BAB 22 KMJN

1845 Words

Pagi itu, aroma kopi hitam dan roti panggang menyelimuti ruang makan utama mansion Falcone. Meja panjang dari marmer putih itu tampak rapi dengan peralatan makan berkilau di bawah cahaya lampu gantung kristal. Hazel duduk di ujung meja seperti biasa, diam, menyibukkan diri memotong roti pelan-pelan, menatap piringnya seperti sedang mencari arah pikiran. Marco datang lebih dulu, menggantungkan jaket di kursi lalu menjatuhkan diri dengan tawa ringan. “Pagi yang cerah, bukan? Sepertinya seseorang tidur nyenyak semalam.” godanya, melirik singkat ke arah Hazel. Hazel hanya menatapnya sebentar, lalu kembali menunduk. Pipinya memanas tanpa alasan yang jelas. Namun yang paling menarik perhatian Marco bukan Hazel—melainkan Elena. Gadis itu duduk tegak di seberang Hazel, wajah dingin, jarinya sib

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD