Langit belum benar-benar terang ketika mobil Aginos kembali memasuki halaman mansion. Roda mobil memecah genangan air hujan yang belum surut. Lampu-lampu halaman menyala redup, memantulkan kilau dingin di batu jalan. Aginos keluar tanpa bicara. Jas hitamnya masih basah, namun ekspresinya sama sekali tak berubah — dingin, terkendali, tapi matanya menyala seperti bara yang terjaga. Marco turun dari kursi kemudi, mengikuti langkah tuannya menuju pintu utama. “Pastikan semua data dari TKP dikunci. Jangan ada satu pun petugas luar tahu lokasi sebenarnya,” perintah Aginos datar. “Sudah saya amankan, Tuan,” jawab Marco cepat. “Semua laporan dari tim selatan juga sudah disaring. Tapi...” Ia ragu sejenak, lalu melanjutkan, “Tuan Dante belum merespons panggilan terakhir saya.” Langkah Aginos

