“Selamat pagi, Tuan,” sapa Hazel hati-hati.
Aginos mengangkat kepala, menatapnya sekilas. “Duduk.”
Suaranya datar, nyaris tanpa nada.
Hazel menurut, mengambil tempat di seberangnya.
Di antara mereka hanya ada suara dentingan sendok dan gelas.
Setelah beberapa saat, Hazel tak tahan. “Tuan… tentang pesan semalam—”
Aginos menatapnya. Tatapan itu tajam, memotong kata-katanya di udara.
“Tidak ada yang perlu kau khawatirkan.”
“Tapi—”
“Dan tidak perlu membicarakannya lagi.”
Nada itu tak meninggi, tapi cukup untuk membuat Hazel membeku.
Ia menunduk, menatap cangkir di tangannya, menggigit bibir bawahnya pelan.
Ada rasa tersinggung yang samar, tapi juga takut.
Aginos tidak pernah sekaku ini. Biasanya, meski dingin, ia masih sempat melontarkan ejekan halus atau sindiran yang membuat Hazel kesal. Tapi pagi ini… seolah yang duduk di depannya bukan lagi pria yang sama.
Beberapa menit berlalu.
Hazel berdiri, berniat meninggalkan meja. Tapi saat ia hendak berbalik, suara Aginos terdengar lagi.
“Kau akan ikut denganku siang ini.”
Hazel menoleh. “Ke mana?”
“Tempat yang perlu kau lihat.”
Tatapannya tajam, tapi samar-samar ada sesuatu di baliknya—sebuah ujian.
“Apakah… itu tentang pesan semalam?” tanya Hazel pelan.
Aginos hanya meneguk kopinya. “Bukan urusanmu.”
Namun dari nada suaranya, Hazel tahu jawaban itu bohong.
---
Beberapa jam kemudian, mereka sudah di dalam mobil hitam Falcone.
Hazel duduk di kursi penumpang belakang, sementara Aginos di sampingnya, menatap lurus ke depan.
Sepanjang perjalanan, Hazel mencuri pandang beberapa kali.
Wajah Aginos tampak tenang, tapi tangan kirinya terkepal di atas lutut. Rahangnya mengeras setiap kali ponselnya berbunyi, lalu berhenti seketika begitu ia membaca pesan masuk.
“Tempat ini…” Hazel akhirnya bicara. “Apa aku boleh tahu tujuannya?”
“Melihat sesuatu yang pernah jadi milik keluarga Alagar.”
Hazel langsung menegang. “Maksud Anda—”
Aginos menoleh sekilas. Tatapannya menusuk. “Kau pikir aku tak tahu ada sesuatu yang lebih besar di balik lelang itu?”
Hazel terdiam. Dadanya terasa sesak.
Ia tidak tahu harus membantah atau mengaku. Yang ia tahu, tatapan pria itu membuatnya ingin bersembunyi, tapi juga… entah mengapa, ingin menjelaskan semuanya.
---
Mobil berhenti di depan sebuah gedung tua di pinggiran kota—bangunan bergaya modern tapi dengan aura misterius.
Hazel mengenali logo di gerbang: lambang keluarga Alagar, setengah tertutup cat baru.
“Tempat ini dulu… milik mereka?” bisiknya.
Aginos turun dari mobil lebih dulu, lalu berbalik menatapnya. “Tempat ini dulunya milikmu.”
Hazel terpaku di tempat.
Kata-kata itu menampar lebih keras dari yang ia duga.
“Masuklah,” perintah Aginos. “Kau perlu melihat apa yang tersisa dari masa lalumu.”
Hazel melangkah pelan, setiap langkah terasa berat.
Udara di dalam bangunan itu lembap, berdebu, tapi penuh kenangan pahit yang menyeruak tanpa izin.
Ia menyentuh dinding yang retak, memandangi foto-foto lama yang ditinggalkan di atas meja pecah.
Semuanya milik keluarga Alagar—rumah yang dulu menjadi simbol kejayaan kini tampak seperti sisa kehancuran.
Hazel berhenti di depan cermin besar di aula.
Wajahnya tercermin di sana, tapi yang ia lihat bukan dirinya sekarang—melainkan gadis kecil yang dulu selalu berusaha menyenangkan semua orang.
Budak kesetiaan, b***k cinta, b***k nama besar.
Dan di belakangnya, suara berat Aginos memecah kesunyian.
“Sekarang kau tahu kenapa aku menyebutmu umpan, Hazel.”
Hazel menoleh cepat, menatap pria itu dengan mata bergetar.
“Tapi aku bukan lagi milik mereka…”
Aginos mendekat, langkahnya lambat tapi mengancam.
“Bukan lagi, ya?”
Tangannya terulur, menyentuh dagu Hazel, mengangkatnya agar mata mereka sejajar.
“Tapi bekas rantai mereka masih tampak jelas di matamu.”
Hazel menahan napas, tubuhnya menegang. Tapi kali ini, bukan karena takut.
Ada sesuatu dalam nada Aginos—perpaduan antara ancaman dan… iba yang samar.
Ia ingin menjauh. Tapi tak bisa.
Aginos melepaskannya perlahan, lalu berbalik.
“Pulang,” katanya singkat.
Hazel masih berdiri di sana, menatap punggungnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia merasa, di balik dingin dan ancaman pria itu, ada luka yang sama dalamnya dengan miliknya.
***
Langit sore menua menjadi jingga ketika mobil hitam Falcone meninggalkan area gedung tua itu.
Hazel bersandar di kursinya, menatap keluar jendela. Bayangan bangunan yang mereka tinggalkan memudar di kaca, tapi bayang-bayang masa lalunya tidak ikut pergi.
“Tempat itu…”
Suaranya pelan, seperti takut memecahkan sesuatu yang rapuh. “Aku ingat sebagian. Bau debu, suara langkah Ibu Saphira, dan...” ia menelan ludah. “Suara sabuk yang memukul dinding.”
Aginos duduk di sampingnya, menatap lurus ke depan. Rahangnya menegang, tapi ia tidak segera menanggapi.
Hanya jari-jarinya yang bergerak, mengetuk sisi lututnya dengan ritme tak beraturan—tanda bahwa pikirannya sedang penuh.
“Jangan bicara tentang mereka.”
Nada suaranya datar, tapi ada sesuatu di dalamnya—tegangan yang hampir pecah.
Hazel menoleh pelan, menatap wajah pria itu. “Kenapa? Karena mereka musuhmu?”
Aginos menatap sekilas, dingin tapi bukan marah. “Karena aku benci melihatmu menyakiti dirimu sendiri.”
Kata-kata itu membuat Hazel membeku. Ia ingin bertanya lebih jauh, tapi Aginos sudah memalingkan wajah lagi, menatap ke luar jendela.
Keheningan menebal di antara mereka.
Hanya ada suara mesin dan detak jantung Hazel yang terasa terlalu keras di telinganya.
Ia menunduk, menggenggam kain gaunnya erat. “Kenapa kau menunjukkan tempat itu padaku?”
“Karena kau harus tahu dari mana kau berasal,” jawab Aginos akhirnya. Suaranya lebih lembut, tapi dingin tetap terasa. “Supaya kau berhenti bersembunyi dibalik kepasrahanmu.”
Hazel menarik napas berat. Matanya berkaca. “Dan kalau aku ingin melupakan semuanya?”
Aginos menghela napas panjang. “Kau tak bisa melupakan neraka yang membentukmu, Hazel. Sama seperti aku tak bisa melupakan darah yang kubasuh setiap hari.”
Ucapan itu menggantung di udara.
Hazel menatapnya lama, mencoba membaca wajah itu—keras, disiplin, tapi di baliknya ada kelelahan yang tidak pernah ia tunjukkan di depan siapapun.
“Aginos...”
Suara Hazel hampir berbisik. “Kau selalu terlihat seolah bisa mengendalikan segalanya. Tapi kalau boleh jujur… aku rasa kau juga tersesat.”
Aginos menoleh perlahan, tatapannya menusuk, lalu menahan tawa pendek yang nyaris tanpa emosi. “Tersesat? Aku tidak tersesat, Hazel. Aku hanya tahu jalan yang orang lain tak berani lewati.”
“Tapi kau berjalan sendirian di sana,” balas Hazel pelan.
Kalimat itu menghantam lebih keras dari yang ia duga.
Aginos memandangnya lama—begitu lama hingga Hazel nyaris tak berani menatap balik.
Mobil tiba-tiba melambat, berhenti sejenak di lampu merah.
Suasana di dalam mobil seolah menahan napas.
Aginos akhirnya berucap, suaranya rendah. “Kau bicara terlalu banyak untuk seseorang yang seharusnya diam.”
Hazel menunduk, menggigit bibir, tapi ada senyum samar di wajahnya. “Mungkin karena kau butuh seseorang yang tidak diam.”
Aginos tidak menjawab. Tapi di ujung matanya ada sesuatu yang bergetar—bara kecil yang berusaha ia padamkan.
***
Begitu mobil berhenti di depan mansion Falcone, malam sudah turun sepenuhnya.
Sopir segera keluar, membuka pintu belakang. Aginos turun lebih dulu, lalu mengulurkan tangan pada Hazel.
“Terima kasih,” ucap Hazel lirih, menerima uluran itu.
Aginos tidak menjawab, hanya menuntunnya menuju pintu masuk.
Langkah mereka terdengar berirama di koridor panjang yang remang.
Tiba-tiba Aginos berhenti. Hazel hampir menabrak punggungnya. “Tuan?”
Pria itu menoleh perlahan. “Kau masih memikirkan pesan semalam?”
Hazel menelan ludah. “Sulit tidak memikirkannya.”
Aginos berjalan mendekat, menunduk sedikit hingga wajah mereka sejajar.
“Mereka akan mencoba mengguncangmu,” katanya pelan. “Mereka akan menggunakan ketakutanmu, masa lalumu, bahkan tubuhmu untuk menghancurkanku.”
Hazel menatapnya, jantungnya berdebar. “Dan kalau itu terjadi?”
Aginos menatapnya lama.
“Maka aku akan menghancurkan siapapun sebelum mereka sempat menyentuhmu.”
Udara di antara mereka terasa padat. Hazel tidak tahu harus merasa aman atau takut—mungkin keduanya.
***
Malam itu, Hazel tak bisa tidur.
Dari jendela kamarnya, ia melihat lampu di ruang kerja Aginos masih menyala.
Bayangan pria itu tampak di balik tirai, berdiri lama menatap ke luar seolah mencari sesuatu di kegelapan.
Hazel menyandarkan kening di kaca. “Dia tidak berubah,” bisiknya. “Tapi entah kenapa, aku ingin dia berubah.”
---
Sementara itu, di ruang kerja, Aginos membuka kancing kemejanya, berjalan ke kamar mandi, dan menyalakan air dingin.
Uap dingin naik perlahan, tapi tidak cukup untuk memadamkan bara yang menguasai tubuhnya.
Bayangan Hazel di pesta tadi malam kembali menari di kepalanya—gaun merah marun lembut yang jatuh di bahunya, leher jenjangnya, mata yang sempat menatapnya dengan campuran takut dan kagum.
Aginos memejamkan mata, menahan nafas di bawah pancuran air dingin.
“Bodoh,” desisnya pelan. “Dia bukan milikmu. Dia hanya pion.” lagi-lagi kalimat itu terucap.
Namun bahkan saat ia berusaha menanamkan kalimat itu di pikirannya, bayangan Hazel tidak hilang—malah semakin nyata.
***
Beberapa menit kemudian, ponselnya bergetar di meja.
Sebuah pesan muncul tanpa nama pengirim:
[Tuan Falcone, kami menemukan sesuatu di catatan Alagar. Sesuatu tentang Hazel.]
Aginos menatap layar itu lama, matanya perlahan menajam.
Dingin kembali menguasai dirinya, tapi kali ini ada sesuatu yang lain—ketakutan samar yang tak ia akui.
Ia menatap keluar jendela, ke arah kamar Hazel yang lampunya masih menyala redup.
“Hazel…” gumamnya pelan. “Apa yang sebenarnya mereka sembunyikan dari gadis itu?”